Tentara, Keutuhan Nasional, dan Perdamaian

    101

    Tenggelamnya kapal selam KRI Nanggala 402 telah membuat suasana duka menyelimuti masyarakat Indonesia. Siapa menyangka latihan yang dilakukan oleh Angkatan Laut RI di laut Bali tersebut akan menjadi hari yang mengenaskan bagi sejarah armada maritim kita.

    Memang, tenggelamnya kapal selam KRI Nanggala 402 bukan karena lemahnya pertahanan angkatan bersenjata kita atau karena ketidaksigapan para prajurit, tetapi semua bermula karena kapal selam buatan Jerman Barat tersebut sudah layak untuk masuk museum alias sudah terlalu sepuh. Tragedi ini menjadi catatan penting untuk pemerintah agar segera memodernisasi alutsista sebagai pendukung utama tentara nasional dalam menjaga keamanan negara.

    *****

    Jika kita melihat duka cita masyarakat terhadap tenggelamnya KRI Nanggala 402, jelas terlihat bahwa masyarakat begitu mencintai TNI Angkatan Laut (TNI AL). Rasa kecintaan ini bukan hanya terjadi belakangan ini, tapi sudah mengakar dalam sejarah. Misalnya, James Luhulima dalam bukunya “Hari-hari Terpanjang”, menceritakan pada tahun 1998 saatkejatuhan Soeharto dan mahasiswa menguasai gedung DPR/MPR RI, mahasiswa tidak mau pulang dari Gedung DPR kecuali Marinir (AL) yang mengantar mereka pulang (Luhulima, 2007).

    Serupa dengan tahun 1998, penulis sendiri merasakan kedekatan mahasiswa dan TNI AL saat demonstrasi mahasiswa menolak revisi UU KPK. Ketika situasi menegang, penulis menyaksikan sendiri prajurit baret ungu” tersebut menentramkan suasana. Bahkan mereka yang memberi perlindungan dan air minum pada mahasiswa yang kelelahan.

    Apakah ini berarti ada pengaruh kolektif dalam memori sejarah bangsa kita? Bisa ya dan tidak. Namun, kepastian yang kita dapatkan, prajurit angkatan laut memiliki sisi khusus dalam lembar sejarah bangsa. Di masa lampau, mereka bertugas mengamankan wilayah negara, menjaga niaga rakyat, serta memperluas hubungan antar negara.

    Dalam novel “Arus Balik”-nya Pramoedya, dapat dilihat betapa masyarakat bangga dan rindu akan kekuatan maritim yang berhasil menyatukan rakyat dan wilayah Nusantara. Dalam novel tersebut, Pram berusaha untuk menunjukkan sebuah negara maritim yang megah dengan kekuatan bahari yang jaya (Toer, 2002) .

    Juga dalam novel “Bumi Manusia”, Pram kembali menulis pentingnya kekuatan armada laut dengan mengkritik kesalahan terbesar Pemerintah Kolonial Hindia Belanda yang melupakan angkatan laut sebagai fondasi penjaga kelanggengan politik mereka. Ketika mereka membangun benteng-benteng di Jawa, hal itu sudah tak berguna karena kekuatan Angkatan Laut Jepang sudah menerobos jauh mengekspansi pulau-pulau Indonesia sehingga dalam waktu singkat Hindia Belanda dapat ditaklukan (Toer, 2005).

    Antara Pertahanan dan Perdamaian

    Ketika pemerintah mengatakan akan menaikkan anggaran pertahanan sebanyak 127 triliun Rupiah, (Pikiran Rakyat, 23/1/2020), banyak orang yang memprotes dan bertanya, “Bukankah kita tidak dalam kondisi perang? Kenapa anggaran Kementerian Pertahanan begitu besar?”

    Pertanyaan ini memang wajar ditanyakan oleh warga negara yang kritis. Namun, seperti pandangan Prof. Daoed Joesoef dalam buku “Pertahanan, Keamanan, dan Strategi Nasional” bahwa kemajuan ekonomi, stabilitas politik dalam dan luar negeri, serta aktivitas masyarakat bebas juga bergantung pada pertahanan negara (Joesoef, 1973).

