The Gifted dan Pentingnya Kompetisi di Sekolah

779

Judul: The Gifted

Tahun Produksi: 2018

Sutradara: Patha Thongpan, Dhammarong Sermrittirong, Waasuthep Ketpetch, Jarupat Kannula

Produksi: GMMTV

Jumlah Episode: 13

 

Serial The Gifted menjadi salah satu drama Thailand populer dan baru-baru ini kembali trending karena sekuelnya, The Gifted: Graduation. Serial tersebut baru saja keluar awal bulan September lalu. Karena banyak teman saya yang merekomendasikan series ber-genre science fiction tersebut, akhirnya saya memutuskan untuk menghabiskan 2 malam untuk menyelesaikan drama Thailand tersebut.

Cerita di serial “The Gifted” ini dimulai dengan deretan tingkah salah satu tokoh bernama Pang, yang diperankan oleh Nanon Korapat. Pang adalah seorang siswa di SMA Ritdha, yang merasa tertekan dan tidak setuju dengan sekolah yang selalu menekankan bahwa nilai pelajaran adalah tolak ukur keberhasilan seorang siswa.

SMA Ritdha memiliki sistem pembagian kelas berdasarkan nilai pelajaran para siswanya. Di sekolah tersebut terdapat pembagian kelas I sampai dengan VIII di tiap tingkatnya, yang secara fisik juga ditandai dengan pin lambang kelas yang harus disematkan di baju seragam. Siswa yang bisa masuk ke kelas I adalah siswa paling pintar di SMA Ritdha, dan berurut berikutnya ke kelas II hingga kelas VIII. Si Pang ini sendiri adalah siswa tingkat 10, kelas VIII, dengan ranking paling terakhir.

Pang, sebagai siswa kelas VIII, merasa tidak adil dengan adanya sistem klasifikasi kelas berdasarkan nilai pelajaran siswa di SMA Ritdha tersebut. Pasalnya, sistem klasifikasi kelas tersebut tidak hanya menunjukkan kepintaran para siswanya yang menjadi tolak ukur pandangan orang sekitar, namun juga menunjukkan perbedaan perlakuan terhadap siswanya. Rasa iri dan juga tingkah saling merendahkan pun bermunculan karena adanya sistem klasifikasi kelas seperti itu.

Di setiap akhir semester, SMA Ritdha mengadakan ujian penempatan ulang kelas. Saat ujian itu diumumkan, siswa spesial akan masuk dalam kelas paling tinggi, yaitu kelas program Gifted. Siswa di kelas program Gifted, akan mendapatkan fasilitas dan keistimewaan yang jauh lebih baik dari siswa-siwa kelas I. Saking spesialnya kelas program Gifted ini, bahkan peraturan sekolah mengenai seragam, hingga kebebasan tata rambut dan make up pun boleh dilanggar oleh siswa yang lolos ke kelas program Gifted. Tentu saja semua siswa ingin masuk ke dalam kelas itu ‘kan?

Melihat dari cerita singkat mengenai gambaran keseluruhan drama ini, dapat ditebak bahwa hampir seluruh (mungkin sebagian) akan mendukung si tokoh utama dalam memperjuangkan hak keadilan bagi seluruh siswa di sekolah dengan dihapuskannya tingkatan kelas. Baru kali ini, saya tidak setuju dengan prinsip tokoh utama, terlepas dari niat jahat sekolah untuk memanfaatkan murid kelas Gifted ini sebagai kelinci percobaan.

Dari drama ini, saya ingin menggarisbawahi prinsip tokoh utama yang cukup naif dan alasan saya mendukung kompetisi sehat antar siswa untuk bersaing mendapatkan posisi di kelas teratas. Banyak murid yang terbilang “biasa saja” tidak setuju dengan sistem seperti ini. Namun, bagaimana dengan murid yang memiliki prestasi akademik maupun non akademik yang bagus? Tentu mereka tidak akan sudi disamaratakan statusnya dengan murid yang lainnya karena perjuangan mereka meraih prestasi-prestasi tersebut tidak sebanding.

Jiang Kai dalam “The Origin and Consequences of Excess Competition in Education: A Mainland Chinese Perspective”, mengatakan bahwa pendidikan saat ini identik dengan kompetisi, karena kompetisi merupakan kunci sebuah eksistensi. Kompetisi bersifat universal, luas dan merambah banyak bidang, termasuk di dalamnya pendidikan. Hampir pada setiap program kerja sekolah diarahkan pada iklim kompetisi dalam beragam kemasaan dan penamaan (Jiang Kai, 2012).

