Sejarah Radio: Pilar Kebebasan Informasi pada Awal Kemerdekaan

    97

    Jika berbicara mengenai sejarah Hari Radio Nasional, hari ini tidak dapat dipisahkan dengan sejarah radio pada masa Hindia Belanda hingga menjadi RRI. Radio di Hindia Belanda mulai bersemi pada dekade 1930-an. Jennifer Lindsay dalam Making Waves: Private Radio and Local Identities in Indonesia (1997) menyebut babak awal radio di Indonesia ditandai dengan penggunaan radio sebagai media yang fokus pada diseminasi budaya dan hiburan dengan dominasi program musik. Tidak hanya radio milik pemerintah, namun juga radio swasta (Lindsay, 1997).

    BRV sendiri menjadi kanal resmi pemerintah Hindia Belanda dan berubah nama menjadi Nederlands Indische Radio Omroep Maatschappij (NIROM). NIROM mengalokasikan 80 persen durasi mengudara untuk siaran musik, di mana tiga perempatnya merupakan siaran rekaman gramofon. Pemerintah membatasi penyiaran terkait isu politik dan agama. Sementara itu, kemunculan radio swasta ditandai dengan munculnya Radio Ketimoeran. Radio ini mengusung acara musik lokal yang kala itu mengiringi perkembangan musik Indies. Diperkirakan ada sepuluh ribu cakram dari rekaman musik Indies untuk pasar di Hindia Belanda dan Melayu (kompas.id, 11/9/2021).

    Selepas pemerintahan kolonial, pendudukan Jepang mengubah total lanskap radio di Hindia Belanda. Dimulai pada tahun 1942, pemerintah Jepang melakukan sentralisasi radio di bawah satu kontrol Departemen Informasi dan Propaganda Jepang. Stasiun radio disatukan dalam jawatan atau satuan kerja bernama Hoso Kanri Kyoku. Langkah ini membuat kebebasan penyiaran amat terbatas hingga detik-detik akhir pendudukan Jepang di Indonesia. Meski begitu, radio mampu menyelinap untuk mengambil peran penting dalam momen kemerdekaan Indonesia (kompas.id, 11/9/2021).

    RRI dibentuk pada saat sebulan setelah radio siaran milik pemerintah Jepang yang bernama Hoso Kyoku dihentikan, tepatnya 19 Agustus 1945. Pada waktu itu, masyarakat Indonesia tidak tahu harus mendapatkan informasi dari mana setelah Indonesia merdeka. Kondisi saat itu semakin tidak karuan karena banyak radio luar negeri yang menyiarkan bahwa tentara Inggris (sekutu) akan menduduki pulau Jawa dan Sumatera (kebudayaan.kemdikbud.go.id, tanpa tahun).

    Melihat situasi tersebut, banyak orang Indonesia yang sebelumnya aktif di radio saat masa penjajahan Jepang menyadari bahwa radio adalah alat yang sangat dibutuhkan oleh Pemerintah Indonesia untuk menyebarluaskan informasi. Radio dibutuhkan pula oleh masyarakat Indonesia untuk mendapatkan informasi mengenai kondisi terkini dan apa saja yang harus mereka lakukan.

    Peran Radio Republik Indonesia Jakarta pada masa awal revolusi 1915-1947 memperlihatkan betapa krusialnya peran radio saat itu sebagai corong suara rakyat Jakarta. Diketahui bahwa, pada awal kemerdekaan, RRI merupakan jembatan yang paling efektif untuk menghubungkan rakyat dengan pemerintah. Hadirnya tentara Sekutu di Jakarta yang diikuti tentara Belanda mempersulit sepak terjang siaran radio Jakarta. Peran RRI Jakarta sebagai pendukung pemerintah terutama baru nampak setelah Belanda berkuasa kembali di Indonesia. Belanda memakai juga sarana radio untuk melancarkan propaganda yang tujuannya untuk menyudutkan Republik di mata dunia internasional.

    Oleh karena itu, RRI Jakarta sebagai ujung tombak suara Republik di Jakarta harus bertindak menetralisir propaganda Belanda tersebut. Tindakan RRI Jakarta tegas, yaitu membantah propaganda itu dengan menyiarkan berita-berita yang sebenarnya. Akibatnya Belanda jengkel, sehingga bertekad untuk merebut studio RRI Jakarta dengan berbagai cara. Kegiatan Belanda mencapai puncaknya pada saat Agresi Militer I, dengan menyerbu dan akhirnya menduduki studio itu. Akibatnya, siaran RRI Jakarta terhenti. Namun, RRI Jakarta telah membuktikan betapa besarnya peran mereka sebagai lambang eksistensi RI di Jakarta.

