Mengapa Kita Memiliki Pandangan Moral dan Politik yang Beragam?

    648

    Pernahkah Anda bertanya kepada diri Anda, “mengapa ada orang yang memiliki pandangan moral seperti itu?”, “mengapa ada orang yang percaya pada kebijakan tersebut merupakan sesuatu yang tepat?”

    Bila Anda gemar melakukan diskusi atau mengikuti isu-isu politik dan sosial, besar kemungkinan pertanyaan tersebut sedikit banyak pernah terbersit di pikiran Anda. Tidak mustahil Anda pernah membaca atau mendengarkan pandangan seseorang mengenai isu-isu sosial dan politik yang sangat jauh berbeda dari yang Anda yakini, dan Anda tidak habis pikir bagaimana seseorang bisa mempercayai mengenai hal tersebut.

    Manusia memang merupakan spesies yang sangat kompleks. Kemampuan kognitif kita yang jauh di atas spesies-spesies lain, telah melahirkan berbagai produk kebudayaan dan teknologi yang tidak bisa dibuat oleh spesies lain selain homo sapiens. Melalui hasil kerja otak kita pula, kita sebagai spesies telah melahirkan berbagai gagasan politik dan pandangan mengenai moralitas yang sangat beragam dan berbeda satu sama lain.

    Lantas, mengapa kita memiliki pandangan politik dan moralitas yang berbeda-beda? Mengapa suatu hal yang dianggap baik oleh seseorang, saat yang sama juga bisa dipandang sebagai sesuatu yang sangat tercela dari sudut pandang orang lain?

    *****

    Perbedaan pandangan moral dan politik merupakan sesuatu yang niscaya dan mustahil bisa kita seragamkan. Setiap individu mendapatkan nilai-nilai moral dan politik mereka dari berbagai hal, mulai dari tradisi, keluarga, pertemanan, agama yang diyakini, pendidikan, pengalaman pribadi, dan lain-lain.

    Tak jarang, berbagai pandangan moral dan gagasan politik yang sangat beragam ini saling bertabrakan satu sama lain dan tidak bisa berjalan beriringan. Hal tersebut tentu berpotensi besar menimbulkan berbagai konflik sosial dan politik, dan memecah belah masyarakat, pertemanan, dan hingga keluarga.

    Bisa kita lihat misalnya, pada saat pemilihan presiden di Indonesia pada periode lalu, ada kasus-kasus di mana pertemanan seseorang menjadi bubar karena ia mendukung satu calon pasangan sementara kawannya mendukung pasangan lainnya (BBC Indonesia, 11/07/2014).

    Hal yang sama juga tidak hanya terjadi di Indonesia, namun juga di negara-negara lain. Di Amerika Serikat misalnya, polarisasi politik menjadi semakin tajam, terutama pasca pemilihan Presiden Amerika Serikat pada tahun 2016 lalu antara Donald Trump dari Partai Republikan dan Hillary Clinton dari Partai Demokrat. Berdasarkan survei dari Pew Research misalnya, pada 2017, sebagian besar masyarakat Amerika Serikat yang mengidentifikasi diri mereka dengan Partai Republikan atau Partai Demokrat hanya memiliki beberapa atau sama sekali tidak memiliki teman yang berafiliasi dengan partai lainnya (CNN, 05/10/2017).

    Salah satu akademisi yang membahas mengenai topik tersebut adalah pakar psikologi sosial asal Amerika Serikat, Jonathan Haidt, dalam bukunya yang berjudul “The Righteous Mind: Why Good People are Divided by Politics and Religion” yang terbit pada tahun 2012 lalu. Haidt dalam bukunya mencoba untuk menjawab pertanyaan, mengapa kita semua memiliki pandangan yang berbeda-beda mengenai moral, politik, dan agama? Dan bagaimana agar kita dapat saling memahami dan membangun dialog yang baik dengan mereka yang memiliki pandangan berbeda dengan diri kita?

    Haidt dalam bukunya mencoba menggali fondasi moralitas yang dimiliki oleh seluruh penduduk dunia yang berasal dari berbagai latar belakang etnis, agama, tradisi, dan pandangan politik yang berbeda-beda. Haidt mengidentifikasi setidaknya ada enam fondasi moralitas yang digunakan seseorang untuk menentukan suatu hal baik atau buruk (Haidt, 2012).

