Menjadi Jomblo Yang Bahagia dan Merdeka

    364

    Rendy adalah seorang pria berusia 25 tahun. Ia baru saja merayakan kelulusan setelah menempuh studi S1 selama 7 tahun. Mungkin untuk ukuran saat ini, kuliah selama 7 tahun memang tidak lumrah. Bahkan, sebelum mendapat gelar sarjana, ia mendapat gelar “Maba” (mahasiswa abadi) dan “Mayjen” (mahasiswa legend). Tapi syukur, gelar itu terhapus ketika ia kebagian memakai toga dan jubah kesarjanaan.

    Baru saja ia menghirup nafas lega setelah terbebas dari pertanyaan “Kapan wisuda?”, selebrasi kelulusan tersebut diikuti oleh sebuah pertanyaan yang seolah memecah gendang telinga, yakni “Kapan kamu mau menikah?” Masalah pernikahan bagi Rendy yang belum memiliki pasangan, menjadi bertambah dilema ketika hampir setiap bulan ia menghadiri resepsi pernikahan sahabat-sahabatnya.

    Pertanyaan “kapan mau nikah?” dan “kapan nyusul nikah?” yang diucapkan oleh rekan-rekannya seolah menusuk hati dan pikiran. Selebarasi karena berhasil diwisuda setelah menempuh kuliah 7 tahun menjadi lenyap begitu saja berganti oleh dilema baru, yaitu beban sosial untuk mencari pasangan hidup.

    *****

    Bertanya persoalan menikah mungkin memang terdengar sepele dan sederhana. Kadangkala, pertanyaan seperti itu dilontarkan untuk sekedar basa-basi menghangatkan suasana. Memang biasanya orang akan tertawa jika ditanya seperti itu. Namun bagi beberapa orang, pertanyaan tersebut sangat menyakitkan bahkan menimbulkan kesedihan.

    Dalam budaya masyarakat Indonesia, pernikahan merupakan suatu hal yang sakral bahkan suatu keharusan bagi setiap orang. Dalam filosofi masyarakat Jawa misalnya, seseorang baru bisa disebut “wong” jika ia sudah mencapai 5 hal kelangenan (kegembiraan), yaitu Wisma (tempat tinggal), Wanita (istri), Turangga (kuda/kendaraan), Kukila (burung/peliharaan atau hobi) dan Curiga (pusaka atau harta).

    Kelimanya jika sudah berhasil didapat oleh seorang pria, maka ia baru bisa disebut laki-laki sejati atau seorang satria. Jika salah satunya tidak dapat dipenuhi, misalkan seorang pria yang kaya dan tenar tetapi belum mendapatkan perempuan yang menjadi istrinya, maka orang ini tidak bisa disebut sebagai “wong” atau pria sejati (Krjogja.com, 10/5/2017).

    Dalam kebudayaan India atau Bali terdahulu, jika seorang istri atau perempuan ditinggal mati oleh suaminya, alias menjadi seorang janda, maka ia wajib untuk ikut mati dengan membakar diri bersama jasad suaminya sebagai simbol kesetiaan (Historia.id, 6/7/2017).

    Aksi membakar diri yang dilakukan oleh seorang janda, menunjukan bahwa menjada atau menjadi seorang single adalah aib dalam masyarakat. Bahkan, kematian bagi orang-orang terdahulu dipandang lebih baik ketimbang menyandang cap sosial tersebut.

    Ini menunjukkan bahwa, dalam adat istiadat dan konstruksi moralitas orang Indonesia, menjadi seorang single, janda atau bahasa kekiniannya, menjomblo, adalah sebuah aib dan kerap menjadi bahan cibiran di masyarakat. Stereotipe buruk terhadap jomblo inilah yang kemudian melahirkan beragam “pernikahan alternatif” seperti nikah siri, pernikahan anak di bawah umur, nikah culik (seorang pria menculik wanita yang ditemukannya dan dinikahi secara paksa) dan lain sebagainya.

    *****

    Menjadi seorang jomblo di satu waktu memang kurang menyenangkan. Toh, manusiawi juga jika kita menginginkan kasih sayang, perhatian, dan kehangatan cinta. Namun di sisi lain, mereka yang menjomblo memiliki banyak kesempatan untuk mengisi hari-harinya dengan berbagai aktivitas. Banyak hal yang membuat orang untuk memilih tetap sendiri, entah karena memang ia memiliki cita-cita untuk menggeluti bidangnya seperti para ilmuwan, karena sakit hati, atau karena finansial.

