Praksiologi Ludwig Von mises

    822

    “Niat sekeras besi, pikiran sekuat baja”, begitu kira-kira julukan untuk Ludwig von Mises dari seorang istrinya. Tapi, karena kekuatan pikirannya, ia mampu menulis karya terpenting yang diterbitkan tepat pada tahun 1949. Karya tersebut adalah Human Action. bagi aliran Austria, karya tersebut seperti  Das Capital bagi Marxis, sebuah risalah ekonomi yang lengkap. Dan seperti Das Capital, karya Mises itu tebalnya lebih dari 900 halaman. Anda mungkin bertanya, “apa isi Human Action itu”? para pengagumnya akan menjawab, “semuanya ada”.

    Human Action bukan bacaan yang ringan, khususnya di bab-bab awal metodologi seperti The Formal and Aprioristic Character of Praxeology. Alasan yang paling kuat mengapa karya ini dianggap cukup sulit adalah pendekatan yang dibangun Mises murni epistemologis, kalau bukan filosofis. Mises ingin meletakkan dasar yang kokoh bagi ilmu ekonomi berdasarkan pada pengetahuan yang bisa diandalkan. Bangunan epistemologi ini juga menjadi satu kekuatan bagi generasi libertarianisme modern untuk menolak teori-teori artifisial yang mendominasi kebijakan ekonomi pada abad 21 ini.

    Tentang Praksiologi

    Apa itu praksiologi? Praksiologi adalah ilmu tentang “tindakan manusia”, ilmu sejarah juga demikian namun memliki perbedaan soal pendekatan. Sejarah hanya berurusan dengan susunan sistematis semua data pengalaman mengenai tindakan manusia. Ia meliputi hampir semua segi kegiatan manusia di masa lampau. Misalnya sejarah tentang tindakan politis, teknologi, seni, ekonomi, dan ilmu pengetahuan. Menurut Mises, ilmu pengetahuan historis tidak mengajarkan apa-apa kepada kita perihal tindakan manusia, selain membuat kita lebih bijaksana dan waspada. Sejarah juga tidak menawarkan pengetahuan atau keterampilan apa-apa untuk menangani pekerjaan-pekerjaan konkret.

    Ilmu-ilmu pengetahuan alam juga berurusan dengan pengalaman masa lalu. Pengalaman selalu mengandaikan sesuatu yang sudah berlalu. Dengan melakukan eksperimen laboratorium yang mana objek bisa diamati secara terisolasi, ilmu pengetahuan alam dapat menunjukkan kepada kita berdasarkan pengalaman akan fakta-fakta empiris yang kemudian dipergunakan untuk proses induksi lebih lanjut.

    Namun, muncul persoalan jika ilmu pengetahuan alam memperlakukan fenomena tindakan manusia dengan proses uji laboratorium. Mengapa? Tindakan manusia selalu merupakan fenomena kompleks, dan tidak mungkin diamati secara isolasi dan mustahil juga diikat dengan proposisi-proposisi empiris.

    Dari sini, Mises menunjukkan bentuk pengetahuan yang bersifat mendahului (antecendent) demi menjelaskan fenomena kompleks perihal tindakan manusia, yang disebutnya “praksiologi”.

    Praksiologi adalah ilmu pengetahuan teoritis dan sistematik, tetapi “non-historis”. Cakupannya adalah tindakan manusia tanpa memandang lingkungan dan faktor-faktor kebetulan. Kognisinya murni bersifat formal dan umum. Proposisi-proposisi dalam praksiologi tidak diturunkan dari pengalaman. Proposisi dan pernyataan dalam praksiologi, seperti halnya matematika dan logika, bersifat a priori. Jadi penggunaannya bersifat analitis deduktif yang mana semua tindakan ekonomi dapat disimpulkan hanya lewat kognisi.

    Dengan karakter pengetahuan yang nyaris aksiomatik semacam ini, Mises begerak lebih lanjut untuk menunjukkan bahwa ekonomi adalah ilmu tentang tindakan manusia.

    Manusia adalah makhluk yang bertindak. Tindakannya disengaja dan bertujuan. Sebelum dikerjakan harus ada kondisi ketidaknyamanan atau kekurangan. Dari situ muncul niat untuk bertindak. Dalam praksiologi, tindakan selalu mengandaikan tiga syarat: (1) Adanya keinginan (want), (2) cara/metode (means) dan (3) hasil/tujuan (ends). Tindakan harus rasional, disengaja dan beralasan. Lawannya bukan irasional, melainkan respon reaktif atau gerakan tak sadar, yang dalam hal ini tidak tergolong kategori tindakan.

    Jelas terlihat di sini, bahwa pemahaman terhadap praksiologi dapat mencakup segala tindakan rasional dalam ekonomi. Mari kita melihat beberapa proposisi ekonomi yang diturunkan dari asumsi praksiologi:

    Ketika dua orang, Ani dan Anu saling melakukan pertukaran secara suka rela, keduanya pasti mengharapkan keuntungan (profit) dari kegiatan tersebut. Dari situ, mereka pasti memiliki peringkat preferensi terbalik untuk barang dan jasa yang dipertukarkan, sehingga Ani akan menilai apa yang diterimanya dari Anu lebih bernilai tinggi daripada yang ia berikan kepadannya, dan Anu akan menilai dengan cara yang sama pula. Bayangkan jika proses pertukaran ini tidak terjadi secara suka rela, pasti ada yang dirugikan.

