Mengenal si “Tangan Gaib”

    63

    Jika kita mendengar istilah gaib, pasti yang terbayang oleh kita adalah sosok makhluk gaib yang irasional, misterius, dan juga tidak dapat dinalar secara ilmu pengetahuan. Pandangan ini memang dianut oleh sebagian besar masyarakat kita yang masih terjebak dalam “logika mistik.”

    Kata gaib dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) merujuk pada sesuatu yang tak kasat mata, tersembunyi, tidak kelihatan, tidak diketahui sebab-sebabnya, atau rahasia, aneh dan sebagainya (KBBI, 1991). Dengan kata lain, sesuatu yang gaib berarti adalah sesuatu yang tidak terlihat dan juga nampak sukar untuk diketahui.

    Dalam teologi, istilah gaib sering disamakan dengan metafisika, yang berarti sesuatu dibalik alam fisik, seperti Tuhan, wahyu, malaikat, dan makhluk gaib lainnya. Tidak ingin berpanjang lebar, tulisan ini akan membahas sesuatu yang berkaitan dengan si kasat mata tersebut. Tentu saja bukan jin, genderuwo, kuntilanak, atau makhluk-makhluk gaib yang sudah mahsyur di masyarakat Indonesia, tetapi dalam ranah ekonomi, yaitu konsep mengenai “invisible hand” atau “tangan gaib”.

    Dalam berbagai diskusi dan karya tulis, terkadang teman-teman pegiat sosialisme dan mereka yang menjunjung nasionalisme ekonomi sering mengkritik konsepsi “tangan gaib” yang dipegang oleh libertarian atau ekonom pasar bebas sebagai mitologi, irasional, bahkan dogma/ Para pengkritik pasar bebas, melihat bahwa prinsip tangan gaib atau invisible hand adalah sebuah gagasan yang sukar diterima, secara sederhana, bagaimana pasar yang berjalan secara rasional dan empiris, bisa dikendalikan oleh sebuah sosok tak terlihat (bahkan imajiner) seperti yang dikemukakan oleh pendukung pasar bebas.

    Memang harus digarisbawahi, bahwa pandangan ekonomi libertarian sangat menekankan kebebasan pasar, meyakini bahwa pasar itu rasional, dan tidak ada paksaan dalam kegiatan transaksi. Pengaturan dan kediktatoran seseorang dalam mengintervensi pasar sangat tidak dibenarkan. Lalu siapa yang mengatur pasar? Jawabannya, mekanisme pasar (dengan memberikan kebebasan pada setiap orang) akan “diatur” oleh si tangan gaib (invisible hand).

    Invisible hand adalah prinsip utama yang dipegang oleh para pendukung pasar bebas. Tangan gaib merupakan salah satu faktor penting dalam mekanisme ekonomi. Dalam perspektif libertarian, kegiatan ekonomi manusia merupakan hal yang berjalan secara alamiah. Melalui keteraturan spontan di dalam pasar, baik pengadaan komoditas, harga, dan juga transaksi di dalamnya berjalan dengan seimbang bagaikan diatur oleh tangan gaib yang mengatur rancangan tersebut.

    Gagasan mengenai tangan gaib inilah yang menjadi fokus kritik dari para sosialis dan ekonom “nasionalis.” Beberapa ekonom yang menolak pasar bebas beranggapan bahwa invisible hand adalah sebuah konsepsi abstrak, irasional, metafisik, bahkan dianggap hanya sebagai dogma kaum kapitalis. Hakikat dari konsepsi tangan gaib, menurut mereka adalah melegalkan persaingan yang tidak imbang dari para pelaku ekonomi. Kompetisi atau persaingan pasar yang bebas tanpa aturan inilah yang kemudian dibekukan sebagai gagasan laissezfaire yang dikontrol oleh sang tangan gaib.

    *****

    Mubyarto dalam buku Ekonomi Pancasila menganggap bahwa konsepsi ekonomi dan tangan gaib bagai sebuah dogma yang dibaliknya terdapat misi kapitalis untuk mengeksploitasi kekayaan (Mubyarto, 2003). Serupa dengan Mubyarto, Paul Ormerod dalam bukunya, The Death of Economics, menjelaskan bahwa konsep tangan gaib yang mengatur pasar hanya doktrin semata yang tak lebih dari tulisan dalam buku-buku teks para ekonom pasar bebas (Ormerod, 1999).

