Mengenang 11 tahun Wafatnya Gus Dur

    111

    Memang benar kata pepatah, “Jika orang yang dicinta sudah tiada, maka kehadirannya baru terasa”. 30 Desember mungkin bagi sebagian orang adalah hari yang tidak bisa dilupakan. Tepat hari ini, seorang tokoh besar, pejuang kebebasan, dan humanis sejati, pergi selamanya menghadap Allah, Tuhan Semesta Alam. Beliau adalah Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa dengan Gus Dur.

    Orang tuanya memberi nama Abdurrahman Adakhil, diambil dari salah seorang pahlawan yang berhasil membebaskan Andalusia. Nama “Adakhil” artinya adalah sang penakluk. Rasanya, nama ini tidak terlalu besar jika dinisbatkan pada seorang Gus Dur. Namun, orang tuanya kemudian mengubah “Adakhil” menjadi “Wahid” yang lebih akrab di telinga masyarakat Indonesia.

    Siapa yang tak kenal Gus Dur? Beliau adalah seorang tokoh yang dikenal sebagai pegiat kemanusiaan, cendekiawan, dan aktivis pro demokrasi, yang gemar memberi perlindungan dan dukungan bagi mereka yang dirampas keadilan. Selain dikenal sebagai tokoh yang humanis, Gus Dur juga dikenal sebagai sosok yang humoris. Guyon-guyon segarnya membuat orang menjadi ceria dan gembira. Bisa dikatakan, Gus Dur adalah seorang manusia yang serba bisa. Sehingga, tak heran banyak orang yang mengkultuskan Beliau, termasuk rekan-rekannya sendiri.

    *****

    Ada empat rahasia yang hanya Tuhan yang mengetahui jawabannya. Kiamat, kematian, jodoh, dan keempat, Gus Dur.” Begitulah seloroh Nurcholish Madjid, atau yang akrab disapa Cak Nur, menggambarkan sosok Gus Dur. Selain sebagai seorang yang humanis sekaligus humoris, Gus Dur adalah tokoh yang mungkin mustahil dibaca secara menyeluruh.

    Nanang Tahqiq, dalam esainya, Gus Dur seperti Angin, menulis, “Gus Dur dengan enak dan enteng menemui siapa saja. Dengan mesra dia bergandeng tangan dengan Megawati, juga menenteng Tutut (anak Soeharto) ke pesantren. Tak ada kata dendam untuk sekedar menemui Habibie dan Soeharto setelah lengser. Amien Rais dan Akbar Tanjung adalah orang-orang yang ditemui secara biasa tanpa keistimewaan apa-apa. Sebisa mungkin menemui L.B. Moerdani dan CSIS. Mendukung Partai Rakyat Demokratik, membekap Kong Hu Cu, dan melindungi Theo Sjafei” (GAMMA, 25/7/1999).

    Ketika suhu politik sangat memanas di tahun 1998-1999, Indonesia hampir saja jatuh ke dalam perang saudara. Setiap tokoh politik saling menuduh satu dan lainnya sebagai anti reformasi. Mahasiswa terus berdemo menuntut perubahan, dan beberapa provinsi menuntut referendum dan kemerdekaan. Tokoh-tokoh Islam garis keras juga mulai muncul dan menuntut formalisasi hukum syariah sebagai solusi kebangsaan.

    Di saat kondisi tengah kritis dan carut marut perpolitikan yang tak membawa harapan. Gus Dur, seorang ulama sekaligus cendekiawan, justru melompat ke panggung politik. Beliau menabrak segala “kenormalan politik” dan meyakinkan publik bahwa dirinya adalah jawaban atas kenestapaan kondisi sosial-politik Indonesia yang awut-awutan dan nyaris jatuh ke dalam lembah perpecahan.

    Gus Dur melakukan dialog dengan para mahasiswa dan silaturahmi dengan para jenderal. Beliau menegaskan posisisnya sebagai tokoh pro demokrasi dan reformasi, sembari sowan ke tokoh-tokoh Orde Baru dan bertandang ke rumah Suharto. Gus Dur juga bersahabat dengan Megawati dan Amien Rais, sekaligus menjalin hubungan erat dengan Habibie dan Akbar Tanjung.