    Tentang  faeadah marjinal: ketika persediaan barang meningkat sebanyak satu unit tambahan, sejauh manfaat setiap unit tersebut dinilai sejajar dengan oleh seseorang, maka nilai yang diberikan orang itu kepada  unit tersebut pasti akan menurun.

    Atau tentang upah minimum: ketika hukum upah minimum diberlakukan dan mengharuskan upah lebih tinggi daripada upah yang berlaku dipasar, maka pengangguran non-sukarela akan terjadi.

    Dan terakhir: ketika kuantitas uang bertambah sementara permintaan akan uang untuk pegangan uang tunai tidak berubah, maka daya beli uang tersebut akan jatuh.

    Apakah dalam mempertimbangkan beberapa proposisi tersebut, proses validasi untuk memastikan kebenaran atau kesalahannya akan memakai jenis yang sama dengan yang digunakan ilmu alam? Apakah kita akan terus-menerus menguji proposisi-proposisi ekonomi tersebut lewat observasi? Tampaknya cukup jelas, misalnya tentang preferensi terbalik berasal dari pemahaman kita tentang pertukaran. Dan tidak pernah berubah dari dulu dan tetap akan sama ribuan tahun mendatang. Ia tetap berlaku walaupun saya dilahirkan atau tidak. Inilah mengapa proposisi-propisisi ini disebut a priori.

    Namun,  seperti yang diutarakan H. Rockwell, Jr. dalam pengantar bukunya Hans-Herman Hoppe, Economic Science and Austrian Method (2008) “hari yang tragis terjadi ketika ilmu ekonomi, ratunya ilmu pngetahuan sosial, mengadopsi dua metode yang terkait erat dengan ilmu pengetahuan alam: yaitu metode empirisme dan positivisme. Kiranya tragedi ini terjadi secara kebetulan bersamaan dengan ketika kaum intelektual dan para politisi semakin mementingkan perencanaan pemerintah. Terlepas dari segala kegagalannya, ajaran empirisme dan positivism terus bertahan dan tetap dijadikan agama tanpa tuhan di jaman kita.”

    Sedikit Refleksi

    Jelas berbeda seseorang yang memikirkan tindakan dalam konteks intelektual dan seseorang agen yang hanya bertidak. Mises mengambil jalan sebagaimana para intelektual dan filsuf lainnya untuk mencari landasan ultimat tentang subyek manusia. Dan Mises, telah mengajukan kerangka metodologi yang khas untuk menunjukkan argumen dasar untuk menjelaskan segala hal tentang tindakan manusia secara universal.

    Dalam konteks filsafat, Mises termasuk dalam aliran rasionalis, sebab ia mengambil justifikasi lewat pikiran semata tanpa berdasarkan pengalaman. Karakter praksiologi yang dikatakan aksiomatik yang tak terbantahkan di segala tempat dan waktu itu, secara intelektual, memang bisa dipertanggungjawabkan. Semisal, jika kita menolak premis umum: “semua manusia bertindak dengan tiga  pengandaiannya: want, means, dan ends”,  maka dengan sendirinya penolakan kita menambah kekuatan argumen tersebut, sebab, menolak termasuk tindakan yang mengandung tiga kategori tindakan.

    Adalah pencapaian yang luar biasa ketika tindakan manusia mampu direduksi sampai pada titik pengetahuan yang cukup radikal semacam ini. Tapi, dalam diskursus filosofis secara luas, kita mesti tak berhenti untuk terus menguji suatu bentuk pengetahuan agar tak terkesan angkuh dan dogmatis. Memang, kita juga mempunyai alasan untuk mempercayai sesuatu berdasarkan biaya-manfaat, dan itu manusiawi.

    Jika saya seorang Misesian bukan juga berarti bahwa saya hanya seorang yang dogmatis dan berprinsip, tapi juga dikarenakan biaya-manfaatnya layak untuk dipegang, dalam arti bersifat fungsional juga.

    Jika diperhatikan, analisis Misesian ini tidak hanya bisa dilihat dalam hubungannya dengan motif-motif ekonomi, misalnya cara-cara produksi untuk memenuhi kepuasan material, namun juga motif-motif lain berupa, seperti yang disebut George Smith, peran ide dibalik tindakan. Klaim bahwa ide seseorang bisa menentukan tindakannya cukup masuk akal dan bisa langsung ditunjuk. Mengapa saya sering menyampaikan ide-ide libertarian karena saya memiliki ide atau kepercayan terhadap kebebasan manusia; atau mengapa seseorang bisa melakukan tindakan meledakkan diri disebabkan ia memiliki ide surga dengan 72 bidadari.

    Di sinilah ideologi dan hal-hal yang prinsipil  mengambil tempat dalam tindakan manusia. Kaum libertarian perlu melihat pengaruh ide dalam  tindakan manusia, sebab ide, dalam sejarah umat manusia, terbukti mampu menggerakkan atau mengubah arah tatanan sosial. Setiap orang punya ide yang objektif maupun yang subjektif, dan mereka selalu dibimbing oleh ide-ide tersubut dalam bertindak. Untuk itu, tergantung dari kaum libertarian apakah ingin mengubah ide-ide tersebut atau tidak.