Menghidupkan Kembali Semangat Gus Dur

    232

    Beberapa waktu yang lalu, penulis diundang sebagai tim media untuk menghadiri acara akbar, Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) yang diselenggarakan di Lampung. Bersama dengan beberapa kawan, perjalanan menuju Lampung penulis lalui dengan menaiki kapal laut.

    Perjalanan ke Lampung cukup nyaman dan menyenangkan, apalagi dengan naik kapal, pemandangan indah Laut Jawa benar-benar tampak jelas. Namun sayangnya, nakhoda mengemudikan kapal terlalu lambat, suara biduan yang berada di ruang tengah juga begitu memekakkan telinga (mungkin karena sound system-nya agak rusak), sehingga kenyamanan penumpang jadi terganggu.

    Namun kejadian kecil seperti itu tak mempengaruhi antusiasme kami untuk datang ke acara Muktamar NU. Saat tiba di darat, banyak poster-poster politisi terpasang di setiap arah. Pemandangan poster para politisi tersebut membuat pemandangan jadi tak nyaman, sama seperti suara yang sember di kapal tadi yang bikin sakit telinga.

    Namun hal itu wajar saja. Sebagai organisasi Islam terkemuka yang memiliki jutaan pengikut, wajar saja jika para politisi berlomba-lomba untuk menjadi “mitra” warga NU. Entah itu untuk mendapatkan suara, dukungan, atau hanya sekedar ingin eksis saja, agar terlihat partainya agamis.

    *****

    Muktamar kali ini tampak berbeda dengan Muktamar NU sebelumnya. Dalam muktamar kali ini, seluruh kontestan calon ketua NU dan juga masyarakat yang hadir adalah mereka yang mengusung mimpi dan cita-cita Gus Dur untuk dibumikan kembali oleh NU.

    Wajah Gus Dur terpampang dalam muktamar kali ini dan kaos bertulis “Abdurrahman Wahid” terlihat di sekeliling bazar. Mereka yang hadir pun bukan lagi tokoh-tokoh asing, sebut saja Savic Ali, Gus Nuril, Habib Luthfi, Guntur Romli, Zuhairi Misrawi, dan para tokoh lain yang dikenal sebagai murid-murid Gus Dur atau minimal turut mengibarkan panji pemikiran Gus Dur.

    Said Aqil Siradj contohnya. Beliau adalah Ketua Umum PBNU sekaligus salah satu sosok yang paling dekat dan “fanatik” terhadap konsep toleransi Gus Dur. Dalam pidato sambutannya, kata tawasuth (sikap moderat), tasamuh (toleran), perdamaian, dan keadilan selalu diulang-ulang. Istilah ini sangat familiar karena terdapat dalam ratusan artikel karangan Gus Dur yang pernah penulis baca.

    Begitu pula ketika Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) hadir ke muka umum. Sosok yang kini terpilih sebagai Ketum PBNU yang baru ini adalah salah satu murid Gus Dur yang selalu konsisten menyuarakan toleransi, kebebasan, dan perdamaian antar agama.

    Saat rekan-rekan pers bertanya pada Beliau mengenai visi dan misinya untuk menahkodai kapal besar bernama Nahdlatul Ulama, dengan tegas ia menjawab, “Saya ingin menghidupkan Gus Dur”. Menghidupkan di sini tentu bukan seperti mukjizat yang dilakukan oleh Yesus Kristus, tetapi menghidupkan kembali spirit perjuangan Gus Dur.

    “Gus Dur masih relevan sekarang dan akan sangat relevan terus sampai jangka waktu yang lama di masa depan karena visi, misi dan kinerja Beliau yang sangat luar biasa, ” paparnya (Pedomantangerang, 24/12/2021).

    Muktamar NU secara keseluruhan berjalan dengan lancar, setiap pihak saling bergandeng tangan, tanpa ada pertikaian dan perpecahan, tak ada arogansi dan ngotot-ngototan, semua berjalan secara lancar dan cepat, sebagaimana sikap Gus Dur yang tak mau repot. Gitu aja kok repot!

     

    Mengingat Perjuangan Gus Dur

    Bagi penulis pribadi, Muktamar NU yang baru lalu bukan sebuah pemilihan ketua umum, tetapi sebuah reuni, reuni akbar para murid dan pengaggum Gus Dur. Dari sini, penulis mendapat kesan bahwa pemikiran Gus Dur telah menang.

