Resensi Novel Ayat-Ayat Setan Karya Salman Rushdie

113
Sumber gambar: Pinguin Books

Judul Buku: The Satanic Verses

Penulis: Salman Rushdie

Penerbit: Viking Pinguin

Negara: Inggris

Tahun Terbit: 1988

Halaman: 546

Sastra bukan hanya sekedar tulisan yang dinikmati oleh orang banyak. Entah itu sebuah novel atau puisi, kadang ia menghentak orang banyak. Mengurat dinding-dinding tebal berlumut di pikiran, atau mencairkan bongkahan es di kepala kita yang membeku. Sastra seperti angin yang dapat meruntuhkan pohon yang keras tercerabut hingga akarnya. Hanya rumput lentur dan luwes yang bisa selamat dari angin itu.

Banyak orang dibuat merenung oleh sebuah novel. Ya, hanya sebuah tulisan, hasil dari pertemuan kertas, pena dan tinta, namun nodanya bisa membekas di kepala manusia. Inilah dahsyatnya sebuah novel.

Ketika Goethe dalam “Faust” mengatakan, “kita hakikatnya adalah sendirian, mencari cahaya dalam kegelapan”, banyak orang berpikir, “Goethe benar, aku sendirian, aku hampa.. aku harus berjuang sendiri.”

Tapi ketika kita menemukan pesan Dostoevsky dalam The Brother Karamazov, “kita semua menatap langit yang sama”, maka terhiburlah hati. Muncul rasa cinta pada sesama manusia dan timbul niat untuk selalu menginginkan yang terbaik pada semua orang.

Kegilaan yang timbul dari sebuah novel memang tak bisa diabaikan begitu saja. Sastra memang mengubah dunia, karena lewat sastra koloni-koloni manusia bisa bersatu atau berpecah belah.

“Hidup memang tak layak untuk dirayakan” kalimat yang digores Albert Camus di novel “Orang Asing” dianggap telah menginspirasi ratusan, bahkan jutaan orang untuk bunuh diri.

Manifesto perubahan dalam sebuah novel lebih sakti ketimbang manifesto politik yang sering digembar-gemborkan dalam tiap kampanye. Membuat orang berjingkrak kesenangan, tapi amnesia setelah acara usai. Saya pun tak tahu bagaimana sebuah novel memiliki daya magis, menghipnotis pembaca dan merupakan cara pandang seseorang terhadap dunia.

Daya magis yang dahsyat itu juga dimiliki oleh “Satanic Verses.” Novel yang ditulis oleh Salman Rushdie ini masih memiliki pengaruh kuat dan terpatri dalam benak masyarakat. Novel ini banyak dipuji oleh mereka yang menggilai sastra sekaligus dikutuk oleh mereka yang merasa Rushdie telah menyakiti identitas mereka.

***

Tak seperti judulnya, “Satanic Verses” bukan berarti kitab suci yang diwahyukan setan pada Salman Rushdie. Ia adalah novel satir yang dipenuhi metafora, imajinasi, dan kesan abstrak yang bakal didapatkan oleh pembacanya.

Ia membuat tokoh-tokoh yang penuh dengan warna menurut saya. Gabriel Faristha, Saladin Chamcha, Ayesha, Mahound, dan Imam. Nama fiktif yang terinspirasi oleh tokoh asli, namun ditarik ke dalam imajinasi subjektif Rushdie.

Bagi sebagian orang, Rushdie adalah sosok kreatif, membawa mazhab baru dalam dunia sastra. Tapi bagi pembencinya, tak ada yang wah dari novel Rushdie, kecuali penghinaan, penghinaan, dan penghinaan.

Bagaimana seseorang di Indonesia mau menerima novel ini jikalau di judulnya terpampang nama ‘setan’ yang ditakuti sekaligus dibenci.

***

“Dilahirkan kembali” nyanyi Gabriel Farishta ketika jatuh dari langit, “terlebih dahulu engkau harus mati – Hoji! Hoji! Untuk mendarat di atas bumi, pertama-tama seseorang harus terbang. Tat-Taa! Takathun! Bagaimana dapat tersenyum kembali, jikalau tidak menangis dahulu?”

Dimula dengan nyanyian Gabriel Faristha yang jatuh dari langit. Gabriel adalah seorang aktor kenamaan India, bintang Bollywood yang sukses memerankan berbagai film dengan akting yang mendalam dan memiliki suara merdu.

