Natal, Toleransi, dan Persaudaraan Kita

    384

    Perayaan Natal dan tahun baru 2021 kali ini nampaknya tidak seperti perayaan di tahun-tahun sebelumnya. Jika tahun sebelumnya kita bisa berlibur, bergembira bersama kawan dan saudara, namun di tahun ini kita harus bersabar dan tak putus berdoa kepada Tuhan agar melindungi kita semua. Pandemi COVID-19 membuat banyak keluarga tidak bisa merayakan Natal dengan orang-orang yang mereka kasihi.

    Meskipun COVID-19 membuat perayaan tahun ini menjadi tidak semarak, tetapi lain halnya di media sosial. Jika bulan Februari ramai para “manusia saleh” mengecam hari Valentine, di bulan September mengecam PKI, maka di bulan Desember ini, COVID-19 pun tak membuat mereka lelah untuk mengecam peringatan Natal dan Tahun Baru. Wa bil khusus, menghujat sebagian Muslim yang mengucapkan selamat Hari Natal dan Tahun Baru.

    Bagi saya pribadi, sebagai seorang Muslim, mengucap tahniah pada sahabat kita yang beragama Kristen menambah akrab dan hangat suasana pertemanan. Tentu saja, di depan teman saya yang non-Muslim, saya takkan bilang “maaf bro gw ga bisa ngucapin selamat, nanti gw murtad”. Tentu sebagai kawan, saya mengucapkan selamat pada dia, toh bukankah karena Hari Natal pula kita bisa menikmati tanggal merah?

    Namun, bagi sebagian sahabat Muslim yang lain, mengucapkan “selamat” pada umat Kristen begitu beratnya sehingga mereka takut. Di media sosial, banyak postingan-postingan yang mengecam perbuatan sebagian Muslim yang mengucapkan selamat pada orang Kristen yang mereka sebut sebagai kafir.

    Debat kusir yang dari tahun ke tahun tak pernah hilang (bahkan di musim wabah sepeti sekarang ini) jelas membuat saya bosan. Bosan sekali melihat dunia maya yang isinya hanya menghujat tanpa ada memberi ruang dialog. Saya jadi berpikir, bukankah kalau kita ikut merayakan liburan hari Natal bersama keluarga, itu satu bentuk “merayakan Natal bersama”? Ikut memburu baju atau barang diskon di supermarket atau mal, bukankah sebuah bentuk merayakan dan menyemarakkan Natal juga?

    *****

    Sekitar tahun 2000-2010 lalu, mungkin sudah menjadi tradisi yang lumrah di daerah saya jika masyarakat setempat mengunjungi dan mengucapkan selamat Natal untuk tetangganya yang beragama Kristen. Masih segar di dalam ingatan kecil saya, ibu menggenggam tangan saya untuk pergi ke rumah tetangga sebelah yang beragama Kristen. Walaupun warga setempat kebanyakan Muslim, namun bukan halangan bagi kami untuk bersilaturahmi dan membawa bingkisan pada tetangga yang sedang merayakan hari kebahagiannya.

    Namun, kenangan-kenangan indah di masa kecil seakan tidak dirasakan lagi saat ini. Ketika Natal tiba, orang-orang tak lagi berkunjung menyapa tetangganya yang sedang berbahagia. Semenjak ada media sosial yang menggencarkan haramnya mengucapkan Selamat Natal dan merayakan Natal, orang-orang tidak lagi datang atau memberi bingkisan kepada tetangga mereka yang merayakan. Alasannya jelas, mereka takut murtad atau kafir karena ikut merayakan Natal.

    Narasi-narasi penuh kecurigaan dan kebencian terhadap agama lain saat ini tumbuh berkembang di tengah-tengah masyarakat kita. Melalui media sosial, kecurigaan dan kebencian terhadap umat Kristiani tersebut membuat masyarakat Muslim Indonesia semakin menjaga jarak. Paradigma beragama yang didasari oleh rasa kecurigaan dan permusuhan seperti ini sangat membahayakan, sebab akan menimbulkan gejolak perpecahan di masyarakat yang efeknya amat sangat berbahaya bagi keutuhan bangsa.

