Poltak Hotradero: Intervensi Pemerintah Cenderung Mendistorsi Ekonomi Indonesia

264

Tahun 2015 merupakan tahun berat bagi banyak kalangan pemerintah, pengusaha serta pekerja tidak hanya di Indonesia tetapi juga di seluruh dunia. Ancaman Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) menjadi semakin nyata, karena pelemahan ekonomi nasional maupun global, nilai tukar mata uang kita Rupiah melemah tajam dan akhirnya secara umum tingkat kesejahteraan kita berkurang. Dari sisi eksternal, devaluasi mata uang China dan rencana Bank Sentral Amerika Serikat, The Fed, untuk menaikkan tingkat suku bunga menekan perekonomian Indonesia. Selain itu, turunnya harga minyak dunia tidak membawa berkah bagi kita, alih-alih rakyat menikmati penurunan harga BBM, ekspor komoditas Indonesia seperti batu bara dan barang tambang lain justru melemah seirama dengan penurunan harga minyak bumi.Berkaca pada kondisi mutakhir perekonomian, editor pelaksana SuaraKebebasan.org mewawancarai Poltak Hotradero (PH) dari Liberal Society, yang juga merupakan Kepala Divisi Riset Bursa Efek Indonesia. Simak petikan wawancara Poltak Hotradero dengan Managing Editor SuaraKebebasan.org, Muhamad Ikhsan (MI).

Terima kasih atas waktunya pak Poltak atas waktunya. Pembaca suara kebebasan ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dengan perekonomian Indonesia? Bapak yang setiap hari mengamati pasar modal, Apa karena perekonomian China melambat, ekonomi dunia melambat sehingga perekonomian Indonesia melambat atau seperti apa?

Sebenarnya berbicara masalah ekonomi Indonesia cukup kompleks. Lebih luas lagi bicara mengenai ekonomi global tentu lebih kompleks lagi. Dan semakin ke sini, menang kompleksitas ini semakin unik. Karena satu ekonomi bisa memiliki keterkaitan dengan ekonomi negara lain. Boleh kita perhatikan yang terjadi beberapa waktu terakhir ini. Untuk ekonomi Indonesia sebenarnya perlambatan itu sudah dimulai dari tahun 2013. Tapi memang perlambatan dari tahun 2013 itu istilahnya masih pin nine. Jadi kalau kita perhatikan kurva pertumbuhan ekonomi Indonesia, jadi dari 2013 pertumbuhan ekonomi tiap kuartal sudah menunjukkan perlambatan, tetapi ada beberapa kuartal seperti anomali yang naik sendiri. Lalu turun kembali, tetapi pola penurunan itu sudah cukup jelas. Kalau ditanyakan apa yang menjadi penyebab itu, tentu pertanyaannya akan tergantung pada komponen-komponennya. Komponen yang paling terasa sejak 2013 itu adalah ketika surplus perdagangan kita mulai berkurang (defisit). Hal ini berkontribusi pada keadaan dimana ketergantungan terhadap arus modal itu menjadi lebih besar karena tadi sebenarnya dalam ekonomi dimana perdagangannya meningkat (surplus). Hal ini berarti nilai tukar secara umum menguat kan, Nah, tetapi saat dia mulai defisit berarti melemah tetapi sejauh investasi portofolio yang masuk – dalam bentuk Penanaman Modal Asing (PMA) atau FDI (foreign direct investment) atau investasi portofolio masih masuk- maka efek perlambatan dari kinerja ekspor tadi menjadi dapat teredam. Nah impact nya jelas disini ada misalignment (ketidakselarasan) antara hal tersebut. Dan yang terjadi adalah masalah yang sangat substantif tertutupi yaitu masalah komponen terbesar dari impor Indonesia adalah minyak bumi. Dan mengapa impor minyak bumi dapat merusak neraca perdagangan Indonesia? karena minyak buminya disubsidi.

