Wabah Corona, Hoax dan Celotehan Kita

    923

    Kasus virus Corona di Indonesia kian meningkat dari hari ke hari. Hal ini tentu membuat para masyarakat menjadi ketakutan sekaligus risau. Pasalnya, virus ini telah menularkan ke lebih dari 300.000 orang di seluruh dunia dan menghilangkan nyawa lebih dari 14.000 orang. Kini masyarakat global benar-benar dibuat panik, sebab hingga detik ini belum ada vaksin yang efektif untuk mencegah dan mengobati penderita virus COVID-19 tersebut.

    Virus COVID-19 berasal dari kota di China bernama Wuhan, yang terletak di Provinsi Hubei. Banyak orang memprediksi bahwa virus yang mulai merebak pada bulan Desember 2019 ini berasal dari hewan liar seperti kelelawar. Pemerintah China mengumumkan bahwa negara tersebut diserang oleh sebuah penyakit misterius yang menyerang saluran pernafasan manusia.

    Sedikit demi sedikit, virus ini menyebar dan telah menginfeksi rakyat China dan telah menelan banyak korban. Tak sampai di situ, virus Corona ini menyebar begitu cepat hingga mewabah ke negara-negara lainnya, seperti Singapura, Malaysia, Korea Selatan, dan Jepang.

    Namun anehnya, meskipun virus itu sudah menyerbu negara-negara Asia Tenggara dan Asia Timur pada bulan Januari, hingga awal Februari Indonesia mengkonfirmasi bahwa Indonesia tidak dihinggapi oleh virus mengerikan tersebut. Bahkan pemerintah meyakini bahwa Indonesia aman untuk disinggahi dan bebas dari wabah corona tersebut.

    *****

    Pada 18 Februari 2020, virus Corona sudah membuat 1.867 orang kehilangan nyawa. Hingga akhir bulan Februari, virus sudah menyebar luas keseluruh pelosok dunia dan menginveksi lebih 2000 orang. Tepatnya di tanggal 25 Februari, virus ini membuktikan bahwa virus Corona sangat berbahaya dan mematikan (Kompas, 2020).

    Seluruh dunia gempar. Masyarakat dunia menaruh simpati yang besar kepada rakyat China yang tengah berusaha memerangi virus ganas tersebut.  Namun, apa yang dirasakan oleh warga dunia, justru malah berkebalikan dengan orang-orang di Indonesia. Di media sosial, banyak komentar miring, dan virus ini menjadi bahan olok-olok.

    Olok-olok yang dilontarkan adalah mereka menganggap virus yang mewabah di negara tersebut adalah azab yang ditimpakan oleh Tuhan. Hal tersebut dikarenakan Pemerintah Komunis China telah melakukan penganiayaan pada penduduk Provinsi Xinjiang, dan melakukan penahanan terhadap etnis Muslim Uighur di wilayah tersebut.

    Ketika virus Corona sudah sedemikian gawatnya menyerang Singapura, Jepang dan Korea, anehnya Indonesia belum mengkonfirmasi virus Corona ini. Pemerintah bahkan optimis bahwa Indonesia masih negatif dari kasus virus Corona. Keyakinan bahwa Indonesia tidak terdapat kasus Corona dan santainya aparat pemerintahan dalam menghadapi masalah wabah ini, juga membuat rakyat juga menjadi apatis dan tidak perduli terhadap perkembangan wabah.

    Muncul mitos-mitos yang berkembang di Indonesia, seperti bahwa orang Indonesia kebal virus Corona. Di sisi lain, korban Virus Corona terus meningkat. Di Indonesia, orang-orang justru menjadi besar kepala. Mitos ini kemudian menyebar dan membuat media massa dan media sosial memberitakan informasi hoaks alias berita bohong.

    Salah satu hoaks murahan yang berkembang bulan Februari lalu adalah Corona adalah tentara Tuhan, serta rakyat Indonesia kebal dari Corona karena jahe, nasi kucing, dan melaksanakan qunut. Munculnya keterangan-keterangan konyol dan berita simpang siur yang pseudo-ilmiah tersebut, disebabkan karena masyarakat Indonesia berasumsi negaranya aman dari virus Corona. Akhirnya, banyak orang di Indonesia yang menyepelekan perkembangan dan penyebaran virus ini.

    Alih-alih memberikan peringatan dini dan kewaspadaan, pemerintah justru malah makin gencar mempromosikan pariwisata dan berusaha menarik wisatawan asing agar berlibur ke Indonesia. Ketiadaan kasus Corona di Indonesia  membuat pemerintah lalai dan tidak mengantisipasi bahaya pandemik ini.

    *****

    1 Maret 2020,  Presiden Joko Widodo mengadakan konferensi pers dan mengumumkan virus COVID-19 sudah masuk ke Indonesia. Presiden mengumumkan ada dua Warga Negara Indonesia (WNI) yang dikabarkan positif mengidap virus Corona, dan keduanya telah dirawat di ruang isolasi rumah sakit di Jakarta.

