(Sekilas) Mengenal Teologi Kebebasan

    1312

    Agama Kristiani adalah agama yang telah mewarnai peradaban dunia, termasuk dalam hal filantropi dan juga intelektual. Salah satu tawaran ciri khas dari kekristenan adalah keyakinannya terhadap moralitas dan kemanusiaan. Yang memiliki peran besar dalam proses modernisasi.

    Menurut Harun Hadiwijono, dalam buku Teologi Reformatoris Abad ke- 20, menjelaskan bahwa awal abad 20 (mungkin hingga awal abad 21) merupakan titik balik bagi teologi Kristen, dimana pemikiran modern yang ateistik merambah kebudayaan dan pola pikir masyarakat membahayakan iman pada Tuhan sehingga gereja harus melakukan pembaharuan.

    Tokoh- tokoh seperti Karl barth, Dietrich Bonhoffer, Harvey Cox,  Rudolf Bultmann dan para teolog kontemporer lainnya, berusaha untuk mengkontekstualisasikan ajaran gereja dengan modernisasi dan menjaga agar manusia tetap mempertahankan spiritualitas di tengah derasnya laju teknologi.

    Dalam disiplin ilmu teologi dewasa ini, kitab suci tidak berbicara sendiri, tetapi ia harus terus berdialog dan juga menyusuaikan diri dari perubahan zaman. Banyak kepercayaan dan agama yang punah bahkan hilang di era modern ini akibat agama dan kepercayaan tersebut berbanding terbalik dari nalar rasional dan modernitas. Para teolog tidak ingin agama menjadi tertinggal dari kemajuan zaman dan teknologi, agama yang merupakan penuntun dan pembimbing jiwa manusia harus selalu ada dan memperbaharui dirinya.

    Salah satu teologi yang berkembang belakangan ini adalah teologi libertarianisme. Teologi libertarian adalah teologi yang menegaskan kebebasan individu sebagai asas penting dalam beragama dan membentuk masyarakat.  Perkembangan dunia yang menuju kepada demokratisasi dan juga minat mereka terhadap kebebasan individu pasca hancurnya para diktator dunia membuat teologi libertarian atau yang kita sebut sebagi teologi kebebasan sangat relevan dengan konteks saat ini.

    Dalam teologi kebebasan, para teolog berusaha untuk menafsirkan dan melihat spirit libertarianisme dalam Alkitab. Teologi libertarianisme atau teologi kebebasan, menegaskan pentingnya kebebasan individu, masyarakat sipil (civil society), dan kebebasan ekonomi.

    Namun perlu dicatat, bahwa teologi kebebasan berbeda dengan teologi liberal (Liberal theology) dan teologi pembebasan (liberation theology).  Teologi liberal biasanya masih berkutat pada soal doktrin keagamaan serta soal-soal metafisika, sedangkan teologi pembebeasan (liberation theology) adalah teologi yang berkembang di Amerika latin yang merupakan “teologi sosialis” yang lebih dekat dengan perjuangan kelompok kiri dengan semboyan anti kemiskinan dan anti kapitalisme.

    Teologi kebebasan tidak secara fokus membahas urusan dogmatika dan metafisika atau membahas masalah revolusi kaum marginal. Teologi libertarian lebih fokus pada isu kebebasan sipil yang lebih luas dan juga kebebasan dalam berekonomi. Berbeda dengan teologi abad pertengahan atau teologi agama lainnya yang memandang kemiskinan sebagai kemuliaan, teologi kebebasan justru mendukung manusia agar mengejar kebahagiaan dan kesuksesan di dunia (seperti dalam teologi Calvin.)

    *****

    Dalam Kekristenan, Yesus Kristus merupakan sosok ideal  yang menjadi  model  kesempuranaan pribadi dan moral. Kristus adalah tokoh sentral dimana manusia harus mengambil contoh dan mengikuti apa yang diajarkan olehnya. Karena itulah para teolog berusaha mengambil nilai-nilai dalam diri Kristus untuk ditafsirkan dan diamalkan.

    Alkitab banyak mengambarkan citra Yesus sebagai penolong orang miskin, Yesus sebagai pembawa kebebasan, dan Yesus sebagai raja sorgawi, yang mana citra-citra yang dilukiskan oleh alkitab tersebut menjadi inspirasi bagi para teolog kontemporer untuk kemudian mengembangkannya menjadi suatu sistem teologi, contohnya seperti teologi pembebeasan, teologi sekuler, dan teologi kebebasan.

