Mengapa Harus Kartini? (Sebuah Jawaban)

    1642

    Mengapa Harus Kartini? Bukankah masih banyak tokoh nasional Indonesia yang lain dan juga lebih berjasa dibanding dengan Kartini?

    Begitulah komentar yang sering saya dapatkan ketika sedang menjelajahi dunia maya. Tokoh Raden Ajeng Kartini memang akrab kita dengar, bahkan waktu duduk di bangku sekolah. Hari Kartini yang diperingati setiap tanggal 21 April, selalu spesial di hati para siswa karena di hari itu kegiatan belajar dialihkan menjadi kegiatan yang lebih menyenangkan, seperti lomba atau pawai budaya.

    Namun belakangan ini, Hari Kartini, bahkan sosok ketokohan Kartini ini sendiri, menjadi dipertanyakan. Mengapa harus Kartini? Mengapa bukan Cut Nyak Dien, Martha Christina Tiahahu, Dewi Sartika, dan lain sebagainya, yang memiliki jasa besar dalam melawan Pemerintah Kolonial Belanda? Saya menemukan setidaknya sebuah artikel yang termuat di laman Insists.id yang berjudul “Mengapa harus Kartini.” Penulis tersebut cenderung memberi nada sumbang pada Kartini. Ia berkomentar:

    “Bahkan kalau melirik kisah-kisah Cut Nyak Dien, Tengku Fakinah, Cut Mutia, Pecut Baren, serta Pocut Meurah Intan, klaim-klaim keterbelakangan kaum perempuan di negeri pada masa Kartini hidup ini harus segera digugurkan” (Insists.id, 2020).

    Dengan kata lain, jika dibandingkan dengan para tokoh perempuan di atas, termasuk tokoh perempuan seperti Rohana Kudus dan Dewi Sartika, peran Kartini tidak ada apa-apanya sama sekali. Bahkan menurut penulis, jika melihat sejarah perjuang-pejuang perempuan zaman dahulu, diskriminasi perempuan seolah-olah tidak ada. Hasja W. Bachtiar dalam buku Satu Abad Kartini: 1879-1979 menulis:

    “Kita mengambil alih Kartini sebagai lambang emansipasi perempuan di Indonesia dari orang-orang Belanda. Kita tidak mencipta sendiri lambang budaya ini, meskipun kemudian kitalah yang mengembangkannya lebih lanjut” (rmol.id, 2020).

    Dari ucapan penulis, seolah-olah Kartini adalah tokoh Eropa yang kemudian dikultuskan dan dicocokkan dengan kebudayaan pribumi, sehingga kita harus mencari tokoh perempuan lain untuk dijadikan simbol kebudayaan sendiri (entah budaya macam apa yang beliau maksud).

     

    Kritik Berdasar Tendensius

    Saya melihat kritikan-kritikan terhadap Kartini, sebagian justru memiliki tendensi ideologis. Mereka yang mengkritik hari Kartini kebanyakan adalah orang yang juga menghembuskan isu kebangkitan nasional, yaitu  tanggal 16 Oktober adalah tanggal berdirinya Sarekat Dagang Islam, bukan tanggal 20 Mei saat Budi Utomo berdiri. Juga, mereka yang selalu mengatakan bahwa Hari Pendidikan Nasional harusnya jatuh pada tanggal 18 November ketika Muhammadiyah berdiri, bukan tanggal 2 Mei saat Sekolah Taman Siswa dibentuk.

    Kalau Anda sering membaca di internet mengenai isu di atas, pasti dapat ditemukan dengan mudah. Kesimpulan awal, rasa sinis bahkan benci (kalau tidak berlebihan) pada Hari Kartini, semua karena menganggap bahwa Kartini adalah perempuan yang terpepar pemikiran barat yang kurang agamis, kurang menghormati rasa nasionalisme, dan tidak nampak mengangkat senjata melawan penjajah sebagaimana pejuang lainnya.

    Dalam bayangan mereka, Kartini adalah pemberontak karena membawa semangat feminis yang dianggap sebagai pemikiran “Barat.” Kartini tak patut menjadi ikon perempuan Indonesia karena, dalam pandangan mereka, Kartini kurang nasionalis karena mengkritik budaya sendiri yang partriarki, misoginis, dan feodal yang dianggap sebagai budaya “Timur yang luhur”.