    Fondasi-fondasi ini adalah, (1) care / harm, (2) fairness / reciprocity, (3) liberty / oppression, (4) authority, (5) in-group loyalty, (6) purity. Care / harm merupakan fondasi moralitas yang paling umum. Kita menentukan sesuatu baik atau buruk dengan melihat apakah hal tersebut menyakiti orang lain atau tidak (Haidt, 2012). Memukul seseorang misalnya, banyak dianggap sebagai perbuatan yang buruk karena hal tersebut menyakiti seseorang (harm). Sebaliknya, membantu seseorang yang terjatuh di jalan misalnya, merupakan hal yang dianggap oleh banyak orang sebagai perbuatan yang baik karena menunjukkan kepedulian terhadap orang lain (care).

    Fairness / reciprocity juga merupakan salah satu hal yang menjadi fondasi moralitas. Kita juga menentukan baik atau buruk dengan melihat apakah hal tersebut sesuatu yang adil atau tidak (Haidt, 2012). Prinsip moral “perlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan oleh orang lain”, atau yang dikenal juga dengan istilah the golden rule, yang bisa kita temukan di berbagai kultur dan kebudayaan di berbagai tempat di dunia, merupakan salah satu contoh moralitas yang berdasarkan fondasi fairness / reciprocity.

    Liberty / oppression merupakan fondasi moralitas yang umumnya digunakan oleh mereka yang memiliki pandangan liberal atau libertarian. Suatu hal dilihat baik atau buruk apabila hal tersebut melanggar kebebasan dan merepresi orang lain (Haidt, 2012). Larangan konsumsi minuman beralkohol oleh pemerintah misalnya, dianggap oleh mereka yang memiliki pandangan politik liberal dan libertarian sebagai sesuatu yang buruk, karena hal tersebut mengambil kebebasan orang lain untuk bertindak dan menentukan pilihan bagi dirinya sendiri.

    Authority atau otoritas merupakan fondasi moralitas yang umum digunakan, khususnya di masyarakat tradisional. Sesuatu ditentukan baik atau buruk melalui apakah hal tersebut sesuai atau bertentangan dengan otoritas yang diakui oleh suatu kelompok atau masyarakat harus dihormati dan ditaati (Haidt, 2012). Perbuatan anak yang melawan perintah orang tua misalnya, oleh masyarakat tradisional dianggap sebagai sesuatu yang buruk karena tindakan tersebut merupakan bentuk perlawanan terhadap otoritas yang diakui harus dipatuhi dan ditaati.

    In-group loyalty atau loyalitas kelompok juga merupakan fondasi moralitas digunakan oleh masyarakat atau kelompok tertentu. Suatu hal ditentukan baik atau tidak apabila hal tersebut merupakan bentuk kesetiaan terhadap kelompok kita atau tidak (Haidt, 2012). Seorang pengkhianat negara yang menjadi mata-mata bagi negara lain misalnya, dianggap oleh mereka yang memiliki pandangan nasionalis atau rasa patriotis yang tinggi sebagai seseorang yang sangat tercela dan patut dihukum, karena hal tersebut merupakan bentuk ketidaksetiaan terhadap kelompok kita, dalam hal ini negara yang kita tempati.

    Fondasi moralitas yang terakhir, purity atau kesucian, umumnya digunakan oleh masyarakat konservatif yang memiliki tingkat religiusitas yang tinggi (Haidt, 2012). Perbuatan hubungan seksual di luar ikatan pernikahan misalnya, dianggap oleh banyak kelompok konservatif sebagai tindakan yang tercela karena bukan hanya melanggar perintah dari otoritas Yang Maha Kuasa (authority), namun tindakan tersebut juga merupakan tindakan yang dapat menodai kesucian tubuh manusia yang sudah diciptakan Tuhan sebagai pemimpin dan perwakilan di bumi.

    Keenam hal itulah yang menjadi fondasi moralitas seluruh masyarakat di berbagai penjuru dunia dari berbagai masa. Melalui keenam fondasi moralitas tersebut, lahir berbagai pandangan mengenai politik dan agama yang berbeda-beda, dan tak jarang saling menimbulkan konflik satu-sama lain yang hingga menimbulkan korban jiwa.

