Polemik Audisi Djarum

    575

    Jagad media sosial kembali ramai dengan polemik KPAI vs Djarum, setelah isu pemilu, pilgub dan pilpres, yang menjengkelkan memenuhi ruang media sosial dalam kurun waktu lama.

    Sebenarnya polemik di media sosial yang biasanya terjadi secara spontan umumnya “ya begitu-begitu saja”, lalu akan berhenti ketika diterpa isu baru lainya. Selain itu, kalau dilihat dalam pola pertengkaran isu di media sosial, biasanya alurnya begini, kalau negara vs publik maka negara harus dibela. Misalnya, isu pembangunan bandara internasional Yogja. Lalu, ketika negara vs korporasi maka negara harus dibela.

    Apalagi ketika teman-teman SJW ikut nimbrung. Wujud paling nyata dari penghisapan dan eksploitasi adalah kerja korporasi. Itu mengapa, nasionalisasi adalah jalan keluar paling baik untuk mengakhiri kapitalisme.

    Pada kasus polemik Djarum vs KPAI menjadi jungkir balik. Mau orang-orang yang selama ini kiri, tengah maupun kanan, sepanjang saya stalking di twitter, semua membela posisi Djarum. Semua orang tidak rela kalau Djarum menghentikan eksploitasi eh audisi beasiswa bulu tangkis.

    Eksploitasi kali ini mengalami semacam normalisasi. Mengikuti hujatan-hujatan netizen kepada KPAI dalam #bubarkanKPAI, saya hanya teringat tulisan teman saya, Djohan Rady, pengepul ideologi Libertarian paling berbahaya di Indonesia. J

    Djohan menulis dua tulisan yang ciamik berjudul Tulisan Marxisme: Narasi Ideologis Yang Tak Faktual dan Debat Nozick dan Rawls tentang Konsep Keadilan dalam buku Libertarianisme: Perspektif kebebasan atas kekuasaan dan kesejahteraan yang diterbitkan Suara Kebebasan tahun ini. Tulisan pertama tentang kritik nilai lebih Karl Marx, sedangkan tulisan yang kedua tentang debat antara John Rawls dengan Robert Nozick terkait keadilan.

    Pada tulisan pertama, Djohan menjelaskan basis argumentasi teori nilai lebih sebagai basis eksploitasi kapitalisme atas kelas pekerja, pokoknya capitalism is evil. Nilai lebih berargumen bahwa sebuah komoditas tidak hanya memiliki harga, tetapi juga nilai. Harga terkait permintaan dan penawaran sebuah komoditas, sedangkan nilai terkait jumlah waktu kerja sosial yang diberikan pekerja untuk menghasilkan komoditas.

    Kapitalisme melalui kelas borjuis sebagai pemilik alat produksi hanya membayar kelas pekerja berdasarkan harga komoditas, sedangkan nilai mengalami perampasan. Situasi yang demikianlah yang disebut eksploitatif.

    Djohan berargumen bahwa nilai lebih sebagai basis empiris memang ada dan berupa relasi yang eksploitatif. Namun, di sisi lain, konsep nilai lebih tidak lebih hanya sekedar narasi etis.

    Narasi etis karena konsepsi nilai lebih diawal sudah menjudge bahwa relasi produksi adalah ekploitatif. Padahal belum tentu demikian. Dengan bekerja, para buruh memiliki probabilitas untuk meningkatkan taraf hidup, memiliki kesempatan untuk meningkatkan taraf hidup, dan keluar dari rantai kemiskinan. Eksploitasi menjadi sangat subjektif.

    Lalu, apa hubungannya dengan polemik KPAI dan Djarum dengan teori nilai lebih Karl Marx?

    Kembali ke kesimpulan saya di atas terkait hasil stalking twitwar, bahwa ketika polemik yang melibatkan korporasi, maka korporasi akan terus dihujat. Hal ini berangkat dari argumen bahwa korporasi adalah perwujudan paling mutakhir dari capitalism is evil.

    Kapitalisme dalam hal ini, Djarum akan terus melakukan eksplotasi dalam bentuk paling modern. Tidak hanya terkait relasi produksi antara Djarum dengan pegawai yang melinting rokok, tetapi juga memanfaatkan setidaknya tubuh anak-anak menjadi ambassador Djarum, ya meski dengan dalih bulu tangkis. Biaya yang murah minimal untuk iklan. Djarum melalui Audisi Djarum Badminton merampas nilai yang dihasilkan anak-anak. Setidaknya begitu saya memahami argumen KPAI. Disinilah penghisapan nilai lebih itu dilakukan secara samar.

    Audisi Bulutangkis Djarum merupakan rantai panjang produksi yang menghasilkan nilai lebih bagi komoditas yang sayangnya turus dirampas oleh kaum borjuis untuk mengakumulasi kapital, sehingga Michael Bambang Hartono dan Robert Budi Hartono terus bertengger di peringkat orang paling kaya versi Forbes, sedangkan anak-anak yang memproduksi nilai lebih paling banter masuk pelatnas. Itupun hanya 48 anak yang lolos dari 902 peserta.

    Kembali ke argumentasi Djohan bahwa nilai lebih tak lebih dari sekedar narasi etis bisa dibaca pada orang-orang yang membela Djarum. Berkat Djarum, anak-anak dari pelosok Indonesia memiliki kesempatan untuk menjadi pebulu tangkis kelas dunia seperti Mohammad Ahsan, Tontowi Ahmad, dan Kevin Sanjaya. Audisi Djarum menjadi batu loncatan dan meningkatkan taraf hidup yang bisa saja dengan gaji yang besar menjadi atlit membeli saham BBCA yang merupakan penghasil terbesar keuntungan Djarum Group.

    Maka ketika Polemik KPAI vs Djarum, saya jadi terheran-heran karena banyaknya influencer yang ke kiri-kirian, SJW, dan para tokoh baik agama, akademisi (terutama ekonom), yang apapun menuding bahwa sumber masalahnya adalah ideologi liberal dan kapitalisme yang membela Djarum.

    Saya tidak menemukan argumentasi yang solid kenapa Djarum harus dibela selain karena Djarum sudah berkontribusi dengan menghasilkan para pebulu tangkis juara dunia. Kalau karena Djarum sukses berkontribusi atas keberhasilan bulu tangkis Indonesia, harusnya ini wilayah kaum libertarian untuk membela Audisi Djarum.

    Pada polemik KPAI vs Djarum teori nilai lebih tidak bekerja, dan capitalism is evil mengalami normalisasi, atau mungkin sudah ada tentang nilai lebih yang luput dari perhatian saya, atau mungkin para leftist dan orang-orang pembenci liberalisme dan kapitalisme sudah tobat? Mungkin netizen yang budiman yang mengerti bisa kasih komentar.

    Oh iya, lalu apa hubungannya tulisan Djohan Rady tentang debat Rawls dan Nozick pada polemik Djarum vs KPAI? Nantikan di tulisan saya yang kedua, maka jangan lupa pantau terus Suara Kebebasan!