Muda Berpolitik, Penguasa Tak Bisa Berkutik

    78
    Sumber gambar: https://www.vox.com/policy-and-politics/2020/5/22/21256151/coronavirus-pandemic-american-culture-keith-humphreys

    Berangkat dari sejarah kelam perjuangan Indonesia dalam mencapai Kemerdekaan, maka tidak dapat terlepas dari kontribusi para pemuda Indonesia yang menyumbangkan keberanian dan semangat nasionalisme. Bahkan peristiwa besar dibalik Proklamasi Kemerdekaan 1945, yaitu Rengasdengklok juga diinisiasi oleh gerakan pemuda Indonesia. Hal serupa mengenai peran generasi muda yang memberikan dampak masif adalah Reformasi 1998 yang menjadi tonggak sekaligus menciptakan wajah baru Indonesia khususnya di bidang politik dan ekonomi yang sebelumnya dipenuhi dengan dominasi penguasa, yang pada saat itu Presiden Soeharto sebagai karakter utama terjadinya Reformasi 1998.

    Beberapa contoh tersebut mengindikasikan bahwa tanpa peran generasi muda, bangsa Indonesia tidak akan mempunyai sejarah yang mengantarkan pada masa depan kehidupan bangsa, dimana hal ini sesuai dengan ungkapan dari Pramoedya Ananta Toer bahwa “Sejarah dunia adalah sejarahnya orang muda” (Nowak, 2021). Bahkan apabila ditelaah lebih lanjut, generasi muda memainkan peran penting yang turut mempengaruhi bagaimana perkembangan politik dan sosial ekonomi di Indonesia bahkan mampu menembus kancah Internasional. Terlebih ketika Indonesia dianugerahi kekuatan bonus demografis, maka alangkah lebih baik jika keunggulan tersebut dipersiapkan sedemikian rupa dengan tujuan “agent of change” khususnya di ranah politik yang urgensinya membutuhkan tranformasi sistem politik di masa depan (Nowak, 2021) .

    Keunggulan lainnya yang tidak kalahpenting adalah generasi muda saat ini dinilai sangat aktif dalam dunia internet, khususnya sosial media yang mayoritas dikuasai oleh anak muda dan disebut oleh mereka dengan “new power” (Nowak, 2021). Dengan demikian, kita menyadari bahwa dikatakan wajar apabila generasi muda menghendaki adanya perubahan atau revitalisasi atas apa yang terjadi dalam negeri kita saat ini. Hal ini dibuktikan dengan gerakan-gerakan mahasiswa selama beberapa tahun terkahir ini menuntut pertanggungjawaban atas apa yang disebut ketidakadilan. Kasus tersebut kerap dijumpai pada era kontemporer ini bahwa penyalahgunaan kekuasaan telah mengubah wajah perpolitikan Indonesia yang mengalami degradasi seiring maraknya dominasi oleh penguasa pejabat politik beserta turunannya termasuk di dalamnya partai politik. Atas dasar itulah mengapa generasi muda gencar dalam mendorong perubahan sistem politik Indonesia.

    Tentu, tantangan tersebut tidaklah mudah dan perlu upaya-upaya untuk mencapai transisi politik yang lebih baik di masa depan. Dengan demikian, yang menjadi pertanyaan selanjutnya dari highlights tersebut ialah bagaimana sikap generasi muda saat ini dan upaya seperti apa yang mampu mendorong perubahan politik untuk mengangkat kembali citra positif di semua kalangan?

    Generasi muda yang menjadi keyword utama dalam tulisan ini adalah generasi milenial yang mencakup kelahiran rentang tahun 1981-1997 dan Generasi Z atau Gen Z yang mencakup tahun kelahiran antara 1998-2010. Berkaca pada klasifikasi tersebut, maka disimpulkan bahwa generasi muda adalah orang dengan rentang usia 16-30 tahun (Nowak, 2021). Usia tersebut merupakan usia produktif sesuai dengan bonus demografi yang disandang Indonesia pada era kontemporer ini.

    Namun ketika menyinggung tentang peran generasi muda dalam perubahan politik, maka hal yang perlu ditekankan adalah sikap generasi saat ini terhadap dunia politik Indonesia. Apakah mereka cenderung apatis dan abai akan perkembangan termasuk pada kasus-kasus aktual? Atau justru menaruh prihatin dan mengumpulkan massa untuk membuat perubahan baru? Dalam perspektif saya sejauh ini, tingkat partisipasi dan kesadaran akan berpolitik oleh generasi muda semakin menonjol yang ditunjukkan dari beberapa sikap, antara lain menolak iming-iming money politics, urgensi kasus politik yang perlu ditangani segera, kontribusi dalam menyuarakan kebebasan berpendapat dalam hal politik termasuk di dalamnya generasi muda juga mengamati pergerakan pemilu dan aktivitas politik di dalam negeri. Bahkan 2 tahun terakhir dengan pandemi Covid-19 ini, justru generasi muda semakin banyak bersuara menanggapi sikap pemerintah terutama para penguasa yang dinilai melakukan penyelewengan terhadap power yang dimiliki. Sehingga, seringkali masalah-masalah dalam sistem politik lebih cepat ditangani apabila dikawal oleh generasi muda. Hal ini karena desakan dari generasi muda mampu melemahkan kekuasaan oleh para penguasa nakal.

