Menerobos Kekangan Zaman dan Ketandusan Teladan

    84
    Sumber gambar: https://www.cnnindonesia.com/nasional/20190816095936-20-421842/napak-tilas-jejak-proklamasi-kemayoran-hingga-rengasdengklok

    Bila kita menelusuri sejarah, perubahan sosial atau revolusi selalu dimotori oleh kaum muda. Ong Hok Ham dalam Analisa Kekuatan Politik di Indonesia menuliskan bahwa Mao Tse-tung meletakkan sumber kekuatan revolusi budayanya pada golongan muda (Yuniarto, 2022). Bangsa ini pun lahir dari perjuangan para pemudanya yang gagah perkasa,        progresif, dan memiliki hati yang tulus bagi saudara sebangnya, mulai dari Budi Utomo, Soekarno, Mohammad Hatta, dan masih banyak lainnya.

    Tidak salah, jika dalam salah satu pidatonya, Soekarno berapi-api berkata, “Berikan aku 10 orang muda, niscaya akan kuguncangkan dunia”. Soekarno sadar betul arti orang muda dalam pergulatan pembangunan bangsa dan negara. Orang muda menjadi jantung sekaligus penggerak perubahan.

    Masa Muda

    Bila kita mundur ke belakang dan sekilas melihat sejarah hidup Soekarno, ketika muda ia sudah luar biasa. Ketika bersekolah di Surabaya dan tinggal bersama KH.Tjokroaminoto,

    Soekarno, sudah mengisi masa mudanya dengan membaca karya-karya besar dari tokoh-tokoh seperti Jean Jaures, Jean Jacques Rousseau, Abraham Lincoln, dan banyak lainnya. Ia mengisahkan bahwa dengan membaca, ia merasa bertemu, bertukar pikiran, dan berdialog   langsung dengan tokoh-tokoh tersebut (Adams, 2017).

    Tidak hanya itu, pengalaman menyaksikan kaum sebangsanya diperlakukan dengan rendah dan tidak manusiawi oleh para penjajah Belanda juga turut menggugat dirinya untuk kembali merenungkan eksistensi dan identitasnya sebagai bumi putera. Sulit untuk disangkal bahwa dari sinilah (bergumul dengan gagasan filsafat-politik dan pengalaman nyata akan penindasan) jiwa sosial dan kemudaannya tergugah untuk terlibat dalam politik demi memperjuangkan kemerdekaan dan kesejahteraan bangsanya.

    Teriakan Penderitaan dan Politik
    Teriakan sesama akan ketidakadilan dan penderitaan yang mendesak seorang Soekarno muda untuk mau terlibat aktif dalam politik. Pertama-tama bukan untuk menjadi seorang penguasa, sebagaimana nantinya ia menjadi presiden, melainkan semata-mata demi mewujudkan bangsa Indonesia yang bisa menentukan nasibnya sendiri yang lebih adil, makmur, dan bermartabat.

    Soekarno sadar betul arti politik, Tom G Palmer, dalam pengantar buku Politik dan Kebebasan (2013) menuliskan, politik merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan. Politik banyak diperdebatkan secara sengit bukan karena dianggap lebih penting dari aspek kehidupan lain seperti olahraga, seni, dan lainnya, melangkah lebih karena politik berbicara mengenai eksekusi kekuasaan terhadap orang lain.”

    Kesadaran akan arti penting politik ini bila kita cermati dan refleksikan melalui sejarah, ternyata sudah menggerakkan berbagai pemuda dari berbagai belahan dunia untuk terlibat dalam politik, memikirkan, dan mengambil langkah-langkah terbaik demi membentuk sebuah kehidupan bersama yang lebih manusiawi dan nir penindasan.

    Individualisme dan Progresivisme

    Semangat moderen yang di dalamnya terdapat individualisme, rupa-rupanya telah menenggelamkan banyak orang muda dalam sikap apatis akut terhadap politik (kehidupan bersama) dewasa ini. Orang muda akhirnya hanya fokus pada pengembangan diri, mencapai karir setinggi-tingginya, uang sebanyak-banyaknya demi sebuah kepuasan diri, dengan melupakan tugas dan panggilannya sebagai manusia untuk peduli dan berjuang bersama yang menderita di sisinya.