Ia ingin mencari peruntungan di Inggris Raya. Menuju London, kota impian orang India. Siapapun tahu India adalah bekas jajahan Britania. Semua kehidupan di tanah Hindustan sangat bergantung dengan sabda London. Karena itu Gabriel Faristha ingin menuju ke puncak ketenaran itu.  Bayangan wah tentang London, kemegahan, kemakmuran, dan kesenangan menjadi inspirasi warga India untuk bermigrasi dan menguji nasib di sana.

Naas, ketika ia mendekati selat Inggris tiba-tiba serangan teroris yang membajak pesawat meledakkan bomnya. Gabriel terus merapal nyanyian yang ia hafal, ketika pesawat mulai jatuh. Dan, akhirnya pesawat jatuh, Gabriel Faristha selamat dan ia bertemu seorang rekan yang akan mewarnai novel ini, Saladin Chamcha.

Saladin Chamcha juga seorang seniman, ia adalah penyulih suara yang handal dan penghapal syair India yang luar biasa. Dua warga India itu, Faristha dan Chamcha selamat dari tragedi mengerikan di selat Inggris. Mereka selamat oleh kekuatan misterius yang mengubah kehidupan dua insan ini.

Dalam cerita, mereka berkelana di kota London dan mengadu nasib di sana. Keduanya mengalami apa yang dirasakan oleh para imigran India di Inggris. Saladin bergelut dengan berbagai kasus ketika polisi Inggris menganggapnya sebagai imigran ilegal. Namun, seiring perjalanan, Gabriel Faristha mengalami delusi dan imajinasi. Saladin Chamcha bingung dengan kondisi sahabatnya ini. Imaji ini yang membuat Faristha menjadi seorang malaikat,  dan lama kelamaan, Chamcha menjadi manusia dengan tanduk seperti iblis.

Dalam narasi novelnya, Gabriel Faristha dan Saladin Chamcha bergelut soal kehidupan, cap sosial dan kemelut percintaan.Dalam perjalanan kisah yang penuh metafora dan imajinasi, Gabriel bertemu dengan Rekha Merchant, pacar gelapnya yang mati bunuh diri karena menanggung cinta pada Gabriel yang tak berbalas dan berubah menjadi setan.

Merchant menawarkan Gabriel untuk bergabung dengannya menjadi setan, meyakinkan Gabriel, bahwa dia bukan malaikat penyampai wahyu Tuhan. Ia tak peduli dengan Merchant ia merasa tetap sebagai malaikat penyampai pesan Tuhan pada manusia.

Salam imajinasinya Gabriel memberikan pesan pertama kepada nabi Tuhan, ia juga yang memberikan Ayesha pesan agar bermigrasi membawa penduduk Jahilia (kota di India) menyeberangi lautan untuk pergi berziarah menemui nabi itu.

Gabriel juga menjadi pahlawan saat terjadi kebakaran hebat di kota London dengan meniupkan sangkakala milik Azrail. Namun, Gabriel mulai kebingungan sendiri, ucapan Merchant terbayang lagi di pikirannya, ia terjebak antara kepercayaan dirinya sebagai malaikat dan manusia, dan di akhir cerita dia malah merasa setan telah menguasai dirinya.

Dalam pengembaraan imajinasi dan fantasinya, Farishta menemukan cintanya yang hilang, pendaki gunung asal Inggris Allie Cone, tetapi hubungan mereka naik turun karena dibayangi oleh penyakit mental Faristha. Chamcha lebih kasihan lagi. Ia yang berwujud menakutkan tak bisa menjadi penyulih suara karena hanya bisa mengembik seperti kambing. Ia merasa dendam pada Faristha karena kawannya itu dianggap bertanggung jawab atas nasib malangnya.

Setelah Chamcha secara ajaib mendapatkan kembali bentuk manusianya, ia mencari Faristha di berbagai sudut kota London untuk membalas dendam. Ketika bertemu kawannya yang tengah dimabuk cinta dengan Allie dalam hubungan yang dilematis, Chamcha memanfaatkan ‘gangguan mental’ Faristha, hingga kawannya terhasut oleh kecemburuan yang menghancurkan hubungannya. Namun, Gabriel Faristha sadar, bahwa itu semua hanyalah omong kosong sahabatnya, Saladin Chamcha, yang kini sudah kembali ke wujud manusia. Namun, ia tak membenci sahabatnya dan mengasihi Chamcha, serta mengembalikan kehidupan normal dan karirnya.

Akhirnya, keduanya kembali ke India. Allie yang masih mencintai Farishta datang juga ke Bombay. Namun di kisahnya ini, Faristha tetap terbakar oleh kecemburuan lain hingga ia melempar Allie dari gedung tinggi. Atas kejadian itu, Faristha menyesal dan menyalahi dirinya hingga akhirnya bunuh diri.

