Mengenang Charles Darwin dan Karyanya: Memperingati 161 Tahun The Origin Of Species

    474

    Siapa yang tidak mengenal Charles Darwin? Karyanya yang paling berpengaruh, The Origin of Species, merupakan salah satu buku paling fenomenal yang dianggap mengubah wajah peradaban manusia. Meskipun banyak orang yang menghujatnya, namun tidak sedikit pula orang yang menganggap Darwin sebagai pahlawan ilmu pengetahuan. Karya-karyanya seperti The Voyage of Beagle, The Descent of Man, dan tentunya The Origin of Species, telah membuka cakrawala baru dalam dunia biologi.

    Pada bulan November 2020 ini, kita mengenang 161 tahun penerbitan buku tersebut. The Origin of Species, yang menjelaskan tentang transformasi makhluk hidup dan bagaimana keanekaragaman terjadi. Buku ini sejak diterbitkan tahun 1859, hingga sekarang, masih terus memantik perdebatan panjang antara teolog dan ilmuwan, dan mungkin hingga akhir zaman.

    Jika kita membaca The Origin of Species, seolah-olah penulis sedang menuturkan sebuah kisah. Penulis buku ini sangat pandai membuat nyaman pembaca dan menjelaskan hal-hal yang rumit menjadi sederhana dan mudah dipahami, seperti penjelasannya mengenai asal usul makhluk yang hidup di daratan yang berevolusi dari makhluk air.

    “Kantung renang pada ikan adalah contoh yang baik, karena menunjukkan dengan jelas pada kita faka, bahwa sebuah organ yang memiliki satu tujuan tertentu, yaitu untuk mengapung kemudian  dapat berubah menjadi organ untuk bernafas (paru-paru). Maka, tampak bagi saya tidak ada kesulitan besar untuk percaya bahwa seleksi alam telah benar-benar mengubah kantung renang menjadi paru-paru atau organ yang digunakan secara khusus untuk bernafas. (Darwin, 2015).

    Hal ini misalnya, berbeda dengan Isaac Newton yang menguraikan teori ilmiahnya dengan rumus-rumus matematika yang rumit dan tidak jarang membuat orang awam bingung. Dalam bukunya, Darwin berusaha menjelaskan secara sederhana bukti-bukti evolusi dan perubahan makhluk hidup yang rumit dan membingungkan dengan bahasa yang ringan dan penjelasan sederhana yang mudah dicerna.

    Buku The Origin of Species bisa dikatakan sebagai catatan perjalanan intelektual Charles Darwin. Ekspedisi ilmiahnya melalui pelayaran HMS Beagle yang hampir mengunjungi seluruh dunia, dari Inggris ke Amerika Selatan, hingga ke Maluku hingga sampai di Australia. Pengamatan Darwin tentang lingkungan makhluk hidup kemudian mendorongnya untuk menelurkan gagasan tentang evolusi biologis mahluk hidup.

    Bahwa variasi dan keanekaragaman makhluk hidup tidak muncul seketika, namun melalui proses evolusi, dari suatu makhluk berkembang menjadi makhluk lainnya dengan memakan proses rentang waktu yang lama. Gagasan Darwin ini membuat gempar negeri Inggris, dan menjalar ke benua Eropa. Darwin tidak hanya mendapat penolakan dari kalangan ilmuwan konservatif, tetapi juga mendapat kutukan dari masyarakat dan juga dari agamawan.

    Agamawan mengutuk dan menganggap gila gagasan evolusi Darwin dan masyarakat menjauhinya sebagai ilmuwan gila. Ada hal menarik yang ingin saya sebutkan di sini. Dalam buku “MADILOG” karya Tan Malaka, Tan Malaka menceritakan bahwa sejak penerbitan buku The Origin of Species, Darwin masih tetap rutin ke Gereja, walau ia mendapat kecaman keras dari institusi Gereja (Malaka, 2014).

    Pendeta yang memimpin misa kemudian berceramah yang isinya mengutuk teori evolusi yang dikembangkan oleh Darwin. Segala kutuk dan dalil-dalil yang terhimpun dalam Alkitab, disebutkan satu persatu oleh si pendeta untuk mempermalukan Darwin yang berada di sudut ruangan. Darwin tahu bahwa ia tak mungkin berdebat di Gereja. Bagi Darwin, lebih mudah unta masuk ke dalam lubang jarum ketimbang agamawan menerima gagasannya, sehingga ia bergegas pulang (Malaka, 2014).

