Pandemi Virus Corona dan Fenomena Donasi dalam Perspektif Evolusioner

    541

    Dalam beberapa waktu belakangan, kemanusiaan sedang dihantam secara besar-besaran oleh suatu fenomena yang hari ini kita sebut sebagai, yakni pandemi virus Corona. Keadaan berubah sama sekali. Kota-kota menjadi tempat yang sepi, rumah menjadi hangat kembali. Miliaran manusia menjadi panik dan segala upaya dilakukan untuk menanggulangi dampak dari pandemi tersebut. Beberapa aktivitas yang biasanya kita lakukan, kini tidak dilakukan, mulai dari tidak keluar rumah, tidak melakukan pertemuan fisik secara intens, hingga mencuci tangan, memakai masker, berjemur setiap pagi.

    Tapi bagi saya, satu hal yang sangat mengagumkan dalam upaya mengalahkan virus Corona adalah fenomena donasi. Kita menyaksikan orang-orang yang tidak saling kenal, bahkan belum pernah dan mungkin tidak akan pernah bertemu, saling membantu satu sama lain.

    Fenomena donasi semacam itu, keberadaannya dapat tersokong oleh beberapa kemajuan yang telah kita peroleh. Revolusi besar-besaran yang terjadi pada abad ke-18 dalam bidang industri telah memungkinkan manusia menerima nafkah yang jauh lebih besar dari sebelumnya. Revolusi tersebut, hingga kini, masih berjalan. Dan terbukti, hal itu telah mendorong ekonomi global umat manusia menuju ke arah kemajuan (Pinker, 2020). Adanya nafkah yang lebih dari apa yang dibutuhkan manusia dalam satu periode gaji, memungkinkan kekayaan tersebut didistribusikan secara sukarela untuk hal-hal yang berkaitan dengan solidaritas seperti donasi. Maka, kemajuan perekonomian merupakan hal yang penting dalam fenomena ini.

    Selain itu, temuan dalam bidang teknologi informasi, berperan besar dalam keberlangsungan fenomena donasi semacam ini. Teknologi komunikasi yang instan dan tak terbatas pada jarak memudahkan orang dalam suatu wilayah mengabarkan dan memungkinkan orang dari wilayah yang jauh untuk ikut berdonasi. Selain itu, kita kini tak mesti berkumpul untuk mendistribusikan bantuan sukarela berkat kehadiran uang elektronik. Dalam beberapa detik, maka bantuan tersebut dapat menyebar ke tempat yang jauh secara cepat melebihi kecepatan spesies mana pun.

    Namun, yang lebih penting lagi untuk dibicarakan adalah dari mana sebenarnya dorongan saling membantu antarorang yang tidak saling kenal itu muncul? Mengapa manusia saling peduli dan saling membantu satu sama lain?

    Jawabannya adalah emosi. Emosi atau perasaan memungkinkan kita berempati atau simpati kepada orang lain. Sederhananya, kita turut merasakan kesusahan orang lain, terutama jika kita pernah merasakan hal serupa. Dan berbeda dari beberapa faktor yang telah saya sebutkan sebelumnya, kepedulian bukanlah temuan besar dari umat manusia. Para filsuf, nabi, politikus, ilmuwan, dan sebagainya boleh jadi adalah orang-orang yang mengkonsepkan dan mengajarkan mengenai kepedulian, namun dorongan semacam itu sejatinya telah ada dalam diri manusia sebagai binatang sosial.

    Kepedulian terhadap yang lain bukanlah ihwal yang unik dan membedakan manusia dengan binatang lainnya. Hal semacam itu, ada dalam beberapa binatang selain manusia, terutama mamalia. Setidaknya, kepedulian terhadap keturunan mutlak diperlukan oleh binatang menyusui. Tidak semua binatang memiliki kepedulian, bahkan kendati kepada anak sendiri. Ikan mujair nila yang saya pelihara di rumah, jika terlambat memisahkan, maka tak butuh waktu lama bagi induk tersebut untuk memakan anak-anaknya yang malang itu.

