Teori Konspirasi, Media Sosial, dan Misinformasi

    580

    Neil Amstrong dan Buzz Aldrin tak pernah mendarat di bulan. CIA habisi John F. Kennedy karena takut ia akan membongkar rahasia UFO. Michael Jackson palsukan kematian. Bumi itu sebenarnya datar. 

    Merasa familiar dengan pernyataan-pernyataan di atas? Daftar itu adalah sebagian teori konspirasi yang hingga hari ini masih dipercayJua banyak orang. Bicara tentang konspirasi, akhir-akhir ini, nama Jerinx menduduki peringkat pertama trending di Twitter karena pernyataannya soal COVID-19 yang merupakan bagian dari konspirasi dunia. Instagram memang menjadi salah satu media Jerinx, drummer Superman Is Dead, untuk menyuarakan pandangannya soal bagaimana pandemi merupakan sebuah rancangan elit global dan hanya berupa konspirasi saja. Jerinx sendiri tak ragu menyentil seleb ibu kota yang dinilainya terlalu pakem pada sistem dan bahkan di-endorse untuk mempromosikan COVID-19.

    Selain di Indonesia, dalam beberapa tahun terakhir, podcast Lange Frans, penyanyi asal Amsterdam, menjadi sangat populer di Belanda. Subjek obrolan berkisar seputar isu COVID-19, hilangnya Penerbangan MH370 hingga UFO, topik apa pun untuk memperkaya dunia konspirasi. Dia juga membidik Bill Gates, salah satu pendiri Microsoft yang telah berjuang selama beberapa dekade terakhir untuk meningkatkan akses ke vaksin dan merupakan orang yang paling disukai oleh para ahli teori konspirasi (news.detik.com, 18/5/2021).

    Teori konspirasi sendiri adalah teori-teori yang berusaha menjelaskan bahwa penyebab tertinggi dari satu atau serangkaian peristiwa (pada umumnya peristiwa politik atau sejarah) sering kali memperdaya, direncanakan diam-diam oleh sekelompok rahasia orang-orang atau organisasi yang sangat berkuasa atau berpengaruh. Banyak teori konspirasi yang mengklaim bahwa peristiwa-peristiwa besar dalam sejarah telah didominasi oleh para konspirator belakang layar yang memanipulasi kejadian-kejadian politik. Dengan kata lain, menjadikan sesuatu sebagai alternatif demi mencapai tujuan yang telah dirancang.

    Penganut teori ini pun terbelah dalam dua kubu utama. Kelompok pertama adalah mereka yang hanya percaya bahwa segala hal mungkin terjadi apabila ada dukungan argumentasi yang kuat, fakta akurat, data ilmiah, pendapat yang bisa diverifikasi kebenarannya, tokoh-tokoh yang nyata, sejarah yang memang ada dan bukan mitos, dan sebagainya. Kelompok ini percaya John F. Kennedy sebenarnya tidak tertembak, tetapi diselamatkan oleh makhluk angkasa luar misalnya.

    Kelompok kedua adalah mereka yang percaya tanpa syarat alias mereka yang menganggap apapun yang terjadi sudah dirancang sedemikian rupa, yang acapkali menghubungkan dengan mitos, legenda, supranatural, dan sebagainya. Misalnya, mereka percaya bahwa peristiwa 11 September sudah dirancang sebagaimana yang terlihat pada lipatan uang kertas 20 dolar AS, di mana apabila kita melipat uang itu sedemikian rupa akan tercipta gambar menara kembar yang terbakar.

     

    Kebebasan Berekspresi dengan Teori Konspirasi

    Teori konspirasi saat ini dapat dengan sangat cepat menyebar melalui media sosial yang menyajikan beragam informasi mulai dari urusan politik, sosial, budaya yang merambah hampir ke semua ranah kehidupan manusia, Teori konspirasi itu menarik, menggelitik, dan memberikan pengetahuan yang berbeda tentang suatu hal, misal yang  berkaitan dengan kebebasan berekspresi.

