Wayang: Akar Demokrasi Indonesia

    1066

    “Bumi gonjang ganjing langit kêlap-kêlip ,

    katon lir kincanging alis risang mawèh gandrung ,

    sabarang kadulu wukir moyag-mayig, eeeeeee…..”

    Begitulah salah satu suluk atau ucapan dari sang dalang ketika memulai kisah dalam pagelaran wayang kulit. Pertunjukan yang biasanya dimulai pada malam hari tersebut biasanya sudah disesaki oleh para penonton, ketika pukul tujuh malam. Dalam acara tersebut, orang-orang yang antusias menonton biasanya terdiri dari berbagai kalangan, baik tukang, karyawan, hingga para pengusaha.

    Para pedagang kecil, baik tukang jahe hangat, kacang rebus, penjual kopi, hingga pedagang baju dan souvenir akan terlihat di sekitar panggung pertunjukan. Pertunjukan wayang kulit bagi para pedagang kecil bukan sekedar hiburan untuk mengisi malam belaka, lebih dari itu pagelaran wayang juga menjadi tempat bagi mereka untuk mengais rezeki.

    Seperti kita ketahui, wayang adalah salah satu budaya Indonesia yang telah diakui oleh UNESCO pada tahun 2003 sebagai warisan dunia yang harus dijaga dan dilestarikan. Pagelaran ini menurut penulis menjadi unik karena dari tahun ke tahun peminat wayang tak juga surut. Meskipun tahun 2000 lalu sempat ada ramalan bahwa wayang akan menghilang seiring dengan arus modern (pergeseran daerah desa menjadi kota) dan juga langkanya para dalang, membuat kesenian ini punah.

    Namun malah sebaliknya, jaringan internet dan media sosial justru membuat generasi muda mengenal kesenian wayang hingga kesenian ini bisa dikatakan bertahan hidup. Perpaduan alat musik modern dan pengembangan cerita (lakon) membuat wayang memiliki tempat tersendiri ditengah-tengah hiburan modern.

    Kesenian Wayang: Sebuah Refleksi

    Fondasi utama dari demokrasi adalah kebebasan dan kesetaraan. Kebebasan dalam hal ini lebih spesifik lagi kita kerucutkan pada kebebasan untuk berekspresi dan juga kebebasan dalam berpendapat, seperti mengkritik sesuatu yang secara personal dianggap tidak benar. Seni menuntut kita untuk berpikir dan memberi kita ruang untuk mengekspresikan pikiran kita beserta kompleksitasnya. Dengan begitu, kesenian sangat erat dengan alam pikiran yang liberal.

    Menurut pengamat seni Jawa, Profesor Tjejep Rohendi, dalam Ekspresi Seni Orang Miskin, manusia tidak hanya harus memenuhi kebutuhan sandang-pangan, tetapi juga membutuhkan pemenuhan estetis rohaninya. Setiap orang mempunyai hasrat estetis atau kesenian. Sehingga, tanpa adanya ruang kebebasan, tentu manusia akan terhambat dalam memenuhi kebutuhan estetiknya (Rohendi, 2000).

    Watak seni yang bebas akan menuntut kita agar terus menerus mempertanyakan pandangan kita mengenai segala sesuatu yang kita yakini, baik bagi seniman ataupun penonton. Seni membuat kita berfikir secara fleksibel dan juga tidak terpaku pada keterikatan tertentu. Lewat seni juga segala bentuk kritik dan protes dapat diterima secara renyah dan dapat dinikmati oleh siapa saja.

    Kesenian wayang itu sendiri adalah perwujudan dari hasrat kebebasan dan estetik. Cerita-cerita dalam pewayangan adalah ekspresi sang seniman dalam menanggapi suatu peristiwa yang kemudian diabadikan dalam pementasan wayang. Misalnya, tokoh raja yang jahat dan selalu menyengsarakan rakyat mereka bentuk dengan wajah buruk dan jelek, sedangkan sosok yang jadi panutan mereka dilukiskan sebagai orang yang tampan dan bagus fisiknya.

    Dalang bukan hanya sekedar pendongeng. Dalang adalah metafora dari kebebasan manusia, sang dalang bisa membuat suatu tokoh buruk menjadi baik atau menjadikan tokoh baik menjadi sebaliknya. Dalang mempunyai kebebasan penuh untuk memainkan sebuah kisah imajinasinya. Contohnya adalah lakon ”Petruk Dadi Ratu” (Si Petruk Jadi Raja) adalah bentuk ekspresi dalang bahwa seorang rakyat jelata (yang disimbolkan sebagai Petruk) dapat menjadi seorang penguasa.

    Atau lakon Brubuh Alengka, yang menceritakan tentang raja raksasa yang kuat tapi bisa kalah diserang oleh gerombolan kera. Cerita atau lakon tersebut adalah metafor bahwa sekuat apapun rezim, jika tidak didukung rakyat maka akan ambruk. Dari sini kita tahu bahwa wayang bisa menjadi sarana untuk menyampaikan pesan-pesan politik tanpa menyakiti siapapun.

