Tom Palmer: Legalisasi Narkoba Akan Mengurangi Dampak Negatif Narkoba

    134

    Isu pemberantasan narkoba di Indonesia merupakan isu penting. Lembaga negara yang berwenang menangani permasalahan tersebut, seperti Badan Narkotika Negara (BNN) telah aktif, bahkan sangat aktif, dalam menjalankan program pemberantasan narkoba. Eksekusi mati pun dilakukan bagi terpidana kasus narkoba kelas berat walaupun mendapatkan respon keras dari negara-negara tetangga. Namun apakah kebijakan “perang melawan narkoba” ini efektif? Nyatanya tidak, narkoba masih banyak beredar di masyarakat kita. Lalu apakah solusi efektif untuk pemberantasan perdagangan narkoba? Tom G. Palmer, Vice President ATLAS Network membagikan pengalaman negara-negara Eropa yang telah cukup berhasil dalam mengurangi peredaran narkotika dengan mengikuti kebebasan individu dan perilaku alamiah manusia itu sendiri. Simak petikan wawancara Tom G. Palmer dengan Managing Editor SuaraKebebasan.org, Rofi Uddarojat di sela-sela acara International Society for Individual Liberty (ISIL) Conference, di Bali Juli lalu.

    Tom, apa kabar hari ini?

    Sangat baik dan senang bertemu anda hari ini Rofi.

    Senang bertemu dengan anda hari ini di Ubud, Bali. Saya pikir ini tempat yang indah untuk membicarakan tentang buku terbaru anda – “State Control or Self Control” (Pengendalian Oleh Negara atau Pengendalian Diri) – isinya tentang apa?

    Isinya tentang hubungan yang sangat mendalam antara kebebasan dan tanggung jawab. Dalam banyak diskusi tentang kebebasan, orang mengesampingkan peran tanggung jawab. Jika kita hidup dalam masyarakat yang bebas, maka itu adalah masyarakat di mana orang-orang bertanggung jawab atas tingkah lakunya. Dan tentu saja kita juga menuntut pemerintah untuk akuntabel dan bertanggung jawab atas tingkah laku pemerintah dan politisi. Itulah yang dimaksud dengan akuntabilitas demokratis. Kritik terhadap ide kebebasan, Libertarian atau Liberal klasik kadang salah mengerti dengan berpikir bahwa kebebasan berati melakukan apa saja yang terlintas di kepala, bahkan jika itu mencederai orang lain. (kebebasan) yang tidak berbatas. Tetapi, pemikir hebat dalam tradisi libertarian John Locke contohnya, membedakan hal ini dari Kebebasan. Mereka menyebutnya “liasons”. Liasons adalah ketika anda melakukan apa saja yang terlintas di kepala anda, tanpa memikirkan akibatnya, atau mengambil tanggung jawab dari tindakan tersebut. Tetapi pribadi yang bebas berarti juga harus bertanggung jawab atas tingkah laku anda. Ada hubungan fungsional yang sangat dekat antar keduanya. Kebebasan dan tidak memiliki rasa tanggung jawab adalah dua hal yang saling berlawanan, anda bisa katakan demikian.

    Apa yang diperlukan bagi orang muda agar bertanggung jawab terhadap diri mereka dan pada saat yang bersamaan punya kebebasan? Maksud saya, tentu saja kita bertanggung jawab terhadap diri kita masing-masing. Kenapa bisa kita punya keduanya [kebebasan dan tanggung jawab]?

    Begini, buku ini ditulis dalam beberapa rangkaian bab. Saya menulis beberapa bagian dalamnya. Tetapi saya juga mengundang beberapa bab untuk ditulis oleh para cendekiawan terkemuka dari berbagai belahan dunia untuk melihat kasus-kasus tertentu ketika pemerintah menolak rakyatnya bertanggung jawab untuk dirinya sendiri. Pemerintah melayani atau mengambil tanggung jawab mereka. Dan juga berarti menolak, mengambil kebebasan mereka. Ambil satu contoh jelas adalah negara kesejahteraan dan contoh lain perang terhadap narkoba yang menjadi isu kontroversial di banyak negara. Dalam kasus negara kesejahteraan, pemerintah berkata: jangan khawatir tentang masa depan, kami akan mengurus kalian, kesejahteraan kalian. Kami akan mengurus pensiun kalian, hari tua, dalam beberapa kasus perumahan, perawatan medis, dan banyak lagi. Dan akibatnya adalah munculnya tingkah laku tidak bertanggung jawab, orang menjadi tidak peduli terhadap masa depan, mereka mengambil tumpangan gratis dari (menunggangi) orang lain.

