Rizal Mallarangeng: Liberalisme Sudah Menang, Tanpa Perlu Perayaan

227

Wacana pelarangan beberapa minuman dan penutupan website dilakukan dengan alasan penegakkan isu-isu moralitas di Indonesia. Polemik ini kadang-kadang melupakan esensi besar dan hak dasar manusia, yang bernama kebebasan. Perdebatan mengenai filosofi kebebasan dan prakteknya selalu menjadi diskusi dan perdebatan yang hangat bila ditarik kepada beberapa kondisi dan ancaman terhadap hidupnya hak-hak kebebasan sipil di masyarakat. Rizal Mallarangeng merupakan generasi awal yang getol mengkampanyekan kebebasan individu dan ekonomi pasar melalui lembaga intelektual-nya, Freedom Institute. Sejak awal tahun 2000-an, Freedom Institute merupakan pionir dalam mengkampanyekan sistem yang di dalamnya terdapat filsafat yang menjamin kebebasan individu dalam ekonomi, politik, dan sosial. Rizal Mallarangeng pada saat itu, kolumnis di beberapa media massa dan penulis dua buku tentang liberalisme “Mendobrak Sentralisme Ekonomi: Liberalisasi Ekonomi 1986-1992”(2002) dan “Dari Langit” (2008) menjadi opinion leader dalam isu-isu kebebasan yang pada saat itu masih sangat asing dalam wacana intelektual Indonesia. Simak wawancara Editor SuaraKebebasan.org, dengan Rizal Mallarangeng yang sempat “menghilang” dari arena gagasan kebebasan karena aktif dalam partai Golkar berbicara tentang kebebasan, filsafat liberalisme dan pemerintahan Jokowi.

Mari kita bicara tentang kebebasan baru-baru ini, Bang Rizal. Pemerintah sudah secara sistematis mengontrol website dan internet kita. Lalu baru-baru ini pemerintah juga melarang peredaran minuman beralkohol dengan kadar rendah dan sejenis bir. Ada apa sebenarnya dengan penerimaan masyarakat dengan kebebasan kita?

Kadang-kadang pelarangan itu tidak mempunyai landasan filosofis yang dalam. Kebijakan dilarang hanya berdasarkan kultur “orang tua yang melarang anaknya”. Tapi seharusnya kita bisa melihat konteks besar kebebasan dari waktu ke waktu. Kalau kita lihat problem fundamentalnya, sebuah sistem yang menjamin hak-hak individu, sebenarnya terdapat progress yang cukup besar. 15 tahun terakhir kita sudah meletakkan fondasi yang cukup agar demokrasi bisa menjaga kebebasan. Secara sistem, sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. 32 tahun di bawah Pak Harto kan kebebasan sipil terkekang. Tentu banyak kekurangan yang harus kita perbaiki. Sekarang sudah jauh lebih baik.

Gejala pelarangan-pelarangan ini sebenarnya karena ada orang-orang reaksioner di pemerintahan kita. Punya paham yang keliru, dan kebetulan punya kekuasaan.

Atau jangan-jangan karena memang gagasan kebebasan belum berpengaruh di Indonesia?

Sekali lagi, lihat gambaran besarnya. Jelas sudah berpengaruh. Kalau belum berpengaruh mana mungkin kita sudah demokrasi, desentralisasi, dan konstitusi yang menghargai kebebasan berpendapat dan berserikat. Sejarah seperti garis linier, naik dan turun. Nah, mungkin akan ada yang menentang gagasan liberalisme. Tapi apakah ada tandingannya gagasan liberalisme? Kan tidak ada. Soal lain lah kalo liberalisme Islam yang belum ada partainya itu soal lain. Ide tentang toleransi agama dan pluralisme agama, semakin kuat.

Inti paham kebebasan menurut John Stuart Mill, free to do whatever you please as long as you don’t harm others. Ada beberapa hal yang kontroversial diperdebatkan oleh banyak orang. Justru itu liberalisme muncul, hak untuk bebas berpendapat dan berdebat. Intinya orang liberal adalah bebas selama tidak menyakiti orang lain. Sekarang terjadi banyak kerumitan juga karena aspirasi manusia. Dulu orang tidak wajib pakai seat belt kalau nyetir mobil, tapi sekarang ditemukan fakta bahwa banyak terjadi kematian pada kecelakaan karena tidak ada seat belt. Oke, kalau begitu batasi kebebasan dengan memaksakan seat belt demi keselamatan hidup manusia. Begitu juga rokok. Tapi dengan ini bukan berarti kebebasan berkurang. Tergantung dari mana kita melihatnya.

Begitu juga sewaktu ada pelarangan alkohol di Amerika. Wacana yang muncul bukan demokrasi kita terancam, tetapi ya orang berdebat aja. Ternyata pelarangan alkohol memunculkan para mafia, para kriminal yang menguasai peredaran alkohol di pasar gelap pada waktu itu. Sekarang di California mariyuana legal, padahal tahun lalu belum legal. Setengah dari narapidana di California terkait dengan mariyuana, sekarang legal dan bebas semua. Jadi itu semua pelarangan partikular. Sama dengan isu-isu pelarangan-pelarangan di Indonesia tadi.