Jadi sebenarnya di sini, kalau misalnya sejak tahun 2013 sudah terdapat kesadaran minyak bumi yang disubsidi ini bisa membawa masalah serius pada ekonomi Indonesia di kemudian harinya, maka keadaannya tidak perlu separah seperti sekarang yang terjadi. Tetapi, kesadaran itu tidak muncul karena tekanan politik dimana pada Pemerintahan sebelumnya tidak ingin menjadi tidak populer karena harus menaikkan harga BBM, tetapi kalau kita ingat pada tahun 2013 sangat jelas bahwa Menteri Keuangan misalnya sudah membuka pilihan (option), subsidi tadi harusnya dibatasi tetapi kan akhirnya ditolak juga karena memang semata-mata tidak ingin untuk tidak menjadi populer. Jadi, kalau kita perhatikan bahwa rusaknya neraca perdagangan kita itu bisa ditelusuri berasal dari pertama adalah pos impor minyak bumi yang besar dan bertumbuh dan kita tahu ujungnya banyak yang diselundupkan. Dan ini juga berasal dari subsidi pemerintah, di (tahun) 2014 keadaan menjadi lebih buruk lagi karena tadi neraca perdagangan bukan makin membaik tetapi makin melebar, tetapi kita lihat disini ada perkembangan berikutnya yang cukup menarik bahwa mendekati akhir-akhir tahun 2014 tiba-tiba minyak bumi turun tajam. Repotnya adalah kalau tadi defisit perdagangan bisa terobati, ntar dulu karena ekspor terbesar kita adalah komoditas. Dan komoditas terbesar yang diperdagangkan di dunia adalah pertama minyak bumi dan yang kedua kopi. Jadi satu basket itu, jadi alih-alih kita menjadi baik ,malah kita menjadi lebih buruk lagi keadaannya dan berlanjut hingga sekarang. Dan kita lihat bahwa ekonomi yang ditopang oleh arus portofolio, yaa kini harus berdiri di kakinya sendiri. Karena kembali lagi, seluruh dunia mengalami perlambatan ekonomi.

Kalau dikatakan China pegang peranan, pasti. Tidak mungkinlah tidak pegang peranan. Kalau ditanya arahnya dari mana? Ya, tadi pertama China bertumbuh sangat cepat sudah cukup lama dan kemudian di sisi lain yang terjadi adalah China merasa strategi yang mereka gunakan selama ini, yaitu ekonomi berbasiskan ekspor tidak lagi bisa sustainable karena apa ekonomi berbasis ekspor yang menjadi andalan China selama ini bertahun-tahun mengandalkan pada satu hal: bagaimana caranya supaya nilai tukar Renmimbi atau Yuan ini tetap murah supaya tetap kompetitif. Nah, konsekuensi dari ini adalah mereka melakukan pegging atas nilai tukar. Nah jadi kalau kita lihat ekonominya bertumbuh, ekspornya bertumbuh dan seterusnya..tetapi nilai mata uangnya tetap saja di situ karena memang sengaja begitu. Apa sih yang menjadi konsikuensi hal ini? Konsekuensi hal ini adalah bank sentral China mau tidak mau harus menumpuk sedemikian banyak ekses likuiditas (excess liquidity) dengan cara membeli bonds (obligasi) Amerika Serikat trading partner nomor satunya China. Nah, ini dilakukan terus-menerus sehingga efeknya adalah Amerika “menikmati” keadaan tingkat suku bunga rendah dan pertumbuhan ekonomi didorong tingkat suku bunga yang rendah tadi. Tetapi kita tahu ini kan tidak mungkin terus-menerus berlangsung seperti itu. Jadi ya istilahnya pemerintah Amerika seperti mencetak uang out of nothing begitu ya kemudian dibeli oleh China lama-lama ditumpuk juga.

