Pentingnya Inovasi dan Branding bagi Produk Lokal

    478

    Apa yang terlintas di pikiran ketika melihat warna merah dengan tulisan bersambung warna putih di dalamnya? Mungkin yang akan kita pikirkan pertama kali bahwa itu adalah lambang Coca Cola. Atau, mungkin ketika sedang di jalan dan melihat jaket berwarna hijau, kita langsung menebak kalau itu adalah jaket dari brand GO-JEK.

    Mengapa kita bisa mengingat apa yang menjadi ciri khas dari brand-brand tersebut? Hal ini dapat terjadi karena perusahaan-perusahaan itu memiliki branding yang kuat dan memikat sehingga memudahkan masyarakat untuk mengingat. Branding yang baik memang dapat memberikan beragam keuntungan bagi brand. Misalnya, ketika masyarakat dihadapkan pada beragam pilihan produk yang serupa, mereka akan cenderung lebih memilih produk yang lekat dalam ingatan mereka, atau minimal mereka akan mencoba produk-produk tersebut.

    “Pantes aja sepatunya bagus, mereknya  pasti produk luar negeri”. Percakapan itu seringkali terdengar di telinga kita ketika melihat brand saat membeli suatu produk. Berbicara soal kualitas, tidak sedikit masyarakat di Indonesia tampaknya lebih percaya bahwa produk yang berasal dari luar negeri memiliki kualitas yang lebih menjamin dibanding dengan produk lokal. Apalagi bila menyangkut selera anak muda. Hal ini erat kaitannya dengan pemikiran bahwa anak muda lebih suka mengonsumsi produk luar karena gengsi. “Mereka lebih edgy kalau memakai brand luar,” kata kebanyakan orang yang umumnya tidak suka dengan globalisasi.

    Untuk membendung tindakan yang cenderung membeli produk luar dibanding produk dalam negeri ini, Pemerintah Indonesia dan beberapa lembaga budaya kerap menggaungkan slogan “Cintailah Produk Sendiri”. Harapannya, agar peran generasi muda menyadari betapa pentingnya untuk turut serta melestarikan budaya dalam produk lokal dan mendukung perekonomian pasar negara sendiri.

    Namun, dalam sebuah penelitian yang diungkapkan oleh Ali Charisma, Beliau mengatakan kalau 60% konsumen Indonesia lebih suka membeli berbagai produk luar negeri daripada buatan Indonesia. Ia mengakui bahwa merek lokal masih kalah saing dengan brand luar internasional di negeri sendiri (cnbcindonesia.com, 26/3/2018).

    Desainer asal Bali itu turut mengungkap kalau perkembangan industri fashion Indonesia masih ketinggalan dengan negara lain, bukan dari segi tren atau keunikan yang dimiliki Indonesia melainkan sisi industrinya. Contohnya saja Thailand, negara tetangga yang bisnis fashion lokalnya lebih maju dari Indonesia, sementara Indonesia masih belum kuat bersaing terutama dari segi kualitas dan harga. Banyak produk lokal berkualitas bagus tapi harganya kurang terjangkau (cnbcindonesia.com, 26/3/2018).

    Perkembangan dunia digital memudahkan para desainer dalam berbisnis dan mencari inspirasi. Namun dikatakan Ali, kalau era yang serba digital juga membuat sejumlah desainer milenial hanya menjadi pedagang bukan desainer sehingga tak memiliki ciri khas. Hal ini karena pedagang di Indonesia banyak yang masih menjadi followers. Mereka dapat inspirasi dari internet lalu diubah-ubah sedikit dan langsung dijual, tidak mengembangkan inovasi baru sehingga tidak menjadi trendsetter (Kumparan.com, 9/12/2018).

    Dulu, foreign branding cukup gencar dilakukan oleh brand dalam negeri karena rendahnya kepercayaan pembeli terhadap merk lokal. Terutama di negara-negara yang penduduknya masih suka menstigmatisasi produk lokal, perusahaan seringkali menggunakan nama yang terkesan asing untuk menghindari stigma negatif tersebut.

    Strategi ini memang menjadi signifikan bagi bisnis karena dapat memberikan dampak yang besar bagi perusahaan yang dijalankan. Seperti dapat mengubah perspektif masyarakat terhadap brand dan juga bisa memperluas jangkauan bisnis serta meningkatkan brand awareness.

    Namun, kondisi pasar lokal Indonesia seperti di atas sudah tidak relevan lagi dengan keadaan saat ini. Sekarang, dengan meningkatnya industri lokal dan “local pride”, branding, penamaan, dan konsep mulai beralih ke local branding. Selain itu, saat ini banyak kaum muda Indonesia yang mulai sadar pentingnya mengembangkan suatu usaha. Misalnya, perusahaan start-up yang kini mulai bermunculan dengan menghasilkan produk atau jasa yang sangat inovatif.

    Di samping efeknya terhadap meningkatnya pendapatan nasional, umumnya produk lokal akan mengolah sumber daya dari daerah untuk dijadikan bahan baku yang berkualitas. Untuk menjalankan usaha tersebut juga akan memberdayakan sumber daya manusia di daerah sekitar. Dengan demikian, lapangan pekerjaan baru akan tercipta dan mengurangi angka pengangguran.

    Industri dalam negeri yang menggunakan bahan baku dan sumber daya manusia lokal berarti turut memberdayakan komunitas lokal. Berbagai komunitas lokal mulai dari petani, peternak, produsen, hingga mereka yang turut berkontribusi dalam menghasilkan dan memasarkan produk diberdayakan untuk mewujudkan sebuah brand lokal. Bayangkan kalau ada lebih banyak produk lokal, maka akan berdampak besar bagi kesejahteraan dan perekonomian komunitas lokal.

    Meningkatnya local pride ini juga berbanding lurus dengan peningkatan skala bisnis start up lokal, peningkatan kualitas film, musik, dan kesenian lainnya. Sebenarnya, kita tidak butuh slogan “Cintailah produk-produk Indonesia”. Kita hanya butuh kesadaran dan perubahan value produk lokal di mata masyarakat.

     

    Referensi

    https://www.cnbcindonesia.com/lifestyle/20180326194751-33-8635/60-orang-indonesia-pilih-beli-produk-asing-ketimbang-lokal Diakses pada 14 Maret 2021, pukul 21.00 WIB.

    https://kumparan.com/kumparanbisnis/penyebab-produk-umkm-kalah-bersaing-dengan-barang-impor-di-marketplace-1544351391943793700 Diakses pada 16 Maret 2021, pukul 17.00 WIB.