Nah, kalau ditarik ke pengaruh ke gagasan kebebasan tadi, jika secara fundamental kebebasan Indonesia sudah baik, bukan berarti memerlukan pengaruh dari ideologi liberalisme secara utuh. Itu dua hal yang berbeda. Yang perlu kan yang penting nilai-nilai liberalisme-nya sudah diaplikasikan, misalnya toleransi, pluralisme, kebebasan sipil. Jadi, yang penting dari esensi dari sebuah tindakan. Konotasi “liberal” memang sudah dipengaruhi makna-makna berbeda. Saya setuju gagasan liberalisme diperkuat, tapi jangan berharap liberalisme menjadi suatu kosa kata yang populer. Mungkin saja bisa 10-20 tahun mendatang. Tapi yang penting esensi liberalisme sudah dijalankan.

Saya pernah baca buku Unconscious Capitalism dari John Mackey. Menurut dia, semua orang pada dasarnya sudah kapitalis, sudah liberal tetapi nggak ada yang mau ngaku aja. Pendapat anda?

Sudah paling bener kata orang Jawa, “menang tanpo ngasoraki”. Buat apa lagi ada pengakuan tentang kemenangan dan kekalahan, kalau dalam prakteknya sudah benar-benar menang. Buat apa kita minta penonton tepuk tangan, kemudian mengakui kemenangan kita. Buat apa? Semangat muda memang butuh itu. Tapi kalau sudah bijaksana sedikit saja, yang penting kan orang-orang sudah semakin sejahtera dan semakin baik. Bukan membuat mereka semakin liberal. Bagaimana caranya membuat kehidupan yang baik dan sejahtera? Suatu sistem yang diatur mengikuti prinsip-prinsip liberal. Tapi kan nggak usah pakai istilah-istilah liberal.

Kalau pengaruh filsuf liberal, seperti Hayek misalnya, seperti apa terhadap pemikiran Anda?

Hayek memang menjadi landasan filosofi orang yang ingin belajar terkait kebebasan. Menjadi sebuah alur filsafat liberalisme klasik sama seperti John Locke, John Stuart Mill, dan Thomas Jefferson. Itu dasarnya. Tapi menurut saya, dengan sejarah bergerak terus juga kita harus bergerak ke depan. Kadang-kadang buku yang ditulis 50 tahun yang lalu agak sulit menerapkan konteksnya di masa sekarang, terutama di isu-isu Yunani, Jerman, dan Eropa jaman sekarang. Oke kita memang mendapatkan esensi sistem kebebasan dan hidup manusia dari filsuf-filsuf tersebut, tapi kan dunia pemahaman dunia sangat kaya. Kita berusaha mengadopsi karya-karya baru yang membahas konteks kekinian. Saya sekarang sedang membaca buku baru yang menceritakan sejarah panjang umat manusia sejak era awal homo-sapiens. Kan dunia ini tidak hanya membahas kebebasan.

Saya mengagumi karya-karya Hayek, namun kita juga perlu “menemukan” tokoh liberal lokal kita sendiri. Sangat sulit memang, sama seperti saya alami juga dulu. Namun bila kita gali lebih dalam, bahkan kita bisa menemukan liberalisme dalam sebagian diri Soekarno.  Soekarno ingin mempersatukan bangsa ini satu tanpa sekat-sekat yang terpisah. Ingin menyatukan bangsa ini tanpa ada pemisahan dari agama dan etnis tertentu. Sebagai manusia, Soekarno memang sudah mati. Tetapi sejarah jalan terus dan kita bisa memaknai sejarah Soekarno tersebut. Kaum liberal seharusnya menonjolkan dan menggali sisi hidup Soekarno sebagai anak muda yang cemerlang, menemukan Pancasila. Kurang apa sih Pancasila sebagai sebuah prinsip?

Terakhir, bagaimana pendapat Bang Rizal tentang pemerintahan Jokowi sekarang?

Saya berharap bisa lebih baik. Sudahlah kita nggak usah kritik dulu kekurangannya, saya tetap berharap lebih baik. Ada orang-orang hebat yang sudah di situ. Kita berdoa supaya dia berhasil. Banyak contoh di negara-negara lain, pemimpin kurang kuat secara kepemimpinan walaupun punya niat baik dan mulia misalnya seperti Woodrow Wilson, Jimmy Carter, atau bahkan Gus Dur. Beberapa di antara mereka berakhir tragis.

Tetapi sikap terbaik kita ke Jokowi adalah memberi masukan apa yang masih kurang, namun tetap mendukung Beliau agar bisa sukses sebagai Presiden. Walaupun partainya PDIP dan kita Golkar, dia tetap presiden kita. Yang harus Jokowi sadari walau dia orang baik, tetapi governing berbeda dengan campaigning. Dia jenius dalam berkampanye, tapi belum terbukti berhasil mengelola pemerintahan. Tanpa dia sadari, kepribadian memang sangat bagus dan terbukti. Tetapi kampanye dan memerintah suatu hal yang berbeda. Kalau blusukan adalah metode kampanye yang bagus, tetapi blusukan dalam pemerintahan adalah metode pemerintahan yang sangat, sangat tiran. Jadi, transisi dari seorang campaigner menjadi governor harus berjalan baik. Kita berharap dia bisa berkembang sebagai seorang presiden yang mampu mengelola pemerintahan dengan baik. Itu saja.