Ketika Saladin Chamcha mengetahui hal itu, hatinya hancur. Saladin Chamcha dalam novel ini adalah seorang seniman sekaligus penyulih suara nomor satu yang tergila-gila oleh gemerlapnya kota London. Ia merasa dirinya adalah seorang Inggris, bukan India. Namun, tragedi yang menyebabkan kematian temannya dan pengalaman pahit di London membuatnya sadar dan menetap di Bombay sebagai warga India.

***

Dalam narasi kisah lainnya di novel ini, ada salah satu bagian yang cukup riskan, yaitu di bab kedua mengenai kisah Mahound, seorang lelaki sudra, yang sukses menjadi usahawan mendapat wahyu Tuhan untuk membawa revolusi untuk menghancurkan berhala-berhala para feodal kota Jahilia.

Di sini, titik kontroversi yang membuat Salman Rushdie dikecam. Ia secara vulgar membuat narasi dalam kisah imajinasinya sebagaimana kisah Nabi Muhammad, dengan tambahan fiksi. Namun terlepas dari kontroversi itu, saya membaca ada gambaran kuat, yaitu usaha untuk melakukan kemerdekaan dari oligarki yang menjajah kota Jahilia (Mekkah), di mana para pemimpin Jahilia menanamkan ideologi syirik dengan membuat banyak Tuhan. Bahkan, mereka juga mengimpor patung-patung indah untuk disembah masyarakat, sehingga dari kuil penyembahan itu mereka mendapat untung.

“Bagaimana Tuhan yang banyak bisa kalah dengan Tuhan yang satu,” ucap Abu Simbel dalam diskusinya bersama Baal. Tuhan yang banyak itu telah membuat “persaingan ekonomi” dan kedatangan agama Mahound tentu akan menjadi ancaman mereka.

Dalam kisah ini, tertuang berbagai konspirasi kotor para petinggi Jahilia. Untuk menarik warga Jahilia menyembah patung mereka, para petinggi menghiasi ritual dan dogma mereka dengan kesenangan duniawi. Mabuk, perjudian, pelacuran perempuan, perbudakan dengan harga murah, mengimpor budak-budak baru yang cantik, dan kenikmatan lainnya untuk memikat warga agar keuntungan ekonomis dari berhala mereka bisa terselamatkan.

Persaingan dan penyiksaan terhadap agama Mahound nampak pada titik nadir, hingga akhirnya dibuka jalan kompromi.  Mahound dan pengikutnya memuji dewa tertinggi mereka, Lat, Uzza, Manat, dan para petinggi Jahilia, dan umatnya akan mentolerir Tuhan Mahound, dan mengangkat Mahound sebagai anggota dewan di negeri Jahilia. Di sini Mahound menghadapi kegamangan hingga akhirnya iblis merecoki wahyu Jibril dan membuat kacau narasi Tuhan yang disampaikan pada Mahound. Mahound setuju dengan kompromi petinggi Jahilia meski dikritik oleh pengikutnya, seperti Bilal, Khalid, dan Salman.

Ketika ia mendeklarasikan hal itu di malam festival Ibrahim, para umat Jahilia berteriak histeris menyebut Lat dan Uzza. Abu Simbel kegirangan hingga sujud ke tanah. Ia berpikir telah menang dan bisnis berhalanya di kota Jahilia takkan diganggu oleh Mahound dan pengikutnya. Namun, hal itu tak membuat ganjalan di hati Mahound, benarkah itu dari Jibril, atas saran dari istrinya Mahound kembali ke gua Coney.  Ia bertemu Jibril dan Jibril berkata “menjadi tukang pos Tuhan bukan hal yang mudah Mahound”.

Setelah bergumul secara spiritual, Mahound tertidur dan melihat sosok pria. “Itu adalah iblis,” kata Mahound. Barulah ia sadar bahwa pesan-pesan itu bukan dari Tuhan, tapi dari setan yang menyusupi imajinya.

***

Kisah di atas menjadi salah satu alasan mengapa Salman Rushdie dicaci maki. Bahkan beberapa tokoh Islam seperti Ayatullah Khomeini memberi fatwa mati kepada Rushdie. Meskipun Rushdie sudah meminta maaf dan secara terbuka menjelaskan bahwa dirinya adalah seorang Muslim Kashmir, namun tidak semua orang memaafkan Rushdie.

