Musik dan Masyarakat

    634

    Ribuan pasang mata menangis sedih. Hati ribuan orang berkabung dan awan kelabu menyelimuti hati para pecinta musik dari berbagai kalangan. Itulah yang terjadi ketika maestro musik Indonesia, Didi Kempot, menghembuskan nafas terakhirnya.

    Siapa yang tak kenal Didi Kempot? Maestro musik campursari yang belakangan lagu-lagunya tidak hanya dinikmati oleh kalangan tua, tetapi juga kaula muda milenial. Lagu seperti “Sewu Kuto”, “Cidro”, “Pamer Bojo”, dan “Stasiun Balapan” membuat orang-orang yang mendengarkannya hanyut terbawa emosi.

    Syair Didi Kempot selalu menggambarkan tentang orang yang putus cinta, patah hati, ironi cinta, serta perasaan merana karena merindukan sang kekasih. Genre lagu patah hati ini yang sering digemari oleh anak-anak muda. Jika kita mengulik sejarah musik, pada era 80-an juga muncul trend musik “pop cengeng”, yaitu lagu pop yang menggambarkan patah hati dan kerinduan pada sang kekasih.

    Ya, banyak orang yang mengkritik genre lagu seperti ini yang dianggap memperlemah mental dan merusak karakter anak muda. Namun, sisi kelebihan dari lagu-lagu Didi Kempot, walaupun syairnya bertemakan putus cinta atau cengeng, tapi irama khas musik dangdut campursari, membuat orang-orang berdendang.

    Sehingga, muncul ungkapan Hati ambyar? Dijogeti wae” dengan mendengar lagu Didi Kempot. Banyak anak muda yang menikmati momen kelabunya dengan berdendang seolah mereka “merayakan” patah hatinya. Keistimewaan lagunya ini yang kemudian membuat Didi Kempot dijuluki sebagai “The Godfather of Broken Heart” dan dipanggil sebagai Lord Didi.

    Baik wong elit maupun wong alit (warga biasa), rasanya sama-sama menyukai musik. Bahkan, lewat musik sekat antara kaya-miskin, pengusaha-buruh, laki-laki-perempuan, semuanya sirna, siapapun boleh terlena dan menikmati musik yang menggugah hatinya.

    Bahasa musik adalah bahasa yang paling bisa dimengerti dan dipahami. Musik bukan cuma kesenian yang berfungsi untuk menyenangkan telinga pendengarnya, juga bukan sekedar syair-syair gombal. Musik sama seperti bahasa, dan merupakan adalah alat komunikasi yang dapat dipahami secara universal.

    *****

    Dalam sejarahnya, musik mungkin sama tuanya dengan perkembangan manusia itu sendiri. Kita akan menemukan artefak-artefak suling tulang dan gendang dari kulit binatang dari zaman paleolitik yang dahulu digunakan dalam berbagai ritual suku dalam setiap upacara.

    Musik bukan hanya memiliki nilai estetik tetapi juga memiliki sisi mistik. Dalam catatan sejarah, musik sering digunakan dalam pengiring berbagai ritual keagamaan, seperti musik yang digunakan oleh para pengikut Phytagorean sebagai pembuka ritual, atau musik yang digunakan oleh agama-agama semitik, baik di Yunani atau di Mesir untuk memuja dewa-dewa tertentu seperti Zeus, Apollo, Osiris dan Dewa Ra (Encyclopedia.com, 2020).

    Musik menurut agama-agama merupakan salah satu perantara yang membuat mereka bisa berhubungan dengan alam lain, yaitu alam para dewa. Musik-musik bukan hanya dipercaya sebagai penghubung manusia dengan alam gaib, tetapi juga dipercaya bisa berpengaruh pada mental dan perilaku manusia (Ancient.eu, 2013).

    Mungkin salah satu contoh yang tepat dalam menggambarkan ini adalah Ummu Kultsum. Penyanyi berkebangsaan Mesir yang populer pada dekade 50 hingga 70-an ini adalah salah satu maestro yang lagunya berhasil mengguncang sejarah. Konon, lagu-lagu Ummu Kultsum dapat menyatukan seluruh bangsa Arab (bahkan negara-negara Islam). Presiden Gamal Abdel Nasser menggunakan lagu-lagu Ummu Kultsum untuk menyatukan negara-negara Arab yang tengah bertikai (The Guardian, 28/02/2020).

    Saking populernya, ketika Ummu Kultsum sang maestro musik Arab meninggal, semua rakyat berduka dan menangis. Para politisi, tentara, tukang, petani, sarjana, buruh, rakyat kecil semua sedih karena selamanya ditinggal oleh sang biduan agung yang kedahsyatan syairnya tak tertandingi (The New York Times, 06/02/1975).

    Konon, pemakaman yang dihadiri ratusan orang itu terjadi insiden yang cukup lucu. Peti jenazah sang maestro “dicuri” dan para ribuan fans fanatik yang membawanya ke Masjid Imam Husein dan minta sang maestro dimakamkan di samping makam manusia mulia itu. Tentu saja, si penjaga makam bingung dan ulama meminta para “fans kultsumers” tidak memakamkannya di makam Imam tapi ditempat yang seharusnya (Aramco World, 2012).

    Ummu Kultsum adalah segelintir cerita bahwa sosok penyanyi sama hebatnya dengan para jenderal, raja-raja, dan ilmuwan yang terukir dalam sejarah. Hingga kini banyak para kyai-kyai di Indonesia yang nyeruput kopi tubruk sembari menghisap rokok kretek didampingi iringan lagu “Enta Omri” atau “Fi Intizarak”-nya Ummu Kultsum (Abdalla, 2020).

