Pentingnya Merevolusi Diri Sendiri

    557

    Mungkin dari kecil kita pernah menonton film atau sebuah buku tentang kepahlawanan seorang pendekar atau jagoan yang menjadi penyelamat sebuah kota dari serangan monster dan orang-orang jahat. Pendekar tersebut berhasil menyelamatkan rakyat, menyelamatkan negeri, mendapat cinta sejati, dan hidup bahagia selamanya.

    Seperti tokoh Hercules, pahlawan dalam mitologi rakyat Yunani yang berhasil mengalahkan para raksasa, monster dan raja-raja zalim. Atau seperti Napoleon Bonaparte, pahlawan rakyat Prancis yang kepahlawanannya terekam dan dapat dibaca dalam buku-buku sejarah.

    Setiap orang pasti punya mimpi menjadi seorang ‘jagoan’, dan berharap hidupnya kelak akan mengalami sebuah pengalaman romantika yang membuatnya dipuja-puja. Ia juga pada akhirnya berhasil membuat kehidupan bangsanya menjadi makmur, sejahtera, dan rakyat bahagia selamanya.

    Karena impian ini, beberapa orang terobsesi untuk menjadi “pahlawan” dengan berbagai cara, salah satunya adalah melalui bergabung dengan partai politik dan ikut berkontestasi dalam pemilu, di mana dalam kampanyenya mereka selalu menggebu-gebu, menggunakan jargon-jargon, seperti “kemakmuran bersama”, “memajukan negara”, atau “revolusi sosial”. Ada pula orang-orang yang memiliki obsesi serupa namun tidak mampu ikut masuk ke dunia politik. Di antara mereka ada yang mendirikan perkumpulan yang bermimpi untuk merevolusi moral, melawan kemungkaran dan kemaksiatan.

    Berharap untuk melakukan suatu hal yang mendatangkan kebaikan bagi orang banyak memang sebuah tindakan luhur. Namun, sangat disayangkan jika impian luhur itu diselewengkan oleh ego dan obsesi berlebihan untuk menjadikan dirinya sebagai pahlawan yang berharap bisa mengubah dunia sesuai dengan keinginan utopianya.

    *****

    Setiap manusia memiliki hasrat altruis, atau dorongan untuk berbuat baik pada sesama. Hasrat altruis ini yang kemudian mendorong orang untuk memberi sedekah, membantu sesama, menolong mereka yang ditimpa kesulitan, dan tindakan terpuji lainnya. Namun, jika seseorang memiliki obsesi yang terlalu menggebu-gebu untuk menjadi seorang “superhero” yang mampu mengubah dunia dan terdorong untuk memimpin sebuah revolusi sosial demi mewujudkan tujuannya, ini bukan altruis, tapi salah satu penyakit mental yaitu waham kebesaran.

    Waham kebesaran adalah kecenderungan psikologis yang membuat orang tersebut merasa dirinya hebat, memiliki keistimewaan yang luar biasa, dan menganggap dirinya adalah orang yang dilahirkan untuk menegakkan kebenaran. Dalam sejarah, banyak sekali tokoh-tokoh sejarah yang memiliki kecenderungan seperti ini, sehingga ketika ia memimpin sebuah organisasi atau negara, ia akan bertindak seperti seorang “nabi” yang berhak menentukan baik dan buruk bagi negara dan rakyatnya (Hellosehat.com, 23/7/2018).

    Orang-orang yang terobesi untuk menjadi seorang “superhero” bagi masyarakat, selalu berpikir bahwa dunia telah rusak, hancur, dan harus diperbaiki olehnya. Alih-alih membuat kedamaian, kadang tindakan dan revolusi yang ia lakukan justru malah membuat dunia menjadi lebih buruk dan membuat orang lain tidak merasa nyaman.

