Peran Penting Media Massa dalam Mengkampanyekan Kebebasan Beragama

    403

    Belakangan ini, Video Yaqut Cholil Qoumas selaku Menteri Agama yang menyampaikan selamat Hari Raya kepada komunitas Baha’i di Indonesia telah mengundang beragam komentar. Ucapan selamat yang disampaikan oleh pria yang disapa Gus Yaqut tersebut membuat masyarakat riuh tentang suatu agama bernama “Baha’i”. Banyak netizen yang belum mengenal mengenai agama ini dan sebagian netizen secara gegabah langsung memvonis agama ini sebagai aliran sesat (Pedoman Tangerang, 28/7/2021).

    Beberapa media berita online pun memberitahukan dan seolah dibingkai ucapan dari Menteri Agama sebagai tindakan kontroversial. Meskipun Gus Yaqut sendiri sudah mengklarifikasi bahwa ucapannya sebagai sebuah bentuk pengayoman negara terhadap kelompok minoritas yang dijamin oleh Undang-undang Dasar, sayangnya netizen malah memberi komentar negatif.

    Contohnya di kanal YouTube Media Tribun Jateng, netizen berkomentar miring, menuding bahwa negara melindungi aliran sesat sehingga umat Islam disuruh merapatkan barisan untuk berjihad dan bahkan beberapa netizen justru malah membuat pernyataan provokatif (Channel Youtube Tribun Jateng, 29/7/2021).

    Komentar-komentar miring bahkan cenderung negatif yang diarahkan kepada komunitas agama lain membuat kita terenyuh bahkan prihatin. Setidaknya ini menunjukkan bahwa intoleransi dan radikalisme sudah secara nyata (secara sadar tak sadar) telah tertanam pada benak orang-orang di sekeliling kita.

    Komentar negatif yang diarahkan seseorang pada komunitas beragama lain bukan gambaran bahwa orang tersebut kuat dalam menjaga imannya, tetapi sebaliknya, mereka tidak mampu mengekspresikan iman dan menjaga keyakinannya, sehingga tega ‘menumbalkan’ eksistensi keyakinan kelompok lain untuk melanggengkan eksistensi keyakinan yang dianutnya.

    *****

    Baha’i sendiri sebenarnya adalah komunitas iman atau agama yang sudah lama eksis di Indonesia. Pemeluk Baha’i sudah terdapat di berbagai kota besar di Indonesia. Sayangnya, mereka tidak terekspos karena menyadari bahwa resiko pergolakan sosial masih teramat tinggi jika mereka membuka diri.

    Tidak salah pula jika ada yang mengatakan bahwa Baha’i adalah agama baru, sebab dari waktu sejarah, umur agama ini belum mencapai 200 tahun. Namun, eksistensi penganutnya sudah tampak nyata dan geliatnya sangat aktif di Indonesia.

    Penulis sendiri kenal dan dekat dengan beberapa kawan yang menganut agama Baha’i. Sebagaimana kelompok minoritas lainnya, mereka berusaha untuk terbuka dan membiarkan diri mereka diekspos jika ada orang yang memiliki niat baik untuk sekedar mengenal komunitas mereka.

    Bagi teman-teman yang mengenyam pendidikan di Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, Baha’i bukanlah suatu komunitas baru. Bahkan beberapa mahasiswa Ushuluddin turut aktif mengadakan diskusi dan studi ilmiah untuk mengekspos komunitas Baha’i.

    Tetapi yang menjadi titik tolak permasalahan adalah, banyak masyarakat awam yang belum mengenal bahkan tidak mau mengenal komunitas ini. Sehingga, tanggapan dan respon warganet cenderung sumbang ketika Menteri Agama kita mengucapkan penghormatan pada Komunitas Baha’i.

    *****

    Riset Media and Religious Conservatism (MERIT) PPIM UIN Jakarta, menemukan paham intoleran di Indonesia begitu mendominasi di media sosial. Walaupun pemahaman keagamaan lain juga banyak mewarnai diskusi agama, terutama di platform Twitter, pemahaman konservatif paling banyak menguasai perbincangan di dunia maya dengan persentase 67.2%, disusul dengan moderat sebesar 22.2%, liberal (6.1%) dan Islamis (4.5%) (PPIM UIN Jakarta, 12/10/2020).

    Tak jauh dengan hasil penelitian PPIM UIN Jakarta, hasil riset Wahid Institute mengenai sikap intoleransi di Indonesia pada tahun 2020 cenderung meningkat dari sebelumnya sekitar 46% dan saat ini menjadi 54%. Riset ini didasari dari penelaahan kecenderungan netizen ketika berselancar di dunia maya (Media Indonesia, 18/1/2020).

    Tentu saja hasil penelitian dari beberapa lembaga terpercaya ini bukan berita yang menggembirakan. Betapa tidak, masyarakat Indonesia seolah kian jauh dari identitas aslinya yang menerima kemajemukan dan kebhinekaan.

    Diakui atau tidak, pemahaman fundamentalisme agama dan konservatisme yang disebarkan oleh beberapa oknum agamawan di media sosial menjadi salah satu penyebab kenaikan angka intoleransi tersebut. Banyak masyarakat terjebak dan terpengaruh oleh pemikiran radikal, seolah jika mereka tidak fanatik dengan agama sendiri maka mereka tidak akan mendapatkan surga.