    Dalam wayang, terdapat tokoh-tokoh yang menyimbolkan rakyat jelata, yaitu para “punakawan”. Tokoh-tokoh punakawan ini diantaranya adalah Semar, Petruk, Gareng, dan Bagong, (di Jawa Barat ada tokoh bernama Cepot dan Cemuris). Para Punakawan ini adalah tokoh penyambung lidah rakyat dalam pagelaran wayang. Mereka inilah penyampai suara-suara kritis dan aspirasi rakyat terhadap pemerintah (Christianto, 2003).

    Dalam pandangan Gus Dur, wayang adalah kesenian yang paling mampu menggambarkan kehidupan dan situasi politik di masyarakat. Misalnya, tokoh-tokoh pemimpin yang kejam buruk akhlaknya, pekak telinganya terhadap nilai-nilai kemanusiaan “diwayangkan” sebagai Buto raksasa. Sedangkan, pemimpin yang pandai namun linglung “diwayangkan” sebagai Yudhistira, atau sosok agamawan tapi gila oleh materi dan silau duniawi seperti Resi Durna (Gus Dur, 2001).

    Pagelaran wayang kadang bisa berubah menjadi “majelis wakil-wakil rakyat” di mana dalang biasanya menjadi pengumpul pandangan-pandangan umum (pollsetter) yang kemudian didiskusikan kepada penonton dalam sesi “goro-goro”, yaitu sesi di mana antara penonton bisa berpartisipasi dan ngobrol bareng, bercanda bahkan debat kusir yang berakhir guyon. Dengan begitu, pagelaran wayang bisa dikatakan sebagai miniatur kecil yang menggambarkan demokrasi yang sesungguhnya.

    Tugas para dalang adalah memproyeksikan fenomena-fenomena sosial dalam bentuk kisah pewayangan, di mana ia akan menjelaskan mana perbuatan-perbuatan raja atau punggawanya yang bersikap menyimpang dari nilai-nilai luhur. Seorang dalang melakukan fungsi koreksinya terhadap situasi politik yang dialami oleh masyarakat.

    *****

    Wayang zaman dahulu biasanya sangat akrab dalam msyarakat agraris. Ketika masyarakat bergembira karena massa panen raya tiba sebagai ucapan rasa syukur para petani sering mengadakan selamatan dengan menanggap wayang. Kepenatan ketika bertani terobati dengan hasil panen yang bagus dan juga menonton pertunjukan wayang sebagai hiburan.

    Di sini, wayang bisa menjadi “magnet” sosial. Baik masyarakat setempat atau dari desa seberang, pejabat, agamawan, serta rakyat kecil semua datang dan berbaur menikmati sajian pertunjukan wayang tanpa melihat status sosial. Pagelaran wayang bukan cuma sarana hiburan belaka, tetapi juga turut serta memberi kontribusi dalam pertumbuhan ekonomi.

    Di sekitar panggung wayang, pasti berkumpul para pedagang, seperti penjual kopi, penjual makanan, dan pedagang lainnya. Pertunjukan wayang bisa beralih menjadi pasar malam yang ramai, penuh sesak dipadati orang-orang. Dari sini, pertunjukan wayang telah menghidupkan ekonomi pasar. Dengan adanya wayang para pedagang bisa ikut nimbrung sambil mencari keuntungan.

    Dalam kebudayaan modern, wayang tetap digemari karena “watak kritis dan edukasi politik” selalu menarik minat orang-orang. Pesan-pesan dalam pewayangan juga bersifat perenial (selalu aktual). Seperti, pesan tokoh Semar pada anak-anaknya “Saiki wis padha gemblung, manungsa serakah, pejabate korupsi. Aja ditiru ya sedhulur,” (zaman ini sudah pada ngga beres, manusia serakah, pejabatnya korup, tolong jangan ditiru ya saudara-saudara).

    Seni wayang bisa hidup karena berada dalam pundak demokrasi dan kebebasan berekspresi. Kritik sosial yang menjadi ciri khas kesenian wayang membuat masyarakat terus melihat kesenian ini (walau hiburan modern terus berkembang). Seni wayang adalah miniatur dari demokrasi kita, dalam wayang kita bebas untuk mengkritik bahkan menyampaikan pandangan.

    Sebagai penutup, saya akan mengutip tulisan Sarah Swikre dalam buku Politik dan Kebebasan,  bahwa peran penting kesenian dalam kebebasan (dan demokrasi) adalah bahwa karya seni telah mengekspresikan kebebasan itu sendiri. Para seniman kerap mempromosikan ide-ide kebebasan dan mengkritik kekuasaan. Seni jalanan kontemporer seperti Banksy dan Folk Frank Turner merupakan contoh sempurna bagaimana aktivitas kesenian dapat membawa dampak sosial yang besar (Swikre, 2017).

     

    Referensi

    Buku

    Rohendi, Tjetjep. 2000. Ekspresi Seni Orang Miskin. Bandung: Penerbit Nuansa.

    Swikre, Sarah & Tom G. Palmer (Editor). 2017. Politik dan Kebebasan. Jakarta: Suara Kebebasan.

    Wahid,  Abdurrahman (Gus Dur). 2001. Pergulatan Negara, Agama dan Kebudayaan. Jakarta: Desantara.

     

    Jurnal

    Christianto, Wisma Nugraha. 2003. Peran dan Fungsi Tokoh Semar-Bagong Dalam Pergelaran Lakon Wayang Kulit Gaya Jawa Timuran. Jurnal Humaniora Volume XV, No. 3.