Ulama: Pengajar Cinta Bukan Kebencian

    387

    Kata “ulama” nampaknya tengah populer belakangan ini, hampir di media sosial, atau artikel di internet banyak yang membahas soal “ulama” ini.  Contohnya, belum lama di Indonesia muncul “aksi bela ulama” yang terjadi di tahun 2016, 2017, dan 2018, dimana massa aksi saat itu memenuhi monas dengan berbagai orasi.

    Belum lama juga seorang ulama tengah viral di media sosial karena menghina simbol Salib (simbol agama Nasrani) sehingga muncul polemik di masyarakat.  Secara faktual, tahun politik 2019 yang ditandai adanya Pilpres, bukan hanya tentang pertarungan antar calon presiden dan wakil presiden, namun juga muncul persaingan antar ulama yang terbelah akibat iklim politik Indonesia yang memanas.

    Sebelumnya juga seorang “ulama” menghebohkan jagad media sosial, karena menuding Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, telah memasukan unsur iluminati dan simbol setan dalam Masjid As-Safar, Sentul, karena arsitekturnya berbentuk  segitiga. Tak pelak, komentar “ulama” tersebut memancing perdebatan yang lebih tepat percekcokan di dunia maya.

    Belakangan ini disadari atau tidak, peran ulama semakin menguat di masyarakat. Munsulnya tren hijrah dan juga ustad-ustad medsos yang menghiasi laman Facebook dan YouTube, membuat “ulama” menjadi istilah bergengsi yang disakralkan. Tetapi tak bisa dibantah pula dewasa ini munculnya kontroversi baik masalah politik atau umum, karena ulama juga.

    Ulama telah menjadi status sosial yang bergengsi dan dihormati oleh segenap masyarakat. Masyarakat percaya bahwa ulama adalah “tangan Tuhan” di muka bumi sehingga harus ditaati dan diikuti. Akibatnya muncul kultus dan sakralisasi ulama, dan belakangan ini seolah terjadi “perang dingin” antara ulama-ulama, sebut saja antara ulama NU dengan ulama HTI-FPI.

    Bisa ditebak, akibat perang dingin para ulama antar ormas dan maraknya fatwa-fatwa ustad yang aneh-aneh di media sosial, berefek pada keriuhan di media sosial yang berimbas ke dunia nyata. Bahkan kelompok non-muslimpun ikut terseret juga.

     

    Peran Ulama di Masyarakat Kita

    Dalam suatu riwayat, ulama adalah penyambung lidah nabi, dalam artian para ulama adalah penebar kebajikan, kebaikan, dan juga sebagai pengembala manusia agar manusia hidup benar dan selalu dalam lindungan Tuhan Allah sebagaimana yang dahulu para nabi lakukan.

    Tetapi  yang benar-benar dapat dipandang sebagai penyambung lidah nabi tentu ulama yang baik dan terpuji. Sedangkan ulama yang tercemar politik kebencian dan berorientasi pada kepentingan duniawi semata harus dijauhi.

    Masyarakat kita memandang ulama adalah sosok yang superior dan perkataannya bagaikan sebuah ucapan langsung dari Tuhan, sikapnya adalah kebenaran dan ancamannya itu adalah keniscayaan. Di negara kita ini, agama masih cukup melekat dengan masyarakatnya. Agama  jangan dipandang sebagai ajaran-ajaran sakral, lebih dari itu, dari segi ilmu sosial, agama juga menjadi tradisi, identitas diri, dan sumber norma hukum.

    Di Indonesia, agama sudah menyatu menjadi identitas yang menghiasi kolom KTP, sehingga jika agamanya dicerca atau dihina banyak yang merasa tersinggung , karena hal tersebut dianggap sebagai menghina identitasnya.

    Fenomena hijrah seyogyanya lahir sebagai kritik terhadap sekulerisme dan modernisme masyarakat dewasa ini yang  dianggap “kurang” beragama.  Para ustad-ustad (berkat media YouTube, Facebook, dan Twitter) mulai mendapat panggung sehingga mereka diikuti oleh orang banyak.

    Kedudukan para ulama yang melekat di dalam tatanan sosial masyarakat kita, dianggap sebagai sebuah simbol agama yang suci. Hal inilah yang kemudian membuat masyarakat kita begitu taat pada para ulama dan menerima setiap kotbah dan keputusannya (walau ceramahnya sangat kontroversial dan tidak selalu disertai dengan data dan fakta, serta sumber yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan).

    Belakangan ini, ketika kondisi politik tidak begitu stabil, ekonomi berjalan lambat dan munculnya masalah-masalah kompleks di masyarakat,  muncul segeintir orang  yang membawa label “ulama”  mengkritik pemerintah bahkan turut ikut kontestasi politik yang memanas di tahun 2019 ini.

    Contohnya saja, Ustadz Bahtiar Nasir, Novel Bamukmin, dan ulama-ulama yang tergabung dalam barisan alumni 212, turut berada dalam barisan oposisi dan terus mengobarkan api kritik kepada pemerintah dan petahana Joko Widodo. Bahkan Amien Rais menganggap bahwa kontestasi Pemilu dan Pilpres kemarin adalah pertarungan antara partai Allah dan partai setan.