    Namun, kepedulian manusia tentu berkembang dari sekadar kepedulian minimum hanya kepada keturunan genetis yang ada pada hewan mamalia. Sebagaimana fenomena yang kita saksikan pada kasus virus Corona ini, kepedulian tersebut terdapat di antara orang-orang yang tidak berhubungan secara genetis.

    Pada primata non-manusia, kepedulian terhadap yang lain dapat ditemukan. Misalnya perilaku konsolasi yang ditunjukkan oleh simpanse. Ketika terjadi sebuah pertikaian di antara dua simpanse, maka akan ada pihak ketiga yang melakukan penghiburan kepada pihak yang kalah. Tindakan itu dilakukan dengan cara mendekati dan melingkarkan tangan ke bahu pihak yang kalah. Sesuatu yang sangat lazim kita saksikan pada manusia (nationalgeographic.grid.id, 2019).

    Selain itu, terdapat pula contoh-contoh lain di mana simpanse, kerabat dekat kita, menunjukkan kepeduliannya terhadap yang lain. Misalnya, yang diceritakan oleh Ladygina-Kohts, seorang ahli zoopsikologi. Simpanse muda miliknya, Joni, akan segera menghentikan aktivitasnya begitu melihat Kohts, berpura-pura menutup mata dan menangis. Joni segera memegang dagu dan meraba wajah Kohts dengan lembut, seraya mengamati sekitar mencari keberadaan penyerang yang ia curigai telah menyakiti sahabatnya (de Waal, 2011). Contoh-contoh di atas menunjukkan kepedulian simpanse yang bukan hanya kepada keturunan genetis atau spesies yang sama dengannya, tapi bahkan kepada manusia yang memiliki kedekatan emosional dengannya.

    Melihat beberapa contoh yang terjadi pada kerabat kita, maka cukup untuk memahami bahwa manusia berevolusi dengan membawa bahan genetis yang sama dengan leluhur sebelumnya: emosi. Berempati kepada orang lain adalah kondisi natural yang dimiliki manusia. Kita memahami hal tersebut sebagai bukan sesuatu yang baru muncul oleh peradaban dan pemikiran manusia ialah karena pemahaman kita terhadap beberapa kerabat yang dekat secara evolusi dengan kita, kecuali kita menerima pula bahwa simpanse pun memiliki peradaban di mana mereka dapat berkumpul dalam suatu majelis untuk merumuskan moralitas seperti manusia. Itulah mengapa, kendati nafkah berlebih tentu berperan dalam fenomena donasi, kita dapat melihat orang-orang yang tidak menikmati nafkah berlebih, peduli dan ikut berdonasi pada kasus pandemi virus Corona ini.

    Namun, bahan genetis yang memungkinkan kita menjadi pribadi yang berempati kepada orang lain tidak diterima secara apa adanya. Kita mengembangkan itu dengan pengetahuan kognitif selama hidup. Itulah sebabnya akan selalu ada tindakan yang khas ketika berempati kepada orang lain. Misalnya, untuk berempati kepada orang yang kelaparan, kita memberlakukan perlakuan khusus berupa memberinya makan. Semua tahu, perlakuan semacam itu akan sangat salah jika kita berlakukan ketika berempati kepada orang yang baru putus cinta. Perlakuan khusus yang mungkin dapat kita berikan adalah: memberi saran, mendengarkan dengan baik keluhan orang tersebut, dan memberi hiburan yang memungkinkan ia lupa dengan mantan pacarnya.

    Apa yang diperlihatkan oleh Joni, misalnya, tentu merupakan kecerdasan kognitif yang diperolehnya selama masa kebersamaan dengan Kohts. Ia mengingat pola-pola tertentu dan mengenali bahwa menangis dan menutup mata adalah ekspresi atas keadaan yang tidak mengenakkan. Karenanya, ketika itu terjadi, Joni segera menunjukkan kepeduliannya. Kepeduliannya berupa belaian lembut dan memperhatikan sekitar guna mencari ancaman yang mungkin telah membuat Kohts menangis, tidak mungkin dilakukan olehnya ketika berempati kepada Kohts yang sedang kelaparan.

