PSK Juga Manusia

    1381

    “Ada yang benci dirinya, ada yang butuh dirinya, ada yang berlutut mencintainya, ada pula yang kejam menyiksa dirinya”

    Mungkin Anda membaca kalimat di atas sambil bersenandung dalam hati, “paragraf di atas diambil dari lagu Titiek Puspa yang nge-trend di era 70an (dan kemudian hits kembali karena dibawakan oleh band Peterpan.)” Saya tentu bukan seorang pengamat musik yang memahami musik secara teoritik. Namun, saya sebagai pendengar bisa memahami maksud dari lagu tersebut.

    Lagu tersebut menceritakan kehidupan seorang perempuan yang menjual tubuhnya. Dengan kata lain, lagu tersebut menceritakan tentang sebuah kehidupan seorang perempuan yang berprofesi sebagai penjaja seks.

    Mendengar kata Pekerja Seks Komersial (PSK), yang ada dibenak banyak orang adalah tentang sosok perempuan kotor yang menjual kehormatannya. Seorang perempuan abmoral, tuna susila, dan bekerja dalam limbah kenistaan. PSK selalu mendapat stigma negatif dari masyarakat.

    Selain mendapat diskriminasi dan perlakuan tidak menyenangkan dari masyarakat, seorang PSK juga kerap mendapatkan penganiayaan dari para pelanggan. Tak jarang banyak perempuan pekerja seks yang tewas karena disiksa dan dianiaya. Apalagi, tidak ada jaminan keamanan untuk pekerjaan mereka, maka lengkap sudah kenestapaan yang dialami. Sudah dimarjinalkan oleh masyarakat, kerap dianiaya pelanggan pula.

    Dari kacamata moral kebanyakan masyarakat Indonesia, memang seorang PSK merupakan seseorang yang telah melanggar nilai dan norma kesusilaan. Tetapi yang perlu kita perhatikan, tidak setiap hal di dunia ini bisa diukur dengan kacamata moral. Dalam melihat masalah perempuan yang bekerja sebagai pekerja seks misalnya, tak bijaksana nampaknya jika hanya melihat sisi buruk tanpa mengetahui kehidupan mereka secara lebih objektif.

    Yang menjadi pertanyaan adalah, apakah perempuan yang bekerja sebagai pekerja seks menikmati pekerjaanya? Apakah para perempuan memang mau bekerja sebagai PSK? Tentu kebanyakan pasti menjawab “tidak”. Tentu saja perempuan tidak ingin menggadaikan kehormatannya. Setiap perempuan pasti ingin hidup mereka terhormat dan juga hidup layak dalam sebuah keluarga yang normal.

    Realita kehidupan dan juga menghimpitnya biaya kebutuhan hidup yang umumnya membuat mereka terpaksa menjual tubuh mereka untuk menyambung hidup dan memenuhi kebuntuhan keluarganya. Menurut pengamat kajian masalah gender dan perempuan, Sulistyowati Irianto, perempuan terjebak ke dalam kasus prostitusi mayoritas karena masalah ekonomi dan sulitnya mendapat lapangan pekerjaan (CNN 11/05/2015).

    Kemiskinan di desa menjadi salah satu faktor dari maraknya prostitusi. Para perempuan yang tinggal di desa karena kemiskinannya dan sulitnya mendapat penghidupan di desa kemudian mendorong mereka ke kota-kota untuk bekerja. Sayangnya, di perkotaan juga tidak ada pekerjaan untuk mereka. Karena merasa tak mungkin pulang begitu saja, para perempuan tersebut akhirnya menjajakan tubuhnya.

    Melihat dari Sudut Pandang yang Berbeda

    Lagu “Kupu-Kupu Malam yang dinyanyikan oleh Titiek Puspa adalah cerminan dari fenomena prostitusi di Indonesia. Lewat lagu ini, Titiek Puspa menceritakan tentang kenistapaan yang menjerat seorang perempuan. Prostitusi hidup bukan karena perempuan tersebut tidak bermoral dan tak mengenal agama, tetapi himpitan ekonomi yang memaksa mereka untuk menjajakan tubuhnya bukan karena mereka tak mengingat dosa.