    Nima Sanandji dari Swedia menulis salah satu bab tentang bukti hal ini dari negara-negara Nordik dengan sistem negara kesejahteraan di sana. Seringkali ditunjukan tingginya tingkat solidaritas di negara-negara dengan negara kesejahteraan di Nordik. Karenanya, negara kesejahteraan pasti menghasilkan solidaritas. Dia menjelaskan bahwa kenyataannya sebenarnya terbalik. Karena mereka punya tingkat moralitas dan solidaritas yang tinggi sehingga negara kesejahteraan menjadi mungkin. Bukan berarti tidak ada yang mencurangi dan memanfaatkannya.Tetapi seiring waktu, negara kesejahteraan meningkatkan keinginan orang-orang untuk memanfaatkan sistem ini dan pada dasarnya mencuri dari sesama warga negaranya. Dan dia menunjukkan banyak data tentang ini. Penghilangan rasa tanggung jawab ini mengikis karakter moral mereka.

    Dan jika kita melihat dalam kasus perang terhadap narkoba, kita melihat sesuatu yang pelik juga. Di mana pemerintah berkata bahwa: kami tidak akan mengijinkan kebebasan kalian untuk memutuskan bagi diri kalian sendiri, apakah itu menghisap ganja atau narkoba lainnya. Dan salah satu konsekuensinya adalah kejahatan terorganisir masuk ke dalam bisnis, dan kita melihat secara dramatis meningkatnya kekerasan di negara-negara yang memulai perang terhadap narkoba, perang antar geng, korupsi dalam institusi hukum dan penyuapan terhadap polisi. Dan juga meningkatnya kematian karena obat terlarang. Karena orang mati karena narkoba, karena mereka tidak tahu apa yang mereka sedang pakai, tidak ada pasar legal untuk itu, tidak ada merek dagang, sehingga tidak ada pertanggungjawaban legal atas narkoba yang dijual. Sehingga, perang terhadap narkoba memiliki efek yang berlawanan dari apa yang sebelumnya ingin dicapai. Dan menuntun ke koneskuensi yang lebih negatif bagi masyarakat: lebih banyak kejahatan, kekerasan, lebih banyak kematian karena overdosis, lebih banyak penyebaran HIV karena berbagi jarum suntik, dan banyak lagi. Jadi, seluruh rangkaian bab dalam buku ini adalah penelitian terhadap konsekuensi negatif dari usaha mengambil kebebasan dari masyarakat dan lebih khusus kebebasan mereka untuk menjadi bertanggung jawab.

    Ya… Kasus yang sangat menarik lebih khusus tentang narkoba. Karena di Indonesia anda tahu sama dengan AS, kami punya perang terhadap narkoba, disebut dengan istilah dalam bahasa kami tentunya. Dan beberapa orang juga dihukum dengan eksekusi mati karena program perang terhadap narkoba oleh pemerintah kami. Tetapi kalau kita lihat, saya mengikuti presentasi anda tentang Belanda yang melegalisasi narkoba kan? Sehingga pengguna mungkin akan berkurang. Jika anda melegalkan narkoba, tentu saja orang akan menggunakan narkoba. Apa itu logika yang benar mungkin?

    Tidak… Bahkan faktanya itu salah. Dan kita punya data empiris yang sangat kuat untuk membuktikan bahwa beberapa negara telah melegalkan narkotika, dan mereka tidak melihat adanya peningkatan kecanduaan atau penggunaan narkoba.Yang mereka temukan adalah berkurangnnya kekerasan dan kematian karena overdosis. Portugis adalah salah satu contoh yang baik. Kita lihat di negara bagian di Amerika yang telah melegalkan awalnya penggunaan mariyuana (ganja) untuk tujuan medis – mariyuana sangat berguna untuk pengobatan glaukoma, kanker, atau orang yang kehilangan nafsu makan, dan banyak lagi. Tetapi sekarang, beberapa negara bagian telah mengijinkan untuk tujuan rekreasional. Orang-orang ingin menghisap ganja karena elemen kenikmatan yang mereka temukan darinya. Anda tidak temukan peningkatan gila-gilaan dari jumlah pengguna. Anda tidak akan menemukan seorang nenek tua menghisap ganja di pinggir jalan. Tidak ada juga peningkatan kriminal. Faktanya malah di banyak negara angka kriminal malah jatuh. Portugal yang saya sebut tadi adalah salah satu contoh klasik.Mereka menghilangkan semua hukuman kriminalnya. Kita juga melihat negara lain dimana mereka telah melegalkan narkoba. Dan tidak ada masalah besar sama sekali yang terjadi. Saya tidak berkata bahwa tidak ada masalah sama sekali. Tetapi kenyataanya legalisasi mengurangi masalah. Dan itu adalah hal kunci yang harus kita lihat.