Kompetisi adalah persaingan dapat digunakan sebagai alat motivasi untuk mendorong anak didik agar mereka bergairah belajar. Persaingan, baik dalam bentuk individu maupun kelompok, diperlukan dalam pendidikan. Kondisi ini bisa dimanfaatkan untuk menjadikan proses interaksi belajar mengajar yang kondusif. Untuk menciptakan suasana yang demikian, metode mengajar memegang peranan. Guru bisa membagi anak didik ke dalam beberapa kelompok belajar di kelas, ketika pelajaran sedang berlangsung. Semua anak didik dilibatkan ke dalam suasana belajar.

Guru bertindak sebagai fasilitator, sementara setiap anak didik aktif belajar sebagai subjek yang memiliki tujuan. Iklim kelas yang kreatif dan didukung dengan anak didik yang haus ilmu sangat potensial untuk menciptakan masyarakat belajar di kelas. Kompetisi yang sehat pun berlangsung di kalangan anak didik, jauh dari sifat malas dan kemunafikan. Kemungkinan beredar isu tugas selesai karena menyontek di kalangan pelajar dapat ditekan.

Argumen saya di atas mungkin akan ditolak dengan pandangan seperti ini, bahwa “Menciptakan dikotomi antara siswa unggul dan siswa dengan prestasi ‘apa adanya’, sesungguhnya merupakan upaya pembatasan ruang siswa untuk saling mengisi, menyempurnakan dan merefleksikan kekurangan dan kelebihan diri sebagai pembelajar. Siswa berprestasi kemudian menjadi semakin digdaya pada pencapaiannya dengan dihadiahi fasilitas serta layanan pendidikan yang baik dan berkualitas. Sedangkan siswa yang berada pada kuadran tidak berprestasi, secara sistemik akan selalu berada di lingkungan yang sama, sekolah biasa dengan fasilitas yang (sangat) apa adanya. ”

Hal tersebut benar apabila kita hanya melihat keadilan dari sudut pandang siswa yang biasa saja. Jika implementasi sekolah seperti itu, keadilan hanya terjadi bagi siswa yang biasa saja, lalu, bagaimana dengan siswa yang sudah berjuang keras, mati-matian belajar semalam suntuk, namun tetap saja disamaratakan dengan siswa biasa saja yang mungkin dari pagi sampai malam hanya bermain?

Kembali lagi kita lihat pada contoh di series The Gifted, saat tokoh utamanya gagal menghentikan direktur sekolah untuk menghapus sistem program kelas tersebut. Sang direktur tidak begitu saja membiarkan prinsip Pang berjalan sesuai keinginannya, karena beliau juga mendengarkan keinginan murid yang telah lama berada di kelas Gifted.

Direktur memberi syarat kepada murid Gifted. Apabila sistem kelas dihapus, bakat dan potensi siswa kelas Gifted yang sudah dikembangkan mati-matian selama hampir satu semester turut dihapus dari masing-masing mereka. Bisa tebak pilihan mereka apa? Ya, mereka ingin mempertahankan bakat dan prestasi mereka karena usaha mereka untuk mencapai hal tersebut tidak sebanding dengan “kelas” siswa yang berada di bawahnya.

Di Indonesia sendiri, sistem kelas seperti ini hanya diterapkan di beberapa sekolah swasta. Kondisi ini bagus untuk murid di Indonesia agar menyadari perlunya perjuangan keras untuk dapat di posisi “enak” yang mereka inginkan.

Namun, adanya standar-standar pada target muatan kurikulum, hampa makna, dan kurang pragmatis membuat kreativitas murid kurang diasah dan hanya terpaku pada “nilai bagus”. Padahal, yang harus ditargetkan oleh para tenaga pengajar selain ketuntasan nilai adalah kemampuan siswa bernalar dan memakai logic and scientific method. Dalam hal ini, proses pembelajaran yang kreatif dan dinamis sangat penting untuk menghasilkan produk pemikiran yang dapat menciptakan inovasi-inovasi baru lainnya.

 

Referensi

Jiang Kai. 2012. “ Origin and Consequences of Excess Competition in Education: A Mainland Chinese Perspective”. Chinese Education and Society, Vol. 45, No. 2. Diakses pada 12 September 2020, pukul 23.00 WIB.