Pertentangan Antara Dua Peradaban

    73

    Prancis beberapa waktu lalu kembali menjadi sorotan. Pemenggalan kepala seorang guru dan juga teror di sebuah Gereja di Prancis membuat dunia tersentak. Presiden Macron mengecam dua serangan tersebut, dan mengatakan Islam adalah agama yang saat ini sedang dilanda krisis. Tentu saja, umat Islam di seluruh dunia marah. Walaupun umat Islam dunia turut menyayangkan adanya aksi pemenggalan dan teror, namun umat Islam dunia menuduh bahwa tuduhan Macron pada Islam dan perlindungannya pada Majalah Charlie Hebdo-lah yang memancing kemarahan umat Islam.

    Sebelumnya, seorang guru bernama Samuel Paty, terbunuh dengan kepala terpenggal. Penyebab kematiannya adalah seorang anak muda yang sakit hati pada sang guru, karena Paty membawa majalah Charlie Hebdo yang memuat karikatur Nabi Muhammad di kelas saat menyampaikan materi tentang kebebasan berbicara (Tirto.id 20/10/2020).

    Karikatur Charlie Hebdo memang membuat panas hati pemeluk agama Islam. Masyarakat Muslim di Timur Tengah dan Asia Tenggara sepeti Indonesia, segera menyerukan boikot terhadap produk-produk buatan Prancis. Mereka marah karena Prancis tidak menindak tegas majalah Charlie Hebdo yang dianggap sebagai biang masalah.

    Pemerintah Prancis sudah berusaha memberi klarifikasi bahwa mereka tidak bisa menutup Majalah Charlie Hebdo karena itu bertentangan dengan prinsip kebebasan dan demokrasi Prancis. Ya, mungkin sebagian rakyat Prancis juga marah dan tidak setuju dengan muatan majalah tersebut, termasuk umat beragamanya. Namun, hal itu tidak menimbulkan gejolak karena masyarakat Prancis sudah terbiasa pada kritik dan satire. Mereka menyikapi satiran dalam majalah tersebut secara dewasa.

    Namun, yang menjadi masalah adalah para imigran dan masyarakat Timur Tengah yang tidak bisa menerima logika demokrasi dan kebebasan berpendapat yang diklarifikasi oleh Presiden Emmanuel Macron. Mereka tetap bersikukuh agar Prancis menutup majalah Charlie Hebdo dan membuat semacam undang-undang anti penistaan agama.

    *****

    Bagi penulis, pembelaan yang dilakukan oleh Presiden Emmanuel Macron dan kecaman  yang dilakukan oleh Muslim Timur Tengah dan Asia Tenggara, adalah salah satu contoh perbedaan antara kebudayaan dan kultur masyarakat yang dipisahkan oleh letak geografis ini.

    Dalam bukunya, The Clash of Civilizations, Samuel Huntington berpendapat bahwa setelah persaingan antara Blok Barat dan Timur semasa Perang Dingin usai, maka sumber konflik yang terjadi bukanlah perseteruan antara kapitalisme dan komunisme lagi. Tetapi, antar peradaban-peradaban, khususnya antara peradaban Barat dan Timur (Huntington, 2004).

    Huntington menguraikan bahwa, dalam sejarah, konflik-konflik yang terjadi dalam catatan masa lalu dibagi menjadi tiga fase. Pertama, konflik antara raja-raja. Kemudian, konflik antara negara bangsa (yang berujung pada kolonialisme atau penjajahan). Ketiga adalah konflik ideologi, salah satunya adalah konflik antar ideologi liberalisme yang mengusung pasar bebas (kapitalisme), dengan ideologi komunisme yang anti terhadap pasar bebas (Huntington, 2004).

    Selain ketiga konflik tersebut, Huntington menjelaskan bahwa, konflik di masa depan adalah konflik antar budaya dan peradaban dunia. Peradaban Barat tidak lagi berperang dengan dirinya sendiri, tetapi dengan peradaban dan budaya yang berkembang di dunia ketiga. Huntington mengidentifikasi sembilan peradaban yang berpengaruh dewasa ini, yakni peradaban Barat, Cina, Jepang, Amerika Latin, Afrika, Hindu, Budha, Islam, dan Kristen Ortodoks. Dan menurut Huntington, yang paling besar potensi pertentangannya dengan peradaban Barat adalah peradaban Islam (Huntington, 2004).

    Pada kenyataannya, kelompok Islam militan yang mengusung gagasan Khilafah, memang berusaha untuk mengikis habis pemikiran Barat. Dalam pandangan Abdullah Azzam, seorang tokoh Jihadis Afghanistan, peradaban Barat telah merusak dunia Arab lewat televisi, bank-bank riba, hotel-hotel, bar/kafe, dan juga kegemerlapan yang penuh maksiat (Abdullah Azzam, 1996).

    Bagi masyarakat Islam terkhusus di Timur Tengah, Peradaban barat adalah peradaban yang tidak memiliki pijakan moral dan norma. Sebaliknya, bagi peradaban Barat atau Eropa-Amerika-Australia, memandang bahwa peradaban di Timur atau masyarakat Muslim masih terbelakang, terkekang, dan belum beradab sepenuhnya. Kedua kubu ini terus berseteru hingga sekarang.

    ****

    Masalah ini kalau kita bincangkan takkan ada habis-habisnya. Sebab, masyarakat di Timur Tengah, Afrika dan sebagian Asia memiliki persepsi yang sangat berbeda dengan masyarakat di Barat mengenai kebebasan dan demokrasi.