    Menurut data yang dikutip dari Kominfo, per tahun 2020, pengguna internet di Indonesia 175,5 juta jiwa atau dengan prosentase 65,3% dari keseluruhan jumlah penduduk Indonesia (dip.fisip.unair.ac.id, 20/12/2020). Banyaknya masyarakat Indonesia yang menjadi pengguna media sosial dan internet mengakibatkan adanya suatu pergeseran fungsi dan peran dari masyarakat internet atau netizen itu sendiri.

    Tidak dapat dipungkiri bahwa, masyarakat pada era 4.0 ini menjadikan suatu pola komunikasi dan membentuk suatu era masyarakat informasi yang interaktif dan dinamis. Kemudahan, akses informasi akan menjadikan masyarakat untuk mengeluarkan opini dan pendapat, serta informasi personalnya kepada masyarakat lain dan dapat menanggapi pula konten dari netizen lainnya. Fenomena ini disebut dengan budaya partisipasi.

    Budaya partisipasi di masyarakat informasi ini mengakibatkan impaksi di mana masyarakat internet atau netizen dapat memproduksi dan mendistribusi informasi dengan memegang kontrol sendiri. Hal ini sebenarnya bagus, masyarakat bebas dalam membangun branding dan mempresentasikan dirinya sendiri di internet dan media sosial. Namun, ada beberapa oknum yang tidak bertanggung jawab kerap menyebar berita palsu atau hoax, entah hanya untuk kepentingan pribadi yang bersifat tak sengaja atau memang untuk kepentingan organisasi dan politik didalamnya.

    Teori konspirasi masuk ke dalam kategori umum, yaitu misinformasi. Karakteristik kuncinya adalah kepercayaan bahwa peristiwa-peristiwa luar biasa merupakan hasil dari kerja kekuatan jahat yang bersembunyi secara rahasia.

    Kemudian apa yang menjadikan media sosial sebagai media yang memiliki karakter yang khusus dalam persebaran hoax dan konspirasi di antaranya adalah adanya sentralisasi dan otoritas yang relevan dengan ilmu pengetahuan, agama, politik dan sebagainya, dan media sosial sebagai amplifier informasi. Algoritma di media sosial dapat mendorong pandangan yang ekstrem untuk mendapatkan exposure yang lebih luas, dan terakhir, pendapat dari followers yang semakin ekstrem pada penyebaran teori konspirasi.

     

    Mereka yang Percaya dan Alasannya

    Kenapa respons dari netizen sangat berpengaruh? Seringkali kita membuat keyakinan dalam cara yang mendukung apa yang kita inginkan sebagai suatu kebenaran dan mengetahui lebih banyak informasi tidak banyak membantu. Pada akhirnya, kita ingin merasa nyaman, bukannya merasa benar. Karena itulah teori konspirasi datang dan pergi, dan juga mengapa konspirasi akan selalu menjadi bagian dari kisah yang kita ceritakan terkait dengan peristiwa politik.

    Ada lagi berdasarkan riset yang tayang di Social Psychiatry and Psychiatric Epidemiology tahun 2017 menyebutkan bahwa rata-rata orang dengan pendapatan rumah tangga lebih kecil, lebih meyakini adanya teori konspirasi, dibanding mereka yang berpendapatan lebih besar (Morgan, 2021).

    Terkait hal ini, Joseph Parent, Profesor Ilmu Politik di Notre Dame University dan salah satu penulis American Conspiracy Theories, mengatakan, “Dalam hal ini, teori konspirasi bisa seperti obat emosional. Anda enggan menyalahkan diri sendiri atas hal yang mungkin merugikan Anda, jadi Anda menyalahkan kekuatan yang tak terlihat,” ujarnya (Uscinski & Parent, 2014).

