Menyaksikan “Bumi Manusia”

775

Sutradara: Hanung Bramantyo
Produser: Frederica
Penulis: Salman Aristo
Berdasarkan: Novel: Bumi Manusia Karya Pramoedya Ananta Toer
Perusahaan: produksi Falcon Pictures
Tanggal rilis: 9 Agustus 2019 (Surabaya) 15 Agustus 2019
Durasi: 181 menit

“Cerita tentang kesenangan selalu tidak menarik. Itu bukan cerita tentang manusia dan kehidupannya, tapi tentang surga, dan jelas tidak terjadi di atas bumi kita ini.

30 Agustus lalu film Bumi Manusia berhasil tembus melebihi 1 juta penonton. DSalam waktu 2 minggu, Bumi Manusia berhasil menarik perhatian 1 juta orang.  Apa sih hebatnya film ini? Apa karena sutradaranya adalah Hanung Bramantyo yang pernah sukses lewat film Ayat-Ayat Cinta? Mungkin, apa karena ada Iqbaal Ramadhan yang sukses bikin baper di film Dilan? Bisa jadi. Namun, beberapa orang lebih tertarik menonton film ini bukan karena siapa pemain atau sutradaranya, namun karena ketenaran penulis novelnya: Pramoedya Ananta Toer.

Pramoedya Ananta Toer (sapaannya Bung Pram) adalah salah satu seniman Indonesia yang dahulu berafiliasi dengan LEKRA (Lembaga Kebudayaan Rakyat), organisasi yang dianggap berafiliasi dengan Partai Komunis yang akhirnya dibubarkan oleh pemerintah Orde Baru di tahun 1966. Pramoedya sendiri ditangkap dan dibuang ke Pulau Buru.

Di Pulau Buru inilah ia berusaha untuk tetap produktif. Pram menulis sejumlah buku yang terkenal sebagai Tetralogi Pulau Buru”, yaitu novel  Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa ,Jejak Langkah, dan Rumah Kaca.  Ketika novel ini terbit, dengan sigap pemerintah Orde Baru langsung melarangnya beredar dengan alasan buku ini mengandung ajaran Marxisme –Leninisme (sebuah alasan aneh, bahkan lelucon).

Walaupun novel ini dilarang beredar oleh pemerintah, namun novel ini cukup laris manis di luar Indonesia. Terbukti, novel ini telah diterjemahkan lebih dari 40 bahasa dan diterbitkan di beberapa negara, termasuk Amerika, Belanda, Jepang, Jerman, Rusia, serta Malaysia.

Kesuksesan Tetralogi Pulau Buru, khususnya Bumi Manusia, sempat menarik beberapa perusahaan film asing untuk mengangkat novel tersebut ke layar kaca, namun tidak pernah berhasil. Hal ini baru terealisasi ketika film ini digarap oleh Hanung Bramantyo.

***

Ketika akhir tahun lalu saya mendengar Hanung ingin mengangkat novel ini ke layar kaca, saya sempat pesimis, apa mungkin sutradara yang nampaknya mengurusi film komedi dan percintaan yang bersifat komersil dapat mengangkat sebuah novel masterpiece yang serius? Apa ga salah tuh? Ditambah  ketika Hanung ingin menjadikan Iqbaal Ramadhan sebagai tokoh utama alias memerankan RM. Minke, malah tambah lebih kecewa lagi… apa mungkin bocah ingusan bisa memerankan sosok idealis seperti remaja Minke?

Tujuan utama saya menonton Bumi Manusia  awalnya untuk menghakimi dan memaki film tersebut, namun pikiran itu berubah ketika menyaksikan adegan tiap adegan didalamnya. Film ini didesain dengan sangat apik dan menawan. Hanung memulai filmnya dengan mengambarkan secara apik bagi penonton milenial tentang kondisi di Hindia Belanda, tanah air mereka pada masa itu.

