Watak Manusia Indonesia

    1369

    Disela-sela mengasingkan diri di rumah, saya lebih memilih untuk menghabiskan waktu dengan membaca. Salah satu buku yang tengah saya baca adalah buku karya tokoh dan sastrawan terkemuka Indonesia, Mochtar Lubis, yaitu Manusia Indonesia: Sebuah Pertanggung Jawaban.

    Seperti apa sih “Manusia Indonesia” dalam relung imajinasi di pikiran kita? Mungkin ngeyel, keras kepala, dan sok kaya. Ada juga yang memiliki pandangan bahwa manusia Indonesia memiliki standar moral tinggi, ramah kepada tamu, selalu akrab dengan siapapun meskipun tak dikenal, dan sebagainya.

    Membahas manusia memang tidak ada habisnya. Dari zaman dahulu kala, para filsuf sudah membuat banyak jilid buku yang objeknya ditujukan untuk membahas manusia. Ya, manusia memang makhluk yang unik dan misterius. Walaupun, dari kacamata evolusi, kita tidak berbeda dengan spesies lainnya, namun dari sisi pencapaian, hanya manusia yang berhasil merubah wajah dunia dengan karya ciptanya.

     

    Seperti Apa  “Manusia Indonesia” itu?

    Selama ini, banyak orang berusaha mengkaji seperti apa manusia Indonesia. Ada yang menulis bahwa manusia Indonesia wataknya seperti yang digambarkan dalam pewayangan Purwa, yaitu seperti Arjuna ketampanannya, seperti Bima keberaniannya, seperti Yudistira keluhuran budinya, atau seperti Nakula dan Sadewa kesetiaan dan cintanya.

    Sekretaris Cheng Ho, Ma Huan, yang pernah mengunjungi Nusantara pada tahun 1416 punya deskripsi yang lebih negatif daripada deskripsi di atas. Manusia yang berada di kepulauan nusantara dibagi menjadi tiga kelompok. Pertama, santri yang tinggal di pesisir pulau Jawa, dimana mereka berpakaian rapi berwarna putih. Sedangkan, manusia lainnya yaitu etnis pendatang seperti China dan India yang berpakaian bagus dan rapi. Sedangkan, sisanya adalah orang-orang pribumi yang hidup telanjang dada, tak beralas kaki, makanannya kotor serta mempercayai berbagai macam takhayul (Lubis, 1978).

    Zaman berubah, dan otomatis kebudayaan dan juga kebiasaan turut berubah. Contohnya, manusia Eropa yang dahulu terbelakang menjadi bangsa yang maju dan memiliki peradaban yang tinggi. Singapura dan Jepang, yang dulu masyarakatnya berpola tradisional dan percaya pada takhayul, kini menjadi bangsa yang paling modern dan disiplin, dan begitu pula Indonesia. Tentu di zaman modern ini, manusia Indonesia mengalami perubahan-perubahan.

    Buku Manusia Indonesia adalah sebuah catatan kritis Mochtar Lubis terhadap manusia Indonesia modern. Berbeda dengan tokoh lainnya, yang melihat kemajuan dari segi instrumen pemerintahan dan kebijakan negara, Mochtar Lubis lebih mengarahkan sisi kritisnya kepada rakyat itu sendiri. Sebagai manusia yang telah melampaui tiga masa: Masa Kolonial Belanda, Masa Perang Dunia ke-2, Masa Revolusi, serta Masa Kemerdekaan.

    Mochtar kemudian mencoba mendeskripsikan bagaimana citra bangsa Indonesia modern yang pada pangkalnya adalah untuk menjawab ketidakberesan yang terjadi di negeri ini. Bagi Mochtar Lubis, manusia juga salah satu faktor yang bertanggung jawab terhadap kemajuan suatu bangsa. Baginya, jika ingin membangun Indonesia ke arah yang lebih maju dan modern, maka yang menjadi tugas utama adalah merubah cara pandang dan kebudayaan manusianya.

    Dalam pandangan Mochtar Lubis, manusia indonesia memiliki 6 karakteristik, yaitu:

    Ciri pertama: bersikap hipokrit dan munafik.

    Ciri kedua: enggan bertanggung jawab.

    Ciri ketiga: berjiwa feodal atau menghormati pangkat dan jabatan.

    Ciri keempat: masih mempercayai takhayul.

    Ciri kelima: manusia Indonesia mempunyai jiwa artistik yang tinggi.

    Ciri keenam: memiliki watak lemah dan tidak kuat dalam memegang prinsip hidup.

    Ciri lainnya: boros dan juga suka hura-hura, tetapi tidak menyukai kerja berat.

    Mungkin ada yang berpendapat bahwa buku yang terbit 40 tahun silam sudah ketinggalan zaman, atau sudah kadaluarsa. Namun, jika kita mencoba membaca dan merenungkan isi buku ini, sekali lagi untuk melihat situasi dewasa ini (dalam pandangan subjektif saya), isi buku ini masih cukup relevan.

    Sekarang cobalah kita lihat apakah deskripsi yang dijabarkan oleh Mochtar Lubis masih relevan atau tidak. Apakah manusia Indonesia sudah bebas dari tahayul dan juga dogma yang irasional? Apakah bangsa kita sudah bebas dari korupsi, suap, dan juga pungli? Rasa-rasanya belum.