    Ummu Kultsum memiliki kemiripan dengan Didi Kempot, yaitu syair-syairnya penuh dengan nuansa percintaan. Jika Ummu Kultsum lewat lagunya penuh dengan pujian dan pujaan pada sosok yang dicintai, Didi Kempot dalam lagu-lagunya penuh dengan kerinduan dan ratapan kepada sang tercinta.

    Karena setiap orang pernah merasakan bahagia oleh cinta dan bahagia karenanya, syair-syair cinta yang dibawa oleh mereka dapat diterima oleh masyarakat dari berbagai lapisan. Bahasa cinta adalah bahasa universal, karena itulah lagu-lagu mereka mendapat sambutan oleh rakyat baik kelas atas hingga kelas bawah.

     

    Musik dan masyarakat

    Sebagaimana kita tahu, musik adalah seni yang membumi. Dalam musik tidak ada hirarki. Semua orang berhak menikmati dan mendengarkan musik tanpa melihat status sosial. Tak ada sekat dan batas dalam sebuah musik. Ketika kita mendengar sebuah lagu yang enak ditelinga, kita takkan melihat apa suku dan agama dari penyanyi tersebut. Karena itu, bagi penulis musik sudah mencerminkan sisi-sisi demokratis.

    Dalam sebuah konser musik misalnya, mau itu musik bergenre rock, dangdut atau klasik, alat-alat musik baik itu seruling, gitar, gendang, biola, harpa, atau gong, semua alat musik yang menghasilkan suara dan nada yang berbeda justru malah menciptakan keharmonisan dan keteraturan yang indah. Tentu ini bisa menjadi tamsil (sebuah perumpamaan) daripada civil society, di mana perbedaan-perbedaan yang ada dalam lingkungan sosial justru merupakan cermin indah dari keberagaman.

    Plato menjelaskan bahwa musik bukan hanya sekedar seni mimesis (abstraksi dari dunia rill yang diubah dalam bentuk syair atau instrumental) yang bertujuan untuk menghibur masyarakat, namun dalam dunia politik, musik dapat mempengaruhi moral dan juga pemerintahan dalam suatu (Susantina, 2000).

    Pandangan Plato ini memang benar. Dalam sebuah negara, kadang musik digunakan untuk propaganda yang mendukung pemerintah dan juga sebaliknya, yakni untuk mengkritik pemerintahan. Para musisi bisa jadi sebagai corong pemerintah untuk memobilisasi dukungan rakyat, atau malah menjadi “pembebas” masyarakat dari sebuah sistem tiran yang membelenggu.

    Contohnya adalah Iwan Fals, musisi yang pada zaman Orde Baru terkenal di kalangan masyarakat sebagai tokoh yang paling vokal dalam mengkritik pemerintah Orde Baru lewat lagu-lagunya, seperti “Bento”, “Surat Untuk Wakil Rakyat”, “Ujung Aspal Pondok Gede.” Musisi lainnya adalah Harry Rusli, yang mendendangkan lagu “Cio-cio wer”, sebuah lagu sarkas yang populer pada dekade 2000-an.

    Musik adalah suara-suara akar rumput. Ia menyentuh ke dalam relung hati setiap manusia. Musik bukan sekedar hiburan, tetapi musik juga bisa sebagai alat untuk mengedukasi rakyat jelata, memberi wawasan kepada mereka mengenai gambaran situasi sosial dan politik.

    Banyak para musisi yang bersuara lantang menjadi martir karena lagu-lagu mereka telah menggerakkan kalangan masyarakat bawah. Dari sebuah musik, banyak orang tergerak dan tersadarkan. Karena itu, rasanya tidak pas kiranya musik hanya dipahami sebagai alat penghibur. Lebih dari itu, musik telah menjadi alat pembebasan masyarakat akar rumput dari jerat belenggu yang dikenakan oleh tiran di atas leher mereka.

     

    Referensi

    Jurnal

    Susantina, Sukatmi. 2000. “Humaniora: Jurnal Pengetahuan dan Pemikiran Seni,” Vol. 1, No. 2.

     

    Internet

    https://www.encyclopedia.com/environment/encyclopedias-almanacs-transcripts-and-maps/music-music-and-religion Diakses 6 Juli 2020, pukul 00:26 WIB.

    https://www.ancient.eu/Greek_Music/ Diakses 6 Juli 2020, pukul 0:23 WIB

    https://www.theguardian.com/music/2020/feb/28/she-exists-out-of-time-umm-kulthum-arab-musics-eternal-star Diakses pada 6 Juli 2020, pukul 00:28 WIB.

    https://www.nytimes.com/1975/02/06/archives/egyptians-throng-funeral-of-um-kalthoum-the-arabs-acclaimed-singer.html Diakses pada 6 Juli 2020, pukul 00:30 WIB.

    https://archive.aramcoworld.com/issue/201201/um.kulthum.the.lady.s.cairo.htm Diakses pada 6 Juli 2020, pukul 00:32 WIB.

    Abdalla, Ulil Abshar. 2020. Gus Mus dan Umi Kultsum: Tentang Kultur Musik Kaum Santri. https://alif.id/read/ulil-abshar-abdalla/gus-mus-dan-umi-kultsum-tentang-kultur-musik-kaum-santri-b226812p/ Diakses pada 4 Juli 2020, pukul 23:25 WIB.