Ya, Indonesia dahulu adalah Hindia yang penuh diskriminasi, anak Indo (campuran Indonesia – Belanda) merupakan anak yang lumayan beruntung, darah dan bahasa mereka, membuat mereka mendapat perlakuan  istimewa. Sedangkan anak priyayi, seperti anak saudagar atau bangsawan, juga cukup beruntung karena bisa menikmati pendidikan dan disegani oleh kaumnya. Sedangkan anak yang paling sial adalah anak pribumi miskin, karena bahkan untuk bersekolahpun tidak mungkin karena kedudukannya yang rendah.

Gambaran Indonesia  zaman Kolonial yang ditampilkan oleh film Bumi Manusia adalah tanah hina yang diperas kekayaannya, namun disiksa penduduknya. Film ini membuat saya hanyut dan menikmati setiap alur dan kekuatan tokohnya. Walaupun dalam otak saya Minke adalah sosok tegas yang lincah, namun saya mulai “menerima” jika Iqbaal memerankannya.

Sosok yang paling kuat di film ini adalah Nyai Ontosoroh dan  Annelies Mellema yang diperankan oleh Sha Ine Febriyanti dan Mawar Eva de Jongh. Peran Sha Ine dalam memerankan Nyai Ontosoroh sangat tepat dan pas. Sosoknya yang keras, berwajah anggun dan tegas, memperkuat sosok Nyai Ontosoroh sebagaimana yang digambarkan di dalam novel, sebagai Nyai pribumi yang mandiri, cerdas, dan mempunyai harga diri yang tidak ingin diinjak oleh siapapun.

Sedangkan peran Annelies yang cantik, manja dan agak kekanak-kanakan cukup sesuai ketika diperankan oleh Mawar Eva de Jong. Namun, bagi pembaca novel Bumi Manusia, film garapan Hanung ini mempunyai titik kelemahan, yaitu adegan ke adegan berlangsung begitu cepat, sehingga kita tidak dapat merasakan kesan yang tengah digambarkan dalam film.

Contohnya seperti pengadilan Nyai Ontosoroh dan juga adegan ketika sidang tuduhan membunuh Herman Mellema dan juga perebutan Annelies dari Minke, terlalu cepat sehingga kurang dapat “momentum” yang menegangkan.

Ya, tapi ini bisa dimaklumi, bagaimanapun ketika sebuah novel diangkat  ke layar kaca adalah sesuatu yang tidak mudah, apalagi untuk novel setebal 500 halaman.

 

Menghayati Bumi Manusia

Syahdan, seorang remaja yang beranjak dewasa, seorang siswa HBS, mulai terpesona oleh perkembangan dunia dan ilmu pengetahuan. Minke, namanya. Minke adalah siswa pandai berdarah pribumi, pribumi asli, namun memiliki pemikiran dan cara pandang ala bangsa Eropa. Minke mulai menyadari bahwa ia tengah berdiri tepat ketika zaman mulai beralih. Ia terpesona oleh modernitas dan kesetaraan hak manusia, pengembangan tekhnologi, dan juga kesadaran bahwa manusia berhak bebas untuk menjadi dirinya.

Ilmu pengetahuan tidak saja telah merubah dunia, tapi juga merubah cara pandang manusia. Di era kemajuan dan kesadaran manusia berubah, manusia bukan lagi sebagai hewan  yang saling menindas untuk bertahan hidup, namun membentuk suatu sistem dimana perbudakan, penganiayaan secara zalim, diskriminasi adalah suatu tindakan abmoral yang bertentangan dengan kemanusiaan.

Setidaknya saya menggarisbawahi beberapa pelajaran yang bisa diambil dari film dan novel Bumi Manusia. Misalnya, masalah kesetaraan (equality), keadilan (justice), dan kebangkitan martabat perempuan.

Problem yang diangkat oleh Pramoedya dalam novelnya, adalah mengenai budaya rasis yang ditanamkan oleh pemerintah kolonial, dimana kedudukan pribumi setara dengan anjing yang tak memiliki martabat. Hanya pribumi yang mempunyai uang lebih yang bisa merasakan pelayanan lebih baik.