    Dalam suatu diskusi dengan kawan-kawan kiri, salah seorang teman saya melontarkan kritik mengenai konsep ini. Bagaimana mungkin kaum libertarian yang mengatakan bahwa pasar bebas yang berbasis pada rasionalitas individu terpaku pada konsep irasional berupa “tangan gaib” yang mengontrol pasar. Seolah-olah ia ingin mengatakan bahwa konsep tangan gaib tersebut adalah gagasan absurd yang tidak memiliki basis ilmiah.

    Kinerja ekonomi memang begitu rumit, mekanisme pasar yang saling kait mengait, kompleksitas antara konsumen-produsen-distributor, membuat sebagian orang menjadi “gatal” sehingga ingin merebut proses kerja si tangan gaib ke tangannya sendiri. Pemimpin Uni Soviet, Joseph Stalin misalnya, dalam risalahnya Masalah-Masalah Ekonomi di Uni Soviet, menjabarkan bahwa hukum pasar bisa diambil alih, dibentuk sesuai dengan kehendak manusia. Sehingga, alat-alat produksi dikuasai oleh masyarakat (negara), diproduksi dan didistribusikan oleh tangan negara bukan tangan gaib (Stalin, 1952).

    Dalam pandangan sosialisme, tangan pemerintah dinilai lebih rasional ketimbang tangan gaib yang tidak jelas. Campur tangan pemerintah dalam bidang ekonomi harus seketat dan sedetail mungkin agar mekanisme pasar berjalan dengan “adil” dan tidak ada eksploitatif. Bagi mereka, tangan gaib adalah representasi dari gambaran “chaotic” atau tak beraturannya pasar, sehingga golongan kapitalis dapat memanfaatkannya untuk kepentingan pribadinya.

     

    Mekanisme Tangan Gaib

    Dalam sebuah kisah, seorang dari Planet Mars datang ke Bumi untuk memperhatikan tingkah laku manusia. Makhluk Mars tersebut turun di sebuah desa dan tertegun melihat para petani dengan giat bekerja di ladang dan hamparan sawah yang luas. Untuk apa semua ini? Pikirnya. Lalu, ada seorang berkepala botak dan berbadan tambun yang datang membeli beberapa karung gandum dari lumbung si petani, dan lekas orang tersebut membawanya dan mengolah gandum itu dengan bentuk aneh.

    Tak jauh dari sana, makhluk Mars itu melihat sekelompok perempuan bekerja riang memintal pakaian, ada yang menjahit ada yang mencelup. Di padang rumput, dilihat orang-orang muda menggembalakan kambing, sapi, dan dipojok desa, ada pula yang menternakkan ayam. Makhluk Mars tersebut makin bingung dengan perilaku manusia. Untuk apa mereka berbuat begitu?

    Lalu, makhluk Mars melanjutkan perjalanannya, sampailah ia ke sebuah pabrik-pabrik yang membuat kerajinan tangan dari kayu atau dari baja. Walau tidak ikut bekerja, makhluk Mars tahu bahwa perbuatan manusia itu sangat menguras energi, sehingga datanglah beberapa buah kendaraan yang membawa barang-barang hasil kerajinan tersebut. Makhluk Mars mengikuti kemana barang itu dibawa. Ternyata barang tersebut dibawa ke sebuah kota.

    Di kota, ia menyaksikan berbagai macam barang dan kegiatan yang tak pernah ia duga. Ketika ia mengunjungi sebuah restoran, ia terkejut ketika melihat kursi dan meja yang pernah ia lihat di pabrik kerajinan. Lalu seorang pramusaji membawa hidangan berupa daging ayam dan roti, makhluk Mars tersebut menjadi terkejut karena bentuk aneh yang dibuat oleh orang berbadan tambun dan kepala botak itu adalah roti.

    Si makhluk Mars juga melihat orang-orang mengenakan pakaian tebal seperti yang dibuat oleh perempuan-perempuan di desa, akhirnya ia memberanikan diri untuk bertanya ke pramusaji, “Apakah Anda menyuruh orang di desa untuk bekerja di sawah menuai tanaman (gandum), membuat roti, memintal pakaian dan membuat kursi dan meja ini? Pramusaji menjawab “tidak”. Apakah mereka memberinya padamu?” tanya makhluk Mars lagi. Tentu, si pramusaji menjawab “tidak.” “Lalu bagaimana Anda mendapatkan ini semua?” tanya makhluk Mars yang keheranan.

