Resensi Buku Libertarianisme

883

Detail Buku:

Judul Buku:              Libertarianisme: Perspektif Kebebasan atas Kekuasaan dan Kesejahteraan

Tim Editor:               Tim Suara Kebebasan

Penerbit:                 Suara Kebebasan

Tahun Terbit:           2019

Jumlah Halaman:    188

 

Apa sih libertarianisme itu? Nampaknya istilah ini asing di telinga kita. Ya, sejujurnya istilah tersebut memang asing. Jangankan mendengar libertarianisme, mendengar kata liberalisme dan kebebasan saja, masyarakat kita sudah bingung bahkan memahaminya secara keliru. Kenyataannya, toh masyarakat kita sering memiliki negative thinking atau menolak sesuatu yang baru, padahal belum sepenuhnya diketahui.

Penyimpangan makna liberalisme dan kebebasan sendiri tercermin dari gerakan kelompok Islamis yang menyebarkan isu bahwa liberalisme membawa paham Barat yang ingin merusak budaya Timur. Kebebasan akan membuat masyarakat kacau karena berjalan tanpa hukum dan tanpa aturan. Demokrasi hanya dianggap sebagai keputusan suara mayoritas tanpa memahami arti yang sebenarnya.

Lalu apakah libertarianisme tersebut? Sederhananya: libertarianisme adalah suatu filosofi yang memandang bahwa setiap manusia pada dasarnya memiliki hak untuk bebas, hak untuk hidup, hak untuk memiliki properti,  serta kewajiban untuk menghormati hak tersebut. Simple-nya, libertarianisme sangat menghargai nilai-nilai yang menjadi fitrah manusia.

Kekeliruan masyarakat terhadap ide-ide kebebasan individu yang ditawarkan oleh libertarianisme berusaha dikoreksi oleh komunitas dan juga media-media dunia maya (internet) yang tengah tumbuh dan mempromosikan ide-ide kebebasan. Salah satu platform yang memperjuangkan kebebasan itu adalah Suara Kebebasan. Media online yang saat ini konsisten menyajikan artikel mengenai isu-isu yang berkaitan dengan wacana kebebasan yang jarang didengar oleh publik.

Namun dalam dunia literasi dan akademik, buku-buku yang membahas secara objektif ide-ide libertarianisme sangat sedikit, bahkan langka. Kelangkaan inilah jualah yang kemudian mendorong Suara Kebebasan menerbitkan sebuah buku kompilasi yang secara luas membahas tentang dasar dari libertarianisme dan ideologi kebebasan.

Buku Libertarianisme: Perspektif Kebebasan atas Kekuasaan dan Kesejahteraan, terbit pada tahun 2019. Isinya tentu saja untuk mengenalkan sekaligus menjawab kesalahpahaman masyarakat terhadap ide-ide kebebasan dan libertarianisme.

Seperti opini masyarakat yang saya tulis di atas, umumnya libertarianisme dianggap sebagai ide Barat yang tidak sesuai dengan budaya Timur, sehingga harus ditolak. Begitu juga anggapan bahwa libertarianisme adalah faham yang terlampau menjunjung kebebasan sehingga kita kebablasan dan tidak memiliki aturan .

Isu-isu liar tersebut bergulir secara bebas dan tertanam kuat di benak banyak orang. Nah, buku Libertaianisme ini membantah pandangan-pandangan keliru tersebut dengan argumentasi dialektis dan argumentasi yang menyajikan data-data yang akurat dan ditambah dengan gagasan segar yang ditawarkan oleh para penulis.

Salah satu bentuk isu yang dibantah adalah asumsi bahwa libertarianisme adalah ide yang hanya cocok dengan masyarakat Barat. Memang betul pada mulanya ide-ide kebebasan lahir di Barat. Namun, yang patut kita renungkan adalah apakah setiap orang, khususnya orang Timur (Asia) ingin negaranya dikuasai oleh diktator? Apakah orang Timur ingin hak bicaranya dirampas oleh negara?

Apakah orang Timur rela jika properti dan kepemilikan adalah milik kaum feodal atau penguasa? Atau apakah orang Timur ingin mendapat jaminan hukum yang setara tanpa melihat kelas dan golongan?

