Pengaruh Komodifikasi Budaya terhadap Kemajuan Ekonomi

    66
    Sumber gambar: https://www.libertarianism.org/essays/libertarian-vision-for-technology

    Lagi-lagi, mata kuliah Konsensus dan Konflik Politik mempengaruhi tulisan saya untuk kedua kalinya. Tulisan pertama saya yang terinspirasi dari mata kuliah adalah mengenai kontrol sipil terhadap militer (suarakebebasan.id, 06/09/2022). Kali ini, pembahasan kuliah kemarin menitikberatkan pada faktor-faktor determinan yang mempengaruhi sebuah konflik. Marx yang menekankan faktor kesenjangan antara dua kelas, Scott yang menitikberatkan pada teori patron-klien yang menyebabkan pecahnya suatu konflik, hingga Geertz yang melihat faktor solidaritas kelompok (salah satunya karena nilai budaya) sebagai salah satu faktor pemecah konflik.

    Hal lain yang menarik adalah bagaimana dijelaskan bahwa suatu budaya dan potensi-potensi di dalamnya juga mempengaruhi tingkat ekonomi suatu kelompok, bahkan ke negara. Mark Casson dalam artikelnya yang  berjudul “Cultural Determinants of Economics Performance” berargumentasi bahwa kenyataan saat ini juga menunjukkan metodologi ilmu ekonomi sedang mencoba untuk menjelaskan budaya karena adanya pengalaman kesuksesan metode tersebut dalam area ilmu ekonomi itu sendiri, seperti dalam penentuan harga (price determination), pilihan publik (public choices), demografi, dan sebagainya (Pratikto, 2012).

    Contoh paling sederhana adalah penanaman budaya hemat di lingkup keluarga. Sejak kecil, kata “harus hemat!” menjadi kata yang terngiang-ngiang setiap kali saya ingin membeli barang. “Pikir lagi itu barang beneran kamu butuh atau kamu mau karena laper mata aja,” ujar Mama saya. Setelah dipikir-pikir, ini berdampak pada penentuan pilihan saya. Murah tetapi berkualitas.

    Tidak hanya di keluarga kecil saya, di keluarga besar kami, tradisi hemat menjadi suatu keharusan. Ada sepupu saya yang menjual kembali barang miliknya sendiri, seperti boneka, krayon yang sudah dipakai, bantal, guling, dan lain sebagainya. Dengan prinsip hemat yang kami pegang, barang-barang yang sudah menganggur di rumah lebih baik dijual kembali sehingga tidak menjadi pajangan tidak berguna yang ‘menuh-menuhin rumah’. Apabila kita melihat ini dari sisi peluang, saudara saya telah ikut menciptakan peluang pasar di mana ada transaksi jual-beli kepada orang yang hendak membeli barang preloved. Begitupun sebaliknya, kebutuhan konsumen terpenuhi karena adanya saudara saya yang menjual barang bekasnya.

    Kilas balik kesehariaan keluarga saya, ditambah pemicu topik mata kuliah yang dibawa oleh dosen saya mengenai hal ini, menjadi pertama kalinya kepala saya dikunjungi pemikiran tentang, “Lantas, apa iya kebudayaan, dan tentunya keragamannya, mempengaruhi kemajuan ekonomi?”

     ****

    Menurut Taylor (1971), kebudayaan dapat didefinisikan sebagai suatu keseluruhan yang kompleks dan mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan lain yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat, sehingga kebudayaan mancakup seluruh hal yang diperoleh atau dipelajari manusia sebagai anggota masyarakat meliputi seluruh pola pikir, merasakan dan bertindak (detik.com/16/09/2021).

    Dalam praktik kehidupan masyarakat sebagai warga negara, diakui bahwa kebudayaan merupakan unsur penting dalam proses pembangunan atau keberlanjutan suatu bangsa, terutama jika bangsa itu sedang membentuk watak dan kepribadiannya yang lebih serasi dengan tantangan zamannya. Dilihat dari segi kebudayaan, pembangunan tidak lain adalah usaha sadar untuk menciptakan kondisi hidup manusia yang lebih baik. Ekonomi menjadi salah satu sektor penting dalam konsep pembangunan berkelanjutan.

    Seperti yang telah saya singgung di atas, budaya juga berkontribusi terhadap geraknya perekonomian. Budaya hemat yang saya dan keluarga saya terapkan membentuk pilihan kami semakin sulit sehingga hanya beberapa barang yang lolos kualifikasi prinsip kami, yaitu yang murah dan berkualitas. Layaknya pasar pada umumnya, konsumen memiliki kuasa untuk memilih produk yang ia rasa masuk akal dan terjangkau, serta mulai melakukan perbandingan produk. Ketika konsumen memiliki standar-standar tertentu dalam pilihannya, hal ini menjadi tantangan bagi produsen untuk mengkreasikan produknya sesuai intensitas demand dari konsumen.

