Tertawalah Sebelum Humor itu Dilarang

    171

    Tak ada yang lebih dibutuhkan saat kesulitan dan kesusahan selain lelucon dan humor yang memancing tawa. Di tengah keruhnya perpolitikan kita dan wabah Corona yang melanda, masyarakat butuh sebuah komedi sebagai sarana hiburan untuk menghibur jiwanya. Komedi bukan hanya sekedar lelucon pengocok perut, tetapi juga menjadi sebuah sarana alami dalam tubuh manusia untuk mempertahankan hidup.

    Sayangnya, ketika rakyat sedang membutuhkan hiburan dan juga humor jenaka, lembaga kepolisian justru malah bertindak represif. Salah satunya dengan menangkap seorang yang memposting humor Gus Dur tentang ‘tiga polisi baik’ di akun media sosialnya. Ismail Ahmad, warga Kabupaten Kepulauan Sula, Provinsi Maluku Utara, berurusan dengan polisi karena postingannya dianggap bertentangan dengan UU ITE. Ismail kemudian dijemput polisi dibawa ke Polres Kabupaten Kepulauan Sula (Rakyat Merdeka, 19/06/2020).

    Kasus ini dinyatakan selesai setelah yang bersangkutan dalam konferensi pers menyatakan permohonan maafnya pada institusi polisi. Tentu saja, netizen dan para tokoh memprotes penangkapan tersebut. Hanya karena sebuah humor, apakah pantas dia ditangkap? Dan pantaskah hanya karena sebuah satiran, ia sampai harus membuat konferensi pers untuk meminta maaf? Tentu saja jawabnya tidak!

    Sangat tidak patut jika ada orang yang melarang sebuah tawa, mengharamkan humor, dan mengkriminalkan orang yang bercanda ria. Apakah kita sedang krisis kebahagiaan sehingga harus meredam tawa dengan hukuman? Apakah negara ini telah jatuh pada otoritarianisme baru, yang akan memisahkan kepala dari badan hanya karena sebuah “tawa”?

    *****

    Tertawa bukan sekedar reflek alami tubuh ketika melihat sesuatu yang konyol atau jenaka. Tertawa juga bukan sekedar ungkapan kebahagiaan saja. Banyak orang tak sadar bahwa tawa adalah senjata yang ampuh untuk meredam buruknya suasana menjadi lebih gembira dan hidup menjadi lebih berwarna.

    Ketika ekonomi lumpuh akibat wabah, PHK dimana-mana, pekerjaan susah, apa yang bisa dilakukan? Ketika pertikaian politik terus memanas, wajah masyarakat semakin kaku karena fanatisme politik, suku dan agama, maka yang dibutuhkan oleh kita saat ini bukanlah superhero yang turun dari langit, tetapi lelucon agar suasana menjadi cair dan gembira. Tertawa lebih baik daripada stres, memikirkan wabah dan krisis keuangan.

    Komedi atau lelucon adalah suatu ungkapan yang membuat kita melepas tawa. Orang selalu membutuhkan sesuatu untuk menghibur diri atau mencairkan suasana. Komedi adalah adalah media yang dapat mencairkan suasana yang tegang menjadi gembira. Bayangkan jika dunia ini tanpa lelucon dan humor, tentu dunia akan menjadi sumpek dan makin memuakkan.

    Pakar psikoanalisa, Sigmund Freud, dalam Jokes and Their Relation to the Unconscious, menulis bahwa humor dan komedi sekurang-kurangnya memiliki dua fungsi. Pertama, menyembuhkan ketegangan dalam diri dengan membiarkan ketegangan dan pikiran negatif itu dilepaskan dalam bentuk tawa, sehingga rasa cemas dan emosi mereda. Sementara, fungsi kedua, humor dan komedi bisa digunakan sebagai bentuk “penyamaran” atau resistensi terhadap sesuatu yang tidak diinginkan. Fungsi kedua ini kemudian bisa membuat humor sebagai sarana kritik terhadap lingkungan atau situasi politik (Freud, 1990).

