Menempuh Jalan Rakhmat

    122

    Di era virtual sekarang ini, rasanya gelar “ustadz”, “ulama”, “Gus”, serasa murah sekali. Mereka yang terbiasa berlanggan video ceramah agama dan debat soal agama di media sosial, dengan mudahnya mendeklarasikan dirinya sebagai seorang ustadz. Beberapa selebriti yang kerap malang melintang di layar kaca, juga mulai menjajakan dirinya di akun media sosialnya sebagai da’i.

    Memang, dari sudut pandang tertentu, itu adalah hak mereka. Tetapi di sisi lain, istilah ulama (yang berarti orang yang berilmu), secara tidak langsung berusaha membatasi agar orang orang yang tidak memiliki pengetahuan dan wawasan agar tidak menyematkan gelar ustadz, hanya demi terlihat memiliki prestige di mata orang lain.

    Berbeda dengan mereka, ada seorang tokoh yang kurang nyaman dengan panggilan ustadz, meskipun Beliau memiliki pengetahuan yang mendalam tentang ilmu agama dan mempunyai pandangan yang luas soal isu-isu kontemporer. Beliau lebih nyaman dengan panggilan “Kang”. Panggilan “Kang” dirasa lebih akrab dan lebih egaliter dibandingkan dengan sebutan ‘Ustadz’, ‘Kyai’, atau ‘Ajengan’.

    Beliau adalah DR. Jalaluddin Rakhmat, yang akrab disapa Kang Jalal. Seorang yang berwajah teduh, selalu murah senyum, dan selalu memancing tawa ketika membawakan sebuah kuliah atau ceramah.

    Dalam dunia tulis menulis, mungkin sudah puluhan judul buku dan naskah akademis yang lahir dari tangan Beliau. Sebut saja beberapa magnum opus Kang Jalal yang diterima luas oleh masyarakat, seperti Islam Aktual, Islam Alternatif, Catatan-Catatan Kang Jalal, Khotbah-Khotbah di Amerika, dan Psikologi Komunikasi. Kalau kita membaca buku atau mendengar kuliah yang Beliau sampaikan, Kang Jalal tidak sekedar mengisi kuliahnya dengan nasihat yang monoton atau dalil-dalil dari kitab suci. Beliau selalu mengikutsertakan teori politik, psikologi, dan sosiologi modern sebagai penguat argumentasinya.

    Ketika ditanya mengapa Kang Jalal selalu membawa teori-teori modern yang dibawa oleh orang-orang Barat, Beliau hanya menjawab simple. Bahwa, setiap kebenaran dan hikmah yang kita dapat dari luar, maka wajib kita ambil sebagai sebuah refleksi dan pembelajaran. Mengutip salah satu syair Arab;

    خد الحكمة لو في جوف البهائم

    Ambilah hikmah (pelajaran) darimana saja meskipun itu berasal dari mulut binatang.

     

    Dalam setiap khutbahnya, Beliau menekankan bahwa agama jangan dianggap sebagai rangkaian ritual. Agama adalah way of life. Sebagai sebuah jalan kehidupan, agama harus benar-benar bisa memberi ketenangan, kesejukan dan keteduhan bagi setiap penganutnya. Jika jalan tersebut ternyata membawa manusia ke sebuah jurang yang terjal, padang rumput liar, serta lembah yang penuh binatang buas, jelas jalan yang menuntun orang tersebut salah total alias sesat.

    Jika banyak ustadz-ustadz generasi muda saat ini yang gemar mencari ikhtilaf (perbedaan pandangan) antar ulama dan fanatik pada sektenya, Kang Jalal justru malah mengambil jalan yang berbeda dari para da’i kontemporer. Ia menegaskan bahwa akhlak lebih utama daripada menegaskan garis perbedaan.

    Dalam meniti jalan agama, terdapat dua modus yang sering dianut oleh para pemeluk agama, yaitu ‘modus memiliki’ dan ‘modus menjadi’. Modus memiliki akan membuat seorang penganut agama merasa bahwa kebenaran mutlak hanyalah milik agama yang dianutnya, tidak ada jalan keselamatan selain keyakinan yang ia miliki. Sedangkan modus menjadi, akan membuat seorang penganut agama untuk terus berproses menjadi insan beragama yang lebih baik. Tidak ada garis finish dalam beragama, yang ada adalah terus berusaha menjadi pribadi yang lebih baik dari hari ke hari.

    Sikap merasa paling benar, paling baik, paling saleh, merasa bahwa agama dan mazhab kitalah yang paling benar, lalu memandang prang lain dengan pandangan merendahkan, semua itu termasuk ke dalam pola beragama dengan modus memiliki, bukan beragama dengan modus menjadi (Rakhmat, 2011).

