Resensi Film: The Platform

773

Judul Film: The Platform

Sutradara: Galder Gaztelu-Urrutia

Tahun Rilis: 2020

Durasi Film: 94 Menit

Perusahaan Produksi: Basque Films Mr. Miyagi Films Plataforma La Pelicula A.I.E

Distributor: Netflix

 

“In a consumer society there are inevitably two kinds of slaves: the prisoners of addiction and the prisoners of envy”

Hidup kadang di atas, kadang di bawah. Namun, sutradara asal Spanyol, Galder Gaztelu-Urrutia tidak sedang membicarakan roda. Alih-alih, dalam sci-fi horor The Platform, ia membangun struktur semacam menara, di mana ada dua ratus ruangan yang disusun bertingkat, berjejer vertikal, diberi nomor satu dari yang paling atas hingga berurut sampai ke paling bawah. Dalam setiap lantai atau ruangan, ‘dipenjarakan’ dua orang. Setiap bulan, masing-masing lantai dirotasi penghuninya. Kadang mereka di lantai atas, kadang mereka di lantai ratusan ke bawah. 

Struktur tersebut difungsikan oleh Galder sebagai alegori dari sistem kapitalis, konsumerisme yang diam-diam telah memerangkap masyarakat. Dan Galder memang terlihat sukses dalam menggambarkan itu semua. Bagaimana tidak? Dalam penjara buatan Galder ini, setiap harinya diturunkan platform berisi berbagai jenis makanan yang lezat-lezat. ‘Tawanan’ di lantai atas kebagian duluan mencicipi, sebelum akhirnya (tepatnya setelah dua menit) platform makanan ini turun, mengantarkan apapun yang masih tersisa kepada penghuni lantai di bawah, dan begitu seterusnya hingga lantai terbawah. Terkadang semua ruangan mendapat bagian, namun terkadang juga tidak.

Goreng, tokoh utama yang diperankan Ivan Maasague, terbangun dan mendapati dirinya berada di lantai 48. Rekan satu lantainya mengatakan posisi ini yang cukup lumayan. Tentu saja, Goreng belum tahu apa-apa karena ia baru saja mengajukan diri untuk masuk ke ‘penjara’ yang sebenarnya adalah fasilitas rehabilitasi (Vertical Self-Management Center) dengan sukarela.

Goreng yang awalnya naif akhirnya belajar banyak dari temannya, serta dari kenyataan mengerikan tatkala mereka mendapat giliran tinggal di lantai level ratusan. Tempat mimpi buruk jadi kenyataan, survival buas karena tidak ada makanan sampai di sana.

Akhirnya, Goreng paham. Pemakluman penghuni lantai bawah yang tidak kebagian makanan menjadi kanibal karena keadaan memaksa mereka. Orang-orang di atas makan terlebih dahulu, dan ketika digilir kita merasa wajar orang-orang yang di bawah akan melakukan hal yang sama saat mereka sudah di atas. Siklus mengerikan ini tidak bisa dihentikan, dan ironi dari ini semua adalah; bahwa sebenarnya makanan di atas platform itu cukup untuk mereka semua, dari lantai satu hingga lantai dua-ratus, tiga-ratus, berapapun.

Maka Goreng mencoba menyadarkan semua orang, dengan berusaha membuat mereka sadar bahwa tidak perlu mengambil makan banyak-banyak. Semua sudah diberikan jatah makanan yang cukup untuk melewati hari, sehingga tidak akan ada yang kelaparan.

Namun, dendam diperlakukan hina, ketakutan akan kelaparan esok hari, dan fakta beberapa orang bersikap rasis (film ini juga menampilkan agama, ras, dan golongan sebagai bagian dari penokohan) membuat usahanya sia-sia. Goreng didengar oleh orang-orang di bawahnya ketika dia mendorong mereka dengan ancaman. Tapi apa gunanya jika tidak semuanya sadar dan bersikap seperti tirani malah akan menimbulkan kebencian yang secara jangka panjang tidak bakal mengubah keadaan menjadi lebih baik.

****

Di sini, kita bisa melihat dua sudut pandang berbeda yang disajikan sang sutradara dalam film ini, yakni kapitalisme dan sosialisme. Dari awal, sampai pertengahan, solusi yang ditawarkan film ini untuk menghilangkan sifat rakus manusia adalah sosialisme. Edarkan makanan dengan adil hingga ke tingkat bawah, sehingga semua orang makan dan semuanya senang, happy ending. Tapi, nyatanya sistem ini digambarkan sebagai sistem yang tidak seratus persen ideal. Kenapa bisa? Bukannya semua orang sudah mendapat ‘jatah’ masing-masing?

Biasanya, sosialis menggunakan Uni Soviet sebagai contoh kesuksesan sosialisme. Bagaimana tidak? Negara yang dulunya terpuruk dan hanya berbasis pada pertanian justru berubah menjadi negara adikuasa dengan industri dan militer yang bisa menyaingi Amerika pada saat itu menjadi utopia bagi kaum kiri sedunia tentang “betapa indahnya sistem Sosialisme”.

Dalam paham sosialisme, pekerja memiliki keinginan untuk penghidupan yang lebih baik. Manajer-manajer juga ingin untuk meningkatkan industri yang dia pegang agar bisa memenuhi kuota produk, dan perencana lah yang justru menentukan apa dan berapa banyak, bagaimana, dan untuk siapa produk diproduksi. Situasi ini menyebabkan perencana lah yang mempunyai alat-alat produksi.

