Wayang Virtual dan Kreativitas di Tengah Pandemi

    113

    Sudah setahun berlalu, tetapi pandemi COVID-19 masih terjadi, dan bahkan dengan cepat telah menginfeksi jutaan orang hanya dalam beberapa bulan. Pemerintah yang menyadari bahaya pandemi ini, kemudian menerbitkan peraturan demi menyelamatkan jutaan nyawa. Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) diluncurkan demi mengontrol arus penularan virus. Namun, sebuah peraturan yang disahkan, bukan tanpa resiko.

    Konsekuensinya, banyak orang mengeluh dan merasa beban hidup mereka semakin berat. Ratusan ribu UMKM mengalami kesulitan seperti rumah makan, bisnis travel, rumah penginapan (villa), sopir angkutan umum, hingga pedagang kecil ikut terkena imbas dari peraturan tersebut.

    Sektor usaha bukan satu-satunya yang terkena imbas pandemi. Sektor seni dan budaya juga ikut terdampak. Para seniman seperti penyanyi, penari, pemain teater, dan pelaku seni tradisional terpaksa tidak bisa menunjukkan karyanya karena mereka tidak diizinkan untuk membuat keramaian.

    Para dalang adalah salah satu seniman yang cukup mendapat pukulan paling berat selama masa pageblug ini. Kesenian wayang yang mereka tampilkan, biasanya bisa membuat puluhan bahkan ratusan warga hadir untuk menyaksikan pertunjukan yang mereka bawa. Namun, peraturan pemerintah dalam mencegah laju penularan virus COVID-19 membuat para dalang tidak bisa mempertunjukkan kebolehan mereka di muka umum secara langsung.

    *****

    Kesenian wayang, dengan berbagai jenisnya, masih digemari oleh masyarakat. Bahkan di beberapa daerah, kesenian tersebut masih dianggap sebagai kebutuhan untuk melengkapi ritual dan tradisi setempat. Contohnya, sedekah bumi, sedekah laut, selamatan, bersih desa, ulang tahun, bahkan kampanye politik. Selain sebagai ritual dan perayaan, wayang juga kerap “ditanggap” untuk acara-acara yang diadakan pemerintah daerah (Mulasno, 2013).

    Untuk sekali pagelaran, biasanya si penanggap wayang perlu merogoh kocek sekitar 15 hingga 30 juta rupiah. Walaupun mendapat penghasilan yang cukup besar, namun untuk sang dalang, paling hanya mendapat untung bersih sekitar 3 atau 5 juta rupiah. Sebab, honor yang didapat juga dibagikan kepada pengrawit, para pemain gamelan, sewa panggung dan sound system.

    Namun ketika PSBB diterapkan, otomatis para dalang kehilangan mata pencaharian. Belasan jadwal tanggapan terpaksa dibatalkan dan kalaupun ada, pemerintah setempat pasti akan membubarkan pagelaran tersebut karena dianggap melanggar PSBB.

    Di Blitar, Jawa Tengah, misalnya, pagelaran wayang kulit yang rencananya diadakan semalam suntuk terpaksa dibubarkan oleh aparat karena dinilai melanggar PSBB. Selain di Blitar, pagelaran wayang kulit yang dibawakan oleh Ki Eko Suwiryo di desa Margasana, Kebumen, Jawa Tengah, juga dibubarkan secara paksa oleh polisi dengan alasan yang sama, yakni menghindari penyebaran virus COVID-19 (Kompas TV, 23/10/2020).

    Tentu saja, pembubaran tersebut membuat hati para dalang dan pecinta seni wayang turut prihatin. Dalam benak para dalang, mereka tentu dibuat pusing, bagaimana mereka bisa berkarya dan melestarikan budaya jika sarana berekspresi dilarang?

    Apa yang terjadi pada dalang wayang kulit di Jawa Tengah, juga dialami oleh para dalang wayang golek di Jawa Barat. Para Dalang wayang golek tersebut hampir putus asa karena setiap ingin manggung, pasti ujung-ujungnya polisi datang dan membubarkan. Pedalang wayang golek cepak legendaris, Abah Atik Rasta Prawira, juga terpaksa tidak dapat “manggung” karena wabah pandemi ini melarang adanya kerumunan (DISDIK JABAR, 31/12/2020).

    Selama pandemi, hampir para dalang otomatis kehilangan mata pencaharian. Sebagian ada yang beralih profesi menjadi petani harian, pengrajin, bahkan ada pula dalang yang membuka celengan untuk membuka usaha. Seperti Triyanto Atmojo (45), seorang dalang sekaligus seniman ketoprak terpaksa membuka usaha bakmi agar dapur rumah tetap mengepul (Solopos.com, 19/4/2020). Ya, selagi halal dan tidak menganggu masyarakat, para dalang melakukan apa saja agar tidak menganggur terus di rumah.

     

    Kreativitas Tanpa Batas

    “…Tak Masalah bagaimana mereka berkembang secara spontan, kita hanya perlu ingat untuk membiarkan proses pasar melakukan keajaibannya..”  (David Boaz, Alam Pikiran Libertarian, 2018)

    Adam Smith meyakini bahwa, keterpaksaan adalah ibu penemuan dan kepentingan diri adalah ayah dari penemuan, Sebagaimana pujiannya terhadap inovasi kreatif dari penemuan mesin uap “salah satu perbaikan terbesar sejak pertama kali adalah karena seorang anak berinovasi untuk efisiensi pekerjaannya” (McCreadie, 2013).