    Kabar mengenai dua korban yang terkena virus Corona ini kemudian membuat masyarakat menjadi panik dan ketakutan. Segala kesombongan dan lelucon di media sosial beberapa saat yang lalu menjadi sirna. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta misalnya, kemudian membuat posko khusus sebagai upaya untuk mengontrol penyebaran virus.

    Mereka yang aktif di media sosial malah seperti orang yang kehilangan akal, dan berbalik mengutuk pemerintah yang dianggaap tidak becus melindungi warga dari virus Corona. Padahal, toh mereka sendiri yang awalnya tidak meyakini dan tidak juga melakukan antisipasi untuk menghadapi masuknya virus tersebut.

    Semua ocehan dan makian hilang berganti menjadi rasa panik dan rasa takut. Justru sekarang kita malah menggigit jari ketika Pemerintah China perlahan-lahan telah berhasil mengurangi kasus virus Corona di negaranya. Orang-orang yang kemarin berteriak lantang mem-bully China, kini berharap agar pemerintah China mau membantu Indonesia untuk menangani korban Corona yang semakin membengkak jumlahnya.

    Cepatnya penyebaran virus Corona ini salah satunya diawali masyarakat dan pemerintah lalai dalam mengantisipasi virus tersebut. Kita lebih suka mengejek dan mem-bully di media sosial ketimbang memberi empati dan mempersiapkan kemungkinan terburuk. Kita terlena oleh kabar miring bahwa Indonesia bebas Corona dan Indonesia kebal terhadap virus Corona.

    Penyesalan memang selalu datang terlambat. Berbeda dengan Singapura dan Vietnam yang dengan sigap meningkatkan kewaspadaan dan melakukan tindakan efektif untuk memperlambat penyebaran virus, Pemerintah Indonesia justru asyik menjaring wisatawan tanpa melihat efek buruk kedepannya.

    Tentu Presiden Joko Widodo merasa terpukul dengan kenyataan ini. Pasalnya, wabah virus ini  telah memukul sektor pariwisata dan juga akan berdampak luas pada sektor ekonomi. Hingga tulisan ini dibuat, nilai tukar rupiah terhadap Dollar Amerika kini menembus angka Rp 15.200 (CNBC Indonesia, 2020). Di sisi lain, rakyat meminta agar negara memberlakukan lockdown atau isolasi secara nasional agar penyebaran virus dapat dikurangi.

    Tentu saja, lockdown adalah pilihan yang problematis. Di tengah perlambatan ekonomi global, pemberlakuan isolasi tersebut akan membuat pemerintah menanggung biaya hidup rakyatnya dalam waktu yang tidak bisa ditentukan. Hal ini akan berdampak pada ambruknya ekonomi Indonesia. Misalkan wabah Corona telah selesai, maka Indonesia akan dihantui oleh wabah kemiskinan karena banyak perusahaan yang gulung tikar.

    Apa mau dikata, kini virus Corona sudah mulai menyebar dan mulai menginfeksi beberapa warga. Maka, mau tak mau, kita harus berusaha sekuat tenaga untuk mencegah penyebaran virus ini. Kalau misalkan pemerintah tidak memiliki langkah yang tepat, maka akibatnya akan fatal.

    Mungkin pemerintah bisa meniru langkah yang dilakukan Pemerintah Korea Selatan dalam menangani perkembangan virus Corona tanpa harus melakukan lockdown. Kita bisa memanfaatkan media sosial dan juga ponsel setiap orang untuk mengirim informasi mengenai virus ini. Membersihakan tiap wilayah dan juga melakukan koordinasi dengan rumah sakit swasta untuk membantu pemerintah dalam menangani kasus Corona.

    Pemerintah tidak bisa sendiri dalam menghadapi wabah ini. Partisipasi masyarakat juga sangat dibutuhkan. Kesadaran dan disiplin masyarakat untuk menghindari keramaian dan juga menjaga kebersihan adalah cara sederhana dan efektif dalam upaya menghambat penyebaran wabah virus. Yang jelas, virus Corona ini mengingatkan setiap individu dan kita semua untuk terus menjaga kesehatan dan kebersihan. Dengan demikian,  kita juga sudah turut berjuang melawan pandemik ini.

     

    Referensi

    https://www.kompas.com/global/read/2020/02/25/094718570/korban-meninggal-virus-corona-di-china-per-25-februari-2020-capai-2663?page=all Diakses pada 19 Maret 2020, pukul 02.48 WIB.

    https://www.cnbcindonesia.com/market/20200318132214-17-145804/rupiah-lewati-rp-15200-us–memori-1998-kembali-muncul Diakses pada 19 Maret 2020, pukul 04.03 WIB.