    Contoh yang lebih mengagumkan lagi adalah apa yang disampaikan oleh Frans de Waal, seorang primatolog asal Belanda. Di kebun binatang Twycross, Inggris, bonobo betina bernama Kuni menolong seekor burung jalak untuk terbang dengan cara menaiki pohon, mengelus dan memegang kedua ujung sayap burung tersebut, kemudian melempar burung tersebut untuk terbang di udara. Pertolongan yang diberikan Kuni kepada burung jalak tidak dapat dibenarkan jika dilakukan kepada spesiesnya. Dengan demikian, hal itu menunjukkan bahwa Kuni, dengan pengetahuan kognitifnya, memahami pola-pola khusus yang ada pada burung jalak, yang biasanya ia saksikan terbang di udara (de Waal, 2011).

    Namun, yang lebih penting lagi, dari pembicaraan mengenai solidaritas berupa donasi yang dilakukan manusia adalah bukan sekadar kenapa kita melakukan itu, tapi kenapa kita harus melakukan itu. Mengapa individu dengan perilaku seperti itu dapat survive hingga hari ini? Yang pertama-tama perlu dipahami adalah manusia, begitupun dengan primata non-manusia lainnya, adalah binatang sosial.

    Jika individu terus mengutamakan orang lain ketimbang dirinya sendiri, sudah hampir dipastikan bahwa ia tidak akan survive. Namun, mekanisme sosial yang mengharuskan beberapa individu hidup dalam sebuah kesatuan memungkinkan adanya pertolongan serupa kepadanya ketika ia menghadapi masalah. Ketika individu altruis yang kerap memberikan miliknya kepada individu lain kehabisan sumber daya, misalnya, akan ada individu lain yang memberikan bantuan kepadanya. Fenomena tersebut terjadi seterusnya dan seterusnya.

    Maka, individu seperti itu bisa terus survive asalkan mekanisme sosial tetap ada. Dengan adanya perilaku altruis semacam itu pada tiap-tiap individu, itu berarti akan selalu ada pula pertolongan terhadap individu lain yang membutuhkan. Orang-orang yang berempati dan berdonasi pada kasus pandemi virus Corona ini, dalam kesempatan yang lain ketika ia kesulitan, akan tertolong juga dengan adanya individu altruis yang berempati kepadanya. Karenanya, hal itu memungkinkan individu altruis tetap survive dengan seleksi alam.

    Kendati sikap peduli semacam itu memang muncul secara alami, pada momen krisis seperti ini, hal tersebut memang mutlak diperlukan untuk saling membantu di masa pandemi seperti ini. Selain baik bagi kepentingan yang dibantu, hal tersebut juga baik bagi yang membantu. Sikap peduli juga sangat penting karena keselamatan orang lain dari virus Corona, pada saat ini, sangat berpengaruh kepada keselamatan siapapun. Ketika masih ada individu yang terinfeksi virus Corona, meski dengan jumlah yang paling kecil sekalipun, pada saat itu pula individu lain berpotensi mengalami hal serupa.

     

    Referensi

    Waal, Frans de. 2011. Primat dan Filsuf.  Yogyakarta: Kanisius.

    National Geographic Indonesia. 2019. “Hewan Juga Punya ‘Perasaan’: Ini Lima Kesamaannya dengan Manusia”. Diakses dari https://nationalgeographic.grid.id/amp/131666814/hewan-juga-punya-perasaan-ini-lima-kesamaannya-dengan-manusia?page=2, pada 6 Juli 2020, 23.30 WIB.

    Pinker, Steven. 2020. Enlightenment Now: Membela Nalar, Sains, Humanisme, dan Kemajuan. Manado: Global Indo Kreatif.