     

    Harusnya Natal Menyatukan Kita

    Sebenarnya tidak ada dasar bagi kita untuk meributkan masalah perayaan Natal. Pada dasarnya, Hari Natal adalah sebuah perayaan atau peringatan tentang lahirnya manusia mulia, yaitu Isa al-Masih atau Yesus Kristus. Beberapa ulama Indonesia seperti Prof. Quraish Shihab, Gus Mus dan lainnya, bahkan ulama sekaliber Habib Ali al-Jufri sendiri, membolehkan kita mengucapkan selamat Natal sebagai bentuk simpati dan menunjukkan keramahan kita selaku umat Muslim pada sesama manusia (Islami.co, 25/17/2017).

    Memang harus diakui bahwa, dalam menyikapi sosok Isa atau Yesus, dalam teologi Kristen, sosok Yesus Kristus adalah putra Allah yang hidup sekaligus juru selamat bagi manusia. Lewat sosok-Nya, karena kasih-Nya pada manusia, maka Tuhan akan menolong manusia dari huru hara di akhir zaman nanti (Injil Yohanes 1: 2-9, Kitab Wahyu, pasal 22) (Alkitab Deuterokanonika, 2004).

    Dalam Islam, Nabi Isa memiliki kedudukan terhormat. Mayoritas umat Muslim sepakat bahwa Nabi Isa masih hidup dan kelak diyakini akan kembali menolong umat manusia dari kejahatan Dajjal di hari kiamat. Dalam suatu hadits, bahkan Nabi Muhammad SAW bersabda, “Aku adalah orang yang paling dekat dan paling mencintai Isa bin Maryam di dunia maupun di akhirat. Para nabi itu adalah saudara seayah walau ibu mereka berlainan, dan agama mereka adalah satu” (HR. Bukhari) (Al-Bukhari, 2012).

    Hadits di atas menunjukkan betapa mulianya kedudukan Isa al-Masih, sehingga Nabi Muhammad sangat mencintai beliau, bahkan menganggap-Nya sebagai saudara. Dalam Al-Quran, bahkan Allah memuji Isa al-Masih sebagai makhluk terkemuka di dunia dan di akhirat. Dalam Al-Qur’an, dijelaskan bahwa, (Ingatlah), ketika Malaikat berkata: “Hai Maryam, sesungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putera yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) daripada-Nya, namanya Al Masih Isa putera Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah)” (Quran Surah Ali ‘Imran: 45) (Al-Qur’an dan Terjemahannya oleh Departemen Agama Republik Indonesia, 2002).

    Sampai di sini, antara Kristen dan Islam memiliki kesamaan, yaitu menghormati sosok Isa al-Masih atau Yesus Kristus, dan meyakini bahwa ia adalah sosok istimewa yang akan menolong umat manusia di akhir zaman nanti. Walaupun, agama Islam tidak meyakini sisi ilahiah dari Isa atau Yesus sebagaimana pengikut Kristen.

    *****

    Momen Natal bukanlah momen untuk merayakan ketuhanan Yesus atau Isa. Momen Natal adalalah merayakan kelahiran manusia Istimewa yang risalahnya akan membawa keselamatan bagi umat manusia, baik Kristen atau Islam dan umat manusia. Kelahiran Isa al-Masih ke dunia harusnya patut disyukuri dan kita umat Islam harusnya turut berbahagia.

    Momen Natal harusnya bisa menjadi momen komunikasi antara Kristen dan Islam. Hari Natal harusnya menjadi ajang di mana dua agama besar ini dapat berangkulan dan dapat membentuk solidaritas demi membangun masa depan umat manusia yang lebih baik.

