Perihal Bias Gender dan Stereotipnya dalam Masyarakat

    667

    “Lelaki sudah kodratnya tergoda pada perempuan,”

    “Perselingkuhan tidak akan terjadi jika pelakor menolak,”

    Tanggapan-tanggapan di atas seakan mengingatkan kita bahwa pelakor memang istilah yang digunakan untuk menghilangkan peranan laki-laki dalam wacana perselingkuhan. Selain itu, secara tidak langsung, media sosial memberikan banyak ruang dalam penyebaran istilah ini.

    Dalam hal ini, beberapa pemilik akun-akun di media sosial mempunyai peranan sangat besar dalam menyebarkan istilah bias gender ini. Laki-laki yang seharusnya ikut bertanggung jawab dalam perselingkuhan dihilangkan perannya, setidaknya dalam wacana dan narasi. Hal itu terjadi berulang-ulang, menyiratkan beberapa dari kita masih berada dalam rengkuhan patriakal yang meminggirkan perempuan.

    Istilah pelakor atau perebut laki orang yang kerap dipakai baik dalam bahasa media maupun pergaulan sehari-hari memang tidak bisa dilepaskan dari konstruksi budaya dan nilai-nilai yang patriarkis.  Laki-laki selalu mendapat pemakluman dari masyarakat dalam konteks seksualitas, sebab sudah menjadi belief atau kepercayaan secara umum bahwa laki-laki memiliki dorongan seksual yang sangat tinggi. Maka timbul ungkapan seperti, “Ya namanya juga kucing, kan tidak mungkin menolak kalau disodori daging.”

    Secara kebahasaan, istilah ini meminggirkan perempuan. Lebih dari itu, istilah ini menunjukkan fenomena sosial-budaya yang lebih besar. Kerapnya istilah ini digunakan dalam cerita di media sosial dan dalam pemberitaan tanpa didampingi istilah yang sepadan untuk pelaku laki-laki, menunjukkan bahwa istilah ini seksis.

    Penggunaan istilah tersebut sendiri, yang tidak dibarengi dengan penggunaan istilah untuk si lelaki tidak setia, menunjukkan kecenderungan masyarakat kita yang hanya menyalahkan perempuan dalam sebuah perselingkuhan, meski jelas dibutuhkan dua orang untuk itu. Kita perlu ingat fakta bahwa (setidaknya) ada dua pihak yang terlibat perselingkuhan.

    Di sisi lain, perempuan secara umum dipandang sebagai makhluk lemah yang butuh perlindungan, dan diposisikan menjadi pihak yang paling bertanggung jawab jika sudah terkait urusan relasi seksual. Perempuan yang harus mampu menjaga kesuciannya, perempuan yang harus menjaga diri, perempuan yang tidak layak menunjukkan hasrat seksual secara terbuka.

    Perempuan (juga laki-laki) yang tumbuh dalam nilai-nilai masyarakat yang sangat patriarkis akan sangat sulit untuk membebaskan dirinya. Nilai-nilai yang patriarkis itu dilestarikan oleh berbagai institusi yang sudah mapan selama berabad-abad, seperti keluarga, agama, dan negara. Laki-laki yang banyak mendapatkan keuntungan dalam sistem nilai yang patriarkis sulit berubah.

    Sementara, perempuan yang belajar, dengan satu atau lain cara, bahwa dunia ini adalah dunia laki-laki, mengadopsi pula sistem nilai patriarkis karena kerap hanya itulah cara mereka bertahan hidup. Karena seluruh institusi mapan yang mereka ketahui telah memproduksi dan mereproduksi nilai-nilai patriarkis tersebut, maka perempuan pun menganggap begitulah kebenaran.

    Maka, perempuan pun ikut mereproduksi nilai-nilai patriarkis tersebut, termasuk menyalahkan dan menyerang perempuan lain sebagai perebut suami mereka. Mereka tidak menganggap bahwa seharusnya suami mereka juga lah yang sepenuhnya bertanggung jawab pada pilihan-pilihan mereka sendiri.

     

    Stereotip Sosial yang Ditanamkan Sejak Kecil

    Sudah menjadi rahasia umum bahwa orang tua sering mengkotak-kotakkan jenis permainan sesuai gender. Kebiasaan tersebut semakin menjadi-jadi ketika toko mainan langsung membagi outlet mainan anak-anak menjadi warna merah muda untuk perempuan dan biru muda untuk laki-laki. Lantas, memangnya kenapa?

    Contohnya, “Kamu kan perempuan, jangan sekolah tinggi-tinggi.” Atau, ada juga pernyataan, “laki-laki kok nangis.” Pernyataan seksis seperti itu berlaku untuk perempuan atau laki-laki. Tujuannya untuk mempertegas adanya segregasi yang dikonstruksikan secara sosial.

    Segregasi gender inilah yang melahirkan kultur-kultur baru yang dianggap lazim dan mengarahkan pandangan tentang inferioritas perempuan lebih parah lagi. Istilah Queen Bee Syndrome dan Internalized Misogyny kerap kali dikaitkan dengan perempuan yang sering memberi hujatan atau hinaan terhadap pelakor. Queen Bee Syndrome merupakan fenomena di mana seorang perempuan yang memiliki posisi atau jabatan tinggi, yang juga cenderung melakukan diskriminasi pada perempuan yang posisinya lebih rendah (Kumparan, 16/12/2019). Begitu pula Internalized Misogyny yang menempatkan posisi seseorang lebih rendah atau superior di atas diri sendiri dengan asumsi yang kurang jelas.

    Hal-hal yang masih abu-abu dan menghasilkan penghakiman tidak seimbang antara laki-laki dan perempuan tak luput dari peran media yang mempunyai perspektif gender tertentu dengan berfokus pada clickbait. Tulisan ini tidak dimaksudkan sebagai pernyataan bahwa perempuan selalu benar, tetapi saya mencoba untuk memperlihatkan bentuk ekspresi atas ketimpangan terhadap perempuan. Faktor perselingkuhan bukan terjadi hanya karena si ‘pelakor’, namun juga karena kedua belah pihak yang bersangkutan.

     

    Referensi:

    https://kumparan.com/kumparanwoman/ask-the-expert-queen-bee-syndrome-di-dunia-kerja-berbahaya-kah-1sSBrkSrXDx/full diakses pada 23 Juli 2020, pukul 20.20 WIB.