    Sebut saja Pol Pot, salah satu tokoh komunis yang berhasil menguasai Kamboja lewat suatu kudeta berdarah. Pol Pot adalah seorang anak petani kaya yang  memimpikan kehidupan yang sejahtera bagi masyarakat Kampuchea. Mimpinya semakin menggebu-gebu ketika ia berkenalan dengan teori-teori Marxisme-Leninisme dan mempelajari gaya kepemimpinan Joseph Stalin di Uni Soviet dan Mao Zedong di China (NYTimes, 17/04/1998).

    Ia kemudian memimpin Partai Komunis Kampuchea atau Khmer Merah untuk menggulingkan pemerintah saat itu dan mengangkat dirinya sebagai pemimpin Kamboja. Pol Pot ingin masyarakat Kamboja menjadi “terlahir kembali” melalui kolektivisme dan swasembada absolut. Pol Pot percaya kebijakan itu akan merangsang produksi kerajinan dan kemampuan industri Kamboja di masa selanjutnya (Tirto.id, 17/4/2020).

    Alih-alih rakyat Kamboja menjadi makmur dan sejahtera di bawah pimpinan Pol Pot, khayalan dan obsesi Pol Pot tersebut telah membuat rakyat sengsara. Sistem uang dihapus, ribuan perusahaan milik swasta disita menjadi perusahaan milik negara, 2 juta rakyat kota dipaksa ke perdesaan untuk mengurus pertanian kolektif. Sektor industri yang harusnya disiapkan untuk menopang ekonomi juga justru diabaikan, dan akhirnya  terjadi kekacauan besar yang membuat hidup rakyat bagai di “neraka.”

    The Cambodian Genocide Program di Universitas Yale misalnya, memperkirakan korban kematian mencapai 1,7 juta jiwa atau sekitar 21 persen dari total populasi Kamboja pada pertengahan 1970-an, sedangkan beberapa peneliti menganggap bahwa 2 juta orang telah menjadi korban akibat program Pol Pot. Mereka yang meninggal rata-rata karena kelaparan atau dibunuh karena berusaha keluar dari “surga Pol Pot” (Tirto.id, 17/4/2020).

    Lain Pol Pot, lain lagi dengan kelompok Juhaiman. Juhaiman bin Uthaibi adalah salah seorang militan Muslim radikal yang terpengaruh ide Mahdisme. Mahdisme adalah salah satu keyakinan umat Muslim, bahwa di akhir zaman nanti, akan hadir seorang Al-Mahdi yang akan membuat dunia menjadi tentram, damai dan bahagia. Juhaiman dan kelompoknya meyakini bahwa mereka adalah barisan pendukung Al-Mahdi yang dijanjikan dalam kitab suci (Kompas.com, 20/11/2020).

    Alih-alih membawa ketenangan dan kedamaian, Juhaiman justru mengepung Masjidil Haram. Pada 20 November 1979, Juhaiman menyandera para peziarah Muslim, melakukan intimidasi dan pembunuhan, dan mengumumkan pada umat Muslim di seluruh dunia untuk berbai’at dan mentaati kelompok Al-Mahdi yang dipimpin oleh Juhaiman dan rekannya Muhammad Abdullah Qahtani (yang mengklaim Al-Mahdi) (BBC, 28/12/2019).

    Pemerintah Arab Saudi tidak tinggal diam dengan aksi penyandraan dan pembunuhan yang dilakukan oleh gerombolan teroris Juhaiman. Dengan bantuan militer dari sejumlah negara, akhirnya gerombolan Juhaiman berhasil dilumpuhkan dan dihukum mati karena telah menodai kesucian Masjidil Haram dengan aksi kejinya (BBC, 28/12/2019).

     

    Revolusi Dimulai dari Diri

    Dahulu aku bersemangat untuk mengubah dunia, dan ketika aku mendapat kebijaksanaan, aku ingin mengubah diriku sendiri.” – Jalaluddin Rumi

    Bermimpi untuk menjadi pahlawan pembela kebenaran dan menginginkan masyarakat hidup bahagia dan damai memang tidak salah. Memang, suatu perbuatan yang amat terpuji jika kita memberikan kontribusi bagi masyarakat. Namun, akan lain persoalannya jika yang ada adalah ego atau hasrat untuk berkuasa, hasrat untuk dipuja sebagai superhero, sebagaimana yang terjadi pada Pol Pot dan Juhaiman.