    Dengan kata lain, sebuah kondisi yang mendesak dan kepentingan diri yang tak bisa ditahan akan menimbulkan inovasi dan kreativitas untuk menghadapi segala krisis dan tantangan. Begitu juga ketika pandemi COVID-19 melanda dunia, banyak orang memutar otak dan berusaha untuk berimprovisasi ditengah keadaan agar tetap bisa bertahan hidup.

    Begitu pula dengan para pekerja seni seperti para dalang wayang. Walaupun situasi tidak mendukung adanya pagelaran, namun hasrat untuk bisa tetap mewayang tetap besar. Apalagi, antusiasme masyarakat terhadap seni ini juga cukup tinggi, dan ini bisa dibuktikan dengan banyaknya penonton saat pagelaran atau video-video wayang kulit atau golek yang sudah ditonton ribuan orang.

    Demi tetap bisa berkarya, akhirnya para dalang berusaha untuk mengikuti perkembangan zaman. Para dalang kini tidak sekedar mewayang di depan layar putih, tetapi kini mereka mewayang di depan kamera yang diupload ke media sosial seperti Facebook, Instagram, dan YouTube.

    Pagelaran mereka dilakukan live streaming di media sosial sehingga para netizen luas bisa menikmati pertunjukan wayang dari depan layar smartphone mereka. Inovasi pagelaran wayang secara virtual diprakarsai oleh almarhum Ki Seno Nugroho Bbeliau wafat bulan November tahun lalu). Ki Seno yang dijuluki “dalang millenia” ini kerap mengawinkan kesenian wayang dengan musik, lawak, bahkan lukisan.

    Ki Seno sadar bahwa, pandemi telah membuat para seniman menderita, sehingga Beliau mencoba untuk menjajaki tekhnologi digital. Agar tidak terlalu membosankan, Ki Seno memotong durasi pertunjukan dan tidak membuat mata penonton sakit, Beliau mengubah durasi dari 4-5 jam menjadi setengah jam atau 2 jam saja (Kumparan.com, 4/11/2020). Karena ditampilkan secara langsung (live sreaming), dalang kerap berinteraksi dengan para netizen yang menyapanya.

    Pertunjukan wayang virtual atau yang dinamakan oleh Ki Seno sebagai wayang climen, mulai ditiru dan diikuti oleh para dalang-dalang di tanah air. Sebut saja para dalang beken seperti Ki Eko Kunthadi, Ki Catur Benyek, Ki Dadan Sunandar dan para dalang lainnya.

    Agar terlihat modern, para dalang mulai menggunakan alat musik modern seperti organ untuk melahirkan suara efek. Mereka juga kerap memodifikasi bentuk wayang agar lebih “kekinian” dengan cerita-cerita yang diangkat dari peristiwa terkini, seperti lakon “Bhetara Kala Korona” untuk menggambarkan situasi wabah yang menyerang masyarakat. Diceritakan pada suatu hari Monster Kala Korona datang mengganggu masyarakat. Akhirnya, monster Korona tersebut berhasil dikalahkan oleh Kyai Gerdala (seekor Burung Garuda) yang melambangkan menangnya bangsa Indonesia dari wabah.

    Lalu apakah mereka mendapatkan penghasilan? Tentu saja, lewat wayang virtual yang cukup banyak ditonton oleh warganet, para sponsor datang untuk menawarkan kerjasama. Pun para dalang juga bisa mendapat upah saweran dari para penonton yang me-request lakon (cerita) atau lagu. Pun warganet juga bisa memberikan simpati dengan memberikan uang seiklasnya untuk penghidupan para dalang-dalang tersebut.

    Singkatnya, wabah pandemi yang telah menyebabkan krisis di tanah air, ternyata tidak membuat kreativitas para seniman mati begitu saja. Para seniman yang terpojok oleh situasi krisis akhirnya terdorong untuk merambah dunia digital untuk mengikuti perkembangan zaman. Hasilnya, kini para dalang mendapatkan pasar baru dan tetap memiliki pendapatan walau mereka tidak lagi melakukan pagelaran secara langsung.

     

    Referensi 

    McCreadie, Karen. 2013. Adam Smith: Uang Menghasilkan Uang. Terj. Deasy Ekawati, Yogyakarta: Kanisius.

    Boaz, David. 2018. Alam Pikiran Libertarian: Manifesto untuk Kebebasan. terj. Nanang Sunandar. Jakarta: Indeks.

     

    Jurnal

    Mulasno, Tri. 2013. “Fungsi dan Makna Pertunjukan Wayang di Krecek”, Jurnal Keteg, Vol. 13 No. 1.

     

    Internet

    https://www.kompas.tv/article/118009/2-pentas-wayang-kulit-dibubarkan-karena-tidak-laksanakan-prorokol-kesehatan-covid-19 Diakses pada 24 Februari 2021, pukul 19.49 WIB.

    http://disdik.jabarprov.go.id/news/2442/pandemi-paksa-pergelaran-wayang-cepak-terhenti Diakses pada 24 Februari 2021, pukul 20.27 WIB.

    https://www.solopos.com/sepi-job-saat-pandemi-corona-seniman-klaten-alih-profesi-jadi-bakul-bakmi-1057191 Diakses pada 24 Februari 2021, pukul 20.37 WIB.

    https://kumparan.com/kumparannews/ki-seno-nugroho-dalang-penggagas-pagelaran-wayang-secara-virtual-1uWYZskcRNf Diakses pada 24 Februari 2021, pukul 21.34 WIB.