Sebaliknya orang Belanda Indo dan Belanda asli bisa menikmati segala fasilitas dan bisa mendapat akses ke pemerintahan. Tentu ini tidak adil! Pemerintah kolonial hanya berurusan dengan pribumi jika sang pribumi melanggar hukum atau memberontak, sisanya seperti urusan pajak dan juga layanan umum, pemerintah menyerahkan kepada penguasa feodal pribumi, seperti demang, lurah, dan adipati.

Dualisme pemerintahan ini berarti adalah bentuk diskriminasi, dimana orang Eropa adalah warga kelas satu, sedangkan pribumi asli justru dianggap hewan pinggiran. Ini yang kemudian membuat Minke muak dan menuliskan segala kritikannya di surat kabar.

Masalah selanjutnya adalah  masalah keadilan. Dalam sistem hukum Belanda terdapat dulisme sistem hukum yang tercerminkan dalam lembaga pengadilan, yaitu pengadilan untuk bangsa Eropa dan pengadilan untuk bangsa pribumi.

Dalam Bumi Manusia, ketika Nyai Ontosoroh dibawa ke Pengadilan Landraad (pengadilan khusus Pribumi) karena dituduh membunuh Herman Mellema, suaminya, Nyai Ontosoroh sama sekali dilarang menggunakan bahasa Belanda dan diharuskan jalan jongkok di depan hakim yang notabene seorang Belanda.

Dalam sistem peradilan saja sudah mencerminkan diskriminasi luar biasa. Pemerintah Kolonial juga melarang adanya pernikahan antar ras , karena hukuman yang diskriminatif dan tidak adil ini, Minke dan Annelies harus berpisah (lebih tepatnya lagi dipisahkan) karena pernikahan tersebut tidak dianggap alias ilegal.

Sisi lain yang diungkit oleh Pramoedya dan Hanung dalam Bumi Manusia adalah masalah harakat perempuan, yang di masa Hindia Belanda bagai tidak ada harganya, selain mengalami masa pingitan (mengurung perawan hingga ada lelaki yang mengambilnya). Perempuan juga tidak memiliki kekuatan hukum dan kesempatan untuk berperan dalam masyarakat. Seolah tugas kaum hawa hanya membereskan rumah dan melayani suami saja.

Namun tidak demikian dengan Nyai Ontosoroh, walaupun statusnya hanya sebagai gundik, Nyai Ontosoroh adalah seorang perempuan merdeka yang tidak mau diinjak harga dirinya oleh siapapun. Gambaran perempuan mandiri yang berusaha untuk tidak hidup dari ketiak lelaki. Nyai Ontosoroh adalah tokoh yang menyuarakan aspirasi perempuan dalam cerita tersebut. Ketika sistem saat itu begitu kejamnya terhadap perempuan, Nyai Ontosoroh bangkit dan menunjukan kepada semua orang bahwa perempuan bisa hidup secara mandiri tanpa harus menjadi babu kaum Lelaki.

Bumi Manusia menggambarkan bahwa nilai-nilai falsafah kemanusiaan tersebut juga mulai tertanam dan menjadi spirit di hati anak-anak  Hindia.  Novel Bumi Manusia lain dari novel-novel lainnya, karena Pramoedya mengajak pembaca untuk mengikuti alur cerita bagai mesin waktu yang membawa kita mundur ke 100 tahun silam. Di era ketika rasialisme mengakar kuat, penindasan adalah hal wajar, dan ketidakadilan adalah ciri hukum yang tegak di bumi Hindia.

Bumi Manusia  sebenarnya berusaha menggambarkan semua tragedi dan peristiwa yang dialami oleh manusia, dimana kebahagiaan dan kesedihan hanya berjarak dari sejengkal. Pram seolah mau berkata, inilah manusia, manusia yang tidak bisa jauh dari cinta, penderitaan, kelicikan, perlakuan tidak adil, serta watak yang menindas.

***

Reynaldi adalah Mahasiswa Aqidah Filsafat UIN Jakarta, Seorang aktivis Muslim moderat yang tertarik untuk mengembangkan ide-ide mengenai toleransi, kemanusiaan, kebebasan, dan kerukunan antar umat beragama. Email: adisuryareynaldi@gmail.com