    Tentu saja ketika isu agama dibawa ke ranah politik, masyarakat menjadi terbelah dan menimbulkan ketegangan yang luar biasa. Sebut saja kericuhan 21-22 Mei pasca pengumuman MK yang memenangkan paslon nomor urut 01 (Joko Widodo dan Ma’ruf Amin) sebagai pemenang kontestasi Pilpres 2019. Kericuhan ini tak lepas dari propaganda para ulama yang terjun ke dunia politik.

    *****

    Pasca pemerintah mengumumkan pembubaran HTI, ormas NU yang dianggap sebagai benteng politik Presiden Joko Widodo, segera melakukan “pembersihan” terhadap para pendukung HTI dan juga pentolan-pentolan Hizbut Tahrir. Munculah keributan karena aksi pembakaran bendera Tauhid dan pembubaran majelis-majelis HTI.

    Belum lama berselang, pasca pengumuman pemerintah untuk memindahkan ibu kota, Ustadz Tengku Zulkarnain menulis di Twitter-nya bahwa pemindahan ibu kota adalah pesanan Beijing (Cina). Twit Ustadz Tengku ini tentu kembali menimbulkan keriuhan di masyarakat, apalagi tak lama setelah twit Ustadz Tengku, Ustadz Abdul Somad menjadi perbincangan karena ceramahnya diduga menistakan agama Kristen, disebabkan ia menyebut salib adalah tempat jin kafir.

     

    Meluruskan Kembali Peran Ulama

    Perlu dicatat, pada dasarnya garis besar dari misi agama adalah kemanusiaan, kerukunan, keharmonisan dan cinta. Dan tugas seorang ulama atau agamawan adalah sebagai pengembala yang membimbing dari belakang agar umatnya tidak salah jalan dan berlaku lurus mengikuti norma-norma agama. Karena itulah agamawan harusnya adalah sosok terdepan yang menjunjung kemanusiaan dan anti kekacauan.

    Sebut saja tokoh Dalai Lama, Ayatullah Musa Sadr dari Lebanon, Bunda Theresa, Mahatma Ghandi, dan Gus Dur. Mereka adalah para tokoh agama yang menjaga masyarakat agar terus menanamkan rasa kemanusiaan dan cinta pada sesama. Namun, tidak sedikit agamawan yang justru melakukan penyimpangan dengan menggunakan posisi dan keistimewaannya, demi meraup keuntungan pribadi dengan mengorbankan rasa kemanusiaan dengan mengatasnamakan Tuhan dan agama.

    Banyak para  agamawan atau ulama yang dianggap sebagai simbol agama, justru kadangkala bertindak bertentangan dengan ajaran luhur agama itu sendiri. Contohnya, sikap fanatisme yang membuat konflik antar agama. Selain itu, kepercayaan masyarakat kepada kaum agamawan justru memuat kaum agamawan seolah bebas memberi fatwa dan ceramah sesuka hatinya

    Penyelewengan para agamawan atau para ulama yang menjadikan agama sebagai alat untuk meraih kekuasaan pribadi dan melegitimasi setiap tindakannya justru membuat wajah agama tersebut kehilangan kesakralannya di mata masyarakat.  Perlahan-lahan justru masyarakat akan sadar malah menjauhi agama.

    Agama seolah adalah sebuah institusi pengkotak-kotak masyarakat, agama seolah menghambat kreativitas masyarakat, dan agama dicitrakan sebagai sebuah alat politik yang tak mempunyai sisi sakral lagi.  Hingga akhirnya ketika para ulama terus mengobarkan kebencian perselisihan, kehormatan seorang ulama akan hilang dan ulama akan dianggap sebagai sosok pemecah belah.

    Memang harus diakui, bahwa di era modern ini peran agama sebagai pengisi spiritual masyarakat dunia masih terasa. Agama masih tetap memiliki fungsi di masyarakat dan para agamawan yang alim dan waras masih dibutuhkan oleh orang-orang untuk mendekatkan dirinya dengan Tuhan. Namun, jangan sampai hal ini membuat kita harus mengekor buta saja kepada apapun yang dilakukan dan dikatakan oleh para ulama.

    Yang harus diikuti secara mutlak adalah kitab suci dan ajaran universal dalam agama: kemanusiaan, persaudaraan, dan keadilan. Masyarakat kita harus melihat para ulama dari sisi “manusianya”, bukan hanya melihat dari sisi “religiusnya”. Patut diingat, bagaimanapun alimnya para ulama tersebut, mereka tetap seorang manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan. Sikap pengkultusan, sikap taklid yang berati mengekor buta tanpa kritis dapat membuat orang tidak bisa membedakan kebenaran dan kebatilan. Sikap seperti ini dapat menjauhkan pikiran orang yang polos dari ajaran agama yang benar.

    Ulama sejati adalah penyeru ajaran universal, yaitu kebaikan, kesalehan pada Tuhan, akhlak, keharmonisan dan cinta karena itulah hakikat Agama. Jika ada ulama yang menyeru pada pembunuhan, sikap kebencian pada umat lain, penganiayaan, dan sikap-sikap barbar, jelaslah ia ulama yang gelap dari ajaran agama.

    *****

    Reynaldi adalah Mahasiswa Aqidah Filsafat UIN Jakarta. Ia juga adalah seorang aktivis Muslim moderat yang tertarik untuk mengembangkan ide-ide mengenai toleransi, kemanusiaan, kebebasan, dan kerukunan antar umat beragama. Email: adisuryareynaldi@gmail.com