    Bisa dikatakan bahwa, ramalan Samuel Huntington di atas mengenai benturan peradaban bisa jadi hampir atau telah terwujud. Pengecaman terhadap sikap Prancis yang berimbas dengan pemboikotan dan pembakaran produk-produk Prancis di berbagai negara, seperti di Kuwait, Turki, Malaysia dan Indonesia, adalah salah satu contoh bentrokan budaya tersebut.

    Jika kita melihat sejarah Prancis, mereka berhasil menjadi negara demokratis memerlukan sebuah proses sejarah yang panjang dan kelam. Pada abad ke-18, Prancis adalah negara yang terkekang, represif, dan tidak bebas sama sekali. Kebebasan hanya dimilik oleh kaum ningrat dan agamawan (Garnida, 1956).

    Hingga kemarahan rakyat meledak dan menggusur sistem absolut Raja Louis XIV menjadi sistem demokrasi yang menghargai kebebasan dan juga hak-hak asasi rakyat. Karena itulah, hingga saat ini, kultur kebebasan berekspresi dan berpendapat di Prancis menjadi budaya yang sudah melekat dengan masyarakat Prancis.

    Hal ini berbeda dengan apa yang terjadi dengan negara-negara Timur Tengah yang rata-rata hidup di alam politik dan sosial yang tidak demokratis dan tidak bebas. Sekularisme di Turki contohnya, berlangsung dengan pemaksaan dan juga tekanan kekuatan garis kanan dan militer. Sedangkan, di Arab Saudi dan negara-negara sekutunya, masih mempertahankan sistem kebangsawanan yang mengekang kebebasan berekspresi dan kultur kritik di masyarakat.

    Tentu dalam masyarakat global saat ini, perbedaan budaya dan persepsi masyarakat dunia menjadi salah satu tantangan. Pemenggalan terhadap guru sejarah di Prancis dan penyerangan terhadap kantor Majalah Charlie Hebdo adalah bukti bahwa walau kedua budaya sudah berkenalan karena tren globalisasi, namun masing-masing pihak masih mempertahankan identitas dan prinsipnya.

    Orang-orang Timur Tengah yang bermigrasi ke wilayah Barat mengalami apa yang dinamakanculture shock”. Masyarakat Timur Tengah tidak hanya berpindah dari wilayah A ke wilayah B, namun mereka juga harus menerima paradigma dan kultur baru yang hidup di tengah-tengah masyarakat Barat. Ketika nilai-nilai tersebut bertentangan, maka terjadilah gesekan, dan kematian Samuel Paty adalah contoh dari gesekan kedua budaya tersebut.

     

    Teknologi dan Globalisasi sebagai Harapan

    Setiap bangsa dan negara pasti memiliki keanekaragaman kultur dan norma. Jangankan antara budaya Eropa dengan Arab, antara sesama bangsa (Jawa dan Papua misalnya) memiliki banyak prinsip yang berbeda. Karena itu, tidak jarang terjadi konflik antar suku yang dimulai karena perbedaan budaya dan nilai-nilai tersebut.

    Namun, perbedaan nilai-nilai ini mulai terkikis ketika antar bangsa atau suku mulai terjadi interaksi. Walaupun identitas kesukuan masih bertahan, namun orang menjadi lebih toleran dan terbiasa dengan nilai-nilai yang ada. Komunikasi antar kelompok dan individu saat ini menjadi kunci penting untuk meredam konflik-konflik dan gesekan antar budaya.

    Budaya dan peradaban bersifat evolutif, saling terkait dan mempengaruhi. Suatu peradaban akan stagnan jika suatu suku atau bangsa menutup diri dari dunia luar. Karena itu, yang diperlukan saat ini untuk meredam pergesekan antara budaya Timur dan Barat adalah komunikasi dan saling memahami.

    Sayangnya, walaupun di Timur Tengah sudah banyak mengadopsi ekonomi dan juga teknologi dari Barat, namun mereka masih protektif terhadap ide-ide demokratisasi dan juga kebebasan. Iklim politik di Timur Tengah yang masih bersifat totaliter di bawah kekuasaan para bangsawan, membuat ide-ide demokrasi sangat sulit untuk berkembang.

    Dalam buku Democracy and the Internet: Allies or Adversaries, Leslie David Simon menjelaskan bahwa perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, lambat laun akan merekatkan hubungan global manusia dan juga akan menyebarkan ide tentang demokrasi dan kebebasan berbicara keseluruh dunia (Simon, 2003).

    Ide-ide kebebasan dan demokrasi yang disebarkan melalui jaringan internet juga memberi pengaruh dalam penyebaran ide-ide kebebasan, Hak Asasi Manusia, dan juga demokrasi. Mempertahankan budaya, tradisi, norma, atau kebiasaan suku tertentu boleh-boleh saja. Tetapi, yang perlu ditegaskan, tradisi dan budaya tersebut tidak boleh mengekang kebebasan dan melanggar Hak Asasi Manusia. Sebab, nilai-nilai kemanusiaan tidak memandang budaya, ras, dan agama.

     

    Referensi

    Buku

    Azzam, Abdullah. 1996. Tarbiyah Jihadiyah. Jilid 3. Solo: Pustaka Al-Alaq.

    Garnida, I. 1956. Sedjarah Umum dari Muhammad II sampai Marcopolo. Bandung: Ganaco.

    Huntington, Samuel. 2004. Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia (The Clash of Civilizations and The Remarking of Word Order). Terj. M. Sadat Ismail. Yogyakarta: Qalam.

    Simon, Leslie D. 2003. Demokrasi dan Internet: Kawan atau Lawan. Yogyakarta: Tiara Wacana.

    Internet

    https://tirto.id/kronologi-pemenggalan-guru-di-perancis-9-orang-jadi-tersangka-f58o Diakses pada 10 November 2020, pukul 22.30 WIB.