    Dan itu adalah arah perubahan yang diharapkan. Sebaliknya kita melihat di negara seperti Meksiko. Yang melegalkan narkoba di negaranya. Sehingga warga Meksiko dapat memakai sepuasnya. Uang berlimpah bisa dihasilkan dengan menyeludupkan narkoba ke Amerika Serikat. Sehingga ada jumlah uang yang luar biasa besar dari penyeludupan ilegal lintas batas ke AS. Dan konflik antara geng ilegal ini, antara sesama mereka dan pemerintah, sangat menyeramkan. Lebih dari ratusan ribu manusia dibunuh dengan berbagai cara yang mengerikan. Dan bahkan faktanya, jika anda melihat tingkah laku penyeludup di Amerika Tengah yang menyeludupkan narkoba ilegal ke AS, taktik mereka hampir mengingatkan kita kepada ISIS. Pemenggalan kepala, menyiksa orang-orang sampai mati, berbagai cara yang mengerikan dan kejam dalam penggunaan teror. Jika AS melegalkan narkoba maka dia akan diangkut layaknya bir atau vodka lintas batas negara. Para penyeludup narkoba ini akan kehilangan uang dan kekuasaan mereka dalam sekejap. Ketika alkohol ilegal di AS, tingkat pembunuhan melonjak setiap tahun selama alkohol ilegal. Setiap tahun. Sampai alkohol dilegalkan, dan akhirnya tingkat pembunuhan turun setelah naik terus-menerus selama sebelas tahun berturut-turut. Ketika anda melihat korelasi yang begitu kuat seperti ini dalam pengambilan kebijakan hal ini mestinya membuka mata anda; Ini adalah kegagalan.

    Saya ingin menanyakan anda sebuah pertanyaan filosofis: jika seseorang ingin mengkonsumsi sesuatu dan dia tidak peduli dengan segalah hal – kesehatannya, keselamatan, kematian. Atau hal seperti itu seperti membunuh, membunuh dirinya?

    Mari lihat dari sudut pandang ini. Bahwa, ada resiko kesehatan yang terkandung dari meminum alkohol, atau menggunakan berbagai jenis narkoba. Tetapi semua itu menjadi lebih buruk dengan melarang penjualannya. Salah satu alasannya ada di wilayah yang tidak terlalu nampak. Di tempat dimana orang bisa secara bebas bisa mengkonsumsi narkoba dengan jarum suntik mereka menggunakan suntik yang bersih. Ketika ilegal, mereka pergi ke gang-gang atau tempat mereka berbagi jarum suntik.

    Jadi bahkan mereka yang irasional, mereka yang tidak memikirkan tentang masa depan, mereka sangat dirugikan oleh kebijakan ini. Mereka adalah orang-orang yang memang sudah pencari resiko sedari awal.Mereka mau mengambil resiko menggunakan narkoba karena mereka mau narkoba.Mereka mau mengambil resiko menggunakan suntik yang kotor dan hal beresiko lainnya juga.

    Jadi apakah itu kebebasan mereka. Itu kemerdekaan mereka?

    Tetapi, keadaan mereka akan jauh lebih baik jika mereka punya kebebasan untuk membuat pilihan. Mereka tidak akan menggunakan suntik kotor. Dan lebih khusus, mereka tidak akan menyuntikkan zat yang sudah tercemar yang beracun. Hampir semua konsekuensi negatif untuk kesehatan yang didapat dari mengkonsumsi narkoba dan alkohol menjadi lebih buruk ketika ada pelarangan (ilegal). Dan kita melihat bukti kuat untuk ini ketika pelarangan alkohol di amerika. Ada sebuah prinsip ekonomi dalam pasar ilegal: jika kamu mau melanggar hukum, menyeludupkan sesuatu, kamu mau menyeludupkan yang dengan konsentrasi dosis paling tinggi. Karena kamu punya kotak kecil, yang kamu bawa seludupkan, apa kamu mau bawa sekotak bir atau sekotak vodka? Betul? Dan ketika alkohol ilegal, apa yang terjadi adalah berpindahnya konsumsi dari bir dan anggur – dosis rendah, ke vodka, whisky, dan gin – alkohol dosis sangat tinggi. Karena jika anda mungkin tertangkap ketika menyeludupkan, pasti anda akan terpikir bahwa dengan resiko yang anda ambil sekalian saja membawa yang dengan konsentrasi tinggi.

    Dan inilah yang terjadi dalam pasar ilegal narkoba. Ganja yang orang hisap 40-50 tahun lalu sangat ringan. Karena pasar yang ilegal pasar berpindah ke dosis terkonsentrasi tinggi yaitu ganja dari kuntum bunga tumbuhan ganja. Mereka membiakkan narkoba dosis tinggi, kadang mereka tambah opium kedalamnya dan lainnya, sehingga ganja yang dikonsumsi saat ini di kebanyakan tempat di dunia, jauh lebih kuat. Ini didorong oleh pasar dan pilihan, yang didorong oleh prinsip ekonomi pasar ilegal. Hal yang sama kita lihat terjadi ketika pelarangan alkohol, orang berpindah dari bir yang punya kandungan alkohol rendah (3%) ke yang dosis lebih tinggi 25%, 50%, 70% bahkan 100% alkohol.