    Haidt menulis bahwa kelompok-kelompok progresif dan liberal umumnya hanya memiliki tiga fondasi moralitas untuk menentukan sesuatu yang baik atau buruk, yakni care / harm, fairness / reciprocity, dan liberty / oppression. Otoritas, loyalitas kelompok, dan kesucian dianggap oleh mereka yang memiliki pandangan progresif dan liberal sebagai hal yang tidak bisa dijadikan sebagai fondasi moralitas (Haidt, 2012).

    Sebaliknya, bagi mereka yang memiliki pandangan konservatif, authority, in-group loyalty, dan purity adalah sesuatu yang penting. Hal ini bukan berarti care / harm, fairness, dan liberty bukan sesuatu yang harus diabaikan, akan tetapi ketiga fondasi moralitas yang dimiliki oleh kelompok liberal dan progresif tersebut juga harus bersandingan dengan tiga fondasi moralitas lainnya (Haidt, 2012).

    Konflik nyata dari perbedaan fondasi moralitas ini bisa kita saksikan dengan mudah di dunia nyata melalui kejadian sehari-hari. Tindakan orang tua memukul anak yang tidak mentaati perintah misalnya, dianggap oleh kelompok liberal dan progresif sebagai sesuatu yang buruk, karena dasar moralitas yang dipakai adalah care / harm. Memukul seorang anak adalah tindakan yang menyakiti anak tesebut.

    Namun, kelompok konservatif dan tradisional kemungkinan besar akan melihat perbuatan tersebut dari sudut pandang yang berbeda, karena dasar moralitas yang dipakai berbeda. Memang benar bahwa memukul anak merupakan tindakan yang menyakiti, namun sudah menjadi kewajiban anak untuk mentaati perintah orang tua. Tindakan memukul anak yang tidak taat tersebut tidak mustahil justru dianggap sebagai perbuatan yang baik sebagai bentuk hukuman dan cara mendidik agar anak-anak taat pada orang tua mereka, dengan menggunakan dasar moralitas authority.

    Inilah juga yang menyebabkan kelompok-kelompok liberal dan progresif misalnya, sangat sulit untuk berangkulan dengan mereka yang memiliki pandangan konservatif, karena fondasi moralitas yang digunakan berbeda. Kelompok liberal dan progresif umumnya berpandangan bahwa menjadikan otoritas, loyalitas kelompok, dan kesucian sebagai fondasi moralitas adalah sesuatu yang represif dan mengopresi kelompok-kelompok tertentu. Sebaliknya, kelompok konservatif umumnya berpandangan bahawa authority, in-group loyalty, dan purity adalah hal yang sangat penting untuk dijadikan sebagai fondasi moralitas untuk menjaga struktur sosial.

    Dalam ranah politik, perbedaan fondasi moralitas ini juga sesuatu yang tidak bisa diabaikan, karena pandangan politik seseorang umumnya adalah kepanjangan dari nilai-nilai moralitas yang seseorang yakini. Seseorang yang percaya bahwa tindakan melakukan hubungan seksual di luar pernikahan sebagai sesuatu yang buruk umumnya akan memiliki pandangan politik yang mengadvokasi adanya hukum yang melarang perbuatan tersebut.

    Untuk itu, bila kita ingin membangun dialog antar sesama kelompok masyarakat yang memiliki perbedaan pandangan politik, dan dalam hal ini termasuk juga pandangan mengenai agama, kita harus terlebih dahulu mengerti fondasi moralitas apa yang kelompok tersebut gunakan. Bila fondasi moralitas yang digunakan sudah berbeda, maka dialog dan diskusi yang sehat tentu akan sangat mustahil untuk dilakukan.

    Polarisasi antar kelompok yang semakin tajam, seperti yang terjadi di Amerika Serikat, merupakan hal yang sangat berbahaya, karena berpotensi besar akan memecah belah masyarakat, menimbulkan permusuhan antar sesama teman dan keluarga, serta memunculkan konflik horizontal. Karena itu, membangun dialog antar kelompok merupakan hal yang sangat penting untuk mencegah terjadinya hal tersebut.

     

    Referensi

    Buku

    Haidt, Jonathan. 2012. The Righteous Mind: Why Good People are Divided by Politics and Religion. New York: Penguin Books

     

    Internet

    https://www.bbc.com/indonesia/majalah/2014/07/140711_majalah_pilpres_teman Diakses pada 1 September 2020, pukul 23.30 WIB.

    https://edition.cnn.com/2017/10/05/politics/friends-political-party/index.html Diakses pada 2 September 2020, pukul 02.15 WIB.