Jika jawabannya iya, maka ide-ide kebebasan sangat sesuai dengan orang Timur. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang ingin kebebasan dan propertinya dirampas oleh orang lain. Karena itulah, ide-ide kebebasan adalah ide yang sangat cocok untuk manusia di Barat atau Timur, ide kebebasan atau libertarianisme adalah ide yang berusaha memahami manusia sebagai individu yang memiliki hak untuk bebas. Karena itulah libertarianisme mengusung ide-ide kebebasan yang universal.

Begitu juga dengan pandangan orang banyak mengenai kebebasan liar dan individualisme dalam libertarian, apakah libertarian bersikap liar dan egois? Jawaban buku ini, libertarian sangat menjunjung konsep penghargaan terhadap kebebasan orang lain. Jika manusia menghormati kebebasan orang lain, mana mungkin ada tindakan liar yang menganggu ketertiban umum dan menimbulkan kerusakan?

Jika filosofi dan idiologi lain berpandangan kolektivisme, komunal, dan sosialisme “memaksa” orang berbuat baik pada orang lain dan berbuat baik pada negara, kebebasan individual yang ditawarkan libertarianisme menekankan konsep “sukarela”, dimana setiap orang berbuat baik berdasarkan dorongan nurani dan akal sehatnya.

Individualisme dalam libertarianisme tidak bermaksud mengajak orang menjadi egois, tetapi membiarkan orang bebuat baik sesuai nurani mereka. Toh jika Anda memberi sedekah atau membantu orang menyeberang jalan, tindakan baik Anda hadir dari nurani Anda, bukan dipaksa oleh negara atau dipaksa oleh sekelompok orang.

Banyak kesalahan persepsi masyarakat Indonesia yang “dikuliti” oleh buku ini, sebagaimana kesalahpahaman kebanyakan orang tentang demokrasi. Sebagian orang berpandangan bahwa demokrasi hanya proses elektoral dalam pemilihan pemimpin dan wakil rakyat. Siapa yang terbanyak, maka dialah yang menang. Dari sini, banyak orang berasumsi bahwa demokrasi adalah suara mayoritas, dan muncullah penyakit mayoritarianisme di negara kita.

Mayoritarianisme sebenarnya adalah penyakit bagi kebebasan di Indonesia, sebab mayoritarianisme dapat membuat kelompok besar menindas kelompok yang lebih kecil. Memang mayoritarianisme adalah penyakit dalam demokrasi kita, sebab tujuan dari demokrasi adalah menciptakan iklim bernegara yang saling menghormati hak dan properti orang lain. Demokrasi mengizinkan terciptanya ruang kebebasan dan perbedaan, karena itulah mayoritarianisme merupakan penyakit yang dapat mengancam demokrasi.

****

Melihat literatur di Indonesia, toko buku kita biasanya diwarnai oleh karya literatur yang rata-rata bercorak agamis, nasionalis, atau sosial demokrat. Tak jarang buku-buku yang menulis tentang libertarianisme atau liberalisme justru membahasnya secara negatif,  Buku Libertarianisme yang lahir dari Suara Kebebasan ini hadir sebagai “hantaman” bagi dunia pemikiran di Indonesia. Apakah tidak berlebihan? Jawaban saya tidak.

Pola pikir maasyarakat kita sangat monoton dan lebih mementingkan penyeragaman daripada penghargaan terhadap kebebasan. Nilai-nilai masyarakat kita terbentuk dalam konstruksi kolektivisme akut. Lihat saja dalam bidang agama, masyarakat kita sudah resisten dan alergi melihat orang yang beragama atau menganut madzhab yang berbeda dengan dirinya. Konflik sosial dan juga perseteruan antar golongan saat ini disebabkan oleh cara pandang masyarakat yang cenderung komunal ketimbang menghargai kebebasan individu.

Buku ini hadir untuk menjadi bom bagi pemikiran dan ranjau bagi kolektivisme. Walaupun  amat sulit untuk meruntuhkan gagasan kolektivisme dan penyeragaman. Namun, setidaknya lewat buku ini dan buku-buku serupa yang akan terbit, telah memulai suatu perjuangan untuk memperkenalkan ide-ide kebebasan individual atau libertarianisme dan tentang being human being.