Yang dikhawatirkan oleh China, kalau misalnya Amerika mau tidak mau terhadap uang Dollar yang beredar di luar sudah cukup banyak berada di luar. Bisa terjadi sesuatu keadaan adverse yang mengkhawatirkan Amerika Serikat bisa mengalami inflasi. Ini yang paling ditakutkan karena China memiliki (puncaknya) cadangan devisa sekitar 3,9 Triliun Dollar yang hampir lebih dari 90% dalam bentuk obligasi. Kita tahu musuhnya obligasi adalah inflasi dan tidak linear maksudnya apa. Inflasinya naik 10% itu harga obligasi bisa turun lebih dari 10%. Dengan seperti cara itu, maka boleh dikatakan China merasa tersandera oleh Amerika. Di satu sisi, dia gak bisa membuang ke pasar karena dia punya bonds sangat besar karena kalau dia buang ke pasar harga sudah cukup “dalam” jadi apa yang dipegang (obligasi) juga ikut turun juga kan. Karena dia mark to market terhadap harga pasar. Di sisi lain, tidak dibuang terancam memaksa China untuk mengalihkan ekonomi mereka dari berbasis ekspor menjadi berbasis konsumsi. Repotnya adalah kalau berbasis ekspor bertahun-tahun China sudah menjadi pabriknya seluruh dunia karena mereka memproduksi bukan untuk dirinya sendiri kan, tetapi seluruh dunia. Jadi sudah lama memosisikan seperti itu. Maka kapasitas yang mereka miliki juga kapasitas kelas dunia. Nah, sekarang kalau mereka harus berubah menjadi berbasis konsumsi dan tidak mengandalkan ekspor. Berarti kapaitas yang berlebih akan dikemanakan? Ini yang menjadi satu masalah. Masalah yang lain berubahnya menjadi ekonomi berbasis konsumsi menuntut banyak hal terkait dengan arus informasi, pemahaman dan lain-lain. Sebab anda tidak mungkin membangun masyarakat berbasis konsumsi yang sehat kalau informasi tidak mengalir dengan bebas. Karena orang (konsumen) butuh kepastian soal kualitas informasi yang mereka terima, kepastian akan hidup, kepastian yang lain-lainnya didepan sampai orang bisa nyaman melakukan konsumsi dalam jangka panjang. Kembali lagi rantainya panjang, tidak mungkin kita memahami ekonomi Indonesia hanya berbasis ekonomi Indonesia saja. Tetapi ada banyak rantai yang saling terhubung dan terkait.

Tadi sempat disebutkan juga harga minyak yang turun tajam (drop). Bagaimana proyeksi minyak dunia dan bagaimana dampak harga minyak dunia yang terus berada di level rendah ke depan buat (ekonomi) kita? Apa yang terjadi dengan booming komoditas? Apakah super-cycle komoditas sudah berakhir?

Dalam sejarah ekonomi sejarah teoritis mengenai pasar ada yang disebut sebagai kondratiev cycle. Siklus yang cukup panjang, panjangnya sekitar dua puluh tahun. Antara sepuluh sampai dua puluh tahun ya.. Beberapa pihak menyebut sekarang yang terjadi adalah kondrative cycle, dimana komoditas yang sudah naik terus (bullish) selama hampir lima belas tahun atau lebih dari sepuluh tahun. Sekarang mengalami koreksi. Nah, siklus ini adalah bisa sama panjangnya. Jadi kalau dikatakan tadi memang..apakah penurunan harga bagian dari siklus, bisa jadi bagian dari siklus. Tapi siklus kan ada yang simetrik, asimetrik. Ini khawatirnya sih bahwa ini akan simetrik. Bisa juga harga komoditas akan murah dalam jangka waktu panjang. Terutama untuk minyak bumi ya. Di samping itu pasar terbesar komoditi adalah China yang sekarang sedang menurunkan tingkat pertumbuhan ekonominya, sehingga tidak akan mengabsorsi suplai minyak yang tetap sama. Di sisi lain, pasar-pasar lain terfragmentasi seperti India, Indonesia, dan Meksiko belum mampu menggantikan China sebagai pasar utama komoditas minyak bumi dan sebagainya. Selain ada perkembangan teknologi baru di bidang industri minyak dan gas, yaitu teknologi fracking. Teknologi ini mampu membuat Amerika Serikat mulai meninggalkan ketergantungannya terhadap minyak bumi. Sementara itu, Arab Saudi terus membanjiri pasar migas agar harga minyak tidak terus tertekan dengan teknologi baru dari Amerika Serikat itu. Di samping harga produksi minyak Arab Saudi memang yang paling murah sehingga dapat membanjiri pasar migas dengan lebih leluasa.

Kemudian, banyak kekhawatiran soal pelemahan Rupiah dari 12,000 menjadi 14,000. Apakah kita akan mengulangi episode krisis moneter 1998, dari krisis moneter ke sektor riil dimana nilai tukar Rupiah terdepresiasi tajam yang akan merembet ke sektor riil?