    Beralih dari contoh budaya hemat, sebut saja budaya berkain di kalangan anak muda saat ini. Coba Anda sekali-kali tengok ke lingkungan kampus atau kantor start up dan lihat bagaimana tren berkain menjadi keseharian yang semakin masif di kalangan masyarakat di sana. Sebelumnya, mungkin memakai kain daerah akan menjadi hal yang aneh dan tidak biasa. Namun, setelah adanya tren berkain ini, laman e-commerce penuh dengan variasi motif-motif kain daerah, batik, dan lain sebagainya yang cantik-cantik! Lagi, keragaman budaya membuktikan pengaruhnya pada pasar.

    Ekonomi itu sendiri, merupakan bagian dari realitas budaya yang dapat membentuk economic sense sebagaimana disebutkan oleh Michael McPherson yang dikutip Chavoshbashi, Ghadami, Broumand & Marzban (2012). Pembangunan ekonomi berbasis perkotaan di Jakarta, misalnya, terbukti menyuburkan budaya konsumerisme di kalangan masyarakatnya.

    Peranan budaya dalam perekonomian saat ini mendapat perhatian utama dari ahli ekonomi dan dipercaya bahwa budaya ekonomi suatu wilayah merupakan alat yang berguna bagi pembangunan (Guiso, Sapienza & Zingales, 2006, 45). Hal ini juga dikarenakan dorongan perluasan makna budaya itu sendiri dalam konteks ekonomi. Chavoshbashi dan kawan-kawan mendefinisikan nilai-nilai budaya kemudian terdiri atas nilai-nilai individu dan nilai-nilai sosial. Nilai-nilai individu mencakup nilai kerja, kreativitas dan inovasi, etika, penghematan, kebahagiaan personal, kedisiplinan, keuntungan, dan pembelajaran. Nilai-nilai sosial meliputi rasa saling percaya, keadilan dan kesetaraan, tanggung jawab sosial, kerjasama, keterampilan interaktif, akuntabilitas, kesejajaran, taat hukum, dan hal lainnya (Asmin, 2018).

    Nilai-nilai sosial dan nilai-nilai individu tersebut dapat menjadi landasan dari aktivitas ekonomi masyarakat dan ditransmisikan melalui komunikasi. Perspektif komunikasi menjadi penting ketika relasi sosial dalam bentuk jejaring (networks) untuk mendukung pembangunan ekonomi semakin diperlukan. Dalam masyarakat yang plural, kemampuan komunikasi menentukan capaian pembangunan pada suatu wilayah. Bahkan dalam era teknologi saat ini, peran komunikasi semakin nyata dengan semakin berkembangnya media-media komunikasi yang lebih beragam. Sebagai contoh dalam pembangunan pertanian, karena pentingnya peran komunikasi dalam pemberdayaan kelembagaan petani, berbagai pihak kemudian mempertimbangkan agen-agen komunikasi (yang juga dapat berperan sebagai agen perubahan) dalam setiap upaya yang menyentuh kepentingan kelembagaan di tingkat lokal terkait dengan pembangunan pertanian.

    Dari pembahasan di atas, terlihat bahwa variabel budaya memiliki peranan yang cukup signifikan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi suatu negara. Konsep hubungan ini tentunya dapat ditinjau dalam konteks Indonesia yang pada dasarnya memiliki tingkat heterogenitas yang tinggi. Dengan peran serta aspek-aspek lain yang membangun hubungan antara keberagaman budaya dan ekonomi ini, diperlukan partisipasi pemerintah juga dalam menjamin hak kepemilikan agar pasar budaya tetap dapat melindungi aktor-aktor di dalamnya.

    Referensi

    Artikel

    https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-5725690/5-pengertian-kebudayaan-menurut-para-ahli Diakses pada 12 November 2022, pukul 23.11 WIB.

    https://suarakebebasan.id/urgensi-kontrol-sipil-terhadap-militer-dalam-rangka-konsolidasi-demokrasi/ Diakses pada 12 November 2022, pukul 21.12 WIB.

    Jurnal

    Asmin, F. (2018). “Budaya dan Pembangunan Ekonomi: Sebuah Kajian terhadap Artikel Chavoshbashi dan kawan- kawan”. Jurnal Studi Komunikasi, Vol. 2 (2). Diakses melalui doi: 10.25139/jsk.v2i2.516, pada 13 November 2022, pukul 11.20 WIB.

    Chavoshbashi, F., Ghadami, M., Broumand, Z., & Marzban, F. (2012). “Designing dynamic model for measuring the effects of cultural values on Iran’s economic growth”.  African Journal of Business Management, 6(26), 7799– 7815. Diakses melalui https://doi.org/10.5897/AJBM11.2473, pada 13 November 2022, pukul 10.19 WIB.

     Pratikto, A. (2012). “Pengaruh Budaya terhadap Kinerja Perekonomian”. Buletin Studi Ekonomi, Vol. 17 (2). Diakses melalui  https://ojs.unud.ac.id/index.php/bse/article/download/2172/1371, pada 12 November 2022, pukul 22. 15 WIB.