    Namun, apapun alasannya, ucapan-ucapan yang mengejek atau pertanyaan yang menyinggung status seseorang tidaklah elok jika ditujukan kepada mereka yang belum atau memilih untuk tidak mengadakan perkawinan. Secara tidak langsung, ucapan atau pertanyaan tersebut adalah sebuah bentuk “intimidasi” yang membuat perasaan menjadi sedih.

    Seperti apa yang dirasakan oleh Rendy di atas, pertanyaan “kapan menikah?”, “siapa pasangannya?”, “kok belum laku?” secara tidak langsung menambah beban mental seseorang seolah-olah dituntut harus seperti dirinya. Padahal, menjadi seorang jomblo bukanlah sebuah kesalahan, bukan sebuah dosa dan tidak menganggu siapapun. Namun, sistem sosial yang mengkonstruk untuk mendeskriminasi seorang jomblo justru yang bermasalah.

     

    Jomblo Bukan Kutukan          

    Memilih untuk menjadi seorang jomblo bukanlah suatu masalah atau aib. Banyak orang tidak memikirkan aspek-aspek positif yang dimiliki oleh orang yang single. Orang-orang yang memilih untuk menjadi seorang single adalah orang yang bebas dan merdeka. Seorang jomblo harus merubah paradigma berpikirnya. Banyak orang yang menjomblo akhirnya mereka berputus asa, galau, benci kesendirian, selalu bersedih, dan merasa miskin dari cinta.

    Image buruk yang disematkan pada seorang jomblo, muncul dari cara pandang yang salah dan konstruk sosial yang “menyebalkan”. Jika Anda berada dalam status jomblo atau single, maka yang harus dilakukan adalah mengubah cara pandang. Menjomblo bukan kutukan, perlu dicatat, bahwa seorang jomblo adalah orang yang benar-benar bebas. Ia bebas untuk kemana pun dan merdeka untuk memilih tanpa ada yang mendikte atau mengaturnya. Mereka memiliki kebebasan cukup sehingga mereka bisa mengatur ulang jalan hidupnya dan menempuh karir yang tepat bagi mereka.

    Seorang yang menyandang status jomblo, juga seorang yang bebas dari kurungan tanggung jawab dan rutinitas menyebalkan saat berpacaran. Misalnya, setiap pukul 7 pagi wajib menyapa kekasih, pada pukul 12 siang harus bertanya tentang kabar kekasihnya, pada sore hari harus menemani sang kekasih chatting hingga pulang kantor, dan pada malam harinya harus menelpon kekasih. Rutinitas membosankan itu tentu tidak akan dialami oleh seorang jomblo. Betapa bahagianya kan menjadi seorang jomblo? Haha!

    Bagi saya, setidaknya ada 4 poin-poin yang harus Anda pikirkan tentang seorang jomblo. Pertama, fokus pada karir dan tujuan. Kalau kita melihat di  Jepang dan Korea Selatan, negara-negara impian muda mudi Indonesia ini justru memiliki kecenderungan yang berbeda dengan masyarakat Indonesia. Jika di Indonesia melihat banyak orang menikah adalah jalan hidup, di dua negara maju ini, generasi mudanya justru enggan menikah (CNBC Indonesia, 15/12/2019).

    Salah satunya adalah merintis karir. Seorang jomblo akan lebih mudah menata hidupnya dan masa depannya. Status jomblo harus dijadikan momentum untuk bangkit dari keterpurukan. Buatlah perencanaan untuk hidup Anda dan gunakan waktu seefisien mungkin.

    Kedua, kebebasan diri sendiri. Pepatah menyebutkan, bahwa sebelum mencintai orang lain maka cintailah diri sendiri. Dengan mengenal diri sendiri, maka seorang jomblo akan mengenal potensinya dan juga bersyukur atas kebebasan yang ia dapat. Tak terjebak oleh toxic relationship yang justru tidak membuat hidup terasa menyenangkan. Memilih untuk tetap seorang diri membuat Anda mengetahui apa yang harus dilakukan untuk menyenangkan diri sendiri sehingga jangan dibuat pusing, tetap enjoy dan lakukan apa yang menurut Anda menyenangkan.

