Resensi Film: Hidden Figures

602

Judul:          Hidden Figures

Sutradara:  Theodore Melfi

Tahun:         2016

Durasi:        127 Menit

Studio:        20th Century Fox

 

Penjelajahan luar angkasa di pertengahan abad ke-20 tentu merupakan salah satu capaian terbesar umat manusia dalam sejarah. Untuk pertama kalinya dalam sejarah panjang umat manusia, kita tidak hanya menjadi spesies penjelajah bumi yang menjadi rumah kita, namun kita akhirnya juga mampu untuk menggapai ruang lain di luar planet kita.

Penjelajahan tersebut tentunya tidak bisa dilepaskan dari persaingan perlomaan antariksa (space race) antara dua negara adidaya di abad ke-20, yakni Amerika Serikat dan Uni Soviet. Kedua negara superpower tersebut berlomba-lomba menunjukkan kepada dunia mengenai superioritas teknologi antariksa yang kedua negara tersebut miliki (space.com, 7/8/2019).

Di Amerika sendiri, pada saat yang bersamaan dengan periode perlombaan antariksa, khususnya yang berlangsung pada dekade 1960-an, segregasi dan isu rasial merupakan salah satu permasalahan yang besar dihadapi di negeri Paman Sam tersebut. Warga etnis minoritas, khususnya warga kulit hitam, tidak bisa menikmati berbagai fasilitas secara setara dengan warga kulit putih. Mereka juga kerap mendapatkan diskriminasi, intimidasi, hingga kekerasan dari para aparat penegak hukum.

Oleh karena itu, tidak banyak diketahui bahwa, ada tiga orang pakar matematika dan insinyur perempuan berkulit hitam yang memiliki jasa besar dalam mensukseskan program antariksa Amerika Serikat menandingi Uni Soviet. Mereka adalah Katherine Goble Johnson, Dorothy Vaughan, dan Mary Jackson. Kisah tersebut diabadikan dalam film garapan sutradara Theodore Melfi, Hidden Figures, yang dirilis pada tahun 2016 lalu.

Lembaga Antariksa Amerika Serikat, The National Aeronautics and Space Administration (NASA), yang memimpin program antariksa Negeri Paman Sam, di awal tahun 1961, mendapatkan tantangan yang berat. Empat tahun sebelumnya,  Uni Soviet berhasil meluncurkan satelit Sputnik, yang merupakan benda buatan manusia pertama yang diterbangkan ke luar angkasa.

Peristiwa tersebut membuat banyak warga Amerika Serikat, khususnya mereka yang terlibat di bidang antariksa, menjadi frustasi karena hal tersebut dianggap pertanda bahwa Uni Soviet memiliki superioritas dalam hal teknologi antariksa dibandingkan dengan Negeri Paman Sam. Oleh karena itu, Pemerintah Amerika Serikat melalui NASA bersikeras untuk segera mengirim manusia pertama ke luar angkasa, mendahului Uni Soviet.

Unit NASA yang bertugas untuk merancang dan mempersiapkan para astronot Amerika Serikat untuk keluar angkasa adalah Space Task Group, yang dikepalai oleh Al Harrison, yang diperankan oleh Michael Keaton. Agar bisa melaksanakan tugasnya dengan cepat, Harrison menyuruh stafnya untuk mencarikannya seorang ahli matematika dengan kemampuan khusus pada bidang analisis geometri.

Katherine Johnson, yang diperankan oleh Taraji Henson, adalah seorang pakar matematika yang bekerja di Lembaga Riset Langley (Langley Research Center), ditawarkan posisi tersebut. Johnson merupakan satu-satunya perempuan berkuli hitam yang bekerja di unit tersebut, dan mendapatkan berbagai kesulitan.

Diantaranya adalah, karena negara bagian Virginia pada masa itu masih menerapkan segregasi, kantor unit Space Task Group hanya menyediakan kamar kecil untuk kulit putih. Dengan demikian, Johnson terpaksa berlarian ke gedung yang jauh untuk mendapat akses kamar kecil, dan hal tersebut sangat mengganggu pekerjaannya. Setelah melakukan protes, Harrison akhirnya memutuskan untuk menghapuskan segregasi kamar kecil di kantor unit yang dipimpinnya.

Sebagaimana dengan Johnson, salah satu rekannya di Lambaga Riset Langley, Mary Jackson, juga mendapatkan posisi baru. Jackson, yang diperankan oleh Janelle Monae, mendapat tugas di unit perancang pelindung panas untuk kapsul luar angkasa yang nantinya akan digunakan oleh para astronot. Ia pun berhasil menemukan kesalahan desain dari pelindung panas tesebut, dan Jackson mendaftarkan dirinya di posisi insinyur NASA secara resmi.