    Karenanya tidaklah begitu mengherankan, bila panggilan hati untuk terlibat dalam politik, ikut bersama-sama memperjuangkan kebijakan yang bermanfaat luas dan sebagainya tidak begitu dianggap menarik dan diperhatikan anak muda. Hanya saja persoalan ini tidak sesederhana itu. Ada juga faktor lain yang perlu diperhatikan serius, seperti kekecewaan dan rasa putus asa anak muda, terutama ketika menyaksikan tingkah laku para politikus dan penentu kebijakan yang bertindak ngawur, bekerja seenaknya, dan menyalahgunakan kekuasaan.

    Putus Asa vs Kebebasan

    Berhadapan dengan realitas ini, orang muda dihadapkan pada dua pilihan atau sikap. Pertama, tidak peduli. Situasi ini sulit diubah karena semangat zaman dan keadaan yang mendesak orang bertindak demikian. Kedua, memilih untuk mengambil langkah nyata dan keluar dari kekangan situasi tersebut.

    Pilihan kedua itu penting karena manusia adalah makhluk rasional (bisa berpikir) dan punya kebebasan untuk menentukan dirinya. Ia bukan makhluk yang sepenuhnya terdeterminasi oleh situasi dan lingkungan disekitarnya. Di sinilah sesungguhnya esensi manusia sebagai makhluk bebas digugah. Sebagai makhluk hidup, manusia tidak lepas dari keterbatasan situasi, namun sebagai makhluk rasional dan berhati nurani, manusia memiliki kebebasan eksistensial untuk menentukan dirinya.

    Perlu digarisbawahi bahwa kebebasan eksistensial ini tidak bisa dicabut oleh siapapun. Bahkan ketika manusia berada dalam situasi ketika semua kebebasannya dicabut seperti dikurung dalam penjara, manusia tetap punya kebebasan memilih, akan seperti apa caranya menghadapi situasi tidak bebas itu, baik menangisi situasi itu sampai kurus kering lalu mati, atau memilih untuk menggunakan masa itu untuk merefleksikan diri atau menulis, merenung, dan sebagainya. Intinya kebebasan eksistensial itu melekat dan tidak dapat dicabut. Karenanya, adalah sebuah sesat pikir bila ada yang mengatakan ia memilih tidak bisa terlibat dalam politik karena dua alasan di atas. Bisa jadi itu hanya akal-akalan saja yang di dalamnya terkandung rasa malas dan mungkin takut menjumpai realitas sosial yang tidak senyaman dunianya sendiri.

    Panggilan Kodrati

    Orang muda perlu keluar, berani menghadapi situasi sosial dan terlibat bersama orang lain memperjuangkan bonum communie. Orang muda tidak bisa lari dari situasi ini. Bagaimanapun juga orang muda adalah calon pemimpin bangsa yang sudah pasti bersentuhan dengan politik. Sebagai calon pemimpin bangsa orang mudah perlu menjadi manusia bermental baja yang terus berjuang menempa diri dan berguna bagi yang lain, bukan menjadi manusia bermental nesting (bersarang) dalam kenyamanan saja.

    Akhirnya, tidak ada sebuah imperatif (perintah) bagi orang muda untuk terlibat dalam perpolitikan negara. Meskipun demikian, tidak bisa dibenarkan begitu saja sikap acuh tak acuh terhadap politik. Sebab, tindakan politik setiap orang sama nilainya dengan tanggung jawabnya sebagai pribadi dan makhluk sosial bagi orang-orang yang hidup bersamanya dan generasi mendatang. Orang muda perlu menerobos kekangan zaman ini dan melampaui ketandusan teladan para politikus, hingga akhirnya orang muda menjadi teladan bagi anak bangsa. Ini adalah panggilan kodratnya sebagai makhluk sosial dan politik yang hidup dan menentukan kualitas kehidupan bangsa secara bersama-sama.

    Referensi

    Adams, Cindy. 2017. Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Edisi Revisi. Yogyakarta: Yayasan Bung Karno.

    Palmer, Tom G, Editor. Penerj. Djohan Rady. 2013. Politik dan Kebebasan. Jakarta: Suara Kebebasan.

    Yuniarto, Topan. 4 April 2022. Golongan Muda dalam Pergerakan Politik Indonesia. Diakses dari https://www.kompas.id/baca/paparan-topik/2022/04/04/golongan-muda-dalam-pergerakan-politik-indonesia