Pembangunan dan Kebebasan

400

Kemajuan pembangunan sebuah negara yang besar seringkali dipersepsikan dengan situasi dan kondisi makro yang sangat membahagiakan. Hal ini dapat terlihat dari beberapa indikator-indikator yang menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang berada pada tren positif, inflasi rendah, banyaknya investasi, serta cadangan devisa yang meningkat. Namun, kemajuan dan tren postif tersebut seringkali tidak dibarengi dengan kebebasan sipil yang dimaknai sebagai kebebasan individu yang ada dalam sebuah negara.

Adanya fenomena ini menjelaskan bagaimana pembangunan negara nampaknya hanya bertumpu pada sendi pembangunan ekonomi an sich. Pertumbuhan ekonomi yang ada relatif tinggi, namun kebebasan individu tetap tidak dapat mengikuti secepat pertumbuhan ekonomi tersebut.

Misalnya, Tiongkok dalam dasawarsa terkahir mengalami pencapaian prestisius tingkat pertumbuhan ekonominya.Pertumbuhan ekonomi Tiongkok pernah mencapai pada angka dua digit. Kesuksesan Tiongkok dalam mempertahankan pertumbuhan ekonomi sebesar dua digit menjadi pembicaraan yang tidak ada habisnya. Melihat fakta yang ada, barangkali semua akan sepakat bahwa pertumbuhan ekonomi Tiongkok merupakan pencapaian yang tidak bisa dianggap remeh mengingat kesuksesan tersebut sangat sulit disaingi oleh pertumbuhan ekonomi negara-negara lainnya.

Sebaliknya, jika pada sisi ekonomi Tiongkok mengalami pertumbuhan yang signifikan, tidak demikian dalam bidang politik. Sistem politik Tiongkok bisa dinilai sangat totaliter, karena tidak memberikan ruang yang lebih pada terealisasinya kebebasan individu.

Begitu juga dengan Singapura, seperti diketahui Singapura telah menjadi kawasan dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi di Asia Tenggara. Singapura juga merupakan negara dengan pendapatan per kapita ketiga tertinggi di dunia. Namun, kesuksesan tersebut dibangun dengan mengorbankan kebebasan sipil. Adanya kontrol hak menyampaikan pendapat, sensor media massa, serta tidak adanya toleransi terhadap para oposisi menjadi bagian dalam pembangunan di Singapura.

Kondisi ini menunjukkan bahwa adanya disparitas antara pembangunan pertumbuhan ekonomi dan kebebasan sipil. Ironisnya, model pembangunan ini juga turut diimplementasikan  beberapa negara di belahan dunia lainnya.
Pembangunan merupakan sebuah keberhasilan bagi individu-individu dalam meningkatkan sendi kualitas kesejahteraan kehidupannya.Pembangunan juga memberikan ekses negatif bila tidak mampu mengelolanya dengan baik. Pengertian pembangunan tidak sebatas pertumbuhan ekonomi saja, namun mencakup hal-hal lebih luas seperti kemajuan pranata sosial, demokrasi, kemanusiaaan, lingkungan hidup, serta nilai-nilai budaya dan peradaban.

Evolusi Pembangunan

Menurut Kuncoro (2004) Awal mula pembangunan didefinisikan sebagai peningkatan yang terus-menerus pada Produk Domestik Bruto (PDB) suatu negara. Selain itu, muncul alternatif gagasan definisi pembangunan ekonomi, dimana pembangunan ekonomi ditinjau dari peningkatan pendapatan per kapita (income per capita).

Dalam berjalannya waktu, pandangan tersebut dianggap usang seiring dengan munculnya pertanyaan para ekonom yang mengatakan apakah faktor pertumbuhan ekonomi saja yang berpengaruh terhadap kemakmuran. Sehingga, muncul pandangan pembangunan moderen yang mendorong bahwa pembangunan tidak hanya pertumuhan ekonomi saja, namun juga harus melibatkan aspek-aspek yang multi-dimensional.

Lantas, bagaimanakah sebuah pembangunan negara dijalankan? Bagaimanakah kebijakan yang harus dirumuskan dalam mendorong pembangunan yang ideal?

Kebebasan sebagai Sebuah Pandangan

Mencermati kondisi yang ada, saat ini negara membutuhkan sebuah pembangunan yang tidak hanya berkisar pada pertumbuhan ekonomi saja. Namun, melampaui hal itu, pembangunan juga mencakup pada pembangunan individu-individu yang ada dalam sebuah negara.

Amartya Sen (1999) mengungkapkan bahwa pembangunan harus melihat paradigma pembangunan sebagai upaya memperluas kebebasan riil yang dapat dinikmati oleh individu-individu. Dalam hal ini, dalam pembangunan tersebut, kebebasan dipandang sebagai sebuah visi dan tujuan yang harus didorong lebih besar daripada pembangunan itu sendiri. Disinilah Sen memberikan perhatian besar terhadap pembangunan yang didukung kebebasan sebagai hal yang bersifat kausalitas. Artinya, baik kebebasan dan pembangunan tidak berdiri sendiri dan saling menjadi bagian satu sama lainnya.

Kendati mengalami peningkatan kesejahteraan materiil, tetapi sebagian besar umat manusia tidak memiliki berbagai kebebasan dasar. Tesis yang dikemukakan Sen agar tercapai kesejahteraan adalah melalui kebebasan sebagai cara dan tujuan (development as fredoom). Kebebasan merupakan kebebasan dari rasa tak berdaya, rasa ketergantungan, rasa cemas, rasa keharusan untuk mempertanyakan apakah tindakan individu diizinkan atau tidak .

Membaca ulang pembangunan yang diungkapkan oleh Amartya Sen, maka sudah seharusnya pembangunan merupakan proses yang memfasilitasi individu-individu untuk mengembangkan sesuatu yang sesuai dengan pilihannya (development as a process of expanding the real freedoms that people enjoy).