    Ingatan kolektif mengenai Gus Dur begitu tajam menghujam ke dalam hati masyarakat NU, begitu pula dengan warisan pemikirannya. Karena itulah, tak ayal dalam forum Bahtsul Masail (forum fatwa NU) para Kyai mengangkat isu gender, misalnya mengenai kedudukan transpuan atau transeksual.

    Padahal, sebagaimana kita tahu, isu mengenai gender ini merupakan isu “sensitif”’ yang kerap dihindari oleh para Kyai dan ulama. Banyak ulama yang bungkam ketika dimintai fatwa mengenai kaum transeksual, dan mereka yang menyandang kelamin ganda (khuntsa). Namun, hanya Gus Dur yang berani bersuara lantang membela mereka.

    Banyak para tokoh dan agamawan yang melontarkan kalimat miring soal transeksual. Mereka yang memiliki perbedaan dalam ranah gender mendapat diskriminasi dari masyarakat karena dituduh melanggar kodrat ilahi.

    Hanya Gus Dur yang berani lantang membela mereka yang disudutkan. Ketika Dorce Gamalama (Bunda Dorce) disudutkan oleh banyak orang, Gus Dur yang membela Dorce. Selain itu, pernah juga ketika banyak masyarakat menolak pelaksanaan kegiatan pemilihan Putri Waria Indonesia 2006 di Jakarta. Tetapi malah Gus Dur dengan berani mendukung pelaksanaan kegiatan tersebut, bahkan Beliau ikut menghadirinya langsung (Timesindonesia.com, 10/5/2020).

    Gus Dur berani berseberangan dengan kebanyakan orang, karena kemanusiaan. Gus Dur yakin bahwa membela mereka yang lemah adalah bagian integral dalam agama Islam. Tak ada celah sedikitpun yang diberikan oleh agama untuk menyudutkan mereka yang dimarginalkan.

    Penulis pikir wajar saja pemikiran Gus Dur sangat kental merasuki suasana muktamar, karena dalam naungan dan komando Gus Dur, NU menjadi kapal besar yang berlayar dengan akselerasi yang cepat, nyaman, dan membuat para penumpang merasa tenang.

    Gus Dur menggunakan bahasa agama cinta yang merupakan bagian yang universal diterima setiap pemeluk agama. Sosok seorang muslim yang melindungi kaum minoritas dari arogansi mayoritas. Sosok yang berusaha menjabarkan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari. Seolah-olah Beliau ingin berkata: “Islam itu gampang kok, cintai sesama dan berbuat adil pada setiap orang.

    Muktamar selesai tepat pada 24 Desember, malam kudus yang diyakini oleh umat Nasrani sebagai hari sukacita dan kedamaian. Para tokoh di muktamar tak lupa mengucap selamat natal di media sosialnya, ini yang menjadi bukti bahwa muktamar ini benar-benar diwarnai oleh semangat Gus Dur.

    Para pedagang dan wong cilik disekitar muktamar juga mendapat “barokah” Gus Dur, dagangan mereka laris bahkan dalam satu hari mereka bisa meraup untung jutaan rupiah. “saya dapat Rp9 juta, yang di sana malah mendapat Rp15 juta,” kata seorang pedagang makanan kaki lima di lokasi muktamar.

    Terbayang di kepala saya, seandainya Gus Dur tak lahir sebagai kyai, tapi sebagai nakhoda kapal yang saya tumpangi, mungkin kapal akan berjalan cepat membawa para penumpang dengan selamat ke seberang tujuan tepat waktu. Atau jika Gus Dur terlahir sebagai musisi, mungkin musik di kapal tadi akan selaras harmoni sehingga empuk di telinga.

    Terimakasih Gus Dur sudah menginspirasi kami…

     

    Referensi

    https://pedomantangerang.pikiran-rakyat.com/nasional/pr-073310457/terpilih-sebagai-ketua-pbnu-gus-yahya-saya-tak-mungkin-menggantikan-gus-dur Diakses pada 30 Desember 2021, pukul 17.34 WIB.

    https://www.timesindonesia.co.id/read/news/270524/gus-dur-waria-dan-ferdian-paleka Diakses pada 30 Desember 2021, pukul 18.04 WIB.