    *****

    Perbedaan bagi Kang Jalal bukanlah sebuah kutukan. Sebaliknya, perbedaan adalah sebuah anugerah dari Yang Maha Kuasa. Sebagaimana Allah berfirman dalam Al-Qur’an bahwa Allah telah diciptakan manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku untuk saling mengenal. Kalimat mengenal disini berarti saling mengetahui dan memahami satu sama lain.

    Jika Tuhan tidak menyukai keragaman, niscaya Tuhan sudah membuat manusia menjadi satu umat saja. Pengakuan terhadap keragaman inilah yang kemudian menegaskan sikap Kang Jalal terhadap pluralisme. Dalam kacamata Kang Jalal, pluralisme jangan dipahami hanya sebagai menerima keragaman, tetapi dalam kacamata metafisik atau doktrin teologi, harus dipahami bahwa setiap orang (apapun ideologi dan agamanya) memiliki peluang untuk masuk ke dalam rahmat Tuhan (surga).

    Dengan kacamata pluralisme, Kang Jalal ingin berkata bahwa, rahmat-Nya tidaklah eksklusif. Tuhan menciptakan semesta dan isinya tidak hanya untuk satu kelompok, tetapi untuk setiap orang. Jika penciptaan alam raya yang besar ini saja adalah anugerah rahmat-Nya, berarti rahmat Tuhan begitu luas dan Tuhan tidak menutup diri hanya pada satu golongan atau satu  agama saja (Islamlib.com, 9/10/2006).

    *****

    Izinkan saya untuk berbagi sedikit kenangan tentang Kang Jalal. Nama Jalaluddin Rakhmat sudah tidak begitu asing di telinga saya. Sejak duduk di bangku SMK, saya sudah menikmati beberapa karya beliau, salah satunya adalah Retorika Modern dan Psikologi Komunikasi. Barulah ketika saya duduk di bangku universitas, saya memiliki kesempatan langsung untuk bertemu dengan beliau.

    Dalam salah satu ceramah Kang Jalal yang pernah saya ikuti, ada sebuah pernyataan dari Kang Jalal yang cukup menarik. Siapapun tahu, selain dikenal sebagai cendekiawan Muslim, Kang Jalal juga dikenal sebagai salah satu tokoh Mazhab Syiah di Indonesia. Dalam suatu sesi tanya jawab, ada seorang peserta yang bertanya, “Apakah ketika Imam Mahdi muncul di hari kiamat, orang-orang di seluruh dunia akan dipaksa untuk masuk Islam?”

    Sebagai seorang Muslim Syiah, tentu Kang Jalal meyakini turunnya al-Mahdi di akhir zaman, namun mendengar pertanyaan seperti demikian. Kang Jalal menjelaskan dengan uraian dan tata bahasa yang menarik, yang intinya. Prinsip-prinsip Islam sudah begitu jelas dan tegas tertuang dalam Al-Qur’an, bahwa la ikraha fid din, tidak ada paksaan dalam memeluk agama.

    Ketika Imam Mahdi turun, Beliau memiliki tanggung jawab moral untuk memperbaiki keadaan sosial masyarakat dan menciptakan sebuah sistem madani. Imam Mahdi tidak akan memaksa orang untuk masuk ke dalam agama a atau b, sebab prinsip Qur’an sudah tegas bahwa tidak ada paksaan dalam agama.

    Pernyataan yang cukup anti mainstream ini memikat hati saya. Konsistensi Kang Jalal pada keyakinan bahwa rahmat Allah untuk seluruh makhluk-Nya, membuat Kang Jalal yakin adanya jalan yang berbeda dalam mencari keselamatan Tuhan. Pandangan Kang Jalal dalam beragama inilah yang merubah secara prinsipil pandangan saya tentang agama.

    Agama bukan hanya sekedar peraturan ritualistik atau slogan politik yang sering diucapkan para politisi lima tahun sekali. Agama adalah jalan rahmat yang mendorong manusia untuk menjadi insan yang lebih baik. Kang Jalal mendorong kita agar tidak pernah puas dalam beragama, jangan merasa bahwa kita sudah berada pada titik final kebenaran, sehingga kita menjadi fanatik dan lalai bahwa kebenaran mutlak hanyalah milik Tuhan.

    Sore sekitar pukul 17.00, pada 15 Februari 2021 lalu, Jalaluddin Rakhmat (Kang Jalal) pergi meninggalkan dunia fana. Wabah COVID-19 telah membawanya ke pintu gerbang kesyahidan. Kang Jalal tidak meninggalkan kita dengan tangan hampa, ia telah memberikan oleh-oleh kepada kita berupa karya-karyanya serta menunjukkan jalan beragama yang lapang dan hanif.

     

    Referensi

    Buku

    Rakhmat, Jalaluddin. 2011. Jalan Rahmat: Mengetuk Pintu Ketuhanan. Jakarta: Quanta.

     

    Internest

    https://islamlib.com/gagasan/pluralisme/jalaluddin-rakhmat-pluralisme-bukan-sinkretisme/ Diakses pada 4 Maret 2021, pukul 11.22 WIB.