    Selain itu, mereka yang percaya teori konspirasi sejatinya tidak terlalu percaya bahwa dunia adalah tempat yang berbahaya. Namun, mereka cenderung setuju bahwa ada “tanda-tanda” yang mengarahkan dunia ini menuju ke kekacauan. Mereka juga meyakini bahwa objek non-manusia, seperti simbol segitiga di suatu tempat, misalnya, telah sengaja dibuat sedemikian rupa dengan tujuan tertentu. Masyarakat tertarik pada teori konspirasi di kala krisis yang menimbulkan banyak ketidakpastian pada kehidupan.

    Seperti pandemi ini, tidak ada yang  tahu dari mana asal virus. Kita tak tahu siapa saja yang akan tertular, dan kita juga tak tahu kapan masa sulit ini akan berakhir. Segala ketidakpastian ini membuat individu merasa kehilangan self-control dalam hidupnya. Untuk mendapatkannya kembali, mereka membuat teori konspirasi, yang membuat mereka merasa setara dengan ahli-ahli di seluruh dunia.

    Conspiracy theorists memang selalu percaya mereka “si paling kritis”, yang level critical thinking-nya lebih tinggi dari orang biasa. Mereka hanya menolak apapun yang disajikan media mainstream, bukan berpikir secara kritis dengan framework dan reasoning. Teori konspirasi juga membuat yang percaya merasa spesial, lebih baik, ‘holier than thou’ dari orang kebanyakan.

    Namun, tidak dapat dipungkiri lagi, teori konspirasi dengan premisnya yang berantakan dan penempatan tanda baca yang salah lebih mudah dimengerti bagi orang-orang yang lebih menyukai shortcut. Daripada memahami isu dari dasar, dasar-dasar sains, dan belajar memverifikasi dengan model matematika, mereka lebih memilih mendapat jawaban langsung dari teori konspirasi.

    Mungkin setelah mendengar efek dari mempercayai teori konspirasi yang berseliweran di media sosial, Anda bisa saja berpikir , kenapa berpendapat di media sosial tidak dibatasi? Atau, kenapa praktik berekspresi di media sosial tidak direstriksi demi menjaga kenyamanan?

    Bagi saya yang jauh lebih penting adalah mengedukasi masyarakat agar dapat lebih cerdas dalam mengolah informasi yang mereka terima di media sosial. Dengan demikian, intervensi pemerintah yang besar dalam mengatur informasi dan apa yang bisa diakses oleh masyarakat tidak begitu diperlukan. Bila kebebasan berekspresi ditingkatkan, maka kita juga dapat melawan ide-ide konspirasi tersebut melalui kebebasan yang kita miliki. Dan juga, kebebasan berekspresi yang tinggi berarti akan lebih banyak ide-ide baru dan ide-ide kreatif yang bisa diekspresikan oleh masyarakat.

     

    Referensi

    Jurnal:

    Morgan, Craig. 2021. “Social Psychiatry and Psychiatric Epidemiology.” The International Journal for Research in Social and Genetic Epidemiology and Mental Health Services. Diakses dari https://link.springer.com/article/10.1007/s00127-017-1354-4 pada tanggal 5 Juli 2021 pukul 07.00 WIB.

    Uscinski, Joseph E; Joseph M. Parent. 2014. “American Conspiracy Theories”. Oxford Scholarship Online. Diakses dari https://oxford.universitypressscholarship.com/view/10.1093/acprof:oso/9780199351800.001.0001/acprof-9780199351800 pada tanggal 5 Juli 2021 pukul 10.00 WIB.

     

    Internet:

    http://dip.fisip.unair.ac.id/id_ID/kebebasan-berekspresi-dan-berpendapat-serta-regulasi-yang-mengaturnya-dalam-masyarakat-informasi-di-indonesia/ Diakses pada tanggal 4 Juli 2021, pukul 23.00 WIB.

    https://news.detik.com/dw/d-5573208/teori-konspirasi-covid-19-lahir-di-as-tersebar-ke-eropa Diakses pada tanggal 4 Juli 2021, pukul 23.00 WIB.