Mengapa Kebebasan Membutuhkan Filsafat

124
Sumber gambar: https://fee.org/articles/why-freedom-needs-a-philosophy/

 Artikel Dasar Libertarianisme kali ini membahas  gagasan mengenai filsafat dan kebebasan. Galang Taufani, Editor Pelaksana Suara Kebebasan, mengangkat pembahasan mengenai hal ini dari artikel “Why Freedom Needs a Philosophy,” yang ditulis oleh Dan Sanchez dalam portal fee.org. *

Beberapa pemerintahan di dunia menunjukkan sinyalemen mengobarkan perang terhadap kebebasan, menghancurkan hak-hak kita dengan suksesi cepat menuju tirani radikal. Bagaimana kita yang percaya pada kebebasan bisa melawannya?

Pertama, yaitu dengan membujuk lebih banyak orang untuk bergabung dalam upaya menentang kebijakan yang buruk. Tapi, itu bisa menjadi perjuangan yang berat. Pengalaman yang ada menjelaskan bahwa sulit untuk mengubah pikiran orang—terutama sikap politik. Para pendukung kebebasan sering dibuat bingung oleh betapa keras kepala orang berpegang teguh pada posisi anti-kebebasan mereka.

Mengapa kita terus berlari ke dinding bata ini? Menurut Henry Hazlitt, itu terjadi karena libertarian sering tidak menyadari bahwa, “yang mereka lawan hanyalah bagian dari keseluruhan sistem pemikiran.”  Hazlitt menjelaskan, mengapa, bahkan argumen yang tak terbantahkan terhadap kebijakan yang buruk sekalipun akan sering gagal meyakinkan.

Jadi, mengkritik kebijakan buruk tertentu saja tidak cukup. “Ini adalah filosofi yang komprehensif meskipun membingungkan yang harus kita temui,” Hazlitt menyimpulkan, “dan kita harus menjawabnya dengan filosofi yang sama komprehensifnya.”

Katakanlah, ketika kita sedang berdebat dengan seseorang yang mendukung upah minimum. Kita dengan jelas menyajikan kasus yang ketat, ditopang oleh logika ekonomi, penalaran moral, dan bukti empiris yang menunjukkan bagaimana upah minimum melanggar hak dan menyebabkan pengangguran, serta mendorong orang-orang yang seharusnya dibantu ke dalam kemiskinan dan ketergantungan. Sementara itu, argumen lawan sangat membingungkan dan menunjukkan adanya salah informasi. Namun, terlepas dari semua itu, mereka dengan marah menolak klaim kita dan tetap mendukungnya untuk upah minimum.

Kenapa hal itu bisa terjadi? Masalahnya adalah bahwa dukungannya terhadap upah minimum “hanyalah bagian dari keseluruhan sistem pemikiran,” seperti yang dikatakan Hazlitt: yaitu, ideologi ekonomi, politik, dan moral progresif yang dia serap dari sekolah, media, atau pengaruh lain.

Jika dia mengakui argumen superior kita dan berbalik menentang upah minimum, oposisi itu akan bertentangan dengan pandangan dunianya yang lain. Hal ini hanya menghibur gagasan menciptakan disonansi kognitif. Jadi, mereka mundur dari ketidaknyamanan mental yang intens dan menolak alasan itu sendiri demi perlindungan diri emosional.

Menurut psikolog Jordan Peterson, ada “kecenderungan alamiah manusia untuk merespons… gagasan aneh… dengan ketakutan dan agresi… Ini karena memberikan pertimbangan serius pada sudut pandang orang lain berarti mengambil risiko terpapar ketidakpastian tak tentu, yaitu risiko peningkatan kecemasan eksistensial, rasa sakit dan depresi … “

Melihat hal di atas maka, barangkali sangat mungkin tampak konyol untuk menganggap ide-ide baru begitu menakutkan dan sistem kepercayaan begitu berharga. Faktanya, kita semua melakukannya, dan untuk alasan yang bagus.

Seperti yang dijelaskan Peterson dalam bukunya “Maps of Meaning,” sistem kepercayaan kita (termasuk pandangan dunia sosial-politik kita) adalah bagaimana kita memahami dunia. Mereka adalah kompas dan peta yang kita gunakan untuk menavigasi kompleksitas kehidupan yang luas. Tanpa paradigma menyeluruh untuk menyusun hidup, kita merasa tersesat di laut: bingung dan takut. Itulah mengapa kita begitu terikat dan protektif terhadap “sistem pemikiran” kita.