    Berangkat dari analisis karakter generasi muda tersebut nyatanya belum sepenuhnya baik, pasalnya masih banyak pula generasi muda yang justru menyerukan tentang perubahan politik namun dengan cara-cara yang kurang baik. Sehingga perlu adanya elaborasi lebih lanjut tentang upaya perubahan yang baik. Jauh sebelum itu, kita sepakat bahwa tujuan utama generasi muda menghendaki perubahan politik adalah memulihkan hak-hak dasar warga negara yang semakin lama semakin dibatasi oleh dominasi penguasa. Dari tujuan tersebut, dapat dianalisis tentang upaya yang mendorong perubahan agar implementasinya dapat berjalan baik.

    Pertama, Kesadaran untuk menyimak dan mengamati apa yang sedang terjadi dan bijak dalam bertindak agar tidak salah arus. Penting bagi kita untuk memahami apa yang sedang happening, khususnya merujuk pada algoritma sosial media. Kekhawatiran muncul akibat kebebasan generasi muda dalam mengoperasikan sosial media. Namun, sulit untuk dibantah apabila kita menyangkal kebebasan itu sesuatu yang harus dibatasi, karena implementasi kebebasan dalam pers seperti kritikan dan saran diasumsikan sebagai alat kontrol jalannya suatu pemerintahan (Suharsono, 2022). Oleh karena itu, dengan kita mengamati, setidaknya membantu memusatkan pikiran kita mana arus yang berbahaya dan mana arus yang mengarah pada upaya perubahan.

    Kedua, Meningkatkan partisipasi politik dalam pemilu dan aktivitas lainnya. Perubahan politik tidak mengharuskan generasi muda untuk terjun langsung bahkan berkecimpung di dalamnya, melainkan dengan mengikuti aktivitas politik layaknya kita menyumbang suara dalam pemilu. Namun, nyatanya tidak terbatas pada suara pemilu saja, melainkan bagaimana generasi muda dapat menghapus corak politik tradisional dalam pemilu, seperti money politics, politik identitas yang berlebihan, melemahkan penguasa nakal, dll.

    Ketiga, Meningkatkan literasi digital seperti konten edukasi tentang sistem politik Indonesia yang dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari. Peran ketiga tersebut juga menjawab bagaimana langkah yang diambil untuk menghapus politik secara tradisional tersebut. Nyatanya literasi digital tentang politik dan pemerintahan menjadi peluang besar yang mampu mengumpulkan massa dengan aspirasi dan pandangan yang sama. Penekanan pada konten edukasi tersebut sebagai bagian kecil yang mampu menjangkau banyak kalangan dengan tujuan transformasi politik secara perlahan. Bahkan adanya konten-konten yang berbau politik dan kritis sebetulnya dapat menjadi ancaman bagi penguasa politik yang nakal. Pasalnya, ruang gerak mereka akan diamati oleh banyak orang dan mereka paham mengenai dunia perpolitikan yang pada akhirnya menuntun generasi muda untuk memilih mana yang benar dan mana yang salah. Hal ini dapat dijadikan pula sebagai peningkatan SDM yang berkualitas dan berkarakter melalui penerapan pendidikan politik di institusi pendidikan formal (Hardian, 2021).

    Keempat, Tanggap pada isu-isu sosial dan ekonomi yang terjadi di sekitar kita. Dalam dunia politik, maka sangkut pautnya juga pada ranah sosial dan ekonomi. Oleh karena itu, perubahan politik juga dibarengi dengan aksi-aksi kemanusiaan. Hal ini karena degradasi sistem politik oleh penguasa yang nakal berdampak pada rakyat kecil yang meliputi berbagai aspek. Contohnya adalah banyak penguasa politik yang korupsi mengakibatkan keuangan negara tidak stabil yang berimbas pada kenaikan harga kebutuhan pokok. Dengan demikian, isu-isu yang melanda di dalam negeri seringkali imbas dari penguasa yang nakal.

    Kembali ditekankan bahwa generasi muda mempunyai kendali besar dalam mengubah corak sistem politik Indonesia. Hal ini karena semangat juang yang tinggi, daya kreativitas yang tinggi pula ditambah dengan bonus demografis dengan usia produktif yang turut tinggi serta mudah dalam memobilisasi massa baik kalangan pelajar, mahasiswa, pekerja, maupun aktivis sosial. Massa generasi muda tersebut sebagai people power yang jika sudah turun dan berjalan, maka ancaman terhadap sistem politik muncul termasuk di dalamnya melemahkan kekuasaan penguasa politik atau partai politik yang merugikan negara maupun rakyatnya. Namun, generasi muda perlu untuk menyatukan visi misi dengan harapan menghindari adanya perpecahan atau polarisasi di kalangan generasi muda sendiri. Karena pada akhirnya, kunci perubahan politik adalah persatuan dari generasi muda sebagai pilar pertamanya.

    Referensi 

    Hardian, Y. H. Mirza (2021, Agustus). “Gagasan Pendidikan Politik Bagi Generasi Muda (Sebuah Kajian Literatur)”. Brilliant: Jurnal Riset dan Konseptual, 6, 552-567.

    Nastiti, A. D. (16 Agustus 2017 ). Memahami Aspirasi dan Perilaku Politik Generasi Z. Tirto.id. Diakses dari https://tirto.id/memahami-aspirasi-dan-perilaku-politik- generasi-z-cuEL.

    Nowak, N. (2021). Pemuda, Politik, dan Keterlibatan Sosial di Indonesia Kontemporer. Jakarta: Friedrich Ebert Stiftung.

    Suharsono. (31 Mei 2022). Kebebasan & Demokrasi di Indonesia. Jakarta: Suara Kebebasan. Diakses dari https://suarakebebasan.id/kebebasan-dan-demokrasi-di-indonesia/.