Sisi Berbahaya Kolektivisme

    692

    Selama ini, kita selalu diajarkan oleh orang tua bahwa orang baik itu adalah orang yang rela berkorban. Orang baik adalah orang yang dermawan, tidak mementingkan diri, serta gemar memberikan apa yang ia miliki orang lain. Sebaliknya, orang tua selalu mengajarkan bahwa orang-orang yang mementingkan dirinya, individualistis, mencari keuntungan sendiri, serakah, tidak suka bergotong royong adalah orang-orang jahat dan harus dilawan.

    Tidak bisa dipungkiri bahwa, norma-norma kebersamaan dan kolektif adalah nilai-nilai yang diajarkan oleh orang Indonesia sejak dahulu dan dianggap sebagai kebenaran yang mutlak. Bahkan, dalam pandangan Bung Karno, jika Pancasila diperas menjadi satu, maka hasilnya adalah “gotong royong” (Sukarno, 2013).

    Dalam Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945 disebutkan bahwa, ekonomi Indonesia disusun berasaskan pada “kekeluargaan”. Di sini, sangat jelas bahwa, sejak dahulu, masyarakat Indonesia terlampau menjunjung tinggi “hak bersama” ketimbang “hak individu”.

    Memang, sikap rela berkorban adalah sikap terpuji. Di satu sisi, gotong royong dan dan sikap saling membantu adalah tindakan yang terpuji. Sebagaimana pandangan Adam Smith, manusia memiliki sentimen untuk mendekat dengan sesamanya (Ormerod, 1998). Namun, perlu digarisbawahi bahwa, memberikan sebagian dari milik kita adalah baik jika dilandaskan atas dasar sukarela, berkorban untuk orang lain adalah baik jika didasarkan pada kesukarelaan, dan memberikan loyalitas pada masyarakat adalah baik jika didasarkan pada kesadaran dan kesukarelaan.

    Akan sangat keliru jika gotong royong dilakukan atas dasar paksaan. Alih-alih memperkuat solidaritas, kolektivisme yang didasarkan pada pemaksaan cenderung akan melahirkan sebuah komunitas totaliter, di mana eksistensi individu-individu dianggap tidak ada, yang ada hanya kelompok. Pengingkaran terhadap eksistensi individu ini akan menciptakan malapetaka bagi manusia.

    *****

    Pada tahun 1957, Mao Zedong mengeluarkan kebijakan “Seratus Bunga Bermekaran, Seratus Aliran Bersuara”. Kebijakan ini merupakan bentuk pelonggaran Mao terhadap kebebasan rakyatnya untuk turut serta berpartisipasi mengurus negara lewat kritik-kritik yang membangun. Namun, alih-alih dipertahankan, kebijakan seratus bunga justru berujung pada tindakan represif pemerintahan Mao (Aizid, 2013).

    Mao menganggap kritik-kritik yang ditujukan kepada pemerintah (dan diri Mao) sudah membahayakan “keamanan nasional dan revolusi”, sehingga Mao berpidato bahwa kebijakan tersebut berhasil “memancing ular keluar dari sarangnya”. Akhirnya, Mao menerapkan kebijakan kolektif secara ekstrim lewat Revolusi Kebudayaan (Aizid, 2013).

    Pemerintahan Mao di China pada dekade 1950-an hingga 1970-an adalah gambaran yang sempurna bagaimana kolektivisme berubah menjadi pintu gerbang masuknya paham totalitarian. Setiap orang harus mementingkan partai di atas segala-galanya. Hak milik individu dikuasai oleh negara. Pakaian harus seragam dan tak boleh model yang “aneh-aneh”. Setiap yang mengkritik dan menentang keputusan partai juga akan dicap sebagai kontra revolusioner yang berhak dihukum mati.

    Dalam paham totaliter, orang-orang bebas merampas milik orang lain dengan dalih “demi kepentingan bersama”. Merampas tanah-tanah rakyat demi sosialisme, memaksa orang untuk tampil seragam dengan dalih “menjaga persatuan”.

    Dengan menitikberatkan pada nilai-nilai kolektif, otomatis nilai-nilai individu akan terabaikan (atau malah sengaja diabaikan). Hak-hak yang melekat dalam diri setiap manusia, seperti hak hidup, hak untuk memiliki properti, hak untuk kebebasan berekspresi, tidak dianggap dalam komunitas kolektif.

     

    Ancaman Kolektivisme

    Ketika hak-hak individu diabaikan dan diganti oleh kolektivisme, alih-alih menciptakan harmoni, justru yang ada adalah kejahatan-kejahatan atas nama “kebaikan bersama” atau “demi kepentingan negara”. Beberapa contohnya adalah, perampasan tanah demi jalan tol di Yogyakarta, pengusiran masyarakat adat Basipae di NTT dengan dalih melindungi aset pemerintah untuk meningkatkan ekonomi rakyat (Antaranews.com, 15/10/2020).

    Semangat gotong royong dan kebersamaan memang baik. Namun, dalam suatu negara atau masyarakat yang terlalu menitikberatkan kolektivisme, nilai-nilai yang harusnya dilaksanakan secara sukarela itu berubah menjadi pemaksaan dan perampasan pada nilai-nilai individu. Alih-alih menjaga keharmonisan masyarakat, kolektivisme yang dijalankan dengan sikap totaliter justru menjadi penyakit dalam masyarakat itu sendiri.