    Lelucon sebagai Alat Kritik

    Lelucon lahir sebagai refleksi masyarakat atas fenomena-fenomena sosial yang dihadapi sehari-hari. Lelucon adalah cara paling indah dalam mengkritik status sosial, tindakan masyarakat, bahkan kesewenangan-wenangan kebijakan tanpa memancing emosi siapapun.

    Lewat ungkapan-ungkapan humor, komunikasi politik dapat dibangun. Hal-hal yang tabu menjadi renyah dan semua orang ikut tertawa. Canda dan tawa adalah anugerah Tuhan yang luar biasa. Lewat komunikasi tawa, banyak kritik pedas disampaikan dalam kemasan menarik yang mengocok perut dan meredakan emosi. Komedi menjadi salah satu media yang paling efektif karena dapat diterima oleh lapisan masyarakat.

    Sebut saja, dengan grup Warkop DKI yang pernah menjadi primadona pada dekade 1980 sampai 1990-an. Kita begitu menikmati adegan-adegan jenaka dalam tiap film mereka. Saking lucunya, siapapun yang menonton pasti akan merasa gembira dan terhibur, tanpa sadar bahwa banyak kritik politik yang mereka sampaikan.

    Ketika saya menonton film Warkop berjudul  “Sama Juga Bohong” (1986), mereka mengkritik pembangunan pada masa itu yang dibanjiri oleh produk-produk impor yang otomatis membuat orang-orang meninggalkan produk dalam negeri. Film-film Warkop juga menggambarkan elitisme yang berkembang dengan cepat, kesenjangan di masyarakat, dan kriminalitas yang marak seiring dengan berkembangnya masyarakat perkotaan.

    Komedi tak bisa dilepaskan dari masyarakat demokratis, karena komedi itu sendiri adalah ekspresi kebebasan dan kritisisme masyarakat dalam bentuk lelucon dan humor-humor segar. Komedi kadangkala bergerilya di rimba otoritarian dan di lautan militerisme, menghibur publik yang dikurung oleh propaganda yang merusak akal dan slogan diktator yang menyesakkan pernafasan.

    Di zaman Partai Komunis Uni Soviet berkuasa, pemerintah melarang segala bentuk kritikan maupuan satiran yang ditujukan kepada partai atau ketua Partai Komunis di seluruh wilayah Soviet. Pada masa itu, muncul lelucon-lelucon di kalangan masyarakat yang menceritakan bahwa terdapat kontes lawak rahasia yang tempatnya dirahasiakan oleh pemerintah. Juara ketiga kontes akan menginap di ‘hotel prodeo’ secara gratis selama 15 tahun, juara kedua akan menginap gratis selama 25 tahun, dan juara pertama akan mendapat hadiah pemakaman gratis (Zlobin, 1996).

    Dari sini kita bisa mengetahui, sekalipun ekspresi kritis masyarakat dikekang, mereka akan tetap hidup dalam bentuk humor-humor dan lelucon yang mengocok perut tetapi sarat akan makna. Humor dan lelucon senantiasa hadir ditengah masyarakat. Humor seolah menjadi ekspresi kritis masyarakat, selain sebagai ekspresi kegembiraan. Humor juga merupakan sesuatu yang sangat penting untuk menjaga kesehatan demokrasi suatu bangsa.

     

    Referensi

    Buku & Jurnal

    Freud, Sigmund. 1990. Jokes and Their Relation to the Unconscious. New York: W.W Norton Company Publisher.

    Zlobin, Nikolai. 1996. Humor as Political Protest. Journal Demokratizatiya.

     

    Internet

    https://rmco.id/baca-berita/nasional/38499/kutip-omongan-gus-dur-ditangkap-polisi-netizen-tanya-apakah-negara-kita-juga-sudah-krisis-humor Diakses pada 23 Juni 2020, pukul 23.35 WIB.