Perang, Krisis Energi, dan Hilangnya Pasar Bebas

    23
    Sumber gambar: Sumber:https://www.kompas.com/global/read/2022/03/13/101500970/apa-peran-yang-bisa-diambil-indonesia-dalam-perang-rusia-vs-ukraina-?page=all

    Musim dingin hampir tiba, berbeda dengan tahun-tahun yang lampau, musim dingin kali ini nampaknya menjadi Mus dingin paling suram bagi masyarakat Eropa.

    Pasalnya, jika mereka terbiasa menghangatkan diri dengan mesin penghangat otomatis, kini hal tersebut hampir mustahil dilakukan, sebab mesin yang berbahan bakar gas tersebut hampir tak berfungsi, bukan karena rusak, namun karena gas alam yang menjadi energi utama hampir sulit ditemukan di Eropa.

    Kelangkaan gas dan krisis bahan energi ini telah menyulap ratusan mesin penghangat menjadi besok rongsok yang tak berfungsi. Kenyataan yang demikian juga terjadi pada pasokan listrik. Gas bumi yang dipasok oleh Rusia ke Eropa, hampir mustahil dilakukan dalam kondisi perang seperti sekarang ini (Republika, 28/10/2022).

    Inilah yang membuat masyarakat Eropa kembali menggunakan kayu bakar sebagai sumber energi mereka. Di media sosial, tersebar sebuah foto super market di Jerman menjual setumpuk kayu bakar. Banyak yang berspekulasi bahwa tumpukan kayu bakar yang dijual di supermarket adalah dampak krisis energi yang melanda Eropa.

    Krisis itu pula yang membuat konsumsi terhadap kayu bakar naik dan berdampak negatif bagi lingkungan karena akan semakin banyak pohon yang ditebang. Dilansir dari Republika, krisis energi di Eropa semakin hari semakin parah dan ini berdampak pada perekonomian pasar bebas yang terganggu.

    Berawal oleh langkah Rusia yang memangkas pasokan gas alam di tengah perang melawan Ukraina. Tindakan Rusia ini sebagai balasan atas sanksi yang dijatuhkan oleh Eropa. Krisis energi memaksa beberapa orang beralih ke sumber pemanas yang lebih murah, seperti kayu bakar di tengah cuaca yang semakin dingin. Banyaknya masyarakat yang menimbun kayu bakar membuat harga meroket dan menimbulkan kelangkaan. Tingginya permintaan kayu bakar juga memunculkan kasus pencurian dan penipuan.

    ***

    Tak berselang lama, saya mendengar kabar dari corong radio Elshinta FM, bahwa sebuah rudal asing telah memasuki wilayah Polandia dan menewaskan dua warga sipil. Masyarakat dunia terkejut, semua media berita berspekulasi secara bebas bahwa ini adalah perbuatan Rusia.  Kondisi bukanlah hal yang aneh mengingat Polandia saat ini tengah bersitegang dengan Belarusia, salah satu sekutu dekat Rusia dan baru-baru ini menyuplai pasokan senjata dari Rusia. Namun, hal ini ditampik keras oleh Rusia. Otoritas luar negeri Rusia menyatakan secara tegas bahwa merek tidak tahu menahu dan tak bertanggungjawab atas peluncuran rudal yang mengenai warga Polandia.

    Keriuhan akibat rudal ini juga membuat konferensi G20 heboh. Presiden Joko Widodo berusaha sekuat tenaga untuk menenangkan para delegasi yang datang dan meyakinkan bahwa perang hanya akan membuat segalanya memburuk.

    “Kita tidak punya pilihan lain, kita semua punya tanggung jawab, bukan cuma masyarakat dan negara kita tapi juga masyarakat di dunia. Tanggung jawab adalah respek hukum internasional dan piagam PBB,” ujar Jokowi.

    “Jadi tanggung jawab adalah menciptakan win-win bukan zero sum situation, menjadi tanggung jawab berarti kita harus mengakhiri perang,” tegasnya (CNBC, 15/11/2023).