    Di antara media yang ada seperti televisi dan media cetak, radio memiliki beberapa keunggulan karena dapat diakses secara mudah, tidak diperlukan keterampilan khusus dari khalayak yang ingin dituju seperti keterampilan membaca karena radio merupakan media imajinatif. Selain itu masyarakat dapat mendapatkan informasi dengan cepat dari radio dengan biaya murah.  Keunggulan lain dari radio adalah sifatnya yang santai, karena sifatnya auditori (untuk didengarkan), lebih mudah orang menyampaikan pesan dalam bentuk acara yang menarik. Dalam hal ini, musik memegang peranan yang sangat penting karena pesan disampaikan di antara musik.

    Seiring berkembangnya zaman dan variasi kebutuhan, komunikasi di Indonesia memiliki ruang lingkup permasalahan yang sangat luas, tidak hanya mencakup masalah komunikasi saja tetapi juga teknologi. Dengan kemajuan teknologi dunia, maka manusia dapat merekayasa bentuk komunikasi yang lebih cepat serta lebih luas jangkauan wilayahnya, seperti misalnya pada radio.

    Perkembangan teknologi baru saat ini lebih canggih dan mudah dibawa membuat sebagian orang beranggapan bahwa radio merupakan media massa yang sudah tidak menarik dan kuno. Hal tersebut diperkuat dengan temuan hasil survei Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2012 yang menunjukkan bahwa minat mendengarkan radio di Indonesia semakin menurun dari tahun ke tahun. Bila merujuk pada hasil temuan BPS (2012), maka tahun 2003, 2006, 2009, dan 2012 atau dengan interval 3 tahun, rata-rata penurunan persentase penduduk berusia 10 tahun ke atas yang mendengarkan radio sebesar 10,57%.

    Konsumen di luar Pulau Jawa rata-rata mendengarkan radio melalui pesawat radio. Namun, konsumen di wilayah Pulau Jawa lebih banyak mendengarkan radio melalui telepon genggam. Penduduk luar Jawa lebih banyak mendengarkan radio di sore hari, sementara di Jawa pada pagi hari. Selain masalah teknologi faktor lain yang mendukung kurangnya minat masyarakat untuk pendengar radio dari hasil penelitian Rosalia (2012) adalah faktor program siaran, faktor materi siaran, faktor audio environment, dan faktor brand activironment.

    Kini, industri radio harus berjuang untuk tetap bisa menjalankan roda bisnisnya agar tetap bisa menyapa pendengar dan memutar lagu-lagu kesayangan fans-nya. Jika di era kejayaan bisnis radio tahun 1970-1990, iklan merupakan pemasukan utama bisnis ini. Namun, dengan hadirnya televisi, internet, dan konten digital pada era transformasi budaya komunikasi ini, radio harus berinovasi dan menyesuaikan perkembangan teknologi agar tetap eksis.

     

    Referensi

    Jurnal

    Rosalia, N. 2012. “Faktor-Faktor Penting Daya Tarik Stasiun Radio Bagi Pendengar Radio di Kota Semarang”. Diakses dari ejournal.undip.ac.id/index.php/interaksi/article/view/4 450/4058 ,84 pada 11 September 2021, pukul 17.30 WIB.

    Lindsay Jennifer. 1997. “Making Waves: Private Radio and Local Identities in Indonesia.” Cornell University Press. Diakses dari https://www.jstor.org/stable/3351437 pada 11 September 2021, pukul 15.00 WIB.

     

    Internet

    http://bps.go.id/linkTabelStatis/view/id/1524 Diakses pada 12 September 2021, pukul 17.00 WIB.

    https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/mpnp/peran-rri-dalam-sejarah-kemerdekaan-ri/ Diakses pada 13 September 2021, pukul 16.50 WIB.

    https://www.kompas.id/baca/riset/2021/09/11/sejarah-radio-penyambung-lidah-rakyat/ Diakses pada 13 September 2021, pukul 18.00 WIB.