    Tren fundamentalisme yang berkembang di kalangan anak muda pun justru malah menampilkan sebuah citra agama yang kaku dan tidak luwes. Lihat saja bagaimana mereka membenci musik dan menjustifikasi seluruh musisi adalah pelaku maksiat. Membenci adat tradisi nusantara dan menolak kesetaraan antara laki-laki dan perempuan dengan alasan mengikuti ajaran agama. Penafsiran keagamaan keras semacam ini justru akan menciptakan kesenjangan antar kelompok dan golongan menjadi semakin besar.

    Jadi, jangan heran jika netizen atau warganet memaki sikap menteri agama dan komunitas Baha’i, karena konstruksi teologis pemahaman masyarakat kita cenderung mengarah pada fundamentalisme yang bersifat eksklusif.

     

    Peran Media Massa Mengembangkan Toleransi

    Dalam situasi seperti sekarang ini, untuk membendung intoleransi di media sosial yang begitu menguat, tidak bisa hanya berpangku tangan pada pemerintah. Pemerintah dengan segala birokrasi politik tak akan mampu memangkas intoleransi. Hanya kekuatan civil society atau masyarakat akar rumput saja yang mampu melakukan counter narasi terhadap paham-paham radikal.

    Posisi pemerintah hanya cukup memberi wadah dan fondasi berpijak pada komunitas pro demokrasi dan toleransi untuk memangkas gagasan-gagasan tersebut. Salah satu mesin terpenting dalam membendung intoleransi adalah dengan mengikutsertakan media massa baik online maupun offline untuk bekerja sama mengembangkan keragaman dan juga menyuburkan kebhinekaan.

    Media massa memiliki peran yang besar di masyarakat. Walaupun era digital sudah mulai menggeser teknologi konvensional. Namun, media berita tetap bisa beradaptasi dan hingga kini tetap menjadi rujukan utama masyarakat untuk melihat perkembangan nasional dan dunia.

    *****

    Meskipun secara teoritik media berita atau surat kabar harus secara objektif memberitakan sebuah peristiwa. Namun pada faktanya, pemberian framing suatu berita yang dimuat sangat berpengaruh pada pemikiran pembaca. Seperti kata McLuhan bersama Quentin Fiore, yang menyatakan bahwa “media setiap zamannya menjadi esensi masyarakat” (McLuhan & Fiore, 1967).

    Jelas ini menunjukkan keterkaitan masyarakat dan media begitu erat dan media menjadi bagian yang penting dalam kehidupan masyarakat. Disadari atau tidak, media memiliki pengaruh yang berdampak positif maupun negatif dalam pola dan tingkah laku masyarakat (Husnul Khatimah, 2018).

    Almarhum Harmoko, selaku mantan Menteri Penerangan pernah menulis buku berjudul Komunikasi Sambung Rasa,  di mana dalam buku tersebut, peran media bukan hanya sebagai penyampai, tetapi juga mendidik dan membina pola pikir masyarakat agar terarah pada pembangunan (Harmoko, 1986).

    Konstruksi media massa yang bersifat ringan, informatif, dan mudah dicerna adalah alat perjuangan utama untuk menegakkan kebebasan, toleransi dan demokrasi.

    Tentu saja hal ini tidak berarti kita harus mengintervensi atau memaksa media untuk tak mengikuti arah perkembangan pasar. Namun, komitmen media untuk menampilkan berita dengan citra toleran, pluralistik, dan demokratis harus dilakukan untuk menunjang kebebasan di Indonesia.

    Dalam hal ini, pemberitaan yang positif terhadap komunitas Baha’i atau kelompok minoritas lainnya yang disajikan oleh media massa, tentu akan berpengaruh positif sekaligus mengembangkan gagasan toleransi di Indonesia di masa mendatang.

     

    Referensi

    Buku

    Harmoko. 1986. Komunikasi Sambung Rasa. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

    McLuhan M; Quentin Fiore. 1967. The Medium is The Massage. New York: Bantam Books.

     

    Jurnal

    Khotimah, Husnul. 2018. “Posisi dan Peran Media dalam Kehidupan Masyarakat”. Jurnal Tasamuh, Vol. 16, No. 1.

     

    Internet

    https://mediaindonesia.com/politik-dan-hukum/284269/survei-wahid-institute-intoleransi-radikalisme-cenderung-naik Diakses 29 Juli 2021, pukul 17.09 WIB.

    https://pedomantangerang.pikiran-rakyat.com/nasional/pr-072292567/menag-beri-ucapan-kepada-umat-bahai-tuai-kontroversi Diakses 29 Juli 2021, pukul 16.32 WIB

    https://ppim.uinjkt.ac.id/2020/10/12/riset-merit-paham-intoleran-dominan-di-medsos/ Diakses 29 Juli 2021, pukul 17.02 WIB.

    https://www.youtube.com/watch?v=kp4lRQS4bSI Diakses pada 29 Juli 2021, pukul 17.43 WIB.