    Si pramusaji menjelaskan bahwa mereka membelinya di toko dan menggunakan uang sebagai alat tukar. Mereka tidak memerintahkan si petani atau pembuat roti, mereka membayar barang yang mereka tawarkan dan mendapat apa yang dibutuhkan di pasar bukan didapat dari si pembuat langsung.

    Kisah di atas ditulis oleh Betrand Nogaro, ekonom Prancis dalam bukunya, Les Grands Problemes de l’Economie Contemporaine tahun 1951. Pemaparan di atas telah secara gamblang menjelaskan mekanisme ekonomi manusia yang begitu rumit dan pelik. Si produsen seperti si petani yang bekerja di ladang tidak mengenal langsung si pramusaji yang bekerja di restoran. Si pramusaji tidak memerintah atau menyuruh si petani. Ia juga tak mengerti bagaimana sebuah gandum di buat. Pun si petani tidak merasa diperintah oleh si pramusaji dan ia tak tahu akan digunakan seperti apa gandum yang ia buat di ladang.

    Lebih jauh, Bertrand Nogaro menjelaskan bahwa karena manusia memiliki perut, ingin melindungi tubuh dari cuaca, ingin menikmati hari-harinya dengan menyenangkan. Maka, manusia berlomba-lomba untuk mengejar kesenangan dan memenuhi kebutuhan dengan bekerja dan melakukan sesuatu yang menguntungkan. Pasar tercipta dari orang-orang kreatif yang ingin mengejar keuntungan, dari sinilah barang-barang tercipta dan akhirnya,  setiap orang dengan mudah dapat membeli kebutuhannya (Nogaro, 1951).

    Mekanisme rumit dari pasar inilah yang kemudian disebut Adam Smith sebagai ínvisible hand atau si tangan gaib. Pasar tidak diatur oleh seseorang raja atau diktator, para produsen tidak dipaksa untuk membuat sesuatu, dan para konsumen secara bebas membeli komoditas yang ia perlukan. Proses dari jual beli adalah proses spontan yang tidak diatur oleh siapapun.

    Setiap orang secara rasional tergerak untuk membeli apa yang menjadi kebutuhannya dan membuat sesuatu yang dianggap menguntungkannya. Mekanisme ekonomi yang rumit (tapi realistis) ini oleh Adam Smith dan Milton Friedman disebut dikontrol oleh tangan gaib, tangan gaib ini adalah metafora dari kinerja pasar yang bergerak secara bebas dan spontan. Justru karena kebebasan pasar membuat suatu mekanisme yang bergerak secara teratur, spontan dan alamiah, maka para ekonom liberal lebih menyukai metafora tangan gaib karena tidak ada “tangan diktator” yang mengontrolnya.

    Jadi jelas tuduhan bahwa tangan gaib atau invisible hand adalah sebuah dogma irasional, sebagaimana yang dikemukakan oleh para ekonom sosialis dan nasionalis, tidak berdasar sama sekali, keteraturan spontan dalam pasar adalah sebuah keniscayaan, dimana terdapat proses yang rumit dan tidak mungkin dapat dikontrol oleh tangan satu orang.

    Tidak ada yang memaksa harus membeli baju warna merah, hijau, atau putih seperti di China zaman Mao, tidak ada sistem penjatahan seperti di era Uni Soviet, tidak ada kontrol harga seperti di negara-negara sosialis dan totaliter, semua transaksi ekonomi berjalan secara sukarela sehingga menciptakan keteraturan.

    Mekanisme pasar berjalan secara realistis dan logis, ekonomi pasar  tercipta karena adanya kesukarelaan dan juga kebebasan. karena kebebasan inilah yang kemudian secara otomatis menciptakan keteraturan.  Hasil kerja tangan gaib lebih realistis dan sempurna dari tangan-tangan para diktator yang merasa dapat mengatur kehendak individu.

     

    Referensi

    Mubyarto. 2003. Ekonomi Pancasila. Yogyakarta: Pusat Studi Ekonomi UGM.

    Ormerond, Paul. 1999. Matinya Ilmu Ekonomi, terj. Parakitri Simbolon. Jakarta: Gramedia.

    Nogaro, Bertrand. 1951. Soal-Soal Besar Ekonomi Sekarang. Terj. M. Rasjad St. Soelaiman. Jakarta: Pustaka Rakyat.

    Stalin, Joseph. 1952. Economic Problems of Socialism in the USSR. New York: International Publisher.

    Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1991. Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi II. Jakarta: Balai Pustaka.