    Pengamat ekonomi Universitas Jember, Adhitya Wardhono, memaparkan imbas perang Rusia-Ukraina terhadap perekonomian dunia. Menurutnya karena apa pun ketegangan kedua negara itu, dampaknya akan merugikan perekonomian global dan mengganggu proses pemulihan ekonomi dunia, termasuk Indonesia.

    “Pertumbuhan ekonomi global akan melandai apabila upaya damai kedua negara tidak segera terjadi,” katanya kepada di Kabupaten Jember. Menurutnya, dampak konflik Rusia ke Ukraina dan sanksi Uni Eropa ke Rusia dapat terjadi melalui beberapa transmisi di antaranya lonjakan harga komoditas, lonjakan harga energi, dan supply chain shock (Bisnis.com, 06/03/2022).

    Perang Menghambat Pasar Bebas

    Impian untuk kembali ke masa normal setelah penduduk dunia diamuk oleh pandemi Covid 19 atau virus Corona, tampaknya tak akan terwujud dalam waktu dekat. Pukulan telak ekonomi masyarakat kita yang dihantam oleh wabah penyakit sepertinya tak bisa pulih seperti sedia kala, pasalnya perang Rusia dan Ukraina di Eropa Timur (diakui atau tidak) telah merusak seluruh rencana pembangunan ekonomi di berbagai negara.

    Di Eropa, perang telah mengakibatkan krisis energi yang parah, hingga masyarakat tak bisa menyalakan mesin pemanas untuk persiapan musim dingin. Di Indonesia, harga makanan yang terbuat dari gandum mulai naik seiring dengan terganggunya pasokan gandum yang datang dari Amerika, Ukraina, dan Rusia. Tak heran jika terganggunya jalur distribusi gandum ke Indonesia telah menyebabkan kenaikan mie dan roti.

    Kita bermimpi bahwa situasi dunia kembali seperti sediakala, kita ingin keadaan ekonomi masyarakat kembali baik dan orang mendapat kesempatan kerja yang luas. Namun kenyataannya, kenaikan harga pangan dan energi, serta terjangan badai PHK telah menanti di depan mata. Hal ini tak lain dan tak bukan karena perang Rusia dan Ukraina. Ukraina dengan entengnya memutus seluruh pipa gas dan minyak Rusia ke Eropa yang membuat beberapa negara di Eropa mengalami krisis bahan bakar.  Sedangkan Rusia, tetap ngotot untuk menguasai Ukraina dan tentara yang dikerahkan oleh Soviet menjadi ketakutan dan menganggu lalu lintas perdagangan internasional.

    ***

    Penyebab terbesar berkibarnya perang ini adalah karena egoisme para pemimpin negara. Egoisme dan kesombongan itu telah menciptakan “neraka” di berbagai negara. Di Srilanka pasokan bahan bakar minyak terhenti hingga membuat pemerintahan bangkrut. Di Jerman, banyak orang menggunakan kayu bakar karena mereka tak memiliki energi gas untuk keperluan sehari-hari.

    Tentu saja, perang antara Rusia dan Ukraina telah membuat krisis hebat di beberapa negara. Perang telah merusak pasar bebas dan membuat negara-negara menjadi terpecah belah. Inklusivitas pasar telah berubah ekslusif karena muncul blok-blok negara yang mendukung salah satu dari dua pihak yang bertikai. Akibat blok-blok tersebut, transaksi sumber daya dan komoditas menjadi terhambat. Rusia mengalami krisis karena mereka tak mendapatkan bantuan teknologi untuk membangun industri mereka. Sedangkan Eropa dan Amerika mengalami krisis karena Rusia dan satelitnya menahan pasokan bahan baku mentah untuk di ekspor ke negara luar. Penggunaan kembali kayu bakar sebagai energi alternatif masyarakat Eropa, merupakan tanda kemunduran luar biasa ketika pasar bebas tidak lagi berjalan.