Malah belakangan, seorang simpatisan Iran melakukan aksi penikaman terhadap Salman Rushdie di New Jersey, Amerika Serikat, dalam sebuah seminar.

Hadi Matar yang melakukan penyerangan itu, mengatakan bahwa dirinya yakin bahwa Salman bukanlah orang baik. Ia memberi kesimpulan seperti demikian setelah baru membaca beberapa lembar dari novel setebal 500 halaman itu.

Saya sendiri sudah lama mendengar adanya novel ayat-ayat setan. Saya sendiri menganggap bahwa novel itu adalah kitab suci para Satanis yang mendeklarasikan diri sebagai penyembah setan. Namun persepsi itu tidak benar, setelah saya membaca sendiri novelnya. Terlepas dari perspektif iman dan anggapan terhadap Rushdie yang nekat, saya melihat sisi lain dari novel ini.

“Ayat-Ayat Setan” sebenarnya ditulis bukan untuk menghujat siapapun. Ia sebagai buku satir diisi penuh dengan nilai-nilai kemanusiaan. Gus Dur sendiri menyebut bahwa novel “Satanic Verses” sebagai ‘novel yang indah’ dan penuh dengan pembelajaran mengenai problematika modern. Kolonialisme, kaum imigran yang tak selalu beruntung, kaum minoritas yang hidup sebagai alas kaki para birokrat, dan tragedi lainnya.

Seperti Saladin Chamcha dan Gabriel Faristha yang tak beruntung dalam pengembaraannya di London. Mereka terjebak imajinasi dan berubah wujud menjadi setan yang menakutkan pribumi di sana.

Ini adalah gambaran diskriminasi sosial warga imigran di kota-kota besar Eropa yang dipandang sebagai ‘gelandangan’ dan ‘beban negara’. Orang-orang Inggris hidup makmur di India dan mengangkut seluruh kekayaan India ke Inggris. Keglamoran Inggris telah membuat Saladin terobsesi menjadi orang Inggris, namun ia disadarkan oleh realita, bahwa ia hanya seorang imigran India.

Pun dengan kondisi masyarakat Jahilia, di mana agama menjadi domplengan para politikus. Mereka mengimpor patung-patung berhala yang megah agar warga Jahilia datang menyembahnya dan memberi uang sumbangan ke kuil, yang pada akhirnya dinikmati oleh mereka sendiri.

Lalu datang Mahound, seorang usahawan yang ingin membongkar bisnis culas mereka, namun pemuka Jahilia tak suka, dirancang konspirasi, perlawanan bahkan suap agar Mahound berhenti merusak bisnis berhalanya.

Gambaran ini merupakan cerminan yang juga terjadi saat ini. Tak perlu kita berpanjang lebar toh semua orang juga tahu, bahwa setiap mendekati tahun pemilu, para politikus akan merubah wajah mereka dengan simbol-simbol religius mengelabui warga.

***

Kisah tersusupinya ayat-ayat setan yang mendistorsi ayat-ayat Tuhan yang diterima oleh Mahound menjadi pokok dari hujatan ini.  Meski beberapa sarjana muslim tahu, bahwa peristiwa itu memang ada di beberapa literatur Islam dengan istilah Ayat al-Gharaniq, kisah ini dicantumkan oleh Al-Wahidi dan Thabari dalam kitab Tafsir Qur’an milik mereka. Namun, para ulama sendiri menganggap bahwa ayat gharaniq ini sebagai kisah palsu yang tak dapat diterima kebenarannya. Namun terlepas dari perdebatan itu semua, apakah Anda setuju jika seorang novelis dibunuh hanya karena novelnya?

Saya sendiri memegang pandangan Gus Dur dalam menyikapi Salman Rushdie. Kita tidak sepakat dengan unsur penodaan yang dilontarkan Salman pada novelnya, namun itu bukan menjadi alasan untuk membenarkan penganiayaan terhadap dirinya.

Jika kita mau objektif, novel Salman Rushdie ini sejajar dengan novel The Da Vinci Code milik Dan Brown. Lucunya, di negara yang memiliki UU Penistaan Agama, penjualan novel Dan Brown yang bagi beberapa kalangan dianggap menghina agama dan ritual Katolik tersebut, justru meroket. Sementara, novel Ayat-Ayat Setan milik Salman Rushdie sama sekali tak bisa dijual secara bebas di Indonesia.

Apakah ini adil? Terserah perspektif masing-masing.

Mengutip Gus Dur.

“Salman diibaratkan orang gila yang melempar masjid. Apa orang macam itu harus dibunuh? Lebih baik diingatkan atau ditertawakan saja.”