Nawal El Sadaawi, Sang Perempuan Baja Telah Pergi

    318

    Perjuangan untuk membebaskan perempuan dari cengkraman patriarki bukan hanya sebuah tren pemikiran yang berkembang di Barat. Banyak orang menganggap bahwa arus pemikiran feminisme adalah sebuah pemikiran yang diimpor dari negara-negara Barat yang sekuler. Padahal, di barat atau negara sekuler pun, “monster patriarki” masih kuat menjajakkan kaki.

    Perlu dicatat bahwa, gerakan melawan patriarki bukan berarti melawan laki-laki, dan bukan juga usaha perempuan untuk mengubah gender dunia menjadi matriarki (dominasi matriarki dan patriarki dalam masyarakat sama buruknya). Tetapi poin utamanya adalah, merubah konstruksi sosial yang bias gender menjadi lebih berkeadilan dan memberi peluang bagi semua untuk mendapatkan kesetaraan.

    Dalam bekerja lapangan pekerjaan masih banyak yang didominasi laki-laki. Stereotipe kerja selalu sinonim dengan laki-laki bukan dengan perempuan. Bekerja terlalu maskulin untuk perempuan sehingga banyak lapangan kerja yang lebih menitikberatkan pada laki-laki, dan kalau ada buruh perempuan dibayar dengan upah murah.

    Yang paling sering terjadi pula, dalam lapangan politik dan agama, kaum laki-laki lebih mendapat tempat yang dominan, sedangkan perempuan kerap dipinggirkan. Anggapan ini membuat perempuan menjadi “anak bawang” dalam konstruksi patriarki.

    Fenomena ini tidak hanya terdapat di Barat dan Timur, tetapi juga di Selatan, Utara, bahkan Barat Daya atau Timur Laut, yang intinya konstruksi sosial sudah mendominasi hampir di seluruh dunia selama berabad-abad lamanya.

    Perlawanan terhadap konstruksi yang pincang tersebut dimulai ketika perempuan tersentuh oleh pendidikan dan pengetahuan. Perempuan menjadi paham bahwa dapur, sumur, dan kasur bukan dunia mereka, tetapi sebuah penjara yang ditempatkan oleh konstruksi sosial lelaki secara paksa pada diri mereka.

    Salah satu tokoh pejuang hak perempuan yang namanya dikenal dunia adalah Nawal El Sadaawi. Sadaawi lahir di desa Kafir Tahlah, Mesir, pada tahun 1931. Beliau digambarkan sebagai sosok perempuan yang lantang, blak-blakan, dan gigih untuk membela nasib perempuan di negerinya dan di Timur Tengah.

    Sadaawi lahir dalam sebuah masyarakat yang menganut sistem budaya patriarki yang kental. Sebuah kebudayaan yang memaksa seorang perempuan untuk tetap tinggal di rumah dan taat pada suami bagai hamba sahaya.

    Tentu batin Sadaawi sangat bergolak. Beliau dekat dengan situasi ketika poligami dianggap sebagai ibadah berpahala, pernikahan anak marak, dan bayi-bayi perempuan disunat sejak lahir.

    Beliau juga mengkritik kebudayaan Mesir sebagaimana budaya Arab pada umumnya, di mana suami adalah raja dan menjadi istri berarti harus mentaati perintah sang raja. Sebagai seorang raja, tentu ingin memiliki putra mahkota, karena itu dalam satu keluarga, anak lelaki jauh lebih berharga ketimbang anak perempuan.

    Sadaawi menulis dalam novelnya, “Jika salah satu anak perempuan mati, ayah akan menyantap makan malamnya, Ibu akan membasuh kakinya, dan kemudian ia akan pergi tidur, seperti itu ia lakukan setiap malam. Apabila yang mati itu seorang anak laki-laki, ia akan memukul ibu kemudian makan malam dan merebahkan diri untuk tidur” (Nawal El Saadawi, 2002).

    Dalam konstruksi patriarki, perempuan adalah makhluk nomor dua yang hanya memiliki tugas yang berkaitan dengan hal-hal yang bersifat domestik. Saat ini, kita dapat jumpai pandangan-pandangan seperti demikian di tengah masyarakat kita.

    Anehnya, budaya patriarki bukan hanya dilanggengkan oleh laki-laki, tetapi juga oleh perempuan pada umumnya. Banyak perempuan yang merasa dirinya hidup di dunia untuk “mengabdi” sehingga selepas menjajaki bangku sekolah atas (SMA) mereka akan termangu duduk menanti sosok pria yang menyuntingnya.

    Saya sendiri punya pengalaman pribadi, di mana banyak teman-teman perempuan di usia 24-25 tahun sudah resah dan galau ketika belum menikah. Sebab, konstruksi budaya yang ditanamkan oleh orang tua mereka anak perempuan yang sudah menjajaki usia 25 namun belum mendapat pasangan atau pacaran maka akan mendapat setereotipe “perawan tua”. Stereotipe jahat ini mengakar cukup kuat di masyarakat kita hingga perempuan menikah bukan karena dasar cinta, tetapi untuk menghindari stigma sosial dan buasnya mulut tetangga.

    Kontruksi sosial yang pincang seperti ini yang ingin dirobohkan oleh Sadaawi. Lewat menulis, setidaknya gemuruh yang Beliau ciptakan akan langgeng hingga 100 generasi setelahnya. “Saya menulis dalam bahasa Arab. Semua buku saya dalam bahasa Arab dan kemudian diterjemahkan. Peran saya adalah mengubah orang-orang bangsa saya”.

    Sekurang-kurangnya, sudah 50 judul buku yang telah Sadaawi tulis. Salah satu buku kontroversialnya adalah Women and Sex, sebuah buku yang dianggap tabu pada tahun 1972 dan mendapat kecaman luas dari para tokoh agama di Mesir.

    Tanpa patah semangat, Sadaawi kembali menulis sebuah novel Women at Point Zero pada tahun 1975. Karyanya ini yang kemudian membuat namanya terangkat ke seluruh dunia, bukunya ini diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa termasuk bahasa Indonesia dengan judul Perempuan di Titik Nol.

    Selama karirnya menjadi aktivis yang menyuarakan kebebasan perempuan, Beliau menghadapi banyak ancaman pembunuhan, Pada masa Presiden Anwar Sadat, Beliau mendekam dijeruji besi akibat aktivitasnya dan karya-karyanya juga dikutuk oleh Ulama Al-Azhar yang memiliki otoritas besar dalam dunia Islam.

    “Ketika Anda mengkritik budaya Anda sendiri, ada orang-orang dalam budaya Anda menentang Anda, mereka berkata: ‘jangan perlihatkan kain kotor kami di luar’… Saya tidak bisa diam, saya harus jujur pada diri saya sendiri,” ujar Sadaawi.

    Sadaawi tutup usia pada hari Minggu 21 Maret 2021 lalu di rumah sakit Kairo setelah menderita penyakit yang diidapnya selama puluhan tahun, berdasarkan keterangan dari putranya, Helmy (SeputarTangsel.com,  22/03/2021).

    Selamat Jalan, Nawal El Sadaawi.

     

    Referensi

    Buku

    Sadaawi, Nawal El. 2002, Perempuan di Titik Nol, terj. Amir Sutaarga, Jakarta: Yayasan Obor.

     

    Internet

    https://seputartangsel.pikiran-rakyat.com/internasional/pr-141650514/nawal-el-saadawi-meninggal-penulis-dan-aktivis-perempuan-mesir Diakses pada 28 Maret 2021, pukul 22.30.