Sinergi Pengembangan UMKM Berbasis Digital di Masa Pandemi

    356
    Sumber gambar: https://infojateng.id/read/9683/omzet-turun-drastis-saatnya-go-digital-jadi-kunci-umkm-hadapi-pamdemi/

    Mendekati pukul 10 pagi, semakin sering suara tukang sayur terdengar lantang dari rumah ke rumah sudah jarang terdengar. Kondisi pandemi telah memaksa keadaan serba daring yang ikut membuka peluang luas untuk berkembangnya teknologi dan penggunaannya. Ketika ibu ingin membeli sayur, sudah tidak perlu repot-repot menelusuri pasar atau pergi ke supermarket dan pulang membawa kantong belanja yang tidak sedikit jumlahnya. Kini, semuanya sudah dikemas dalam cara yang lebih praktis. Cukup duduk dan mengambil gawai, memilah sayur mana yang ingin dibeli lewat aplikasi online.

    Adanya peningkatan terhadap penggunaan internet secara komprehensif ini telah membentuk budaya dialektika baru di kalangan masyarakat. Ya, digitalisasi di segala bidang terjadi tanpa terkecuali. Digitalisasi merupakan fenomena yang tidak dapat terpisahkan dari kondisi masyarakat saat ini. Hampir semua kebutuhan sehari-hari terlibat dalam proses digitalisasi, mulai dari pendidikan, pekerjaan, infrastruktur, dan penyebaran informasi. Beragam dampak positif pun bisa dirasakan masyarakat akibat kemudahan akses dan lebih banyak waktu luang yang tersedia. Era digitalisasi juga telah membuat media sosial menjadi wadah alternatif baru bagi masyarakat untuk beraktivitas dan bersosialisasi. Fenomena yang terjadi di dunia nyata seakan dialihkan dalam dunia virtual seperti internet, seperti inovasi start-up tukang sayur keliling (atau sekarang disebut Kedai Sayur).

    Salah satu contoh bisnis kedai sayur di Indonesia adalah Kedai Sayur milik agritech yang bertekad mengisi potensi pasar produk segar di Indonesia. Didirikan oleh Adrian Hernanto sejak tahun 2018, kedai sayur  ini diupayakan untuk membantu suplai sayur-mayur dari petani ke pedagang menjadi lebih efisien (dailysocial.id/30/03/2020).

    Sistemnya berbasis aplikasi mobile yang dibuat untuk memudahkan tukang sayur mendapatkan produk segara tanpa repot-repot meninggalkan rumah. Nantinya, tukang sayur yang sudah tergabung sebagai mitra dapat memesan produk dari para petani yang sudah bekerja sama dengan Kedai Sayur dan mengambilnya di lokasi drop-off terdekat. Selain itu, monetisasi bagi untung juga termasuk adil karena diambil dari selisih harga yang mereka bayarkan kepada petani dengan yang mereka jual ke para tukang sayur. Hal itu dimungkinkan karena mereka membeli hasil panen dalam kuantitas besar, sehingga harga beli yang mereka peroleh dan harga jual yang mereka berlakukan dapat bersaing dengan harga di pasar (dailysocial.id/30/03/2020).

    Perlu  diketahui  bahwa  UMKM  di  Indonesia  telah  menjadi  pilar  terpenting  bagi  ekosistem  ekonomi.  Apalagi diketahui  bahwa 99%  pelaku  usaha  di  Indonesia  adalah  sektor  UMKM.  Peran UMKM telah berkontribusi 60% terhadap produk  domestik   bruto   nasional   dan   97%   terhadap penyerapan  tenaga  kerja  yang terdampak  pandemi.  Sedangkan  dari  UMKM  yang  ada  saat  ini,  ternyata  baru  16  persen  yang  telah  masuk  dalam  ekosistem  ekonomi  digital. Dalam  konteks Indonesia,  sektor  UMKM  merupakan  salah  satu  pilar  utama  dari  fundamental ekonomi  Indonesia.  Bahkan,  di  saat  terjadinya  krisis  ekonomi  1998,  ternyata sektor  UMKM  sangat  berkontribusi  positif  dalam menyelamatkan  ekosistem ekonomi  Indonesia  kala itu. Hal  yang  sama  juga  terjadi  selama  pandemi  COVID-19,  yang  mana  sektor UMKM  dapat berpotensi  besar  untuk  menjadi  akselerator pemulihan ekonomi nasional. Oleh  karena  itu, diperlukan  model  kewirausahaan  yang  bisa  beradaptasi  dengan kemajuan  teknologi.  Hal inilah  yang  kemudian  melahirkan  model  kewirausahaan digital. Model   bisnis    ini    berasal    dari    kombinasi    teknologi    digital    dan kewirausahaan yang  kemudian menghasilkan  fenomena  karakteristik  baru  dalam hal bisnis (Arianto, 2021).