    Ketiga, perbanyak teman tanpa batas. Banyak orang yang bilang bahwa jomblo itu kesepian. Faktanya tidak seperti itu. justru jomblo sendiri menjadi peluang untuk memperbanyak teman. Berteman dengan banyak orang dengan siapapun akan menghempaskan kesepian. Justru teman-temanlah yang biasanya paling tahu tentang diri Anda dan mereka paling pengertian ketika Anda terpuruk. Karena itu, menjomblo justru adalah momentum baik untuk memperbanyak teman dan jaringan, serta menghabiskan waktu menyenangkan dengan teman-teman Anda.

    Terakhir, terhindar dari hubungan yang buruk. Menjadi single atau jomblo adalah momentum yang baik untuk memperbaiki diri dan kualitas hidup. Jika Anda tidak mau selamanya menyandang status single, maka manfaatkan waktu ini untuk memantaskan diri dan menyeleksi teman hidup. Seorang jomblo yang baik adalah orang yang mengetahui bahwa cinta lebih tinggi ketimbang memuaskan hasrat seksual. Dengan demikian, Anda harus berhati-hati memilih orang yang menjalin hubungan hanya untuk “kesenangan” atau “kebahagiaan” panjang.

    Orang yang mampu mempertahankan status single hingga beberapa tahun berarti mereka adalah orang yang paling siap untuk menikah dan menjalin hubungan rumah tangga. Sebab, mereka berpandangan bahwa urusan cinta bukanlah permainan tetapi prioritas kebahagiaan. Karena itu, mereka yang memupuk diri di masa jomblo adalah orang yang sangat siap dalam berumah tangga.

    Beberapa poin di atas bisa menjadi pertimbangan bahwa status jomblo bukanlah hal buruk dan menakutkan. Justru di saat sendiri, seorang jomblo bisa memupuk kualitas diri sehingga siap untuk menjalin hubungan pada waktunya. Kelebihan dari seorang jomblo adalah mereka mandiri dan bertanggung jawab. Mereka mengetahui apa yang menyenangkan untuk dirinya tanpa menyakiti orang lain.

    Berbeda dengan kebanyakan anak muda saat ini yang tak tahan dengan stereotipe jomblo, sehingga merasa terbebani dan berusaha secepat mungkin agar tidak melajang, para jomblo menikmati hidupnya dengan intelektualitas, hobi, atau hal-hal yang menyenangkan diri. Mereka juga orang yang menghargai cinta sehingga tidak menjadikan perasaan orang lain untuk penghiburan atau kesenangan pribadi.

    Pun di masa sekarang, orang harus sadar bahwa menikah bukanlah serangkaian tradisi atau sekedar melangsungkan adat orang-orang terdahulu. Menikah adalah momentum untuk saling mengisi dan membahagiakan satu sama lain. Mereka yang terjebak nikah muda, biasanya jatuh ke dalam hubungan “neraka” yang dia sendiri pasrah pada nasibnya.

    Karena itu, manfaatkan masa single atau jomblo Anda untuk memperbaiki diri, menjalin relasi dan mempersiapkan masa depan yang bahagia. Jika di masa depan Anda memutuskan untuk menikah, maka masa-masa jomblo dapat menjadi masa yang tepat untuk melatih diri Anda menjadi pribadi yang lebih baik. Jika Anda memutuskan untuk hidup sendiri, maka Anda tetap bisa berbahagia dan menikmati hidup.

     

    Referensi

    https://www.krjogja.com/berita-lokal/diy/yogyakarta/lima-cara-pria-jawa-raih-kesempurnaan/ Diakses pada 20 Januari 2021, pukul 14.26 WIB.

    https://historia.id/kuno/articles/istri-setia-sampai-sati-PdWV7/page/2 Diakses 20 Januari 2021, pukul 14.31.

    https://www.cnbcindonesia.com/news/20191215192134-4-123245/darurat-3-negara-ini-pusing-penduduknya-pada-ogah-kawin Diakses pada 24 Januari 2021, pukul 19.09 WIB.