     

    Ruang Hidup Bagi Ilmu Pengetahuan

    Charles Darwin mungkin masih bisa dikatakan mujur. Ia hanya mengalami diskriminasi, pengucilan, serta hujatan dari orang-orang awam, rekan seprofesi, dan Gereja. Jika kita mundur ke 300 tahun yang lalu, ilmuwan seperti Giordano Bruno yang meyakini bahwa bumi bukan pusat semesta, dihukum penjara hingga kemudian dibakar hidup-hidup. Galileo pun mendapat perlakuan yang menyedihkan. Ahli matematika dan fisika ini dihukum penjara seumur hidup karena pandangannya mengenai Heliosentrisme.

    Di dunia Arab, filsuf sekaligus Ilmuwan seperti Al-Kindi dan Ibn Rusyd juga hidup sengsara. Ia dikucilkan oleh masyarakat dan dihukum buang di desa terpencil oleh penguasa pada masa itu. Dalam sejarah, banyak ilmuwan dan pemikir yang ditangkap, dikucilkan, bahkan dibunuh karena pemikirannya. Padahal, dalam peradaban manusia, ilmuwan memiliki peran besar bagi manusia. Para ilmuwan bekerja bukan hanya untuk memuaskan hasrat kuriositasnya. Lebih dari itu, ilmuwan memberikan hasil penelitiannya untuk kemajuan manusia.

    Seperti Sigmund Freud, seorang bapak psikologi modern, teorinya tentang histeria dan alam bawah sadar banyak dikecam oleh dokter di zamannya. Teorinya tentang libido juga dianggap menentang moral dan juga menentang arus utama pengetahuan di zamannya. Namun, lama kelamaan, pandangan Sigmund Freud tentang alam bawah sadar dan juga teori psikoanalisa telah memberikan sumbangsih besar terhadap ilmu psikologi dan medis.

    Begitu pula ketika eksplorasi ruang angkasa menjadi prioritas Amerika dan Uni Soviet, banyak orang mencela program tersebut sebagai program tak berguna. Bahkan, insinyur roket Warnher Von Braun, menjadi bahan ejek dan dikecam karena programnya dianggap sia-sia dan menghabiskan uang negara. Namun kenyataannya, program ruang angkasa dan satelit dari Von Braun terbukti memberi manfaat bagi kita sekarang. Jaringan satelit telah mempermudah komunikasi lintas negara dan tentu saja menjadi fondasi penting bagi jaringan internet.

    *****

    Ilmu pengetahuan membutuhkan sebuah ruang hidup. Ruang hidup itu adalah jaminan kebebasan yang harus diberikan oleh pemerintah dan masyarakat kepada para ilmuwan. Jika sebuah penelitian dihambat hanya karena “menentang” moralitas, keyakinan, serta dianggap tidak berguna, maka cepat atau lambat, peradaban manusia akan mandek.

    Perlu dicatat pula, bahwa kemajuan ekonomi modern juga membutuhkan kemajuan ilmu pengetahuan. Penguasaan suatu negara terhadap ilmu pengetahuan akan menjadi modal bagi negara tersebut untuk mengembangkan perekonomian mereka.

    Kembali lagi pada buku The Origin of Species yang ditulis Darwin, siapa yang mengira bahwa teori evolusinya bukan hanya mengembangkan dunia biologi, tetapi juga dunia medis bahkan dalam ilmu sosial. Walaupun teori evolusi sempat diacuhkan dan juga dikecam sebagai “teori sesat”, namun saat ini dunia modern tak bisa dilepaskan dari teori evolusi tersebut.

    Bahkan, ketika pandemi virus COVID-19 merajalela seperti sekarang, dalam mengembangkan sebuah vaksin atau obat, ilmuwan harus memperhatikan kecenderungan evolusi sebuah virus yang menjadi sumber penyakit. Jika teori evolusi ditolak, pasti vaksin COVID-19 tidak akan pernah ditemukan.

    Kehidupan Charles Darwin dan juga bukunya menjadi pelajaran untuk kita, bahwa ilmu pengetahuan memerlukan ruang hidup berupa kebebasan ilmiah dan juga kebebasan dalam mengemukakan hasil pemikirannya. Jika politik dan keadaan sosial menangkap seorang ilmuwan dan mengekang pemikirannya, itu sama saja dengan menghambat kemajuan dan akibatnya adalah kemunduran peradaban manusia.

     

    Referensi

    Darwin, Charles. 2015. The Origin of Species: Teori Evolusi Manusia. terj. Ira Tri Onggo. Yogyakarta: Indoliterasi.

    Malaka, Tan. 2014. MADILOG: Materialisme, Dialektika, dan Logika. Yogyakarta: Narasi.