Beberapa jurnal ilmiah bahkan berpendapat bahwa negara-negara sosialis, khususnya Uni Soviet, tidak masuk dalam kriteria sosialisme. Melainkan, Uni Soviet adalah tidak lebih dari bentuk baru sistem Merkantilisme abad ke 17. Hal tersebut ditandai dengan munculnya elit-elit politik yang dikuasai oleh diktator, intervensi pemerintahan yang besar, dan pembentukan kartel-kartel dan monopoli ekonomi, pengekangan kebebasan ekonomi untuk mempertahankan monopoli ekonomi yang sudah ada (yang hanya bisa didapat melalui koneksi politik), dan proses birokrasi yang rumit (Anderson & Boettke, 2017).

Para perencana produksi memiliki tugas untuk menentukan seberapa dan barang apa saja yang diproduksi melalui intruksi pemerintah pusat (Hal ini juga digambarkan melalui Goreng dalam film The Platform yang mendekati akhir film mulai mengatur kuota makanan bagi lantai-lantai ke bawah). Namun, yang terjadi malah kekerasan dan orang-orang tidak bisa percaya satu sama lain. Akibatnya, praktik korupsi, penyogokan, dan politik rente menjadi hal yang sudah biasa. Terutama dalam mendapatkan barang dan jasa, seringkali terjadi pungli.

Para elit bisa menyogok aparatur pemerintahan untuk mendapatkan hak spesial karena susahnya akses kebebasan terhadap hal-hal tertentu. Salah satu contoh paling sederhana adalah sekolah pemerintahan untuk menerima anak mereka untuk bersekolah. Dikarenakan memenuhi kebutuhan sehari-hari menjadi sangat sulit, praktek pasar gelap dan perdagangan ilegal merajalela di Uni Soviet.

****

Lantas, bagaimana dengan kapitalisme? Pakar ekonomi dan sejarah misalnya, menghubungkan keberhasilan ekonomi negara-negara Skandinavia dengan sistem perekonomian mereka. Pada abad pertengahan, sistem ekonomi di Skandinavia ditandai dengan kepemilikan pribadi lahan-lahan oleh petani kecil. Cuaca yang keras memaksa mereka untuk bekerja lebih  dan menjadi mandiri (Sanandaji, 2015).

Inilah yang menyebabkan etos kerja menjadi efisien. Negara-negara Skandinavia saat itu menerapkan kebijakan ekonomi pasar dari tahun 1870, dan semenjak itu, mengalami pertumbuhan ekonomi yang luar biasa. Ironisnya, pertumbuhan ekonomi ini mengalami defisit setelah pajak yang tinggi dan kebijakan welfare ditetapkan. Kebijakan ini berdampak pada perilaku masyarakat di mana tingkat ketergantungan pada pemerintah dan pensiun dini meningkat.

Kapitalisme berarti persaingan pasar bebas. Definisi tersebut tidak salah, namun diksi yang sering muncul adalah mengenai persaingan yang tidak sehat dan hanya menguntungkan kaum menengah ke atas. Dengan adanya sistem perdagangan bebas, setiap orang punya hak yang sama untuk mendapat keuntungan sesuai kapabilitas masing-masing.

Contohnya, jika para pengusaha diberi kebebasan dalam berbisnis, kebebasan dalam mendapat keuntungan, serta kebebasan untuk bersaing, maka perputaran roda ekonomi juga semakin cepat. Hal itu akan membuat lapangan kerja menjadi luas, angka pengangguran ditekan, dan banyak industri baru yang akan lahir dari kreativitas.

Sosialisme memang terdengar baik karena harus mengasumsikan bahwa setiap manusia bisa dipaksa untuk menjadi baik dan akan menjadi baik. Dia harus mempercayai bahwa para elit politik akan fokus pada kesejahteraan umum. Kenyataannya kita melihat kesenjangan dan praktik korupsi masih terjadi di negara negara sosialis karena sosialisme dan otoritarianisme menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan.

Sama adanya dengan sosialisme, komunisme, dan ide-ide lainnya, kapitalisme juga bukan solusi yang seratus persen sempurna bekerja di lapisan masyarakat kita. Gagasan-gagasan yang ada saat ini tentunya belum bisa memuaskan keadaan manusia yang mendambakan sebuah utopia mengenai kesejahteraan untuk semua. Namun, tidak seperti sosialisme, terlepas dari ketidaksempurnaannya, kapitalisme merupakan sistem yang terbukti paling mampu dalam mendekati utopia tersebut.

 

Referensi:

Anderson, Gary M. & Peter Boettke. 1997. “Soviet Venality: A Rent-Seeking Model of the Communist State.” Public Choice, Vol. 93, No. 1. Dikutip dari: https://papers.ssrn.com/sol3/papers.cfm?abstract_id=1531085 Diakses pada 21 Agustus 2020, pukul 21.00 WIB.

Sanandaji, Nima. 2015. “Scandinavian Unexeptionalism: Culture, Markets, and the Failure of Third Way Socialism.” Institute of Economic Affairs. Dikutip dari: https://www.cato.org/sites/cato.org/files/serials/files/cato-journal/2017/5/cj-v37n2-16.pdf Diakses pada 21 Agustus 2020, pukul 21.00 WIB.