    Orang yang terobsesi untuk membentuk “masyarakat surgawi” akan memiliki ambisi untuk membuat suatu gerakan yang bertujuan untuk membangun masyarakat sesuai dengan visi dan angan-angannya. Tak jarang, konsekuensi dari angan-angan yang muluk tersebut harus dibayar mahal oleh rakyat. Alih-alih mengubah dunia menjadi “surga”, justru bagi banyak orang, dunia telah berubah menjadi “neraka”.

    Jika kita merenungi ucapan Jalaluddin Rumi di atas, memang banyak orang yang berangan-angan panjang untuk mengatur kehidupan orang lain. Mereka ingin mengadakan revolusi moral dan sosial, tetapi mereka melupakan bahwa yang terpenting adalah merubah diri sendiri.

    Dalam perspektif kebebasan, perubahan tidak selalu muncul dari revolusi sosial yang banyak melibatkan orang-orang untuk dikorbankan. Perubahan lahir melalui evolusi karena setiap individu saling berperan dalam membentuk sebuah peradaban. Setiap orang dari unsur yang paling kecil, memiliki peran untuk merubah keadaan.

    Dalam buku Jalan Menuju Perbudakan, Friedrich Hayek menulis bahwa, justru karena ego seseorang dalam menghadirkan gagasan atau utopia tentang kesejahteraan bersama, ekonomi terpimpin, perencanaan, serta kolektivisme, hal tersebut membuat ide-ide kreatif dan otonomi individu menjadi hilang. Kebebasan individu untuk menentukan dan membuat keputusan untuk dirinya harus dikorbankan demi mengikuti arahan dan kebijakan kolektif “sang juru selamat” (Hayek, 2011).

    Pada akhirnya, impian-impian muluk tersebut justru berbahaya bagi orang lain. Karena itulah, Tom G. Palmer menjelaskan bahwa yang terpenting adalah pengendalian diri. Kebebasan untuk mengubah diri kita (dari yang merusak menjadi berguna) secara tidak langsung memberikan manfaat bagi orang lain. Dengan mengontrol ego dan emosi kita bisa lebih menghargai orang-orang di sekitar kita. Dengan menumbuhkan belas kasih dan kedermawanan kita bisa menolong orang-orang kesusahan disekitar kita (Palmer, 2016).

    Mengubah diri menjadi orang yang bersemangat, memiliki rasa hormat, dan bersimpati pada orang lain, lebih memberi manfaat ketimbang memiliki ambisi untuk berkuasa tapi malah mengubah dunia menjadi neraka.

     

    Referensi

    Buku

    Hayek, Friedrich. 2011. Jalan Menuju Perbudakan: Ekonomi Pasar vs Ekonomi Terpimpin. terj. Ioanes Rakhmat. Jakarta: FNF Indonesia.

    Palmer, Tom G. 2016. Apa Pilihanmu: Pengendalian Diri atau Pengendalian Negara. terj. Juan Mahaganti. Jakarta: Suara Kebebasan.

     

    Internet

    https://hellosehat.com/mental/mental-lainnya/merasa-paling-hebat-sendiri/ diakses pada 8 Desember 2020 pukul 22.14 WIB.

    https://www.bbc.com/indonesia/majalah-50923388 diakses pada 7 Desember 2020 pukul 22.13 WIB.

    https://tirto.id/rezim-khmer-merah-rekayasa-sosial-terbrutal-dalam-sejarah-kamboja-dmgy diakses pada 7 Desember 2020 pukul 21.30 WIB.

    https://www.nytimes.com/1998/04/17/opinion/pol-pots-lingering-influence.html diakses pada 12 Desember 2020 pukul 01.05 WIB.

    https://www.kompas.com/global/read/2020/11/20/123758270/hari-ini-dalam-sejarah-pengepungan-masjidil-haram-yang-mengubah-sejarah?page=all diakses pada 12 Desember 2020 pukul 01.40 WIB.