    Salah satu tokoh kontemporer teologi libertarian adalah Edmund A. Opitz. Beliau adalah seorang pendeta yang menulis sebuah karya berjudul The Libertarian Theology of Freedom. Dalam bukunya ini, ia berusaha mengharmoniskan nilai-nilai libertarian dan kebebasan sipil dalam kekristenan. Dalam Alkitab, banyak ayat yang menyebutkan bahwa manusia adalah makhluk yang bebas, tidak terikat oleh takdir atau dikekang oleh manusia manapun.

    Manusialah yang melakukan apa yang dikehendakinya dan manusia dapat berbuat baik dan buruk tanpa ada paksaan dari oknum ketiga. Percaya pada Yesus berarti menjadi bebas, sebagaimana tertulis dalam Alkitab:

    “….Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.” – Lukas 4:18-19

    supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan. – Galatia 5:1”

    Ayat di atas menjelaskan bahwa bahwa di dalam Kristus kita dapat hidup bebas dan juga merdeka, bahkan Kristen tidak hanya menghargai kebebasan, tetapi dalam Kristus itulah manusia mendapat kebebasan dan kemerdekaan sejati. Memang dalam ritus agama,  Tuhan memiliki kekuasaan mutlak untuk mengontrol kita, tetapi pada faktanya Alkitab menggambarkan pada kita tentang Tuhan yang menghargai kebebasan manusia.

    Yesus sebagai firman Allah yang hidup tentu mampu menjungkirbalikkan dunia dan juga membuat para pembangkang untuk taat dengan mukjizatnya, tetapi faktanya Kristus tidak melakukan pemaksaan dalam mewartakan keselamatan,  memberi manusia pilihan pada manusia tanpa memaksa manusia. sehingga Tuhan memberikan pilihan tanpa mau mencampuri pilihan hambanya.

    Edmund Opitz  yang menyebarkan tentang teologi kebebasan menjelaskan bahwa ajaran Kristus sangat menjunjung tinggi kebebasan individu dan pentingnya kebebasan individu dalam keyakinan agama. Bagi Opitz setiap individu dalam masyarakat harus memiliki kebebasan, sebab Tuhan memberikan manusia pilihan-pilihan, dan memilih suatu pilihan yang telah diberikan oleh Tuhan hanya dapat kerjakan jika tiap individu dalam kondisi bebas.

    Gereja pada umumnya berpandangan bahwa kebebasan individual yang diusung oleh liberalisme tidak memiliki tempat dalam gereja, namun menurut Opitz, jika mereka menolak kebebasan individual, justru ini merupakan bertentangan dengan ajaran alkitab bahwa setiap manusia berhak menentukan pilihannya.

    Dalam Roma 7:6, ”Tetapi sekarang kita telah dibebaskan dari hukum Taurat, sebab kita telah mati bagi dia, yang mengurung kita, sehingga kita sekarang melayani dalam keadaan baru menurut Roh dan bukan dalam keadaan lama menurut huruf hukum Taurat.

    Roh disini merupakan hati nurani. Dan tiap individu yang merdeka dalam iman kristus harus mengikuti hati nurani merek, bukan mengikuti perintah hukum lama, dengan begitu demikian kebebasan individu sangat diperlukan, sebab hanya orang yang bebas (tanpa dipaksa siapapun) yang bisa mengikuti hati nuraninya masing-masing.

    Menurut Opitz, dengan mengikuti hati nurani atau roh kudus dalam hati kita, berarti Tindakan sukarela adalah inti dari gereja, dan dengan demikian kolektivisme yang menuntut keseragaman pada hakikatnya bertindak melawan semangat gereja dan Alkitab.

    Teologi kebebasan adalah teologi yang berusaha mencari korelasi antara kehidupan modern dengan Alkitab. Sebagaimana teologi reformasi di abad 20 yang berusaha menjawab problematika kontemporer, teologi kebebasan hadir untuk menjawab dan memberi solusi bagi manusia dewasa ini bahwa di dalam diri Kristus kebebasan individu bukanlah sesuatu yang dilarang. Sebaliknya, Tuhan telah memberikan kebebasan yang besar pada manusia sehingga menusia memiliki kehendak bebas dan orng-orang percaya dituntut untuk mengikuti hati nurani mereka.