Kekhawatiran itu berlebihan dan tidak pada tempatnya. Kalau kita belajar ekonomi keuangan ada konsep time value of money. Maksudnya apa Rp.1000 sekarang beda dengan Rp.1000 yang akan datang. Jadi 13.000 tahun 1998 sama engga dengan 13.000 sekarang? Tentu saja beda. Dahulu pendapatan per kapita Indonesia tidak sampai 1,000 USD- pakai dollar yang dahulu lagi. Sekarang pendapatan per kapita Indonesia sudah mencapai 4,000 USD. Jadi tidak bisa disamakan mentang-mentang angkanya sama lantas dibilang oh ini akan mengulangi episode yang sama. Come On.. Maksud saya kembali tempatkan pada tempatnya di situ. Di sisi lain, krisis ekonomi 1998 memang juga dipicu oleh sektor keuangan kita yang memang sangat rusak serusak-rusaknya saat itu. Bisa dikatakan saat ini sektor keuangan kita lebih sehat dan sudah mengalami perbaikan. Seluruh dunia juga sedang mengalami pelemahan nilai tukar misalnya Malaysia, Brazil maupun Rusia. Fenomena yang sedang terjadi memang fenomena super dollar, dimana dollarnya memang sangat kuat.

Kalau dilihat 2009 ada krisis subprime mortgage dilanjutkan pelambatan ekonomi China dan juga dunia sepertinya gelembung (boom) dan pecah (boost) akan lebih cepat di dunia yang saling terkoneksi dan interdependensi saat ini. Bagaimana pemikiran Bapak soal apa yang Pemerintah bisa lakukan? Apa yang Pemerintah seharusnya tidak lakukan?

Boom dan Boost yang terjadi kalau kita lihat sederhanya mulai dari tahun 1990-an ada ekonomi Jepang melambat, perbankan Jepang juga harusnya melakukan penghapusbukuan (write off) atas pinjaman mereka, tetapi tidak mereka kerjakan terpaksa mereka melakukan pinjaman ke tempat lain. Ke tempat lain kemana? Ke Asia Tenggara. Muncul tahun 1996 boom Asia Tenggara, tahun 1997 orang mulai menyadari ada yang salah soal misalokasi sumberdaya. Boost krisis Asia Tenggara 1997.  Kemudian uang berpindah lagi ke Rusia, Krisis lagi terjadi di tahun 1998 sebelum itu ada krisis juga Meksiko yang krisis tahun 1995. Nah jadi 1998, 1997, 1998. Lalu 2000 ada krisis LCTM (Long Term Credit Management) Amerika cukup menggoyang pasar juga. 2001 ada 11 September ekonomi lalu melemah, di-“inject” lagi oleh Greenspan (Gubernur Bank Sentral AS) dengan suku bunga dimurahkan kembali, bersamaan dengan itu 2001 China masuk WTO (World Trade Organization) perdagangan internasional menjadi semakin terbuka.

Dari 2001 ke 2008, tingkat suku bunga terlalu murah sehingga pinjaman diberikan kepada orang-orang yang gak layak lalu boost gelembung pecah dan berdampak ke seluruh dunia dengan benua Eropa yang terkena dampak paling berat. Dan setelah itu mulai muncul Yunani dan borok-boroknya. Kemudian sekarang ekonomi China melambat. Jadi, bukan krisis siklusnya semakin pendek dan sering terjadi. Melainkan terdapat krisis-krisis besar yang didalamnya terdapat krisis-krisis kecil terjadi. Jadi krisis dari waktu ke waktu tidak pernah berubah, tetap terjadi dengan magnitude yang berbeda-beda tentunya.

Dari krisis ke krisis ini menyadarkan kita yang berpandangan liberal bahwa intervensi oleh pemerintah punya kecenderungan untuk menjadi abuse, mendistorsi ekonomi secara ekstrim. Contohnya seperti tadi pemerintah Amerika Serikat mendistorsi bahwa orang yang seharusnya tidak layak punya rumah, jangan dibikin program untuk punya rumah, yang akhirnya mengada-ada. Oke, muncul-lah subprime mortgage. (Contoh lain) Pemerintah yang memang tidak layak untuk masuk Uni Eropa untuk mata uang bersama, disetujui juga Yunani untuk bergabung. Muncul masalah seperti itu. China yang ekonomi berbasiskan ekspor, kemudian ekonominya menjadi sangat besar tetapi nilai tukar tetap, apa bukan intervensi pemerintah itu? Intervensi juga masalah bertambah lagi. Jadi masalah kita bertambah besar bukan karena apa, karena intervensi Pemerintah. Jadi kita tidak pernah ketemu titik ekuilibrium baru. Apa bukan pemerintah semua itu? Kita bicara China, Eropa, kita bicara Amerika dan lain-lainnya.