Begitu juga dengan  penjelasan ilmuwan Thomas Kuhn dalam aspek yang sama melihat, bahwa  para ilmuwan  sekalipun terikat pada paradigma mereka dan cenderung berpegang teguh pada paradigma tersebut meskipun ada alasan dan bukti yang berlawanan, sampai “anomali” semacam itu menumpuk hingga memicu “krisis” dan paradigma itu akhirnya runtuh. Paradigma yang didiskreditkan kemudian digantikan oleh paradigma alternatif. Dengan demikian, pergeseran paradigma ilmiah cenderung revolusioner daripada evolusioner.

Hal ini setali tiga uang dengan Jordan Peterson, yang membenarkan bahwa hal ini adalah benar, tidak hanya untuk paradigma ilmiah, tetapi juga untuk sistem kepercayaan secara umum, termasuk paradigma sosial-politik.

Jadi, seorang progresif dapat mempertahankan paradigmanya yang berharga dengan menanggapi “anomali” seperti kasus kuat terhadap upah minimum dengan penyangkalan menyeluruh. Kita mungkin telah menanam benih keraguan, tetapi dia enggan untuk membiarkannya tumbuh, jangan sampai hal itu mengkompromikan dan meruntuhkan seluruh filosofi progresifnya. “Krisis paradigma” semacam itu akan membuat dunianya bergolak, jadi dia enggan membiarkannya terjadi.

Tetapi, jika, selain menantang paradigmanya saat ini, kita juga menawarkannya sebuah paradigma alternatif—“filsafat yang sama komprehensifnya”, seperti yang dikatakan Hazlitt—yang dapat meredakan kecemasannya untuk melepaskan ideologi progresifnya. Alih-alih prospek struktur yang ada runtuh dan digantikan oleh kebingungan tanpa arah, ia ditawari kesempatan untuk mengganti satu struktur dengan yang lain. Hal ini justru lebih baik.

Oleh karena itu, alih-alih hanya menyanggah upah minimum secara khusus, kuncinya adalah juga memberikan setidaknya pandangan sekilas tentang visi alternatif yang lebih luas: yaitu, fungsi ekonomi upah secara umum, etika kontrak secara umum, dan apa pasar bebas. Begitu lawan kita mulai memahami dan merangkul perspektif kebebasan secara keseluruhan, merangkul upah pasar dan melepaskan isu anti kebebasan akan jauh lebih mudah

Untuk membuat orang meninggalkan progresivisme, sosialisme, otoritarianisme, dan ideologi tidak liberal lainnya, kita harus “di atas segalanya,” seperti yang disimpulkan Hazlitt, “menguraikan dasar-dasar filosofi kebebasan.”

Untuk membuat orang menentang kebijakan yang buruk, pertama-tama kita harus mengarahkan mereka ke dasar-dasar yang baik dan filosofi yang baik. Kita harus meletakkan dasar filosofis yang diperlukan untuk membantu individu memiliki perubahan paradigma revolusioner mereka sendiri—pengalaman konversi mereka sendiri—menuju kebebasan.

Dari uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa dunia pada umumnya menghadapi dinamika dan tantangan terhadap terus adanya gelombang anti-kebebasan. Gelombang ini menjadi tantangan tersendiri mulai dari skala terkecil, yaitu individu hingga negara dalam skala yang besar. Dalam skala negara, dampak yang ditimbulkan menjadi sangat luas dan besar karena menegasikan kebebasan individu setiap orang yang berada di negara tersebut.  Namun, advokasi harus dilakukan dari skala individu untuk melawan anti kebebasan.

Sebagai penutup, gagasan dan pemikiran kebebasan harus ditunjang dengan filsafat adalah sebuah keniscayaan. Hal ini  menjadi sangat berguna untuk mengidentifikasi masalah-masalah terkait dengan tantangan terhadap kebebasan di berbagai ruang, waktu, dan konteks.  Dengan pemahaman yang komprehensif tentang filsafat, juga latar belakang maupun alasan pihak yang anti-kebebasan, dapat memberikan kita panduan untuk mentukan langkah-langkah strategis dan terbaik dalam melakukan advokasi kebebasan.

 

* Artikel ini diambil dari tulisan Dan Sanchez yang berjudul “Elements of Libertarian Leadership.” Link artikel: Sumber: https://fee.org/articles/why-freedom-needs-a-philosophy/. Diakses pada 5 Agustus 2022, pukul 11.00 WIB.