Pentingnya Ikhtiar Politik untuk Memperjuangkan Kebebasan

    123
    Sumber gambar: https://perludem.org/2018/02/15/hindari-politik-uang-bawaslu-harus-pelototi-dana-kampanye/

    Dalam perpolitikan di tanah air, gagasan yang paling laku dan menarik adalah seputar masalah wong cilik dan rasa bangga pada tanah air.

    Secara ideologi politik, gagasan nasionalisme dan sosialisme masih amat laku untuk ‘dijajakan’ dan dikonsumsi oleh konstituen saat pemilu.

    Apalagi jika dalam kampanyenya para politikus membumbuinya dengan unsur agama agar terkesan religius di mata khalayak umum.

    Sedangkan persoalan-persoalan yang penting mengenai demokrasi, kebebasan individu, supremasi sipil, dan penuntasan kasus HAM tak disentuh oleh para politisi ketika berkampanye di akar rumput.

    Paling banter yang bersuara mengenai HAM dan demokrasi hanya saat Pilpres saja. Sedangkan calon wakil rakyat dan calon kepala daerah sangat jarang saya dengar menyampaikan soal ini di tengah khalayak.

    Ini menandakan bahwa gagasan liberalisme atau libertarian yang mengetengahkan pasar bebas dan demokrasi masih kurang laku di masyarakat. Atau, bisa jadi karena kurangnya edukasi mengenai pentingnya demokrasi, HAM, dan kebebasan, sehingga masyarakat terkesan abai memperhatikan soal ini.

    Sejujurnya gagasan kaum sosialis justru lebih laku dan mudah diterima oleh masyarakat Indonesia. Banyak politikus di Indonesia setiap 5 tahun sekali selalu mengulang-ulang pidatonya yang menerangkan “stop impor”, “proteksi negara”, “kontrol harga”, dan lain sebagainya.

    Meskipun negara kita memusuhi sosialisme dan komunisme, namun pada kenyataannya banyak politikus yang berkampanye turba (turun ke bawah) berkampanye dengan gagasan-gagasan utopia kaum sosialis.

    Haikal Kurniawan, pegiat kebebasan, mengatakan bahwa gagasan sosialisme diterima oleh masyarakat karena dipercaya sebagai “ide mulia yang akan membawa kita semua pada surga di dunia” (Suarakebebasan, 21/01/2020).

    Menurut saya pribadi, populernya gagasan ultranasionalisme, sosialisme, dan fanatisme religius disebabkan karena konsep semacam itulah yang diamini oleh politikus kita. Nampaknya jarang ada politikus yang membicarakan HAM, kesetaraan gender, dan kebebasan individu di depan khalayak umum.

    Ini semua dikarenakan kekosongan politik yang harusnya diisi oleh kaum libertarian dan demokratis di Indonesia. Saya menilai di negara kita ini cukup banyak orang-orang yang pro pada kebebasan dan liberalisme, namun sayangnya suara mereka tidak terwakili dan hanya bisa menyimpan di hati.

    ***

    Memang benar, politik bukan segalanya, menanamkan gagasan libertarianisme, dan kebebasan bisa lewat edukasi dan agitasi publik yang masif agar masyarakat tahu pentingnya kebebasan untuk mereka.

    Namun agar proses edukasi itu berjalan cepat dan berkembang dengan pesat, mau tak mau kita harus melalui jalan politik. Sebab dengan adanya politikus yang memiliki jiwa kebebasan, maka beberapa gagasan dan ide kebebasan dapat disebarkan kepada masyarakat dengan cepat dan aman.

    Jika aktivis dan akademisi hanya dapat menyuarakan aspirasi dan gagasan, politikus bisa mempraktikkan gagasan itu secara nyata. Contohnya, ketika RUU Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TPKS) masih belum disahkan.Terjadi polemik alot di tengah masyarakat.

    Aktivis perempuan dan kebebasan mendesak agar RUU TPKS segera disahkan, namun desakan itu hanya dianggap angin lalu oleh PKS yang menolak RUU TPKS dan menjulukinya sebagai ‘propaganda asing’.