    Yang menarik  W.S. Rendra justru menerangkan secara jelas tentang perempuan penghibur di ibukota yang ia tuangkan dalam sebuah puisi yang berjudul Bersatulah Pelacur-Pelacur Ibukota. Dan berikut adalah satu potongan baitnya:

    “Politisi dan pegawai tinggi

    Adalah caluk yang rapi

    Kongres-kongres dan konferensi

    Tak pernah berjalan tanpa kalian

    Kalian tak pernah bisa bilang ‘tidak’

    Lantaran kelaparan yang menakutkan

    Kemiskinan yang mengekang

    Dan telah lama sia-sia cari kerja

    Ijazah sekolah tanpa guna”

     

    Dan pada bait yang lain Rendra menulis:

     

    “Pelacur-pelacur kota Jakarta

    Saudari-saudariku

    Jangan melulur keder pada lelaki

    Dengan mudah

    Kalian bisa telanjangi kaum palsu

    Naikkan tarifmu dua kali

    Dan mereka akan klabakan

    Mogoklah satu bulan

    Dan mereka akan puyeng

    Lalu mereka akan berzina

    Dengan isteri saudaranya.”

     

    Rendra melukiskan betapa munafiknya kebanyakan orang. Di satu sisi mereka menolak prositusi, tetapi di sisi lain mereka justru menjadi penikmat jasa para perempuan penghibur tersebut. Walau banyak orang yang mengecam prostitusi dengan argumen moral, tapi di sisi lain kebutuhan biologis para laki-laki membuat mereka membutuhkan kehadiran para perempuan penghibur.

    Syair Rendra di atas juga menyiratkan bahwa para PSK, selain sebagai pelampiasan nafsu para lelaki, mereka juga mempunyai fungsi sosial tersendiri, yaitu “mengamankan” libido laki-laki yang tak terkendali. Walaupun norma sosial menganggapnya tabu, tapi kebutuhan biologis adalah hal yang alami dan tak dapat ditolak.

    Karena itu di 4 bait terakhir dari puisinya, Rendra menjelaskan, jikalau para PSK mogok kerja dan menaikan tarifnya dua kali lipat, maka banyak laki-laki akan frustasi dan kelimpungan karena tak mampu menyalurkan hasrat biologisnya. Jika ini terjadi, banyak laki-laki yang akan melakukan tindak kriminal, seperti memperkosa dan melakukan pelecehan seksual. Di sini, perempuan penghibur memiliki fungsi sosial untuk mengamankan hasrat seksual laki-laki yang terkontrol. Meskipun, menjadi PSK juga memiliki beragam resiko yang juga berdampak terhadap kehidupan perempuan PSK.

    *****

    Jika kita membaca sejarah prostitusi, maka kita akan mengetahui bahwa  prostitusi adalah bingkai budaya patiarki. Dalam sistem sosial yang didominasi laki-laki, perempuan menjadi warga kelas dua yang bahkan dianggap hanya sebagai mesin produksi semata. Prostitusi adalah sebuah bentuk perbudakan perempuan oleh laki-laki, perempuan dalam pandangan laki-laki hanya dijadikan objek seksual semata, dan dalam pandangan si perempuan, ia merasa tak berdaya dan akhirnya tunduk mengikuti arus tanpa bisa melawan.

    Di zaman sekarang, walaupun ide-ide demokrasi, kebebasan, dan kesetaraan sudah merasuk keseantero jagad, namun kenyataanya diskriminasi terhadap perempuan, khususnya dalam hal pekerjaan masih dapat kita temukan. Dilansir dari Pew Research Center, diskriminasi di bidang pekerjaan masih dirasakan oleh perempuan, (Beritagar.id 04/07/2018). Upah yang murah, lapangan kerja yang sempit dan juga ekonomi yang mencekik, membuat perempuan menjual tubuhnya demi menyambung hidup dan keluarga.

    Menjadi perempuan penghibur mungkin bukanlah pekerjaan yang terhormat dalam masyarakat kita, tetapi tidak bijak jika kita menghakimi dan memperlakukan mereka layaknya hewan buruan yang selalu diteror dan dipojokkan. Masalah prostitusi, tidak bisa hanya dilihat dari aspek agama tetapi harus dipandang dari lanskap yang lebih luas.

    Kebutuhan hidup yang semakin mencekik dan minimnya kesempatan dalam dunia kerja, adalah beberapa faktor yang membuat perempuan rela berbuat apa saja demi memberi nafkah keluarganya atau bahkan menyekolahkan anaknya. Jika melihat kenyataan lebih luas, masihkah kita menganggap PSK sebagai perempuan nista yang pantas direndahkan? Tidak, mereka juga manusia, sama seperti kita!