    Jika pertahanan suatu negara A begitu lemah, bukan tidak mungkin bahwa negara B, C, atau D yang lebih kuat akan menyerang sehingga stabilitas dan ketentraman rakyat di negara A menjadi kacau balau.

    Tentu saja mengenai peperangan, ideologi libertarianisme atau kebebasan secara mutlak menolak aksi-aksi perang dalam bentuk apapun. Peperangan pada akhirnya hanya menyebabkan konflik yang merugikan dan menghancurkan peradaban.

    Murray Rothbard seorang filsuf kebebasan, menegaskan bahwa dirinya anti perang dan secara radikal menolak peperangan dalam bentuk apapun. Namun terlepas dari hal itu, peperangan itu sendiri bukan fenomena sederhana yang bisa dicegah dengan mudah. Perang terjadi karena kompleksitas keadaan politik suatu negara (Suarakebebasan.id, 18/9/2018).

    Hampir bisa dikatakan mustahil kita menghapus peperangan. Namun, kita dapat mencegah hal itu terjadi dengan memperkuat pertahanan. Antara peperangan dan pertahanan memang dua hal yang saling terkait, namun jika kita membahas pertahanan bukan berarti selalu harus berperang.Pertahanan bisa menjadi suatu konsep untuk menghindari peperangan itu sendiri.

    Mayor Jenderal T. B. Simatupang menjelaskan fungsi Tentara Nasional Indonesia pasca revolusu fisik tak lain dan tak bukan adalah menjadi pelopor perdamaian untuk menciptakan masyarakat adil, makmur, damai dan demokratis (Simatupang, 1985).

    Jika suatu negara memiliki visi demokrasi, kebebasan ekonomi, penegakan hukum yang adil, namun negara tersebut tidak memiliki konsep dasar pertahanan-keamanan yang jelas, otomatis visi tersebut menjadi omong kosong belaka. Tidak mungkin rakyat bisa meneriakkan kebebasan di tengah gempuran peperangan, dan tidak mungkin rakyat bisa menegakkan hukum jika stabilitas politik kacau dan keamanan terancam, maka disinilah militer berperan

    Terlepas dalam lembar sejarah kita, tentara memiliki citra yang buruk di awal era reformasi, namun tentara memiliki fungsi vital untuk menjaga keamanan rakyat. Dengan kata lain, tentara bertugas untuk menjaga stabilitas sistem politik, demokrasi, dan juga pembangunan ekonomi.

    Hal ini bukan berarti penulis menyetujui kembalinya Dwifungsi ABRI ala Orde Baru di mana tentara bisa campur tangan dalam politik dan tugas sipil. Namun, diakui atau tidak, tentara memiliki peran strategis untuk menjaga stabilitas suatu negara agar demokrasi, penegakan hukum dan ham, serta pembangunan ekonomi tetap berjalan baik tanpa ada gangguan.

    Referensi

    Buku

    Joesoef, Daoed. 1978. Dua Pemikiran tentang Pertahanan, Keamanan dan Strategi Nasional. Jakarta: CSIS.

    Luhulima, James. 2007. Hari-hari Terpanjang Menjelang Mundurnya Presiden Soeharto dan Beberapa Peristiwa Terkait. Jakarta: Kompas.

    Simatupang, T. B. 1985. Pelopor dalam Perang, Pelopor dalam Damai. Jakarta: Sinar Harapan.

    Toer, Pramoedya Ananta. 2002. Arus Baik. Jakarta: Hastra Mitra.

    Toer, Pramoedya Ananta. 2005. Bumi Manusia. Jakarta: Hasta Mitra.

    Internet

    https://www.pikiran-rakyat.com/nasional/pr-01333921/anggaran-kemhan-2020-rp-127-triliun-jokowi-belanja-harus-diubah-jadi-investasi-pertahanan Diakses pada 27 April 2021, pukul 02.24 WIB.

    https://suarakebebasan.id/murray-a-perang-dan-libertarianisme/ Diakses pada 27 April 2021, pukul 03.35 WIB.