Mengapa Sains Sangat Membutuhkan Kebebasan

    1246

    Abad ini bisa disebut sebagai abad sains atau “Science Era”,  dengan laju perkembangan sains yang sangat luar biasa dan mengesanka.  Ilmu pengetahuan telah membuat kehidupan manusia menjadi lebih mudah dan nyaman. Komputer, handphone, lemari es, AC, radio, kendaraan bermotor, pengobatan  modern, dan sebagainya telah membuat peradaban kita lebih maju.

    Dominasi ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) sudah sedemikian kuatdalam kehidupan kita, serta tidak bisa lagi ditolak dan dihindari. Mitos, tahayul, cerita mistik sudah tidak bisa lagi atau tidak ampuh lagi untuk mengontrol hidup masyarakat, dimana yang menjadi pedoman dan pegangan manusia modern adalah ilmu pengetahuan dan teknologi.

    Ya, bukan hanya teknologi, namun ilmu-ilmu pengetahuan lainnya, seperti fisika, biologi, astronomi, kimia, sosial, ekonomi dan lainnya telah memdorong kita pada puncak peradaban yang kini dapat kita lihat dan nikmati secara langsung.

    Contohnya, jika Anda berkendara, tinggal tekan kunci motor/mobil, tak perlu pakai kuda atau andong. Jika Anda takjub pada langit dan planet-planetnya, Anda bisa melihat dengan jelas dengan teleskop. Ingin mandi, tinggal putar keran tanpa harus repot-repot ambil air di kali atau sumur. Ingin makan, sudah ada mie instan dan lemari es yang menjaga selama 24 jam agar makanan yang kita simpan tetap enak. Semua serba praktis dan juga membuat aktivitas kita lebih mudah.

    Kita harus berterima kasih kepada para ilmuwan yang telah bekerja keras untuk menghasilkan sebuah pengetahuan dan penemuan.  Seorang ilmuwan harus jungkir balik bahkan dibully hanya karena hasil penelitiannya. Ketika Darwin mengembangkan Teori Evolusi, ia dituduh sebagai “penista agama”. Namun, saat ini Teori Darwin bukan hanya disetujui, bahkan penelitian medis untuk dunia kedokteran menggunakan Teori Darwin untuk menjelaskan evolusi bakteri.

    *****

    Seperti tertulis di atas, bahwa kita sangat berterimakasih kepada para ilmwuan yang telah berdedikasi tinggi untuk menghasilkan sebuah penemuan dan teori. Namun, para ilmuwan  bisa bekerja dan meneliti dengan bebas, serta mengembangkan ilmu pengetahuan, karena adanya demokrasi dan kebebasan.

    Tanpa ada kebebasan dan jaminan hukum, para ilmuwan akan kesulitan dalam meneliti dan mempublikasi karyanya. Demokrasi dan kebebasan menjamin setiap orang, khususnya para ilmuwan, untuk bereksperimen dan mengemukakan pemikirannya tanpa takut ancaman dan kriminalisasi.

    Dalam dunia ilmiah, kebebasan sangat dibutuhkan. Bahkan kebebasan menjadi spirit dari ilmu pengetahuan itu sendiri. Mengapa? Sebab ilmu pengetahuan lahir dari ekspresi berpikir manusia yang takjub pada alam dan lingkungannya. Para filsuf atau ilmuwan kemudian menyusun sebuah teori (hasil pemikirannya), yang kemudian dipublikasikan agar bisa ditangkap oleh seluruh khalayak.

    Tanpa kebebasan, tak mungkin sang ilmuwan bisa mengemukakan pandangannya dan  secara aman. Kebebasan sangat penting dalam dunia ilmiah. Tanpa kebebasan ilmu akan mandeg, teori berubah menjadi dogma, dan sains tak ubahnya seperti mitos.

    Kebebasan berpikir dan bereksperimen telah dinikmati oleh para ilmuwan zaman sekarang, Ini bukti bahwa spirit kebebasan ilmiah  yang dijunjung tinggi oleh negara-negara demokratis, membuat para ilmuwan bersemangat dan terdorong untuk melakukan penelitian meneliti karena lingkungan yang kondusif dan insentif yang menyertainya. Tanpa jaminan kebebasan bagi para ilmuwan, mungkin ilmu pengetahuan di zaman ini akan berjalan lambat, bahkan bisa bisa malah mundur ke belakang.

    Ketika Ilmuwan Terikat Rantai

    Ibn Rusyd adalah seorang Ilmuwan Muslim yang terkenal di Andalusia (sekarang Spanyol). Ia adalah ahli filsafat, biologi, kedokteran dan juga ahli kosmologi. Bukan hanya sekedar ilmuwan, Ibn Rusyd juga seorang ulama ahli fiqh (hukum Islam) yang berpikiran liberal. Banyak para pejabat dan ulama yang membenci kecemerlangan Ibn Rusyd.

    Para politisi tak menyukai popularitasnya dan para ulama fundamentalis tidak suka pemikiran filsafat dan sainsnya yang dianggap menyimpang. Akhirnya, para politisi dan ulama menyebar isu sehingga masyarakat mengutuk Ibn Rusyd. Sebagai seorang ilmuwan sekaligus ulama, Ibn Rusyd hanya bisa pasrah ketika dipersekusi. Buku karyanya dibakar, dirinya dirantai, serta diarak, hingga akhirnya penguasa membuangnya ke suatu desa tempat pemukiman orang Yahudi di Lucena (Lausanne).

