Parasite: Cermin Kapitalisme di Kota Besar

    601

    Karena menjadi film Asia pertama yang menang kategori film terbaik di ajang bergengsi dunia seperti Oscar, Parasite menjadi topik perbincangan hangat yang saya dan teman-teman sekolah. Memang, sebelum melenggang ke ajang penghargaan film bergengsi ini, Parasite sendiri telah mencatat sejumlah rekor dan prestasi yang semakin menunjukkan taringnya.

    Film yang dianugrahi Palme d’Or di Cannes 2019 itu mempertentangkan kelas apak dan kelas wangi. Antara kelompok manusia yang tinggal di rumah semi-basement dan bunker, serta kelompok lainnya yang hidup di dalam bangunan megah nan steril; keluarga majikan dan keluarga penyuruh.

    Mulai dari teori-teori mind-blowing, ending film yang dikatakan terlalu mendadak dan melenceng jauh dari perkiraan. Kepiawaian setiap karakter yang ada membuat saya dan teman-teman selalu terkesima tiap mengorek setiap detail film Parasite ini.

    Selama hampir sepenuh film, sang sutradara Bong Joon-Ho, membawa penonton lebih dulu larut dan akrab dengan tiap karakter. Penonton juga diajak menikmati humor penuh satire yang disajikan dengan sangat mulus, lewat penokohan, gambar-gambar kontradiktif, namun tetap simple dan dialog yang mendukung.

    Salah satu contohnya, ketika langit mulai gelap dan hujan turun lebat, keluarga yang berkecukupan mensyukuri kondisi saat itu karena dianggap berkat. Sedangkan di sudut kota lain, hujan yang disyukuri itu sudah meredam beberapa rumah orang yang kekurangan secara finansial. Akibatnya, mereka harus mengungsi ke daerah yang lebih tinggi.

    Sampai akhirnya pada akhir cerita, nyonya besar di keluarga berkecukupan tersebut menggelar pesta ulang tahun dadakan untuk si bungsu. Di tengah pesta, suasana ceria disulap dengan sempurna menjadi kelam yang menjadi-jadi saat pembunuhan tiba-tiba mulai terjadi dan mengacaukan semuanya.

    Solidaritas kelas memang bisa muncul dari hal-hal tak terduga dan terwujud dalam perilaku yang tak selalu nampak politis. Bela rasa sesama kaum jelata di Parasite terjalin berkat bau yang katanya mirip lobak basi itu.

    Tentu solidaritas semacam itu bukan cuma milik kaum-kaum pekerja. Golongan majikan bisa sejenak menyingkirkan kepentingan sempit masing-masing dan saling rangkul di waktu terdesak seperti, ketika menolak proposal upah minimum, misalnya.

    Tapi, benarkah semua kesenjangan di masyarakat terjadi hanya karena kapitalisme yang kian menjadi-jadi?

    *****

    Beberapa negara-negara yang anti kapitalisme kerap membela diri dengan berasumsi bahwa kapitalisme akan membuat keadaan sosial dan ekonomi negara “jomplang”. Selain itu, anggapan mengenai keluarga yang kaya akan semakin kaya dan yang miskin akan semakin miskin juga erat dengan narasi kapitalisme.

    Kapitalisme sendiri merupakan sistem ekonomi di mana perdagangan, industri, dan alat-alat produksi dikendalikan oleh pemilik swasta dengan tujuan memperoleh keuntungan di dalam pasar. Dalam artian lain, kapitalisme memperbolehkan semua orang, baik dari golongan atau ras manapun, berhak menciptakan dan memegang modalnya sendiri tanpa intervensi negara.

    Kritik kapitalisme mengasosiasikannya dengan kesenjangan sosial dan distribusi yang tidak adil dari berbagai segi; kekayaan dan kekuasaan, kecenderungan monopoli pasar oleh pihak yang berkuasa, perang kontra-revolusioner, imperialisme, dan berbagai bentuk eksploitasi ekonomi dan budaya.

    Tak ayal, kapitalisme kerap mengundang atensi politik dan menimbulkan pro dan kontra. Benarkah kapitalisme memihak kaum borjuis saja?

    Saya pribadi sebenarnya mendukung cita-cita kapitalisme yang menekankan sistem produktivitas modal, kepemilikan hak individu, perlindungan property rights, dan free market. Adanya kapitalisme tentu tidak selalu merugikan kaum menengah ke bawah saja. Masalah untung-rugi tersebut sebenarnya lebih ke bagaimana cara setiap orang mengolah modal dan skill yang dimilikinya.

    Sejak lahir, manusia memang tidak ada yang setara, baik secara fisik maupun kondisi lainnya. Ada yang mempunyai mata cokelat, proporsi tubuh yang bagus, kaki yang jenjang, warna kulit putih, dan sebagainya. Begitu juga dengan bakat dan ketertarikan masing-masing, ada yang suka bermain musik, mencintai matematika lebih dari apapun, atau seharian nongkrong di perpustakaan dengan karangan Tan Malaka.

    Keberagaman masyarakat itu sesuatu yang sehat. Segala upaya penyeragaman niscaya akan berakhir ke forced conformity yang benar-benar canggung. Karena nyatanya, kelas sosial merupakan sesuatu yang secara alamiah muncul di masyarakat.