    Namun, krisis di Eropa tidak murni salah Rusia, krisis energi di Eropa juga disebabkan karena Eropa menolak penggunaan bahan bakar fosil dan minyak sawit sebagai pilihan energi mereka. Walhasil, ketika pasokan gas menipis, mereka tidak bisa berbuat apa-apa karena sebelumnya Eropa sudah membatasi bahan bakar fosil dan sawit di negaranya

    Akibatnya,  blok ekonomi yang eksklusif dan perang telah membuat malapetaka besar bagi kita semua. Lebih jauh lagi, sikap politik luar negeri NATO dan AS yang menyudutkan Rusia  di mana seolah-olah negara tersebut bukan negara demokratis) juga turut membuat keadaan semakin memburuk.

    Saya pribadi menyayangkan sikap AS dan Eropa Barat yang masih keras kepala untuk memprovokasi dan memaksa negara lain untuk memilih diantara dua pilihan: “Kami atau Rusia”. Sikap NATO, AS, Rusia, dan sekutunya turut bertanggungjawab atas konflik berkepanjangan yang membuat rakyat Ukraina dan dunia sengsara.

    Apa yang harusnya dilakukan adalah menjauhi perang. Di G20 saya berharap para kepala negara berpikiran dingin untuk berupaya menghentikan perang. Tetapi, sayangnya, mereka tetap kekeuh ingin mendemonisasi pihak lain, yang dalam hal ini adalah Rusia. Tentu saja, sikap permusuhan ini sangat tidak menguntungkan bagi pemulihan ekonomi pasca pandemi.

    Kita memerlukan sebuah kebijakan politik luar negeri yang damai dan solutif. Berbicara dengan kepala dingin jauh lebih baik ketimbang berbicara dengan urat leher yang menegang. Sekali lagi perbaikan ekonomi dan pemulihan global hanya bisa dilakukan jika pasar bebas diberlakukan dan peluang negosiasi diperbesar.

    Edward F Fuller dari Mises Institute mengatakan pasar bebas akan memberikan solusi yang dihormati waktu yang sama: ekonomi pasar bebas adalah satu-satunya cara untuk perdamaian yang tahan lama antara Rusia dan Ukraina (Mises.org, 13/04/2022).

    Tujuan langsungnya adalah meredakan krisis, namun, setiap langkah harus konsisten dengan tujuan akhir dari ekonomi pasar bebas sejati untuk perdamaian Rusia dan Ukraina. Tiga langkah segera diperlukan untuk meredakan krisis:  Pertama,  Pemerintah AS harus menghapus semua sanksi terhadap Rusia. Kedua, pemerintah Rusia harus menarik semua pasukan militer dari Ukraina. Ketiga, Pemerintah Ukraina harus menjamin bahwa ia tidak akan pernah bergabung dengan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).

    Beberapa poin tersebut harus dipertimbangkan, peperangan hanya akan membuat sengsara banyak pihak. Rusia yang saat ini ditimpa resesi dan Ukraina yang saat ini mengalami kerusakan besar harus sudi menekan ego dan berbicara mengenai perdamaian. Hanya perdamaian yang dapat membuat keadaan global menjadi stabil dan hanya pasar bebas yang dapat memulihkan keadaan dunia sekarang.

    Referensi

    https://m.republika.co.id/amp/rkge6m335 Diakses pada 17 November 2022, pukul 19.53 WIB.

    https://www.cnbcindonesia.com/news/20221115093244-4-387982/jokowi-buka-ktt-g20-bali-kita-harus-mengakhiri-perang/amp Diakses pada 17 November 2022, pukul 20.09 WIB.

    https://m.bisnis.com/amp/read/20220306/9/1507157/dampak-perang-rusia-vs-ukraina-terhadap-perekonomian-indonesia Diakses pada 17 November 2022, pukul 20.22 WIB.

    https://mises.org/wire/instead-war-russia-ukraine-and-their-allies-should-try-free-market Diakses pada 18 November 2022, pukul 09.49 WIB.