    Apa yang terjadi pada Ibn Rusyd juga terjadi pada seorang biarawan Khatolik, Giordano Bruno, yang meninggal akibat dibakar oleh otoritas Gereja dan massa yang marah olehnya. Bruno adalah sosok biarawan cerdas yang berani mengemukakan Teori Heliosentris (Bumi mengelilingi matahari), yang bertentangan dengan pengetahuan masyarakat yang dilegalkan oleh Gereja saat itu yang meyakini Bumi adalah pusat semesta (geosentris).

    Apa yang terjadi pada Ibn Rusyd dan Bruno hanya segelintir saja dari kisah kepedihan para ilmuwan di masa lalu. Camkan juga Socrates dihukum mati dan Aristoteles diusir dari Athena oleh para politisi karena filsafatnya menentang paradigma masyarakat arus utama. Para ilmuwan di zaman dahulu begitu terkekang dan terbatas dalam menyampaikan pemikiran dan penelitiannya. Tak jarang seorang ilmuwan ditangkap bahkan dihukum mati hanya karena teori penemuannya dianggap “meresahkan publik”.

    *****

    Memberikan kebebasan bagi para ilmuwan sama saja seperti membebaskan ikan untuk berenang di lautan lepas. Para ilmuwan membutuhkan jaminan keamanan dan dukungan untuk melakukan pekerjaan ilmiah. Pengekangan berpikir dan pembatasan dalam bereksperimen sama saja mengurung seorang ilmuwan dalam jeruji besi.

    Kebebasan akan menimbulkan inovasi dan dorongan untuk berkreasi. Seorang ilmuwan membutuhkan kebebasan agar ia dapat bekerja dengan aman dalam mengembangkan penelitiannya. Ilmu membutuhkan kebebasan. Tanpa kebebasan ilmiah, ilmu seperti burung dalam sangkar. Mari kita ambil contoh dari Iptek yang berkembang di Uni Soviet dan Amerika.

    Ketika perusahaan Komputer Amerika, IBM, meluncurkan komputer generasi ke-4: Personal Computer (PC) 5150, di tahun 1981. Sementara, Uni Soviet di dekade yang sama, masih berkutat pada Komputer Elbrus 3 yang bentuknya sebesar kulkas dan efisiensinya jauh tertinggal dari komputer buatan Amerika yang sudah praktis dan bisa dioperasikan di kantor-kantor dan rumah pribadi. Baru pada tahun 1985, mereka mulai dapat memproduksi komputer BK-0010 yg digunakan di setiap rumah dan kantor.

    Mengapa Uni Soviet yang jago nomor wahid dalam teknologi militer dan luar angkasa bisa tertinggal jauh sedemikian rupa dari Amerika??

    Amerika memberikan kebebasan besar-besaran terhadap pemikiran dan penemuan. Pemerintah Amerika memberikan jaminan keleluasaan pada para ilmuwan dan memberikan imbalan jasa yang sesuai. Kebebasan dalam berinovasi ini yang melahirkan orang-orang jenius, seperti Bill Gates, Steve Jobs, dan lain-lain, sehingga Amerika dapat mengembangkan teknologi komputer bahkan internet.

    Sedangkan di Uni Sovet malah berbanding terbalik. Sentralisasi politik-ekonomi-pendidikan, membuat pembangunan dan Iptek Uni Soviet dikontrol ketat. Tahun 1950 di Era Stalin, seorang politikus Soviet mempropagandakan gerakan anti komputer, karena komputer dianggap rekayasa kapitalis yang mengancam pekerjaan manusia.

    Akhirnya semua perkembangan dan penelitian di Uni Soviet, hanya bisa berjalan jika menyangkut program sosialis yang diadopsi oleh negara. Setiap ilmuwan adalah karyawan pemerintah dan harus memberikan inovasi yang jelas bersifat menguntungkan bagi sosialisme dan orang banyak.

    Akibatnya, kebebasan dan inovasi para ilmuwan Uni Soviet sangat dibatasi. Sergei Korolev, arsitek roket dan satelit terkenal di dunia, perlu meyakinkan para birokrat partai agar program ruang angkasanya dapat terlaksana. Jika bukan karena Amerika menggembar-gemborkan program antariksanya, mungkin program ruang angkasa Soviet tak akan berjalan.

    Para ilmuwan Soviet tidak bisa mengembangkan potensinya secara maksimal. Seorang ilmuwan harus tunduk pada partai dan kedudukannya hanya sebagai “buruh ilmiah” yang diupah dan tidak lebih. Hasil penemuannya juga menjadi hak milik negara, bukan si penemu. Ini bertolak belakang dengan Amerika Serikat,  dimana kebebasan ilmiah mendorong para ilmuwan untuk berinovasi dan berkompetisi.

    Dari sini kita bisa ambil pelajaran, bahwa ilmu pengetahuan, teknologi, dan pendidikan berdiri di atas kebebasan ilmiah untuk berpikir, mengkritik, dan berinovasi. Karena itu, jika bangsa kita  (yang katanya semangat membangun berdasarkan Iptek) ingin maju dan bekembang dalam bidang ilmiah, maka yang terpenting adalah menjaga iklim kebebasan, bukan malah memberangusnya.