    Menurut  catatan  Kementerian  Koperasi  dan  UKM,  saat  ini sudah terdapat 10,25 juta pelaku UMKM  yang telah terhubung  dengan platform digital (Arianto, 2021). Dalam hal ini, peran teknologi digital memiliki pengaruh  yang  signifikan  terhadap  unit  bisnis  baru  yang  dibuat.  Paradigma teknologi yang muncul memanfaatkan potensi kolaborasi dan kecerdasan kolektif untuk  merancang  dan  meluncurkan inisiatif  kewirausahan  yang  lebih  kuat  dan berkelanjutan. Pengembangan UMKM berbasis digital juga menuntut urgensi konten kreatif untuk menarik daya beli konsumen. Hal ini juga dapat berdampak pada kualitas sumber daya manusia Indonesia melalui pengoptimalan dan pemanfaatan teknologi.

    Fenomena ini tentu membawa warna baru bagi perekonomian Indonesia. Tidak cuma pelaku bisnis besar yang dapat mengambil kesempatan industri ini, tapi juga pelaku UMKM atau pedagang kecil bisa memanfaatkan teknologi digitalisasi. Terlebih lagi, di masa pandemi ini, pengembangan UMKM berbasis digital dapat menjadi alternatif untuk menyelamatkan sektor UMKM yang sempat terpuruk. Dampak positif ini dirasakan langsung oleh salah satu pemilik warung di Bandung, Titin Supartani. Awalnya, Titin ditawari langsung oleh Account Manager Grab untuk masuk ke layanan GrabMart yang baru. Sejak saat itu, Titin mulai giat memperbanyak stok barang dan mulai berinovasi dengan menjual barang-barang kebutuhan lain. Alhasil, Titin mengaku pendapatan per harinya meningkat. Bahkan, dalam satu bulan ia berhasil mendapat omzet sebesar 90 juta (fintechasia.com/11/01/2022).

    Terlepas dari kekurangan beberapa UMKM yang masih lack dalam hal pengemasan produk dan jasa dan keterbatasan biaya pemasaran, gagasan digitalisasi UMKM dan inovasi pendirian start-up ini patut diacungi jempol. Keadaan pandemi saat ini mengharuskan masyarakat (terutama pedagang kecil) untuk beradaptasi dengan perubahan yang serba tiba-tiba. Para pelaku bisnis kecil, mau tidak mau, harus memutar otak untuk tetap bertahan dengan menggali inovasi dan kreasi bisnis mereka. Pengembangan UMKM berbasis digital ini dapat meningkatkan sinergitas antara pelaku bisnis kecil dan warganet di masa depan.

    Referensi:

    Arianto, B. (2021). Pengembangan UMKM Digital di Masa Pandemi Covid-19. ATRABIS: Jurnal Administrasi Bisnis (e-Journal)6(2), 233-247. Diakses melalui https://doi.org/10.38204/atrabis.v6i2.512  pada 24 Februari 2022, pukul 14.00 WIB.

    https://dailysocial.id/post/startup-agritech-kedai-sayur Diakses pada 23 Februari 2022, pukul 18.30 WIB.

    https://fintechnesia.com/2022/01/11/kisah-tukang-sayur-mencetak-omzet-rp-90-juta-sebulan-berkat-digitalisasi/ Diakses pada 24 Februari 2022, pukul 12.30 WIB.