    Meski desakan sudah bergema di tengah masyarakat, namun selama dua tahun (2019-2022), RUU TPKS masih belum disahkan. Hingga akhirnya Partai Golkar, PDIP, dan PSI bersuara bulat mendukung RUU ini menjadi UU (Republika, 10/01/2022)

    Dari sini kita melihat bahwa memasuki gelanggang politik sangat dibutuhkan. Dan harus ada sosok yang “liberal” masuk ke dunia politik untuk mewakili suara kebebasan dan demokrasi. Tanpa adanya jalan politik, perjuangan untuk menjaga buah dari Reformasi di Indonesia selama ini akan sangat sulit. Kaum ultranasionalis dan radikal selalu berusaha untuk menancapkan kukunya agar bisa menggoyang semangat Reformasi dan mengubah sistem negara menjadi sekehendak dirinya.

    ***

    Amerika mungkin negara yang ingin saya jadikan contoh betapa politik bisa mengubah semuanya. Mungkin anda berpikir bahwa Amerika adalah negara pure liberal atau libertarian. Dugaan ini keliru karena di Amerika hingga kini, gagasan sosialis, religius, bahkan ultranasionalis masih terus eksis. Bahkan Donald Trump dari Partai Republik kemarin dianggap sebagai sosok rasis dan dibenci oleh kaum imigran dan kulit hitam di Amerika.

    Tetapi kenapa demokrasi dan liberalisme di Amerika masih berjaya? Hal ini disebabkan karena banyaknya politisi dari kaum liberal dan edukasi yang masif para politisi ke tengah masyarakat.

    Contoh: Kita (terutama generasi 90an) pasti mengenal sosok Kane, pegulat WWE yang memiliki julukan “big red machine”. Kane atau Glenn Thomas Jacobs adalah pegulat yang kemudian terjun ke dunia politik.

    Tak ada yang menyangka sosok ‘monster’ yang paling ditakuti karena kehebatannya bermain gulat, ternyata adalah seorang libertarian tulen.Kane atau Glenn Jacobs mengatakan bahwa dirinya tertarik pada gagasan Murray Rothbard dan Ludwig Von Misess.

    Ia menjadi sosok yang paling tegas terhadap setiap kebijakan yang tidak memihak kebebasan sipil. Ia memiliki keyakinan pada pasar bebas dan itu caranya agar lapangan kerja di Tennessee terbuka luas ketika ia menjabat sebagai walikota di negara bagian itu.

    Kane selalu menyempatkan diri untuk membaca risalah ekonomi dan politik libertarian di tengah kesibukannya sebagai pegulat profesional. Ia menjadi sosok yang fanatik terhadap kebebasan dan ini berbuah manis: rakyat Tennessee mempercayainya sebagai pejabat di daerah itu (misess.org).

    Kesimpulannya, saat ini kita membutuhkan individu-individu pecinta kebebasan seperti Glenn Jacobs atau Kane untuk terjun ke dunia politik dan membela kebebasan. Hal ini sangat penting agar suara pro kebebasan bisa terwakili dan turut andil dalam setiap kebijakan politik negara.

    Jika kita tak memiliki suara atau wakil yang mengatasnamakan kaum liberal di parlemen atau pemerintahan kita, justru dampak negatifnya akan menimpa kelompok pro demokrasi dan kebebasan di Indonesia. Gagasan sosialis dan ultranasionalis akan menjamur, serta kelompok radikal akan menggerogoti cita-cita reformasi jika kita hanya berdiam diri disini.

    Saya mengira, jalan politik ini yang harus kita tempuh, tidak cukup hanya tulisan dan diskusi terbuka di kampus atau kafe. Yang dibutuhkan lebih jauh untuk melengkapi dan mendorong gagasan kebebasan adalah aksi lebih nyata dan berani untuk menyelamatkan semangat Reformasi dan kebebasan di negeri ini, yaitu melalui ikhtiar politik.

    Referensi

    https://mises.org/profile/glenn-jacobs. Diakses pada 31 Januari 2023, pukul 02.39 WIB.

    https://m.republika.co.id/amp/r5i05k409. Diakses pada 31 Januari 2023, pukul 02.17 WIB.

    https://suarakebebasan.id/sosialisme-sudah-gagal/. Diakses pada 31 Januari 2023, pukul 02.00 WIB.