    Kita sudah lelah dengan pertikaian antar agama yang sudah beradab-abad menumpahkan darah manusia. Agama, sebagai suatu ajaran ilahi, harusnya dapat menjadi sumber penyebar kedamaian dan rahmat bagi semua. Sebagai dua agama yang lahir dari rahim yang sama, harusnya Islam dan Kristen bisa menafikkan perbedaan teologis mereka dan bergandengan tangan.

    Dalam sejarah, ketika umat Muslim disiksa dan dikejar-kejar oleh kaum Jahiliyah, Arab Quraiys, Nabi Muhammad menyuruh agar umat Muslim hijrah ke Ethiopia (Habasyah) yang merupakan negara penganut agama Kristen yang dipimpin oleh Raja Kristen, Najasyi. Saat Ja’far bertemu Raja Najasyi dan membacakan ayat-ayat mengenai Isa al-Masih dalam Al-Quran, Raja Najasyi menangis dan berkata Perbedaan antara diriku dan dirimu tak lebih dari tongkat kayu yang aku bawa ini, kalian aman menetap di negeriku, aku tak senang memiliki emas namun salah satu di antara kalian merasa tersakiti ” (HR. Ibnu Hisyam) (Ishaq, Ibnu & Ibn Hisyam, 2018).

    Kisah di atas merupakan pelajaran berharga, bahwa umat Kristen dan Islam memiliki hubungan yang  sangat baik. Hal ini tercantum juga dalam Al-Qur’an, Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman (Islam) yaitu orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya kami ini orang Kristen” (Al-Quran Surah Al-Maidah Ayat 82) (Al-Qur’an dan Terjemahannya oleh Departemen Agama Republik Indonesia, 2002).

    Di tengah pandemi COVID-19 yang sudah memakan korban jiwa yang begitu besar, harusnya momen Natal tahun ini menjadi momen untuk merekatkan persaudaraan sebangsa dan setanah air. Walaupun kita berbeda keyakinan dalam agama, tetapi Islam tetap mencintai dan mengimani sosok Nabi Isa al-Masih. Karena itulah, sangat tidak layak dan tidak beradab jika di hari kelahiran-Nya justru malah saling berpolemik bahkan mengkafirkan sesama Muslim yang bertoleransi kepada umat Kristen.

    Karena Nabi Isa al-Masih adalah nabi umat Islam, maka umat Islam juga berhak untuk menghormati dan memuliakan hari kelahirannya. Lalu, apakah umat Muslim juga harus ikut ke Gereja merayakan Natal? Tentu tidak perlu. Kita umat Islam bisa menghormati dengan cara kita sendiri, seperti membaca shalawat untuk-Nya, hal itu sudah cukup.

    Indah rasanya jika kita melewati hari Natal tanpa debat kusir yang sudah basi. Bagi Anda yang tidak merayakan Natal, namun ingin mengucapkan Selamat Hari Natal, maka ucapkanlah kepada kerabat dan sahabat Anda yang merayakannya. Sebaliknya, bagi Anda yang tidak ingin mengucapkan, maka diam adalah tindakan yang cukup.

    Akhir kata, saya mengucapkan Selamat Hari Natal kepada sahabat-sahabat yang merayakannya.

     

    Referensi

    Buku

    Al-Bukhari. 2012. Himpunan Hadits Shahih Bukhari, terj. Achmad Sunarto. Jakarta: An-Nur.

    Alkitab Deuterokanonika. 2004. Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia.

    Al-Qur’an dan Terjemahnya. 2002. Jakarta: Departemen Agama RI.

    Ibnu Ishaq dan Ibn Hisyam. 2018. Sirah Nabawiyah: Sejarah Lengkap Kehidupan Rasulallah, terj. Samson Rahman. Jakarta: Media Akbar.

     

    Internet

    https://islami.co/habib-ali-al-jufri-ikut-ucapkan-selamat-natal/ diakses pada 23  Desember 2020, pukul 23.21 WIB.