Namun, NASA memiliki peraturan bahwa, bila seseorang ingin mendapatkan posisi insinyur resmi, gelar sarjana di bidang matematika dan fisika saja tidak cukup, yang dimiliki oleh Jackson. Ia juga membutuhkan sertifikat tambahan, yang bisa didapatkannya di Universitas Virgina, yang pada masa itu masih disegregasi. Setelah melayangkan tuntutan ke lembaga peradilan lokal, hakim akhirnya memutuskan Jackson boleh mengikuti kuliah malam tambahan yang dibutuhkannya untuk mendapatkan posisi insinyur NASA secara resmi.

Amerika Serikat akhirnya harus menerima kekalahan kedua kalinya dalam perlombaan antariksa melawan Uni Soviet ketika, pada 12 April 1961, kosmonot Uni Soviet, Yuri Gagarin, berhasil menjadi manusia pertama yang melakukan perjalanan ke orbit bumi. Kejadian tersebut semakin memberi tekanan kepada NASA untuk segera mengirim astronot Amerika ke luar angkasa.

Tidak sampai sebulan setelah Gagarin mencapai luar angkasa, NASA akhirnya berhasil mengirim astronot Amerika Serikat pertama ke luar angkasa, Alan Shepherd, yang menjadi orang kedua yang melakukan perjalanan ke luar bumi. Namun, pesawat angkasa Shepherd tidak sampai mencapai orbit.

NASA akhirnya segera mengejar misi mereka untuk mengirim astronot Amerika ke orbit untuk mengejar ketertinggalan dari Uni Soviet. John Glenn dipilih sebagai astronot yang akan dikirim ke orbit. Agar bisa melakukan perhitungan yang cepat dan maksimal, NASA akhirnya memasang mesin IBM 7090, yang dirancang oleh perusahaan International Business Machines (IBM). Mesin tersebut menjadi ancaman bagi pakar matematika Dorothy Vaughan, dan timnya yang bekerja di Lembaga Riset Langley, yang semuanya terdiri dari perempuan kulit hitam, karena tugas mereka untuk melakukan perhitugan akan digantikan oleh mesin.

Vaughan akhirnya menawarkan diri dan timnya kepada NASA untuk dipindahtugaskan menjadi operator dari IBM 7090, agar ia dan rekan-rekannya tidak kehilangan pekerjaan. Karena Space Task Force kekurangan tenaga untuk mengoperasikan mesin tersebut, tawaran Vaughan tersebut akhirnya diterima.

Semakin mendekati peluncuran John Glenn, NASA dihadapkan dengan masalah besar, yakni menentukan koordinat turunnya kapsul Glenn ketika kelak ia kembali ke bumi. Para matematikawan di Space Task Force menyatakan bahwa mustahil untuk menentukan titik koordinat tersebut, karena teramat banyak faktor yang menentukan. Namun, Johnson akhirnya berhasil memecahkan teka-teki tersebut, yang membuat Harrison dan rekan-rekannya di Space Task Force terkesima.

Setelah Johnson berhasil menemukan koordinat tersebut, dan pelindung panas kapsul dimodifikasi berkat temuan dari Jackson, Glenn akhirnya diterbangkan pada bulan Februari tahun 1962, dan menjadi warga Amerika pertama yang mencapai orbit bumi. Ia pun akhirnya bisa kembali ke bumi dengan selamat.

Katherine Johnson sendiri tetap bekerja di NASA sampai tahun-tahun setelahnya, dan terlibat dalam menghitung trajektori program Apollo, yang kelak akan membawa manusia pertama ke Bulan, dan program pesawat ulang-alik. Mary Jackson juga akhirnya dapat menyelesaikan kuliahnya, dan menjadi insinyur resmi perempuan kulit hitam pertama di NASA. Sementara itu, Dorothy Vaughan juga menjadi pengawas (supervisor) di divisi komputer yang mengoperasikan mesin IBM, dan menjadi perempuan kulit hitam pertama di NASA yang memiliki jabatan supervisor.

Sebagai penutup, kisah hidup Johnson, Vaughan, dan Jackson merupakan kisah yang sangat luar biasa dan sangat penting untuk disampaikan untuk menginspirasi kita semua. Ketiga tokoh tersebut telah berhasil menembus batas-batas sosial yang dikenakan kepada diri mereka karena jenis kelamin dan warna kulit yang mereka miliki. Mereka juga sukses mencapai capaian yang luar biasa meskipun hidup dalam sistem yang masih mempratikkan diskriminasi gender dan rasial.

 

Referensi

https://www.space.com/space-race.html Diakses pada 25 Januari 2021, pukul 15.15 WIB.