    Marilah kita uji hipotesis yang disodorkan oleh Mochtar Lubis 40 tahun lalu dengan contoh masa kini yang lebi realistis. Kita lihat bagaimana watak dan sikap manusia Indonesia  dalam menghadapi musibah yang kini sedang terjadi, yaitu virus COVID-19 atau virus Corona.

    Ketika virus Corona mulai menyebar dari China hingga ke negara lain, seperti Malaysia, Jepang, Singapura, dan juga Australia, orang Indonesia masih berleha-leha bahkan menganggap remeh virus tersebut. Bukannya waspada, mereka malah membuat beragam meme dan lelucon konyol dan menganggap bahwa mereka kebal virus Corona.

    Sikap santai tersebut juga diperlihatkan oleh pemerintah kita. Bukannya membuat langkah strategis untuk mengantisipasi penyebaran virus, pemerintah malah membuka pintu pariwisata seluas-luasnya dan menciptakan hoaks-hoaks bahwa pengidap Corona bisa sembuh sendiri, virus Corona tidak bisa hidup diiklaim tropis, dan virus Corona bisa diantisipasi dengan jahe dan doa qunut.

    Setelah bulan Maret, pemerintah menyatakan virus Corona sampai di Indonesia. Para  pembuat jimat-jimat justru jadi ramai order karena banyak orang yang menginginkan jimat penangkal penyakit. Dan di beberapa daerah, warga membuat ritual sesembahan kepada roh-roh halus dan metafisik untuk menolak pagebluk (wabah) yang menjangkit negara mereka.

    Walaupun pemerintah dan para dokter telah menghimbau agar jangan membuat keramaian dan aktivitas yang membawa mobilisasi massa, tetapi sekelompok ormas keagamaan justru malah nekat berkumpul membuat berbagai kegiatan keagamaan. Kegiatan-kegiatan keagamaan tersebut diantaranya adalah membuat tabligh akbar yang jelas menentang saran pakar kesehatan, dengan berkata bahwa wabah Corona takut dengan ulama dan juga bisa dihindari dengan doa dan air wudhu.

    Barulah ketika wabah virus sudah tak terbendung dan koban sudah menembus lebih dari 500 orang, orang-orang yang kemarin tertawa meremehkan justru menjadi orang yang paling panik. Mereka memborong makanan di supermarket dan membeli sebanyak-banyaknya masker dan hand sanitizer sehingga terjadi kelangkaan besar.

    Banyak orang panik dan meminta agar pemerintah untuk memberlakukan kebijakan  lockdown nasional agar penyebaran virus dapat dibendung. Tapi lucunya, ketika sebagian daerah sudah di karantina, seperti kabupaten Tegal, rakyat malah marah dan keluar rumah berkumpul untuk memprotes kebijakan pemerintah tersebut.

    Di sisi lain, para politisi saling salah menyalahkan mengenai penyebaran virus Corona. Di saat situsi krisis inilah sebagian watak manusia Indonesia dewasa ini dilihat secara jelas, yaitu manusia yang ngeyel, terlalu meremehkan masalah, percaya pada tahayul yang irasional, pengeluh, serta saling melempar tanggung jawab.  Apa yang dijabarkan oleh Mochtar Lubis 40 tahun silam masih teruji dan terbukti hingga saat ini.

    *****

    Apa yang dideskripsikan oleh Mochtar Lubis sebagai manusia Indonesia bukan bentuk untuk menjelek-jelekkan bangsa sendiri. Tetapi bagi saya, hanya sebagai bentuk mengingatkan bahwa sebuah peradaban modern membutuhkan kebudayaan yang jauh dari tahayul, feodalistik, dan menghindari sikap bermalas-malasan.

    “Manusia Indonesia” bukanlah suatu pernyataan yang harus diperdebatkan. Ia harus dipahami bahwa dalam membangun suatu bangsa dibutuhkan mentalitas manusia yang kuat dan kebudayaan yang menopang kemajuan. Mochtar Lubis menulis bukunya di era ketika Indonesia sedang dalam masa-masa pembangunan (Orde Baru).

    Mungkin benar bahwa, material utama dari suatu pembangunan adalah investasi yang masuk atau pembangunan infrastruktur. Namun, salah satu hal utama yang harus diperhatikan dalam pembangunan adalah manusia. Membangun manusia yang rasional, memiliki etos kerja tinggi, menghargai kebebasan dan semangat yang tinggi untuk bersaing.

    Mungkin apa saya jabarkan memang abstrak. Membangun suatu mentalitas sehingga membentuk sebuah kebudayaan baru adalah sebuah jalan yang sulit, terjal, dan berliku. Ya, tentu saja membentuk manusia baru itu sulit, tapi setidaknya kritikan yang disodorkan oleh Mochtar Lubis bisa menjadi bahan renungan bahwa perubahan sosial yang besar bisa dimulai dari merubah diri pribadi dan lingkungan kita sendiri.

     

    Referensi:

    Lubis, Mochtar. 1978. Manusia Indonesia: Suatu Pertanggungjawaban. Yayasan Idayu: Jakarta.