    Individu-individu dalam masyarakat yang berlandaskan kolektivisme cenderung tidak bisa menggali potensi kreatifnya, karena hilangnya tanggung jawab personal. Di sisi lain, kolektivisme cenderung pada sikap-sikap memaksa dan membatasi kebebasan individu. Akhirnya, individu-individu bukan lagi menjadi pribadi yang otonom, namun menjadi rantai dalam suatu mesin yang semuanya sudah diatur secara mekanis.

    Di Indonesia, kolektivisme juga melahirkan pembatasan dan kekerasan pada kebebasan orang lain. Saat ini, sudah menjadi hal yang lumrah jika sekelompok orang datang berbondong-bondong dan mempersekusi orang lain hanya karena orang tersebut memiliki pandangan yang berbeda dengan kelompok tersebut.

    Pemaksaan kolektif juga membuat kelompok keagamaan, seperti Gafatar, Syiah, Ahmadiyah, dan Hare Krishna, kerap diintimidasi dan diusir karena mereka dipaksa untuk mengikuti keinginan mayoritas dengan dalih “demi kerukunan” dan “kepentingan bersama”. Alih-alih menciptakan sebuah masyarakat yang peduli dan harmonis, pemaksaan atas nama “gotong royong” dan kolektivisme justru malah berakhir pada tindakan kriminal dan kejahatan terhadap kemanusiaan. Fredrich Hayek melukiskan bagaimana Nazi dengan revolusi Nasional-Sosialisnya yang totaliter, telah menginjak-injak individualisme dan merusak nilai-nilai kemanusiaan yang ada pada rakyat Jerman (Hayek, 2011).

    *****

    Individualisme selalu dipandang secara keliru oleh masyarakat kita. Individualisme dianggap sebagai paham yang membenarkan watak egois, rakus, pelit, dan masa bodo dengan lingkungan sekitarnya. Padahal, individualisme tak seburuk apa yang mereka bayangkan.

    Mari kita buat ilustrasi sederhana melalui sebuah kisah. Pada suatu hari, Tony, siswa kelas 5 SD, menginginkan orang tuanya memberikan bekal 5 buah sandwich untuk makan siangnya di sekolah. Ketika Tony bersama kawannya makan siang bersama, kawan-kawan Tony hanya membawa bekal roti cokelat. Lalu, Tony membagikan 3 buah sandwich pada teman-temannya dan ia hanya menikmati 2 buah sandwich yang tersisa.

    Lalu, muncul Rody teman Tony, yang protes dan berkata bahwa Tony tidak setia kawan karena bekal yang dibawanya berbeda. Lalu Rody berkata bahwa Tony harus membawa roti seperti teman-temannya dan kemudian Rody merampas sandwich Tony. Sontak Tony menolak dan mempertahankan sandwich yang menjadi bekalnya.

    Dari cerita di atas, kita bisa melihat bahwa yang benar adalah Tony dan yang salah adalah Rody. Tony memiliki hak penuh atas bekalnya dan ia memiliki kebebasan untuk membawa bekal yang ia inginkan. Tony mewakili individualisme dan Rody yang memaksa Tony agar seragam dan merampas barang Tony mewakili kolektivisme.

    Filosofi dasar dari individualisme bukanlah keegoisan pribadi, tetapi menjaga agar setiap orang bebas untuk berekspresi, bebas berfikir, bebas menentukan pilihan, berhak atas properti, serta berhak atas hidupnya. Memberi atau berderma secara sukarela adalah semangat individualisme, karena dalam individualisme kesadaran individu lebih ditekankan ketimbang pemaksaan.

    Kalau kita mau jujur, sebenarnya, setiap orang tahu bahwa merampas hak milik orang lain dengan dalih apapun dan membatasi kebebasan individu dengan pemaksaan adalah salah dan keliru. Semua orang ingin memiliki pilihan, semua orang menginginkan kebebasan. Di belahan dunia manapun, orang akan marah jika negara atau aktor non-negara merampas hak miliknya hanya dengan dalih kebersamaan dan demi kepentingan orang banyak.

    Jika Anda menyetujui bahwa perampasan properti itu salah dengan dalih apapun, dan jika Anda menyetujui setiap individu memiliki kebebasan dalam hidupnya, lalu mengapa kita masih menganggap bahwa individualisme keliru dan kekeuh membela kolektivisme?

     

    Referensi

    Buku

    Sukarno. 2013. Jasmerah: Pidato-pidato Spektakuler Bung Karno Sepanjang Masa. Yogyakarta. Palapa.

    Aizid, Rizem. 2013. Rezim Mao. Yogyakarta: Palapa.

    Hayek, Fredrich. 2011.  Ancaman Kolektivisme, terj. Ioanes Rakhmat. Jakarta: Freedom Institute.

    Ormerod, Paul. 1998. Matinya Ilmu Ekonomi (The Death of Economics). terj. Parakitri Simbolon. Jakarta: KPG.

    Internet

    https://www.antaranews.com/berita/1784849/pemprov-ntt-imbau-warga-jangan-pelintir-konflik-lahan-di-besipae Diakses pada 21 Oktober 2020, pukul 13.07 WIB.