    Jika kita kembali kepada pertanyaan awal mengapa Kartini menjadi ikon, tentu saja ini berdasarkan “kesepakatan” sejarah orang-orang di masa lalu. Kartini memang bukan perempuan satu-satunya tokoh perempuan hebat di Indonesia. Banyak tokoh perempuan pejuang yang harus kita banggakan. Namun, Kartini menjadi ikon pada zamannya, karena menjadi juru bicara kaum perempuan yang melampaui zaman. Kartini bukan hanya menginginkan bangsa bumiputera menjadi bangsa yang maju, tetapi juga mengkritik tradisi adat dan pemikiran keagamaan dan tradisi yang dinilai terlampau kolot.

    Pengaruh Kartini ini menyebar kepada kalangan intelektual bumiputera. Contohnya, Dr. Tjipto Mangunkusumo, dalam koran De Express milik Dowes Dekker menulis Tiap-tiap halaman [surat-surat] Kartini selalu menyatakan kerinduannya untuk melihat rakyatnya bangun, bangkit dari keadaan tidur pulas yang telah beratus-ratus tahun mencekam mereka” (Tirto, 2020).

    Kepopuleran dan juga pengaruh surat-suratnya yang menginspirasi tokoh pergerakan dan ibu-ibu Indonesia, membuat nama Kartini melambung. W.R. Supratman bahkan menulis sebuah lagu untuk megabadikan cita-cita dan juga pemikiran Kartini, yang kemudian ditampilkan pada Kongres Perempuan pertama pada 29 Oktober 1928. Tidak ada tokoh perempuan yang protes, mengapa harus nama Kartini, karena mereka tahu bahwa Kartini melalui bukunya telah menginspirasi gerakan kesadaran kaum perempuan Indonesia.

    Memang benar, bahwa Kartini tidak mengangkat senjata melawan kaum Kolonial Belanda. Tetapi, jika kriteria ini dipakai untuk menentukan tokoh pahlawan nasional, tentu tokoh seperti Ahmad Dahlan, Tjokroaminoto, W. R. Supratman, dan juga M. H. Thamrin tidak bisa disebut sebagai pahlawan karena mereka tidak pernah ikut dalam pertempuran dan mengangkat senjata menghadapi musuh.

    Pengangkatan Kartini sebagai pahlawan yang namanya kemudian diabadikan sebagai hari Kartini, bukan berarti bahwa Kartini mengungguli semua perempuan pejuang. Kartini adalah salah satu simbol yang diangkat oleh para tokoh pergerakan sebagai martir bagi kemajuan bangsanya. Kartini menjadi salah satu simbol yang mewakili perasaan perempuan Indonesia pada masa itu. Sama seperti Arief Rahman Hakim sebagai simbol Gerakan Mahasiswa tahun 1966 atau Mahapatih Gajahmada yang dianggap sebagai simbol pemersatu Nusantara.

    Jadi, simbolisasi Kartini sebagai perwakilan suara perempuan pada zamannya seharusnya tidak menjadi masalah. Justru yang harusnya dipermasalahkan adalah, orang-orang saat ini hanya mengenang Kartini sebagai sosok sejarah, bukan merenungkan dan meneruskan cita-cita luhurnya dengan menghapus diskriminasi gender, kekerasan pada perempuan, dan menghentikan pembodohan perempuan dengan menghembuskan tren nikah muda dan poligami berjamaah.

     

    Mengapa Kartini Menjadi Penting?

    Amat aneh jika ada yang memperbandingkan antara Kartini dan Cut Nyak Dien misalnya. Padahal, mereka adalah para perempuan perkasa yang berani menerobos batas zaman dan kurungan penindasan dengan cara mereka masing-masing. Jika Cut Nyak Dien berjuang dengan jalan konfrontasi dan peperangan melawan kaum kolonial, maka Kartini berjuang melalui tulisan-tulisan yang berisi gagasan  emajuan agar bangsa Indonesia, khususnya kaum perempuan, tidak dijajah oleh sistem sosial dan budaya kolot yang membodohi mereka.

    Kartini menjadikan ide sebagai “senjata.” Ia melihat bahwa penjajahan bukan hanya terjadi pada ranah ekonomi dan politik, tetapi juga dalam ranah sosial dan budaya. Kondisi bangsa Indonesia saat itu telah dikurung oleh budaya kolot yang justru tak dapat membuat bangsa Indonesia bergerak maju. Budaya feodal yang dilanggengkan oleh pemerintah kolonial, justru sengaja membuat bangsa Indonesia tetap bodoh dan tenggelam dalam tradisi “primitif”-nya. Kemerosotan budaya dan juga rendahnya taraf berfikir bangsa Indonesia inilah yang berusaha diperbaiki oleh Kartini.