    Benar ungkapan Nanang Tahqiq di atas, Gus Dur seperti angin. Ini menunjukan sisi kemustahilan untuk memahami Gus Dur secara menyeluruh bahkan rekan-rekannya pun geleng-geleng kepala. Ada yang bilang bahwa Gus Dur adalah waliyullah yang perbuatannya di luar jangkauan akal manusia umum. Ada juga yang berkata dalam diri Gus Dur terdapat pluralitas.

    Meskipun demikian, tidak ada yang menyangkal bahwa sikap politik Gus Dur yang sulit ditebak ini justru berbuah manis bagi kelanjutan bangsa ini. Jika kita berefleksi sedikit tentang apa yang telah dan sudah dilakukan Gus Dur, nyatalah bagi kita bahwa tindakannya adalah representasi seorang humanis sekaligus demokrat sejati.

    Ketika Indonesia dilanda krisis dan perpecahan (setiap golongan merasa benar dan saling menuntut), Gus Dur hadir dengan semangat “rekonsiliasi nasional”. Benar bahwa secara sosial dan politik, Indonesia harus segera melakukan reformasi. Namun, reformasi akan berjalan dengan baik jika setiap pihak saling menahan diri dan mencoba membuka dialog.

    Ketika Gus Dur terpilih sebagai presiden mengalahkan Megawati, Gus Dur tak hanyut dalam selebrasi dan tidak menyombongkan diri bahwa Beliau sanggup menyelesaikan semua masalah-masalah bangsa. Dengan penuh kerendahhatian, Gus Dur merangkul Megawati dan mengajak massa nasionalis untuk turut mendukung upaya pemulihan bangsa.

    Sebagai pendukung reformasi, Gus Dur tak serta merta ikut “menendang” Suharto dan kroninya ke lembah hitam. Tetapi, Gus Dur merasa Suharto dan Orde Baru secara de facto adalah bagian dari bangsa ini dan telah berkontribusi besar bagi pembangunan bangsa. Demokrasi sebagai sistem pro rakyat, harus mendudukkan setiap kelompok dan golongan dalam meja musyawarah, tidak harus saling gontok-gontokan atau sok bicara “heroik” di depan media untuk menyelesaikan kemelut politik.

    Saat mahasiswa dan para tokoh menuntut untuk pencabutan Dwifungsi ABRI, Gus Dur tidak serta merta bersikap “revolusioner” menghentikan seluruh kegiatan tentara yang berada di sektor-sektor sipil, tetapi Beliau mengurangi porsi militer. Seperti menangani masalah Papua, Aceh dan RMS, Gus Dur mengetengahkan sikap dialog dan bukan operasi militer.

    Gus Dur melihat Indonesia sebagai taman bunga. Dalam taman bunga yang indah, tumbuhan rumput dan benalu yang jelek pun akan tampak harmonis dan indah. Ketika banyak orang tak paham gerak politik dan langkah-langkahnya, kini kita semua justru sangat merasakan pengaruhnya. Bayangkan saja, jika bukan Gus Dur yang terpilih, mungkin Indonesia akan terpecah-pecah seperti Yugoslavia, atau yang lebih buruk lagi, jika Gus Dur tak mengedepankan dialog, mungkin Indonesia akan terus merasakan perang saudara seperti Afghanistan.

    Ya semua itu berkat jasa Gus Dur dan ke-nyeleneh-an dirinya. Seperti kata Fachry Ali, bahwa “Gus Dur itu sudah dianggap wali” (Gatra, 19/7/1999). Wali dalam kultur Islam tradisional, adalah salah satu sosok keramat yang tindakannya dianggap irasional, namun memberi banyak berkah kepada masyarakat. Benar tidaknya, kita kembalikan kepada pembaca. Namun yang pasti, berkat pendekatan humanis ala Gus Dur, kita masih hidup sebagai suatu bangsa. Untung aja ada Gus Dur!

     

    Referensi

    Majalah

    Hidayat, Tantowi. “Opo Jare Gus Dur (Apa Kata Gus Dur)”. Majalah Gatra, No 25, Th. 1. 19 Juni 1999.

    Tahqiq, Nanang. “Gus Dur seperti Angin”. Majalah Gamma, No 7. 25 Juli 1999.