    Peter Carey, seorang sejarawan yang menelusuri sejarah Nusantara, menulis bahwa dalam sebuah arsip Belanda, tercatat bahwa di tanah Hindia (Indonesia), terdapat suatu budaya yang kental dengan pemujaan kejantanan (male chauvinist), di mana perempuan tidak memiliki tempat dalam penghormatan umum kecuali hanya pada urusan yang bersifat pribadi (Carey, 2016).

    Jika ada yang berkata bahwa budaya Indonesia tidak mengenal diskriminasi gender, jelas orang itu berbohong. Tradisi pingitan misalnya, di mana anak gadis dikurung dalam rumah dan dianggap sebagai properti laki-laki, merupakan bentuk kekerasan terhadap perempuan. Pramoedya Ananta Toer juga mengisahkan tentang perempuan yang dipingit ini dalam diri Nyai Ontosoroh dalam Novel “Bumi Manusia.”

    R. M. Tirto Adhi Soerjo, bapak jurnalistik, menulis kisah tentang nyai-nyai dan para selir-selir milik kaum bangsawan, di mana perempuan pada saat itu hanya dipandang sebagai properti pemuas nikmat kaum lelaki saja, dan tidak lebih. Kartini mengalami zaman-zaman ini, zaman di mana perempuan menjadi objek seksual kaum pria yang menganggap poligami dan berselir sebagai simbol kejantanan.

    Kartini adalah seorang anak bangsa yang maju dalam berfikir dan ia ingin pula bangsanya maju sebagaimana bangsa Eropa. Kartini tak segan-segan mengkritik adat istiadat yang dinilai terlalu kolot dan sangat menghinakan perempuan. Mengapa orang harus berjalan jongkok di hadapan orang tua dan pembesar? Mengapa seorang perempuan harus dikurung dalam rumah bagai hewan peliharaan?

    Kartini menulis, “ketahuilah, bahwa adat negeri kami melarang keras gadis keluar rumah. Ketika saya sudah  berumur dua belas tahun, lalu saya ditahan di rumah. Saya mesti masuk ‘tutupan.’ Saya dikurung di dalam rumah, seorang diri, sunyi senyap terasing dari dunia luar. Saya tidak boleh keluar ke dunia itu lagi, bila tiada seorang suami, seorang laki-laki yang asing sama sekali bagi kami, dipilih oleh orang tua kami untuk kami, dikawinkan dengan kami, sebenarnya dengan tiada setahu kami.”

    Kartini hidup di masa kebudayaan feodal, di mana budaya Jawa menganggap perempuan hanya sebagai barang milik laki-laki, dan inilah yang dilawan oleh Kartini. Apakah Kartini harus dipinggirkan perannya karena melawan budaya feodal Nusantara yang memandang perempuan hanya setengah manusia?

    Ya, Kartini memang bukan perempuan pertama yang menjadi pahlawan nasional Indonesia. Kartini juga bukan perempuan seberani Cut Nyak Dien atau Nyi Ageng Serang yang turun bergerilya dengan senjata melawan penjajahan kaum kolonial. Tetapi, Kartini menjadi corong keras yang berani mempelopori emansipasi dan melawan kebudayaan feodal Nusantara yang kejam.

    Kartini berjuang dengan senjata gagasan dan idenya. Ia mendobrak dinding kekolotan, meruntuhkan dinding tebal moralitas lama, dan membawa sebuah pembaruan budaya, yakni budaya yang adil dan bebas dari diskriminasi. Pedang bisa berkarat, tapi ide selalu abadi. Cita-cita dan gagasan Kartini yang progresif itulah yang membuat ia menjadi sosok spesial dan menginspirasi gerakan perempuan Indonesia setelahnya untuk menuntut keadilan dan kesetaraan.

    Sebagaimana yang pernah R.A. Kartini ujarkan, bahwa “perempuan harus membuat sejarah sendiri, berdiri sama rata, duduk sama rendah. Perempuan harus tetap mendapatkan pendidikan seperti para laki-laki.”

     

    Referensi:

    Buku

    Carey, Peter. 2016. Perempuan-Perempuan perkasa di Jawa Abad XVII-XIX. Jakarta: KGP.

    Internet

    https://insists.id/mengapa-harus-kartini/ Diakses pada 22 April 2020, pukul 01.55 WIB.

    https://rmol.id/read/2020/04/21/431381/mitos-kartini-dan-rekayasa-sejarah. Diakses pada 22 April 2020, pukul 02.51 WIB.

    https://tirto.id/kartini-dan-pemikirannya-yang-menginspirasi-kaum-pergerakan-ejuN Diakses 22 April 2020, pukul 03.21 WIB.